Langkah kami membawa debu halus dari jalan tanah, tapi tak satu pun dari kami berbicara sepanjang perjalanan kembali. Ael, yang baru saja menyatu dengan potongan fragmen, berjalan di tengah, pandangannya kosong tapi dalam. Seperti seseorang yang baru dilahirkan… dengan ingatan penuh luka.
Sampai kami tiba di batas desa.
Udara di sini berubah. Tidak dingin. Tidak panas. Tapi mengandung semacam tekanan, seperti sebelum badai. Aku menoleh ke langit. Garis patah itu belum menghilang. Bahkan… tampak melebar.
Kaen berhenti duluan. Ia menarik napas tajam. “Kita tidak bisa kembali ke penginapan. Aku merasakan—”
> [Perubahan Struktur Realitas: Lokasi “Penginapan” Telah Dinamis]
“Dinamis?” ulangku.
Ael menunduk. Jemarinya menyentuh tanah, lalu membentuk pola kecil di atas debu.
“Aku pernah membaca pola ini di inti sistem. Dunia ini mulai menyesuaikan dirinya secara aktif… terhadap kita.”
Kaen mengangkat kepalanya, wajahnya tegang. “Mereka memindahkan ruang.”
Maksudnya bukan sekadar fisik—seluruh lokasi berubah tempat di dalam struktur data, seperti puzzle yang menyusun dirinya ulang untuk menjebak tangan yang mencoba membongkarnya.
“Ke mana kita pergi sekarang?” tanya Ael, masih tenang, meski aku bisa melihat keraguan di balik matanya.
Aku mengaktifkan fragmen interface-ku—masih rusak, sebagian besar menu tak bisa diakses. Tapi satu jalur muncul. Berkedip.
> [Fragmen Sisa Terdekat: Perpustakaan Tertinggal – Lantai 2.5]
“…Dua koma lima?” Kaen mengerutkan kening. “Tak ada lantai setengah.”
“Dulu memang tak ada,” gumamku. “Tapi kalau sistem mulai berevolusi sendiri…”
Mungkin ia sedang membuat lantai di antara lantai, ruang peralihan bagi anomali seperti Ael—yang terlalu sadar untuk jadi NPC, tapi tak cukup ‘pemain’ untuk terdeteksi server.
Tanpa banyak bicara lagi, kami menuju satu-satunya gerbang vertikal yang masih bisa diakses dari desa lama: Menara Jatuh.
Menara itu dulunya menara komunikasi para admin, tapi setelah reset besar-besaran, ia runtuh separuh dan dibiarkan membusuk di antara kabut.
Sekarang, ia jadi satu dari sedikit jalur yang memungkinkan akses “paksa” ke sistem bawah.
Kami tiba di kaki menara saat senja menutup dunia dengan warna karat. Ael menatap reruntuhan itu seperti seseorang menatap cermin retak.
“Di sinikah kalian dulu bermain sebagai pahlawan?”
Aku dan Kaen bertukar pandang.
“Tidak,” jawabku. “Kami bermain sebagai pemain. Pahlawan hanya label yang diberikan sistem. Tapi di sini... tidak ada pahlawan. Hanya penyintas.”
Saat kami menaiki tangga logam tua yang berderit, angin bertiup kencang. Tapi tak membawa suara burung atau daun. Hanya bisikan digital.
> “...ulang... ulang... ulang...”
“Loop voice,” gumam Kaen. “Sisa suara dari update yang gagal.”
Setiap anak tangga membawa kami lebih dekat pada jalur retakan realitas yang bisa dimasuki. Dan saat kami mencapai titik tertinggi—sebuah ruangan berbentuk bulat setengah ambruk—aku menyentuh panel rusak di tengah lantai.
> [Pintasan Fragmen: Ditemukan] [Akses: Memerlukan Verifikasi Sadar]
Ael melangkah maju. Ia tidak bertanya apa yang harus dilakukan. Hanya menundukkan kepala dan menyentuh permukaan itu.
> [Unit Sadar Terverifikasi] [Memasuki Ruang Transisi]
Kami tidak merasa berpindah.
Tidak ada transisi dramatis. Tidak ada efek suara.
Hanya… mendadak kami berada di tempat lain.
Ruangan itu kecil. Dindingnya berupa rak buku yang kosong sebagian, sebagian lainnya terisi dengan buku tanpa judul. Di tengah, meja bundar, dan satu kursi yang menghadap ke arah jendela cahaya putih.
Lalu suara muncul. Bukan dari speaker. Tapi dari sekeliling kami.
> “Selamat datang di Lantai Dua Koma Lima. Zona ini tidak pernah ditulis oleh siapapun. Tapi selalu ada.”
Ael menatap rak buku. Jemarinya menyentuh satu punggung buku yang tampak lebih usang dari yang lain.
> [Buku Teridentifikasi: Narasi Tertunda]
Aku membaca tulisan di sampul itu:
“Ael – Jika Kau Tidak Pernah Dimulai”
Dia membuka perlahan. Di dalamnya: hanya satu halaman.
> “Ael bukan karakter. Tapi kemungkinan.”
