Sinar duduk di tepi tempat tidur, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Ia menarik napas dalam, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Aku tidak boleh terlibat perasaan.
Pernikahan ini hanyalah kesepakatan.
Langit membutuhkan dirinya untuk membuktikan kepada sang Kakek bahwa ia pantas menjadi pewaris sah Pramoedya Corporation.
Dan Sinar… ia membutuhkan uang Langit untuk melunasi utang keluarganya.
Hanya itu.
Tidak lebih.
Tidak ada cinta.
Tidak ada harapan.
Sinar memejamkan mata, mengingat kembali kondisi ibunya yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Uang yang ia butuhkan bukan sekadar untuk membayar utang, tetapi juga untuk biaya pengobatan ibunya yang semakin membengkak.
Jika bukan karena situasi yang mendesak, ia tidak akan pernah menerima perjanjian ini.
Tapi hidup tidak memberinya pilihan.
Jika ia harus menjalani tiga puluh hari sebagai istri Langit demi menyelamatkan keluarganya, maka ia harus melakukannya tanpa melibatkan hati.
Jangan bodoh, Sinar. Jangan biarkan dirimu berharap lebih.
Matanya mengembara ke arah jendela. Kota yang gemerlap di bawah sana terasa begitu asing, seolah bukan dunianya. Ia hanyalah seorang wanita biasa yang tanpa sengaja masuk ke dalam dunia orang-orang seperti Langit.
Dan setelah tiga puluh hari berlalu, ia akan kembali ke kehidupannya yang lama.
Tanpa Langit.
Tanpa pria itu dalam hidupnya.
Sinar mengusap wajahnya, lalu bangkit berdiri. Ia tidak boleh terus larut dalam pikirannya.
Ketika ia keluar dari kamar, suara langkah kaki terdengar mendekat. Sinar mendongak dan melihat Langit berjalan ke arahnya dengan ekspresi serius.
"Kita perlu bicara," ucapnya datar.
Sinar menegakkan punggungnya. "Tentang apa?"
Langit tidak langsung menjawab. Ia menatapnya sejenak sebelum berkata, "Tentang Kakek."
Hati Sinar mencelos.
Ia sudah mendengar bahwa Kakek Langit sedang sakit keras. Salah satu alasan mengapa Langit setuju untuk menikahinya adalah karena pria itu ingin menunjukkan kepada Kakeknya bahwa ia sudah memiliki istri, seseorang yang bisa mendampinginya sebagai pewaris perusahaan.
"Keadaannya semakin memburuk," lanjut Langit. "Dokter bilang mungkin hanya beberapa minggu lagi."
Sinar menggigit bibirnya.
Jadi, itu artinya waktu mereka semakin terbatas.
"Kita harus lebih meyakinkan Kakek," Langit melanjutkan. "Aku ingin dia percaya bahwa pernikahan ini nyata, dan aku memang pantas menjadi pewarisnya."
Sinar mengangguk pelan. "Aku mengerti. Apa yang harus kulakukan?"
Langit menatapnya dalam. "Mulai sekarang, kita harus lebih sering terlihat bersama. Aku ingin Kakek berpikir bahwa kita benar-benar pasangan yang saling mencintai."
Sinar menahan napas.
Pasangan yang saling mencintai?
Ironis.
Langit mungkin bisa berpura-pura, tetapi ia tahu pria itu sudah memiliki seseorang di hatinya.
Dan Sinar… ia hanya berusaha agar tidak tenggelam dalam perasaan yang tidak seharusnya ada.
"Aku akan melakukan bagianku," akhirnya Sinar berkata dengan suara mantap.
Langit mengangguk. "Bagus."
Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu berbalik dan pergi.
Sinar menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Di luar, ia mungkin bisa bertindak seperti istri Langit.
Tapi di dalam hatinya, ia hanya bisa berjanji satu hal—
Jangan jatuh cinta padanya. Jangan pernah.
Sinar tidak pernah merasa sekecil ini dalam hidupnya.
***
Hari kedua.
Sejak pagi, ia telah bersiap menemani Langit ke kediaman keluarga besar Pramoedya. Rumah megah dengan arsitektur klasik itu berdiri gagah di atas lahan yang luas, dipenuhi dengan keindahan yang hanya dimiliki oleh orang-orang kelas atas. Namun, bagi Sinar, tempat ini lebih menyerupai arena pertarungan.
Langit berjalan di sampingnya dengan ekspresi datar, seolah tak peduli pada atmosfer penuh ketegangan yang menyelimuti ruangan besar itu. Beberapa anggota keluarga telah berkumpul, duduk di sofa panjang dengan tatapan penuh penilaian.
Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya dengan gaun mahal berdiri dan menatap Sinar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau istri Langit?" suaranya dingin dan penuh ejekan.
Sinar menelan ludah. "Ya, Tante."
"Jangan panggil aku Tante," potong wanita itu tajam. "Aku tidak selevel denganmu."
Hatinya mencelos.
Baru dua menit ia di sini, dan ia sudah diperlakukan seperti orang rendahan.
"Kalian menikah diam-diam, tanpa sepengetahuan keluarga," seorang pria lanjut usia angkat bicara, nadanya mencurigakan. "Langit, bagaimana kau bisa begitu ceroboh? Kau tahu betapa pentingnya menjaga nama baik keluarga kita!"
