Menemui Ayahnya Langit

1052 Kata
Hari Kelima Sinar terbangun dengan perasaan yang berat. Semalam, kata-kata ibu Langit masih terus terngiang di kepalanya. Gangguan sementara. Seolah dirinya hanyalah pion kecil dalam permainan besar keluarga Pramoedya. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya keluar dari kamar, berharap bisa menghirup udara segar di balkon apartemen. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Langit berdiri di ruang tamu, duduk di sofa dengan ekspresi serius, tangannya menggenggam secangkir kopi. “Kau sudah bangun,” katanya tanpa menoleh. Sinar mengangguk kecil. “Iya.” Suasana hening selama beberapa detik sebelum Langit akhirnya berbicara lagi. “Kita harus pergi hari ini.” Sinar mengerutkan kening. “Pergi ke mana?” “Acara makan malam dengan ayahku.” Deg. Ayah Langit, sosok yang belum pernah ia temui secara langsung, tapi dari cerita-cerita yang ia dengar, pria itu lebih keras daripada ibu Langit. Lebih dingin. Lebih sulit dijangkau. Sinar menggigit bibirnya, berusaha menahan kegelisahan yang merayapi dirinya. “Apakah aku harus ikut?” Langit menatapnya sekilas. “Kau pikir?” Sinar ingin menjawab bahwa ia lebih baik tidak ikut. Tapi ia tahu, menolak bukanlah pilihan. Siang hari, Langit menjemputnya. Sinar menatap bayangannya di cermin dengan tatapan ragu. Gaun yang dikenakannya—sebuah dress satin berwarna champagne dengan potongan elegan—jatuh sempurna di tubuhnya. Namun, meskipun secara teknis gaun itu cocok, ia tidak bisa mengabaikan perasaan tidak nyaman yang menggelayut di hatinya. Dari sudut ruangan, Langit bersedekap, mengamati dirinya dengan ekspresi sulit ditebak. Ia mengenakan kemeja hitam yang tergulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat halus di lengannya. “Gaun itu terlihat bagus,” komentar Langit akhirnya, suaranya datar seperti biasa. Sinar menegakkan bahunya, mencoba mengabaikan tatapan para pegawai butik yang sibuk mengurus detail terakhir pada penampilannya. “Aku bisa memilih sendiri, Langit.” Langit mengangkat alis. “Benarkah? Karena sejauh ini, kau tampak tidak tertarik untuk memilih apa pun.” Sinar mengatupkan bibirnya. Itu benar. Sejak mereka tiba di butik eksklusif ini—yang jelas bukan tempat yang biasa ia kunjungi—ia hanya menurut pada pilihan yang diberikan. Langitlah yang mengarahkan pegawai butik untuk menyiapkan baju ini untuknya. “Aku tidak terbiasa dengan semua ini,” ujar Sinar akhirnya, menatap bayangannya di cermin. “Makan malam mewah, pakaian mahal… semua perhatian ini.” Langit berjalan mendekat, berdiri di belakangnya. Tatapannya bertemu dengan Sinar melalui cermin. “Kau akan terbiasa.” Nada suaranya terdengar seperti sebuah perintah, bukan saran. Sinar ingin membalas, tapi sebelum ia sempat berbicara, seorang pegawai datang membawa sepasang sepatu hak tinggi yang serasi dengan gaunnya. Ia menatap benda itu dengan sedikit frustasi. “Haruskah aku memakai ini?” Langit melirik sepatu itu, lalu menghela napas sebelum mengambilnya dari tangan pegawai butik. “Beri dia yang lebih rendah.” Pegawai itu tampak ragu, tapi akhirnya menurut dan kembali dengan pilihan sepatu yang lebih nyaman. Sinar mengerjap, terkejut dengan sikap Langit yang memperhatikan detail seperti ini. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya mengenakan sepatunya dengan diam-diam. Namun, dalam hatinya, ada perasaan aneh yang mulai muncul. Seolah Langit—pria dingin yang sejak awal tidak menginginkan pernikahan ini—perlahan mulai menunjukkan sisi yang berbeda. Setelah fitting selesai, Sinar mengira mereka akan langsung pulang. Namun, alih-alih menuju mobil, Langit justru mengarahkannya ke sebuah salon mewah di sebelah butik. “Kita singgah sebentar,” katanya singkat. Sinar mengernyit. “Untuk apa?” Langit menoleh sekilas, lalu mengangkat dagunya ke arah pegawai salon yang langsung menyambut mereka dengan ramah. “Rambutmu masih berantakan.” Sinar secara refleks menyentuh rambutnya. Ia memang hanya mengikatnya seadanya, tanpa banyak usaha. “Aku baik-baik saja,” tolaknya. “Tapi aku tidak ingin mendengar keluarga Pramoedya mengomentarimu sepanjang malam,” balas Langit dengan nada tegas. Sinar mendengus pelan, tapi akhirnya membiarkan pegawai salon membawanya ke kursi. Sementara rambutnya ditata, Langit duduk di sofa dekatnya, memainkan ponselnya dengan santai. “Apa kau selalu seperti ini?” tanya Sinar tiba-tiba. Langit mengangkat satu alis. “Seperti apa?” “Memastikan semua hal terlihat sempurna.” Langit tidak langsung menjawab. Ia hanya menutup ponselnya dan menatap Sinar melalui cermin. “Aku hanya tidak suka melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.” Sinar terkekeh kecil. “Jadi aku tidak pada tempatnya?” Langit diam sesaat, lalu menghela napas. “Itu bukan maksudku.” Sinar tersenyum tipis. Ia tidak yakin apakah Langit mulai berubah, atau hanya sedang berusaha menjaga citranya di depan keluarganya. Tapi satu hal yang pasti—semakin lama ia menghabiskan waktu dengan pria ini, semakin sulit baginya untuk mengabaikan debaran aneh di hatinya. Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya. Malamnya… Restoran mewah dengan nuansa klasik Eropa itu dipenuhi cahaya temaram lilin dan suara musik piano yang lembut. Para tamu berdandan elegan, berbicara dalam bisikan sopan sambil menikmati hidangan mereka. Di salah satu meja sudut, Langit dan Sinar duduk berhadapan dengan pria paruh baya yang memiliki sorot mata tajam dan wajah penuh wibawa—ayah Langit, Pramudya Adiningrat. Pria itu menatap Sinar dengan pandangan menghakimi, seolah sedang menilai setiap kekurangan yang dimilikinya. “Jadi, ini istrimu?” suaranya berat dan dalam. Sinar merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Ia mencoba tersenyum, meskipun tangannya mengepal di bawah meja. “Selamat malam, Pak.” Pramudya tidak menjawab. Ia hanya menyesap anggurnya perlahan sebelum akhirnya berkata, “Aku sudah bertemu banyak wanita dalam hidupku, Langit. Tapi ini pertama kalinya aku melihat pilihan yang begitu… mengecewakan.” Langit meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar. “Ayah.” “Aku hanya berkata jujur.” Pramudya menatap Sinar dengan tajam. “Kau mungkin berpikir bisa bertahan dalam keluarga ini, tapi percayalah, dunia kami bukan untuk orang sepertimu.” Sinar menelan ludah, berusaha menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. Namun, sebelum ia bisa berkata apa pun, Langit berbicara. “Ayah tidak perlu menyukainya. Aku menikahinya, bukan ayah.” Pramudya tersenyum kecil, tapi tatapannya dingin. “Tapi aku yang menentukan siapa yang pantas berada dalam keluarga ini.” Sinar merasakan cengkeraman halus di tangannya di bawah meja. Ia menoleh, dan menemukan Langit menggenggam jemarinya—hangat, kuat, dan… melindungi? “Sinar istriku,” kata Langit, suaranya lebih tenang dari yang seharusnya. “Dan tidak ada yang bisa mengubah itu.” Untuk pertama kalinya, Sinar melihat ekspresi Pramudya sedikit berubah. Sekilas, ada kilatan emosi di matanya—apakah itu kejengkelan atau keterkejutan, Sinar tidak tahu. Tapi satu hal yang ia tahu, genggaman tangan Langit tidak terlepas sepanjang malam itu. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, Sinar merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN