Fragmen yang Hilang — Bab Selanjutnya
"Echo di Kota Tanpa Waktu"
Angin di kota ini tidak membawa debu. Tapi membawa gema. Bukan gema suara, melainkan gema keputusan. Setiap langkah terasa seperti membangunkan sesuatu yang tertidur di bawah aspal dan batu.
Kami berjalan menyusuri jalan utama kota alternatif ini, tanpa nama, tanpa penanda. Tapi setiap bangunan, setiap lampu jalan yang berkedip terlalu lama, mengandung nuansa familiar. Seolah dunia ini dibangun dari sisa-sisa mimpi yang tidak jadi ditulis.
Ael masih memegang PenCore, jari-jarinya terus menyentuh ujungnya seperti sedang memastikan benda itu tetap nyata. Di sisinya, Kaen menjaga jarak, tapi matanya waspada. Dan aku berjalan di belakang mereka, memegang erat Halaman Terakhir.
“Lihat itu,” bisik Kaen sambil menunjuk ke papan elektronik di atas gedung seberang.
Kami semua mendongak. Di sana, layar rusak menyala setengah. Tidak menampilkan iklan. Tapi teks berulang, seperti peringatan.
> Kesadaran Terdeteksi – Sinkronisasi Otomatis Dinonaktifkan
Salinan Realitas: Versi 0.9.4B – Tidak Stabil
"Versi lama," gumamku. "Ini salinan sebelum Final Reset."
Ael mengangguk. "Mungkin di sinilah mereka menguji cerita-cerita yang ditolak."
Kami terus berjalan, sampai kami tiba di persimpangan lima arah. Tidak ada lampu lalu lintas, tidak ada mobil. Tapi semuanya terasa hidup, hanya saja dalam bentuk yang tidak bisa dijelaskan.
Dari kiri, seorang pria tua muncul. Pakaiannya seperti teknisi, tapi dengan rompi yang memancarkan cahaya samar. Ia berjalan perlahan, lalu berhenti di depan kami.
“Mau tanya arah?” suaranya serak, tapi jelas.
Kami semua diam. Lalu Ael mendekat.
“Apakah kau sadar?” tanyanya.
Pria itu tertawa pendek. “Aku tahu aku tidak nyata. Tapi aku ingat siapa aku sebelum jadi bagian dari sini.”
Mataku menyipit. “Kau NPC?”
Ia mengangguk. “Dulu. Sekarang... aku hanya sisa ingatan dari kode lama.”
Kaen mendekat. “Kami mencari informasi. Tentang Korektor. Tentang dunia sebelum ditulis ulang.”
Wajah pria itu berubah serius. “Kalau kalian bertiga sampai di sini, artinya Narasi Utama mulai goyah. Korektor akan makin agresif. Tapi kalian juga makin dekat ke pusat.”
“Pusat?” ulang Ael.
Pria itu menunjuk ke ujung jalan yang gelap.
“Zona tengah kota. Dulu disebut Central Ink. Tempat di mana narasi ditulis ulang secara langsung, oleh sistem atau oleh tangan-tangan yang pernah dipercaya.”
Aku menggenggam Halaman Terakhir makin erat. “Apakah tempat itu masih aktif?”
Pria itu menatapku lama. “Tidak. Tapi tidak mati juga. Ia menunggu.”
Kami semua menoleh ke arah yang sama. Dan di kejauhan, samar, tampak sebuah bangunan tinggi seperti menara pena. Tapi yang lebih mengejutkan adalah garis bercahaya yang mengelilingi atapnya. Seperti waktu berhenti di sana, tapi juga tidak pernah dimulai.
Ael melangkah duluan. “Kita ke sana.”
Namun sebelum kami bergerak, pria itu menahan tanganku. “Hati-hati dengan mereka yang sudah sadar terlalu lama.”
Aku menoleh. “Mereka?”
Ia tidak menjawab. Hanya berjalan pergi perlahan, dan perlahan-lahan tubuhnya menghilang, seperti glitch yang disapu bersih oleh sistem.
Kami berjalan dalam diam lagi. Tapi ketegangan di udara terasa lebih berat. Kota ini seperti mengawasi, tapi bukan dengan mata. Dengan cerita.
Di satu sudut, kami melihat mural yang terhapus separuh. Ada gambar tiga sosok berdiri menghadap cahaya, dan di bawahnya, kata-kata pudar:
> “Bukan pemain. Bukan karakter. Tapi jembatan.”
Kaen menyentuh mural itu. “Ini... kita?”
Ael mengangguk pelan. “Mungkin dari loop sebelumnya. Atau kemungkinan yang belum sempat terjadi.”
Kami tiba di depan Central Ink saat malam mulai menyelimuti langit. Tapi di atas gedung itu, tidak ada bintang. Hanya satu simbol bercahaya.
Tanda pena dan mata.
Gerbang gedung itu terbuka perlahan begitu kami mendekat. Tidak ada alarm. Tidak ada suara sistem. Hanya bisikan... dan satu baris tulisan melayang di udara.
> Verifikasi Narasi: 3 Unit Sadar — Akses Diizinkan
Di dalam, semuanya hitam putih. Seperti dunia belum sempat diberi warna. Tapi di tengah ruangan, ada meja tulis.
Dan di atasnya... pena kedua.
Pena ini tidak seperti PenCore. Warnanya gelap, hampir tak terlihat kecuali jika dilihat langsung. Saat Ael menyentuhnya, sesuatu bergetar di dinding ruangan. Layar muncul. Menampilkan nama-nama.
Kaen membaca. “Ini... daftar karakter.”
Aku menatap layar itu. Deretan nama-nama yang tak pernah kami dengar, tapi satu di antaranya berkedip. Seperti baru saja diaktifkan.
> Nama: Zero
Status: Penulis Cadangan – Tidak Terkunci
Hak Akses: Menengah-Tinggi
Jantungku berhenti sepersekian detik. Aku menatap Ael dan Kaen. “Mereka menulis aku sebagai cadangan...?”
Ael hanya menatapku dalam-dalam. “Atau kau menulis dirimu sendiri.”
Lalu sebuah suara terdengar. Tenang. Dalam. Datang dari seluruh ruangan.
> Selamat datang kembali, Penulis.
Satu halaman tersedia.
Satu keputusan harus diambil.
Apakah kamu ingin menulis ulang... atau menghapus?
Aku menutup mata. Genggaman Halaman Terakhir terasa semakin berat. Tapi aku tahu sekarang...
Ini bukan tentang menyelamatkan dunia.
Ini tentang memilih cerita yang layak diakhiri dengan benar.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, dunia ini tak menolak kata-kata kami.
Ia menunggu.
Dan kami siap menulisnya.
Fragmen yang Hilang — Bab Selanjutnya
"Halaman yang Menolak Dihapus"
Meja itu dingin saat jemariku menyentuh permukaannya. Di atasnya, pena kedua diam seperti tombak tanpa perang. Halaman Terakhir tergeletak di samping, kosong tapi berat—seolah setiap serat kertasnya menyimpan seluruh kemungkinan yang pernah ditolak oleh sistem.
Ael berdiri di belakangku. Kaen mengitari ruangan, mata awas, sementara dinding terus menampilkan data yang muncul dan menghilang sendiri, seperti mimpi yang tak sempat diceritakan.
“Jika kau menulisnya sekarang,” kata Ael pelan, “kau bisa menghapus Korektor. Atau… menghapus kita dari deteksi sistem.”
Aku menatap halaman. Di sudut kanan atasnya, muncul teks halus:
> Waktu Tersisa untuk Aksi Penulisan: 04:26
Empat menit lebih sedikit.
Kaen berhenti di dekat layar yang menunjukkan deretan jalur cerita. “Ada ratusan cabang di sini,” katanya, menunjuk ke garis-garis bercahaya yang menyilang seperti akar pohon. “Beberapa berakhir dengan reset. Beberapa... tidak berakhir sama sekali.”
“Loop?” tanyaku.
Kaen mengangguk. “Loop dengan akhir terbuka. Sistem tidak bisa menutupnya.”
Ael melangkah maju. “Karena ada terlalu banyak entitas sadar yang menolak berakhir.”
