Ponsel Ofar yang berdering nyaring membuat Athaya terbangun. Athaya sempat syok sejenak saat melihat Ofar tidur di sebelah dengan bertelanjang d**a, lalu dia mengintip tubuhnya dari balik selimut. Tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya.
Ponsel Ofar berdering lagi. Athaya meraih ponselnya di atas nakas.
Nama Sinar berkelap-kelip di layar ponsel Ofar.
"Halo." Athaya menyahut sambil menatap Ofar sekilas yang masih tertidur pulas.
"Tha, gawaaat!" Suara Sinar tampak panik.
"Kenapa, Nar?"
"Nyokap lo lapor ke kantor polisi."
"Ha?"
"Kayaknya lo harus pergi dari sana deh. Karena nyokap lo tahu apartemen Ofar."
"Tahu darimana?" Athaya makin kaget.
"Gue nggak tahu, Tha. Pokoknya lo buru-buru keluar dari sana!"
Athaya langsung mengenakan pakaiannya dan membangunkan Ofar.
"Far, aku harus pergi."
Ofar berusaha membuka mata. "Tha, kenapa?" Ofar mengucek matanya. "Kamu mau kemana?"
"Ibu lapor ke polisi, Far."
"Apa?" Ofar berusaha bangun dari kasur. "Tunggu, maksudnya gimana, Tha?"
"Ibu lapor polisi. Dan dia tahu apartemen kamu." Athaya mengambil celana Ofar dari lantai dan melemparnya ke arah Ofar. "Pakai pakaianmu sekarang. Dan kita pergi dari sini."
Ofar tidak banyak komentar dan menuruti keinginan Athaya. Dia berusaha membawa beberapa pakaian yang bisa ia masukkan ke dalam tas.
Bell apartemen berbunyi. Athaya dan Ofar semakin panik.
"Kita harus gimana, Far?"
"Kamu tenang ya, Tha. Kita harus berani menghadapi mereka."
Pintu apartemen digedor karena mereka tak kunjung membuka pintu. Ofar memberanikan diri membuka pintu dan langsung berhadapan dengan Ibu Athaya yang nenggunakan baju kebaya.
Plak!
Ibu langsung menampar Ofar. "Laki-laki kurang ajar kamu. Berani-beraninya kamu bawa anak saya kabur di hari pernikahannya!" Ibu menampar pipi Ofar sebelah lagi.
Plak!
"Ibuuu, stop!" Athaya menahan lengan Ibu, amarah Ibu semakin kalut. "Apa yang kamu lakukan Athaya! Ini hari pernikahan kamu! Semua orang panik mencari kamu. Tapi kamu malah bersenang-senang dengan laki-laki b******k ini! Sudah gila kamu Athaya!"
"Ini salah aku, Bu. Aku yang udah kabur dari rumah dan menghampiri Ofar ke apartemennya. Jangan salahin Ofar." Athaya menyeret tubuhnya sampai berlutut di kaki Ibu.
"Tangkap laki-laki ini, Pak. Karena dia sudah memperkosa anak saya!!!" Ibu berteriak murka pada polisi.
Polisi bergegas menangkap Ofar dan membawanya pergi.
"Jangan pernah bilang ke Ghufran kalau kamu sudah melakukan hal gila ini dengan Ofar. Kalau sampai kamu mengacaukan pernikahan ini, siap-siap kamu lihat Ibu mati!" Ancam Ibu sambil menarik Athaya paksa keluar dari apartemen Ofar.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Athaya Atalaric Cantika Binti Djalil Umam dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana, sah?"
"Sah!!!"
"Alhamdulillahhh ...."
Air mata Athaya jatuh deras membanjiri wajah. Ini sudah jelas bukan tangis bahagia, tapi Athaya menangis karena hari ini dan seterusnya hidupnya akan menderita. Bagaimana mungkin Athaya bisa bahagia menikah dengan laki-laki yang tidak dia cinta?
Athaya dan Ghufran saling berhadapan. Ghufran tersenyum sambil menghapus air mata Athaya. Mungkin dia pikir, Athaya menangis karena bahagia menikah dengan Ghufran. Laki-laki itu mencium kening Athaya cukup lama. Membuat Athaya jijik.
Setelah itu ada acara sungkeman. Hari ini ayah Athaya hadir sebagai wali di pernikahannya. Hal itu membuat hati Athaya sedikit lega.
"Ayah ...." Athaya menangis dipelukan sang Ayah. Meski Athaya tinggal bersama ibunya sejak kecil, diam-diam Athaya juga sering mengunjungi ayahnya untuk curhat.
"Dengarkan saja perkataan ibumu ya. Mungkin ini yang terbaik untuk kehidupan kamu, Nak." Ayah berbisik di telinga Athaya dengan suara bergetar. Mungkin ayah juga nggak ingin nasib Athaya menderita seperti ibunya.
"Tapi nggak gini caranya kan, Yah. Aku hanya mencintai Ofar." Athaya juga sering curhat dengan ayahnya tentang Ofar.
"Sudah Nak, sabar, kamu harus kuat menjalani semua ini. Ayah yakin, kalau suamimu akan membahagiakan kamu." Ayah mengusap punggung Athaya. Diam-diam, Ayah juga meneteskan air mata.
Setelah selesai beperlukan dengan Ayah. Athaya lanjut memeluk ibunya.