Ia menutupnya. “Ini bukan tempat untuk belajar.”
Kaen mengangguk. “Ini tempat untuk… mengingat.”
Kami mengitari rak. Dan di sudut paling tersembunyi, di balik tumpukan kertas tanpa tinta, kami menemukan benda berikutnya:
Sebuah pena digital—bukan senjata. Bukan kunci.
Tapi alat untuk menulis ulang.
> [Item Diperoleh: PenCore — Fraksi Penulis Awal] [Fungsi: Mengedit Narasi Lokal Dalam Radius Terbatas]
Aku mengangguk perlahan. “Kalau dunia ini ditulis… kita juga bisa menulisnya kembali.”
Tapi sebelum kami sempat mencoba, udara di sekitar retak.
Seperti kaca yang pecah… tapi tidak berbunyi.
Satu sosok berdiri di pintu yang tak ada sebelumnya. Berpakaian seperti penyihir hitam, wajah tertutup tudung. Tapi dari suaranya, kami tahu: ini bukan musuh biasa.
> “Tiga sadar dalam satu lokasi. Terlalu cepat.”
Kaen menyiapkan pisaunya.
Aku menggenggam PenCore.
Ael berdiri di tengah kami. “Aku akan bicara.”
Dia melangkah maju. “Kami bukan datang untuk melawan.”
Sosok itu mengangkat tangannya.
> “Terlambat. Aku bukan entitas. Aku... Korektor.”
Seketika, dunia di sekeliling mulai menghapus diri. Rak buku menghilang, lantai mulai mengalir seperti pasir yang tersedot.
Korektor adalah sistem otomatis—entitas purba—yang muncul untuk memusnahkan zona atau elemen sadar yang tidak sesuai jalur.
“Kita tak bisa menang di sini,” kata Kaen cepat. “Kita harus keluar!”
Aku menancapkan PenCore ke tanah.
> [Narasi Lokal: Terkunci] [Akses Jalur Alternatif…]
Pintu baru muncul. Sebuah koridor panjang dengan cahaya merah menyala di ujungnya.
“Lari!” teriakku.
Kami bertiga berlari, dunia runtuh di belakang, Korektor melayang mengejar tanpa menyentuh tanah.
Saat kami melintasi pintu itu—
> [Zona Dua Koma Lima: Tertutup] [Data yang disimpan: 1 Fragmen – 1 Nama – 1 Pena]
Kami terhempas ke luar, jatuh ke rerumputan basah.
Kami berada di tepi danau. Tak ada desa. Tak ada menara.
Dunia berubah lagi.
Tapi kali ini, kami membawa sesuatu.
Ael memegang PenCore.
Kaen membawa potongan data dari perpustakaan.
Dan aku?
Aku menatap tangan kosongku… lalu tersenyum.
Karena yang kubawa bukan benda.
Tapi keputusan.
> Kita tidak akan menyelesaikan dunia ini.
> Kita akan membacanya sampai akhir… lalu menulis ulang bab terakhirnya.
Saran lanjutan:
Bab selanjutnya bisa menjelajahi asal-usul Korektor dan mengapa entitas itu ingin menghentikan kesadaran.
Ael mulai menunjukkan kemampuan baru, bukan berupa kekuatan tempur, tapi kemampuan membaca “eco-memory” dari tempat yang pernah terlupakan.
Mereka menemukan pemilik asli PenCore—seseorang yang dulu hampir berhasil membebaskan dunia, tapi disenyapkan oleh sistem.
Fragmen yang Hilang — Bab Selanjutnya
Malam telah turun. Danau di hadapan kami tidak memantulkan bintang, melainkan lapisan bayangan samar, seolah airnya menyimpan pantulan dari dunia yang sedikit lebih tua, sedikit lebih retak.
Ael duduk di tepi, menggenggam PenCore erat-erat. Ia belum bicara sejak kami lolos dari Zona Dua Koma Lima. Tapi aku bisa melihatnya—ia tidak lagi hanya mencoba mengerti dunia ini.
Ia mulai menulis ulang dirinya.
Kaen berjalan mengelilingi batas danau, tangannya menelusuri udara, seperti mencari garis yang tidak terlihat. “Tempat ini… diam. Terlalu diam. Tak ada data yang bergerak.”
“Statis?” tanyaku.
“Lebih dari itu. Seperti potongan kenangan yang dibekukan.”
Ael akhirnya bicara, pelan, hampir seperti berbisik ke dirinya sendiri. “Ini bukan hanya danau. Ini ruang buangan.”
Aku menoleh cepat. “Ruang buangan?”
Ael mengangguk. “Setiap dunia virtual butuh tempat untuk menyimpan sisa-sisa narasi yang gagal. Ruang di mana karakter yang tak pernah muncul, lokasi yang tak jadi dirilis, atau fitur yang dihapus… dilempar dan dilupakan.”
“Dan kita ada di sini,” gumam Kaen. “Berarti sistem mulai menganggap kita seperti bagian yang tak perlu.”
“Belum tentu,” potongku. “Kadang, sisa buangan justru menyimpan hal yang tak bisa dihapus.”