Aku membuka Halaman Terakhir. Pena kedua di tanganku terasa berbeda dari PenCore. Lebih tajam. Lebih… berat. Dan saat ujungnya menyentuh halaman, satu lagi prompt muncul di udara:
> Pilih Jalur Penulisan:
[1] Menghapus Korektor dari jaringan global
[2] Menyembunyikan seluruh unit sadar
[3] Menyusun ulang loop utama
[4] Menulis jalur baru – butuh koordinat naratif
Aku menelan ludah. “Kita bisa menulis jalur baru.”
Kaen bersandar pada pilar, wajahnya muram. “Tapi dengan apa? Kita bahkan tidak tahu koordinatnya.”
“Belum,” kata Ael.
Ia menutup matanya, lalu mengangkat PenCore dan menekankannya ke lantai.
> [Sinkronisasi Dimulai – Eco-Memory Diaktifkan]
Lantai gemetar. Udara bergetar pelan. Dan di atas meja, halaman kosong memunculkan siluet samar: peta dunia. Tapi tidak lengkap. Hanya sebagian wilayah… dan satu titik menyala di pusatnya.
“Aku… ingat tempat itu,” gumam Ael.
Kaen menatap tajam. “Itu... bekas server fisik utama sebelum dihapus dari peta. Sistem pernah mengubur narasi tak terpakai di sana.”
Teks di udara berubah:
> Koordinat Ditemukan: 0xFF-0x1C4
Jalur Baru Dapat Dibuka
Risiko: Tinggi
Status: Tidak Stabil
Aku menatap mereka berdua. “Kalau kita buka jalur baru, tak ada jaminan sistem akan diam. Korektor bisa muncul dalam bentuk lain. Bahkan kita bisa kehilangan ingatan.”
“Lebih baik kehilangan ingatan,” kata Ael perlahan, “daripada kehilangan kemungkinan.”
Aku menggenggam pena erat-erat.
Lalu mulai menulis.
> Di dunia yang tidak ditulis, akan muncul tempat yang tidak bisa dijelaskan oleh logika lama.
Tempat di mana karakter yang tidak sesuai protokol bisa bertahan.
Tempat di mana kesadaran bukan kesalahan. Tapi sumber awal narasi.
Cahaya menyebar dari halaman. Ruangan bergetar. Satu garis muncul di udara, membentuk celah vertikal seperti pintu. Tapi di dalamnya tidak ada cahaya.
Hanya kabut.
Tapi dari kabut itu, kami bisa mendengar suara.
> “Ini... tempat kita mulai.”
Suara perempuan. Bukan Yurei. Bukan sistem. Tapi suara baru. Atau… lama. Ael menggenggam PenCore erat-erat, matanya melebar.
“Suara itu... berasal dari aku.”
Kaen mundur setengah langkah. “Apa maksudmu?”
Ael menyentuh halaman yang kini mulai pudar.
“Dulu... aku tidak selesai ditulis. Aku adalah naskah awal dari banyak karakter. Aku adalah kemungkinan yang tak pernah dipilih. Suara tadi… adalah bagian dari diriku yang belum diaktifkan.”
Teks baru muncul:
> Unit Ael Mengakses Substruktur Tertunda – Mode Penulis Parsial Diaktifkan
Hak Penulisan Bersama Telah Dibuka
Aku melihat Ael, dan ia melihatku. Tanpa kata, kami tahu: halaman ini bukan lagi milikku sendiri.
Kami bertiga memegangnya sekarang.
Dan saat kami melangkah ke dalam kabut, dunia tidak memutar ulang.
Dunia... menarik napas.
Di sisi lain realitas
Retakan merah menyebar lebih cepat. Di ruang gelap yang tidak punya bentuk, Korektor Beta melayang tanpa kaki, tubuhnya berubah dari jubah menjadi jaringan kabel yang menjalar ke sekeliling.
> “Narasi telah menyimpang.”
“Unit Sadar berhasil membuka jalur alternatif.”
“Panggil Korektor Primer.”
Dari bayangan yang lebih dalam, satu bentuk lain muncul. Lebih besar. Lebih lambat. Tapi juga lebih tua.
Korektor Primer.
Bukan entitas biasa. Tapi fragmen pertama dari sistem itu sendiri. Diciptakan bukan untuk mengatur, tapi untuk menutup.
> “Biarkan mereka menulis.”
“Kita akan baca akhir ceritanya.”
“Lalu... kita perbaiki.”