"Jangan pernah tampilkan wajah sedihmu di depan Ghufran!" Ibu berbisik di telinga Athaya dengan galak. "Kelak, kamu akan berterima kasih kepada Ibu karena sudah mencarikan kamu suami yang baik dan juga mapan," ucap sang Ibu lagi.
"Please jangan penjarain Ofar, Bu. Aku janji akan melakukan semua apa yang Ibu minta asal Ofar nggak di penjara."
Hening sejenak. Ibu melepas pelukan Athaya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Athaya kembali menangis sambil tetap melaksanakan acara pernikahan ini dengan duka cita dan senyum palsu.
***
Athaya menatap dirinya di cermin, betapa menyedihkan hidup Athaya saat ini. Harus kehilangan orang yang sangat dia cintai sekaligus bertemu dengan orang yang tidak dia cintai. Rasanya seperti mimpi berada di kamar pengantin. Baginya seperti tempat paling horor di dunia.
Dan Athaya harus bersikap baik dengan Ghufran karena dia dan ibunya sudah bikin perjanjian. Ibunya akan membebaskan Ofar asal Athaya berusaha menjadi istri yang baik untuk Ghufran tanpa pernah menyebut kisah masalalunya lagi bersama Ofar. Meskipun berat rasanya melupakan Ofar, tapi mau tak mau Athaya harus melakukan hal itu.
Ghufran keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian.
"Aku bantu buka baju kamu ya, Tha." Ghufran menyentuh bahu Athaya.
Athaya reflesk langsung menyinkirkan tangan Ghufran. Beberapa detik kemudian Athaya sadar kalau sikapnya itu salah dan bikin Ghufran jadi terkejut.
"Maaf Mas, aku kaget dan belum terbiasa."
"Nggak apa-apa, Tha. Saya maklum kalau kamu masih malu-malu." Jeda sejenak, Ghufran duduk di atas kasur. "Besok kita berangkat ke Jakarta ya, Tha. Persiapkan semua barang-barang kamu."
"Ke Jakarta?" Athanya mengeurtkan alis.
"Iya, kita akan tinggal di sana."
"Apa ini semua rencana Ibu?" Athaya nyaris meluapkan emosinya. Tidak cukup memisahkan Athaya dan Ofar, sekarang ibunya malah ingin Athaya menghilang dari hidup Ofar dengan cara pindah kota.
"Maksud kamu?" Ghufran bengong.
Athaya lupa, harusnya dia tidak perlu membahas hal itu dengan Ghufran karena lelaki itu tidak tahu apa-apa tentang masalah keluarganya.
"Aku dapat tawaran jadi Dokter di salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Tawarannya juga besar. Lumayan kan, Tha. Dan aku pikir harus banget aku ambil."
Athaya mendengus. Dia susah berpikir jelek tentang ibunya.
"Oo." Athaya hanya bisa ber-o. "Aku ganti baju di kamar mandi dulu, Mas." Lalu Athaya beranjak dari kursi sambil membawa piyama dan menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Athaya melihat Ghufran sedang baring di tempat tidur. Athaya mengambil bantal dan selimut.
"Loh Tha, kamu mau kemana?"
"Aku tidur di lantai aja nggak apa-apa, Mas."
"Kenapa tidur di lantai? Tempat kamu itu di sini, di kasur dan di sebelah aku."
Athaya terdiam canggung.
"Kamu nggak perlu malu atau sungkan, Tha. Kamu sudah sah menjadi istri aku."
Athaya sudah berjanji kepada Ofar untuk tidak tidur dengan laki-laki yang tidak dicintainya.
"Ayo Tha, sini." Ghufran menepuk kasurnya.
Tapi lagi-lagi Athaya ingat pernjanjian antara ibu dan dirinya yang tidak mungkin di inkari.
Akhirnya Athaya naik ke atas kasur. Ia berusaha menjaga jarak dengan Ghufran, meski lelaki itu tetap nekat mendekati Athaya sampai tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Mas ...."
"Nggak apa-apa aku sentuh kamu malam ini, kan?"
"Maaf, aku nggak bisa, Mas. Aku belum siap."
"Tha, dosa loh hukumnya menolak suami."
Athaya ingin nangis rasanya.
"Kita pelan-pelan ya. Ini malam pertama kita."
Ghufran langsung menindih tubuh Athaya dan membawa kedua tangan Athaya ke atas kepalanya. Awalnya Athaya menolak ketika Ghufran ingin mencium bibirnya. Tapi, Ghufran terlalu mendominasi sampai akhirnya Athaya merasa kalah dan pasrah ketika Ghufran melucuti seluruh pakaian Athaya.
Ghufran mencicipi seluruh bagian tubuh Athaya tanpa terkecuali karena Ghufran merasa kalau Athaya sudah sepenuhnya menjadi miliknya.
Athaya merasa panik dan juga takut ketika Ghufran mencoba masuk ke dalam dirinya.
Seketika susana menjadi hening. Tiba-tiba Ghufran berhenti, ia menatap manik mata Athaya lekat-lekat. Tatapan Ghufran gabungan antara bingung, dingin, dan kecewa.
Athaya menggigit bibirnya kuat-kuat. Dalam hatinya berkata; Ghufran pasti bisa merasakan kalau Athaya sudah tidak perawan lagi.
Karena keperawanan Athaya telah direnggut oleh Ofar H-1 sebelum pernikahan mereka.