"Gak mau makan lagi?" Alvaro yang pulang dari kantor langsung menghampiri Airish. Gadis itu masih berbaring di ranjang dari pagi tadi. "Masa seorang Airish Alenka bisa patah hati!" Airish masih mengabaikan suaminya. "Apa perlu saya pecat Dhenis?" Kali ini Airish melihat lelaki di samping ranjang. "Buat apa? Gak perlu. Aku hanya butuh waktu sendiri." "Ini sudah dua hari, Irish! Mau berapa hari lagi kamu mengurung diri? Gak kangen kuliah, gak kangen ketemu teman? Gak kangen saya?" Dia melempar jasnya ke sofa, setelahnya Alvaro membuka kulkas kecil di sudur ruangan. Diambilnya sekaleng softdrink. Airish mencibir, lalu kembali menutup wajahnya dengan selimut. Nyaman sih tidur di ranjang, dari pada meringkuk di sofa. Dan karena kejadian beberapa hari lalu, mereka bertukar tempat. Alvaro ya

