Meja di depannya dipenuhi foto anak remaja, bola bercahaya ada di samping tangannya yang bergerak-gerak, sedangkan mulutnya entah berucap apa. Hingga matanya yang tajam, menatap kedatangan mereka. Sudah dipastikan, mereka datang kepada seorang peramal, pikir Devid. "Sore, Mbah," sapa Reina sambil duduk beralaskan karpet hitam. Reina mendapati panggilan itu dari Syifa, karena jika memanggilnya dengan Nenek. Maka mata si Mbah akan memerah, pertanda marah. Devid pun duduk tepat di samping Acha, sedangkan Richard berada di belakangnya. "Kalian dua sepasang kekasih?" tanyanya dengan suara yang khas nenek-nenek kelelahan. Reina menggeleng, ia melirik Acha menunggu jawaban darinya. Acha menelan ludahnya kasar. "Bukan, Mbah," jawab Acha tergagap. Si Mbah mengangguk, tangannya terhenti mengel