"Benar!" wanita tadi menimpali. "Dan sekarang kau membawa seorang gadis entah dari mana. Kau pikir kami akan percaya begitu saja bahwa pernikahan ini tulus?"
Sinar bisa merasakan tangan Langit mengepal di samping tubuhnya. Tapi pria itu tetap diam.
"Sudah jelas perempuan ini hanya mengincar uangmu," suara lain menyusul, kali ini dari seorang pria muda yang duduk bersilang tangan. "Aku tidak mengerti kenapa kau memilih seseorang seperti dia."
Sinar mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri.
Ia tahu akan ada tekanan dari keluarga Langit. Tapi mendengar tuduhan mereka secara langsung tetap saja menusuk hatinya.
Ia ingin membela diri. Ingin menjelaskan bahwa pernikahan ini bukan atas kehendaknya sendiri. Tapi ia tahu, itu tidak akan mengubah apapun.
Tak seorang pun di sini yang tahu bahwa pernikahan ini adalah wasiat dari Kakek Langit—sebuah pesan yang disampaikan melalui pengacara sebelum kesehatan pria tua itu memburuk.
Keluarga besar Langit mengira pernikahan ini hanyalah keputusan impulsif yang diambil tanpa pertimbangan. Dan lebih buruk lagi, mereka melihatnya sebagai seorang wanita licik yang berusaha mendapatkan keuntungan dari Langit.
"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan," akhirnya Langit angkat bicara, suaranya tajam dan tegas. "Aku tahu apa yang kulakukan."
"Apa kau yakin?" wanita tadi menyipitkan mata. "Kau pikir kakekmu akan menyetujui pernikahan seperti ini?"
Langit tersenyum tipis. "Kalau kalian benar-benar ingin tahu, Kakek lah yang menginginkan pernikahan ini terjadi."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Semua orang terdiam, seolah sulit mempercayai apa yang baru saja dikatakan Langit.
"Apa?" suara pria lanjut usia itu terdengar kaku.
"Kakek ingin aku menikah sebelum ia pergi," Langit melanjutkan, tatapannya tajam. "Dan aku menghormati keinginannya."
"Tidak mungkin."
"Jangan bicara omong kosong, Langit."
Langit menyandarkan tubuhnya ke sofa, tenang tapi berbahaya. "Jika kalian tidak percaya, silakan tanyakan langsung pada pengacara keluarga."
Sinar bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah mereka. Beberapa tampak terkejut, sementara yang lain masih enggan menerima fakta tersebut.
"Jadi… kau hanya menikahinya karena wasiat Kakek?" suara dari pria muda tadi terdengar sinis. "Kalau bukan karena itu, kau tidak akan pernah memilih wanita ini, kan?"
Sinar menegang.
Ia menunggu jawaban Langit.
Tapi pria itu hanya menatap saudaranya dengan ekspresi kosong, seolah tidak ingin memberikan jawaban pasti.
Dan diamnya itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Jadi memang benar.
Langit menikahinya hanya karena terpaksa.
Ia tahu itu sejak awal. Tapi tetap saja, mendengar orang lain mengatakannya di depan wajahnya membuat hatinya terasa sesak.
"Bagaimanapun juga, pernikahan ini sudah terjadi," Langit akhirnya berkata. "Dan aku tidak membutuhkan persetujuan kalian."
"Jangan lupa, Langit," suara pria lanjut usia itu terdengar tajam, "keputusan Kakek tidak selalu final. Jika pernikahan ini ternyata hanya lelucon, jangan harap kau bisa mempertahankan posisi sebagai pewaris."
Langit hanya tersenyum tipis, lalu berdiri. "Terima kasih atas perhatiannya. Tapi aku tidak perlu nasehat dari kalian."
Tanpa menunggu tanggapan, ia menarik tangan Sinar dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Begitu mereka sampai di luar, Sinar menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosinya.
Langit melepaskan genggamannya. "Jangan pedulikan mereka."
Sinar menoleh ke arahnya. "Mereka membenciku."
"Mereka tidak mengenalmu."
"Tapi mereka tidak mencoba mengenalku juga," Sinar membalas, suaranya bergetar. "Bagiku, ini bukan hanya pernikahan palsu. Aku harus menanggung semua cemoohan mereka, semua tatapan penuh hinaan itu. Aku bukan bagian dari dunia ini, Langit."
Langit menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Kau hanya perlu bertahan selama tiga puluh hari."
Tiga puluh hari.
Itu seharusnya terdengar singkat.
Tapi dengan semua tekanan ini, Sinar merasa itu akan menjadi waktu yang sangat panjang.
Ia mengangguk pelan, menelan semua emosinya.
Ia tidak boleh lupa alasan mengapa ia menerima pernikahan ini.
Bukan karena Langit.
Bukan karena cinta.
Tapi karena keluarganya.
Karena utang yang harus ia lunasi.
Dan karena ibunya yang masih menunggu untuk sembuh.
Ia tidak akan membiarkan perasaan melemahkannya.
Tidak sekarang.
Dan tidak untuk Langit.