Airish melangkah ringan masuk ke kampus setelah beberapa hari mengurung diri di kamar saja. Gadis itu masih dalam kondisi bersedih, tapi kadarnya hanya sedikit. Dia lebih memilih membuka mata dan hatinya untuk menerima cinta yang lain. Dari pada terus mengejar cinta dari lelaki yang sama sekali tidak menghargainya. Buat apa? Viana dan Elni sudah menunggunya di bawah pohon akasia depan kampus saat langkahnya mulai memasuki tempatnya belajar tersebut. Mereka melambaikan tangan ketika Airish berjalan setengah berlari ke arah mereka. "Kamu sakit apa, Kutil? Kok kami gak boleh nengok!" Elni langsung memeluk Airish, begitu juga dengan Viana. "Hanya sakit kecil, maksudnya bukan sakit berat!" Airish membuka risleting, lalu mengeluarkan isinya. "Aku punya hadiah buat kalian!" Elni menutup mu