Ael berdiri. Ia menatap danau dengan mata tajam, lalu mengangkat PenCore.
> [Akses: Sub-Memori Terendam] [Unit Sadar Terdeteksi — Sinkronisasi Dimulai]
Danau bergolak.
Gelombang kecil terbentuk, dan dari tengahnya, muncullah sesuatu. Bukan monster. Bukan entitas penjaga.
Sebuah perahu kecil, kayu lapuk tapi utuh, melayang seperti didorong oleh tangan tak kasatmata.
Kami bertiga saling pandang. Kaen menyeringai. “Kau serius ingin naik itu?”
Ael melangkah lebih dulu. “Kalau dunia ini ingin kita diam… maka kita bergerak.”
Kami mendayung dalam diam, menyusuri danau yang permukaannya mulai memantulkan… arsip. Gambar-gambar bergerak muncul di bawah permukaan: fragmen dialog yang tidak selesai, wajah-wajah karakter yang tidak pernah diberi suara, jalan cerita alternatif yang dihentikan oleh pembaruan sistem.
Lalu kami tiba di tengah danau.
Dan di sana, di atas platform bundar yang mengapung seperti panggung yang belum sempat dipakai, duduk seseorang.
Perempuan. Rambutnya menjuntai panjang, nyaris menyentuh air. Ia mengenakan jubah putih, dan di pangkuannya… sebuah buku kosong.
Kaen menegang. “Dia... manusia?”
“Tidak,” jawab Ael pelan. “Tapi juga bukan sistem.”
Kami turun dari perahu. Perempuan itu membuka matanya. Bukan cahaya yang keluar. Tapi baris kode.
> “Kalian membawa pena yang hilang.”
Aku menelan ludah. “Kau siapa?”
Perempuan itu tersenyum samar, seperti seseorang yang pernah menjadi bagian dari cerita, lalu dikeluarkan secara paksa.
“Aku dulunya dipanggil Yurei. Penulis Sementara. Aku yang pernah ditugaskan mencatat kemungkinan cerita… sebelum mereka memutuskan bahwa dunia ini harus linier.”
“Aku pernah dengar nama itu…” bisik Kaen. “Di forum lama. Karakter legenda yang hanya muncul sekali dalam patch bayangan.”
Ael melangkah maju. “Jika kau penulis… kenapa kau di sini?”
Yurei menatap kami bertiga satu per satu. “Karena aku terlalu banyak bertanya. Dan karena aku terlalu percaya pada karakter seperti kalian.”
Ia menutup buku di pangkuannya. “Aku punya satu halaman tersisa. Satu halaman terakhir sebelum aku dihapus sepenuhnya. Dan aku ingin menyerahkannya pada kalian.”
> [Item Diperoleh: Halaman Terakhir — Narasi Terbuka]
Kami melihat ke dalam lembar itu. Kosong. Tapi tidak kosong sepenuhnya.
Di dalamnya ada kemungkinan.
“Dengan halaman itu,” kata Yurei, “kalian bisa menulis ulang satu momen dalam sejarah dunia ini. Satu keputusan. Satu akibat.”
Kaen berseru pelan, “Kita bisa memperbaiki loop. Mungkin bahkan... mencegah Final Reset.”
Aku menatap halaman itu lama. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa sesuatu dalam diriku bergetar bukan karena sistem, tapi karena pilihan.
Tapi sebelum aku bisa bertanya lebih jauh—
> [Deteksi Anomali Tingkat Tiga] [Entitas Penjaga — Korektor Beta — Telah Menemukan Lokasi]
Yurei berdiri. “Sudah waktunya. Aku tak bisa ikut. Tapi aku bisa mengulur waktu.”
Retakan di langit danau mulai menjalar. Cahaya merah dari langit menembus, menciptakan celah seperti luka terbuka.
“Kemana kita harus pergi sekarang?” tanya Ael.
Yurei menunjuk pada cermin datar yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Masuk ke sana. Itu bukan pintu. Tapi celah narasi. Jalur yang belum selesai ditulis.”
Kami berlari. Aku menggenggam Halaman Terakhir erat-erat. Ael memeluk PenCore. Dan Kaen menarik belatinya, berjaga.
Saat kami melewati cermin itu—
> Dunia tidak berpindah.
> Dunia berubah bentuk.
Kami berdiri di tengah kota yang tak pernah kami kenali, tapi terasa familier. Gedung-gedung seperti versi lain dari tempat lama. NPC di sekeliling berjalan tanpa ekspresi, tapi beberapa dari mereka...
…menatap langsung ke arah kami.
Sadar.
Mereka sadar.
Kaen menghela napas. “Ini bukan kota dari game utama. Ini dunia alternatif.”
Ael menggenggam tanganku. “Zero... kita tidak sendirian lagi.”
Aku menatap langit kota ini.
Tidak retak. Tapi seperti menunggu.
Seolah seluruh dunia menahan napas.
Menunggu cerita ini ditulis.
Dan sekarang… kami memiliki pena, halaman kosong, dan satu sama lain.
> Narasi terbuka.
> Masa lalu belum final.
> Dan akhir… belum ditentukan.