Kedatangan Tania

1032 Kata
Sinar bersandar di dinding koridor rumah megah itu, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Rasa sakit akibat kata-kata pedas dari keluarga Langit masih membekas di hatinya, menciptakan luka yang tidak bisa dilihat siapa pun. Langit berdiri di sampingnya, ekspresinya masih dingin dan arogan seperti biasa. “Kau baik-baik saja?” tanyanya, meski nadanya terdengar lebih seperti formalitas ketimbang kepedulian sungguhan. Sinar mengangguk, meski dalam hatinya ia ingin berteriak bahwa ia jauh dari kata baik-baik saja. “Aku sudah terbiasa dengan ini.” Langit mengernyit tipis. “Terbiasa?” Sinar tersenyum getir. “Dihina. Diremehkan. Diperlakukan seperti orang yang tidak pantas berada di sini.” Ia mendesah pelan. “Aku hanya harus bertahan selama tiga puluh hari, bukan?” Langit tidak menjawab, hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Lalu suara sepatu beradu dengan lantai marmer terdengar dari arah tangga. Seorang wanita muda berjalan anggun menghampiri mereka, mengenakan gaun elegan berwarna biru laut. Rambutnya yang bergelombang sempurna tergerai di bahunya, wajahnya cantik dengan sorot mata tajam yang penuh perhitungan. Sinar langsung bisa menebak siapa dia. Tania. Wanita yang seharusnya menikah dengan Langit. “Kudengar kau akhirnya menikah, Langit.” Tania tersenyum tipis, tapi sorot matanya dingin saat melirik Sinar. “Dan ini istrimu?” Langit hanya menjawab dengan anggukan singkat. Tania menghela napas, lalu menatap Sinar dengan tatapan meremehkan. “Aku tak tahu kau punya selera seperti ini, Langit. Kupikir kau akan memilih seseorang yang setidaknya memiliki sedikit… kelas.” Sinar menahan napasnya, tapi ia tidak menunduk. Ia sudah siap dengan penghinaan seperti ini. Langit menatap Tania tanpa ekspresi. “Aku tidak perlu menjelaskan pilihanku kepadamu.” Tania terkekeh kecil. “Tentu saja. Aku hanya penasaran berapa lama kau bisa bertahan dengan pernikahan ini. Kau bukan tipe pria yang bisa berpura-pura terlalu lama, Langit.” Sinar menggigit bibirnya. Itu adalah pukulan lain yang telak. Tania lalu melangkah lebih dekat ke Langit, suaranya lebih rendah namun cukup untuk didengar Sinar. “Kau tahu, Langit? Jika kau berubah pikiran, aku masih di sini.” Sinar menundukkan kepalanya, berusaha menelan pahitnya kenyataan. Jadi inilah wanita yang sesungguhnya diinginkan Langit. Langit tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Tania dengan ekspresi datar, sebelum akhirnya berkata, “Kau terlambat, Tania.” Tania mendengus pelan, lalu melirik Sinar lagi sebelum berbalik dan pergi. Sinar merasa seolah tubuhnya kehilangan tenaga. Ia ingin meninggalkan tempat ini secepat mungkin, tapi Langit tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya. “Kita pergi sekarang.” Sinar menatap tangan Langit yang mencengkeramnya, lalu menatap wajah pria itu. Ada sesuatu di mata Langit yang tidak bisa ia baca—entah kemarahan, kebingungan, atau mungkin… rasa bersalah? Tapi itu pasti hanya ilusinya saja. Mobil melaju dengan tenang di bawah langit malam. Sinar duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela tanpa mengatakan apa pun. Langit menyetir dengan ekspresi tegang, sesekali melirik ke arahnya. “Tania tidak berarti apa-apa bagiku.” Sinar tersenyum pahit. “Aku tidak bertanya.” Langit menghela napas, tampak sedikit frustasi. “Aku hanya tidak ingin kau berpikir—” “Bahwa aku hanyalah boneka dalam permainanmu?” Sinar menoleh, menatapnya tajam. “Bukankah itu memang kenyataannya?” Langit terdiam. Sinar tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Langit. Aku tidak pernah berharap lebih.” Lalu ia kembali menatap keluar jendela, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang mulai menggerogoti hatinya. Hari ketiga. Sinar baru saja pulang dari rumah sakit setelah memastikan ibunya mendapatkan perawatan yang layak. Begitu memasuki apartemen Langit, tubuhnya langsung terasa lelah. Ia melepas sepatunya dan berjalan ke dapur, berencana untuk membuat teh hangat. Tapi begitu ia membuka lemari dapur, yang ia lihat hanyalah rak kosong. Tentu saja. Langit tidak pernah berada di rumah cukup lama untuk menyimpan persediaan makanan. Sinar mendesah dan memutuskan untuk memesan makanan. Namun, saat ia merogoh sakunya, ia baru menyadari bahwa dompetnya tidak ada. Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia menggunakannya. Apakah ia meninggalkannya di rumah sakit? Atau mungkin di mobil? Saat itu juga, pintu apartemen terbuka dan Langit masuk. Sinar langsung menoleh. “Langit, aku mungkin kehilangan dompetku—” “Apa ini?” Langit mengangkat sebuah benda kecil berwarna coklat—dompetnya. Sinar menghembuskan napas lega. “Di mana kau menemukannya?” “Di mobil,” jawab Langit. Sinar berjalan mendekat untuk mengambilnya, tapi Langit tidak langsung memberikannya. “Apa kau makan hari ini?” tanyanya tiba-tiba. Sinar mengerjap. “Tentu saja.” “Jangan bohong.” Langit menatapnya tajam. “Aku melihat rekeningmu hampir kosong.” Sinar membeku. Jadi… Langit tahu. Langit menghela napas dan meletakkan dompetnya di meja. “Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sedang kesulitan?” Sinar menundukkan kepalanya. “Aku bisa mengatasinya.” “Tapi kau tidak perlu melakukannya sendiri,” suara Langit terdengar lebih lembut dari biasanya. Sinar terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar nada suara Langit seperti itu. Pria itu mengusap tengkuknya, tampak sedikit canggung. “Aku sudah memesan makanan. Jadi kau bisa makan dengan benar.” Sinar menatapnya lama, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Langit—pria arogan dan dingin yang selalu menjaga jarak—tiba-tiba peduli? Tidak. Itu pasti hanya rasa bersalah. Ya, itu pasti hanya rasa bersalah. Sinar tidak boleh berpikir yang lain. Tidak boleh berharap lebih. Tidak boleh menginginkan sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya. Tapi saat Langit menatapnya dengan ekspresi aneh itu, ia tidak bisa mencegah hatinya berdegup sedikit lebih kencang. Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya. Hari keempat. Sinar dan Langit menghadiri acara keluarga besar Pramoedya lagi. Tapi kali ini, tekanannya jauh lebih besar. Sejak mereka datang, semua mata tertuju pada Sinar—memandangnya seolah ia adalah makhluk asing yang tidak seharusnya ada di sana. Dan kemudian, di tengah acara, seorang wanita tua—ibu Langit—mendekatinya dengan senyum sinis. “Kau tahu, Sinar,” katanya pelan tapi menusuk, “tidak peduli berapa lama kau tinggal di sini, kau tetap tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini.” Sinar menahan napasnya. “Kau hanyalah gangguan sementara,” lanjutnya. “Dan setelah Langit bosan, dia akan menyingkirkanmu.” Sinar menggigit bibirnya. Ia tidak boleh bereaksi. Tidak boleh menunjukkan kelemahan. Tapi saat ia menoleh ke arah Langit, pria itu sedang berbicara dengan Tania—terlihat begitu nyaman seolah Sinar tidak pernah ada di sana. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini dimulai, Sinar merasa benar-benar sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN