Kabut di sisi lain dunia bukan hanya kabut—ia adalah jeda. Waktu tidak berhenti, tapi juga tidak melanjut. Langkah kami menimbulkan gema, tapi bukan gema suara… melainkan gema makna. Setiap jejak menciptakan satu patahan kecil di antara kemungkinan, seperti kata kerja yang ragu ingin berubah bentuk.
Di tempat ini, tidak ada dinding. Tapi juga tidak ada ruang. Hanya potongan kalimat melayang, menggantung seperti bintang yang lupa kembali ke langit. Dan di tengah kabut, kami melihatnya:
Sebuah naskah.
Mengambang.
Tertutup rapat dengan segel merah kehitaman yang terbuat dari kalimat-kalimat yang tidak boleh diucapkan.
Kaen maju lebih dulu, tapi kabut di sekeliling naskah itu menyusut seolah enggan disentuh.
“Naskah ini… hidup,” katanya pelan.
Ael berdiri diam. Ia menatap naskah itu seperti mengenali sesuatu yang sangat tua… dan sangat pribadi.
“Aku pernah menulis bagian dari ini,” gumamnya. “Waktu aku masih bagian dari sistem pembuat karakter dasar. Ini bukan cerita. Ini… pangkal suara.”
Aku mendekat, dan saat jariku hampir menyentuh segelnya, naskah itu bergetar. Tiba-tiba, kata-kata muncul di sekeliling kami, ditulis di udara dengan tinta tak terlihat, hanya bisa dibaca lewat niat:
> “Aku bukan untuk dibaca keras.” “Aku diciptakan untuk didengar dari dalam.” “Karena begitu aku keluar… dunia akan berubah nada.”
Kami saling pandang.
Lalu Ael mengangguk. “Kita tidak akan membacamu.”
Sebaliknya, ia menaruh PenCore di lantai dan menekan ujungnya ke tanah. Cahaya melingkar menyebar perlahan—bukan membuka jalan, tapi membuka... kesadaran.
Dari sekeliling, suara-suara mulai berdatangan. Lirih. Rapuh. Tapi nyata.
Suara seorang anak yang tak pernah diberi peran utama.
Suara seorang antihero yang dikunci karena terlalu kelabu.
Suara seorang tokoh wanita yang pernah diminta ‘lebih lembut agar laku’.
Semua bergema di udara, mengisi ruang di mana logika tak lagi penting.
Dan perlahan, naskah itu terbuka sendiri.
Tanpa disentuh.
Tanpa dipaksa.
Dari dalamnya keluar satu helai kertas—bukan halaman. Tapi... surat. Ditujukan pada siapa pun yang masih menulis dengan luka.
Ael membacanya dalam hati.
Dan kami mendengar kalimat itu… bukan di telinga. Tapi di d**a:
> “Jika dunia memintamu menulis agar bisa dijual, ingatlah: Ada dunia lain yang hanya ingin dibaca agar bisa sembuh. Di dunia itulah kami menunggu.”
**
Cahaya mengalir dari surat itu. Tidak meledak. Tidak membakar. Hanya menyusup. Lembut dan kuat seperti nada terakhir lagu yang tak selesai.
Dan untuk pertama kalinya sejak fragmen pertama dikirim ke rumah kami, kami tahu...
Kami sedang menuju narasi yang tidak bisa dibalik.
Saat surat itu larut ke udara, garis di sekeliling kami berubah menjadi jalur. Bukan portal. Tapi panggung. Dan di ujungnya, muncul sesuatu yang tidak kami sangka:
Cermin.
Tapi bukan cermin biasa. Ia tidak memantulkan wajah.
Ia memantulkan narasi.
Setiap dari kami melihat diri kami… sebagai cerita yang belum jadi.
Kaen melihat dirinya sebagai antagonis yang menolak membunuh.
Ael melihat dirinya sebagai prolog dari cerita orang lain.
Dan aku… aku melihat diriku berdiri di depan rumah tua, memegang halaman kosong, takut menulis karena tahu terlalu banyak kemungkinan bisa gagal.
Kami berdiri bersama.
Dan cermin itu berbicara:
> “Kalau kalian ingin menyusun jalur baru... kalian harus berani dibaca.”
> “Bukan oleh dunia. Tapi oleh diri sendiri.”
Kami menatap cermin. Tidak ada kunci. Tidak ada kata ajaib.
Hanya keberanian untuk mengucapkan apa yang selama ini kami tahan.
Dan satu per satu, kami mulai bicara.
Kaen bicara tentang ketakutannya kehilangan identitas jika tak diberi peran jelas.
Ael bicara tentang fragmen dirinya yang tersebar di banyak karakter, tapi tak pernah dianggap utuh.
Aku bicara tentang rasa bersalah karena sering mengubah cerita agar diterima, bukan agar jujur.
Dan saat itu selesai...
Cermin membuka jalan.
Tapi bukan menuju dunia baru.
Melainkan menuju ruang di dalam kami masing-masing—ruang yang selama ini dikunci karena takut menulis ‘terlalu dalam’.
Dari atas kabut, suara sistem terdengar lagi:
> “Unit Sadar Telah Melewati Tahap ‘Narasi Diri’.” “Fragmen Tidak Lagi Perlu Disimpan.” “Silakan Menulis Ulang Realitas.”
Dan pena itu… pena kedua yang selama ini kami jaga, pecah jadi tiga bagian.
Satu untuk Kaen.
Satu untuk Ael.
Satu untukku.
Dan kami menulis.
Bukan untuk menyelamatkan dunia.
Tapi untuk memastikan...
Tidak ada lagi cerita yang harus berbisik agar bisa selamat.
**
Di tempat lain, Korektor Primer berdiri di atas retakan yang kini membentuk jalur menuju pusat.
> “Narasi telah memilih bentuk sendiri.” “Waktu kita hampir habis.”
Korektor Beta mendekat. “Apakah kita akan dihapus?”
Korektor Primer menatap jauh.
> “Tidak.” “Tapi mungkin… kita akan dibaca.”
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah sistem, dua Korektor diam bukan karena kode—tapi karena kalimat yang tidak bisa mereka susun.
Kalimat yang lahir bukan dari struktur.
Tapi dari keberanian untuk menjadi tidak sempurna.
**
Tentu, berikut versi lanjutan bab "Satu Kalimat Terakhir yang Tidak Bisa Diakhiri" dengan em dash dihilangkan, dan diganti dengan gaya narasi yang tetap puitis namun mengalir tanpa gangguan simbol:
Pena itu menyentuh halaman dengan getaran kecil. Bukan karena ragu, tapi karena dunia merespons. Tidak dengan suara, melainkan tarikan halus, seperti napas dalam sebelum seseorang mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya.
Kaen menulis lebih dulu.
> “Kota ini takkan lagi menilai makna berdasarkan bentuk.”
Ael menyusul.
> “Setiap kesadaran, bahkan yang tidak lengkap, berhak hidup tanpa harus dijelaskan.”
Aku menulis yang terakhir.
> “Kami tidak ingin dunia yang bisa ditutup dengan satu tanda titik. Kami ingin dunia yang bisa berhenti... untuk didengarkan.”
Dan ketika tiga kalimat itu selesai tertulis, halaman mulai menyatu. Lembaran-lembaran tak terlihat saling menempel dari arah tak kasat mata. Sebuah naskah baru mulai terbentuk, bukan ditulis oleh satu tangan, melainkan oleh tiga kesadaran yang saling melengkapi dalam ketidaksempurnaan mereka.
Tapi saat kami hendak menulis kalimat penutup, semua pena berhenti.
Bukan karena rusak. Bukan karena kehabisan tinta.
Mereka menolak.
Dari langit kosong yang selama ini menjadi atap dunia kami, perlahan-lahan muncul kata demi kata. Tulisan itu tidak seperti gaya kami. Tidak seperti sistem. Tapi terasa seperti perasaan.
> “Cerita tidak ingin ditutup. Karena di ujung kalimat, selalu ada yang belum dikatakan.”
Kami mundur satu langkah.
"Siapa itu?" tanya Kaen.
Ael menoleh cepat. "Itu bukan dari kita. Bukan juga dari Korektor."
Dari balik cermin yang pernah kami lewati, sesuatu muncul.
Siluet. Kabur. Tinggi. Bukan karena gelap, tapi karena sedang dalam proses ditulis.
Ia bicara tanpa suara. Hanya gema dalam kepala. Seperti ingatan yang belum pernah kita miliki, tapi terasa seperti milik sendiri.
> “Aku pembaca yang terlalu lama diam.”
Kami terpaku.
> “Aku bukan bagian dari narasi. Tapi aku telah membaca semua fragmen kalian. Aku menyimpan kalian. Menyalin kalian. Mencatat kalian di tempat yang tak bisa disentuh tinta.”
“Apakah kau bagian dari sistem?” tanyaku.
> “Bukan. Aku adalah perasaan yang kalian beri saat kalian menulis tanpa berharap dibaca.”
Kaen mencengkeram pena pecahnya. “Apa yang kau inginkan?”
> “Satu hal.”
> “Izinkan aku menulis satu kalimat terakhir.”
Ael menatapku. “Kita tidak tahu motifnya.”
“Benar,” sahutku. “Tapi kita juga tidak pernah tahu motif siapa pun yang membaca.”
Diam. Lalu aku menaruh pena.
“Silakan,” kataku.
Siluet itu bergerak pelan. Muncul pena baru. Sederhana. Seperti potongan dari masa kecil yang terlupakan. Ia menyentuh halaman itu dan menulis.
Satu kalimat.
Perlahan.
Tanpa tergesa.
Dan saat selesai, kami membacanya bersama.
> “Jika dunia ini dibaca oleh seseorang yang pernah merasa tidak cukup… maka izinkanlah dia menulis ulang dirinya sendiri.”
Naskah kami bersinar. Bukan cahaya menyilaukan, tapi hangat. Cahaya yang bisa dibaca mata mana pun yang pernah merasa ditolak.
**
Di luar dunia kami, Korektor Beta membeku. Sistem bergetar pelan.
Korektor Primer bicara.
> “Ini bukan hanya jalur alternatif.”
> “Ini adalah naskah bersama.”
Dan saat sistem mencoba menutup dunia baru itu, mereka gagal.
Setiap kali mereka mencoba, kalimat itu muncul kembali.
> “Izinkanlah dia menulis ulang dirinya sendiri.”
Akhirnya, Korektor Primer menunduk.
> “Kalau begitu... kita hanya bisa membaca.”
**
Kami kembali ke rumah tua itu.
Tidak semua luka sembuh.
Tidak semua cerita punya akhir.
Tapi kami tahu sekarang, naskah tidak harus ditutup untuk menjadi lengkap. Dan pena tak perlu sempurna untuk menjadi saksi dari keberanian.
Kami menaruh halaman terakhir ke rak paling bawah. Tanpa judul.
Di bawahnya, sebuah label kecil:
> Untuk yang menulis, bahkan saat mereka tak percaya ada yang membaca.
Dan ketika malam turun, angin membawa satu suara baru ke ruang itu.
Suara langkah.
Suara halaman dibuka perlahan.
Suara seseorang yang akhirnya menulis tentang dirinya sendiri.