Pagi masih begitu dini, ketika Sinar membuka mata. Di sebelahnya, Langit terlelap masih sangat nyenyak.
Sebagai pengantin baru, ranjang mereka begitu rapih dan posisi tidur mereka pun begitu canggung.
Sejenak, Sinar menatap punggung kekar pria yang secara sah sudah menjadi suaminya itu. Ada rasa kagum yang mendadak muncul di hatinya menyadari bahwa Langit memang pria yang proporsional dan high quality sehingga sangat wajar jika pria itu banyak dikagumi. Tentu saja, bertambah lengkap dengan kekayaan dan asetnya yang melimpah sebagai calon pewaris Pramoedya Coorporation.
Tak berselang lama, Sinar pun merayap turun dari ranjang. Langkah kecilnya membawa tubuh setinggi 157 sentimeter itu menuju ke kamar mandi.
"Aku, Nyonya Langit Pramoedya," ucap Sinar sambil terus menatap pantulan dirinya di cermin.
Rona wajahnya berubah kemerahan seraya menguntai senyum yang penuh ketidak percayaan.
"Ya, bagaimanapun juga meski hanya 30 hari, tetap saja aku akan tercatat di dalam sejarah Langit sebagai istrinya. Istri sah pertama Langit Pramoedya." Sinar mengatakannya seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya ini adalah benar.
Setengah jam berlalu, Sinar keluar dari kamar mandi dan sorot dingin Langit yang sudah terjaga langsung mengunci manik matanya.
"Lama sekali kau mandi?" Langit langsung berdiri setelah mengatakannya
"Eh, heyy!" Sinar memekik sambil menutup matanya ketika melihat Langit dengan tenang melepaskan satu persatu pakaiannya.
"Kenapa menjerit? Norak! Seolah kau baru melihat benda lelaki saja!" Ketus Langit sambil mendekat ke arahnya dengan langkah tenang.
"Aku memang be-lum ...!" Sinar yang terbelalak langsung menutup wajahnya setelah melihat benda pribadi Langit yang berurat panjang dan menegang itu.
Belum sempat Sinar menyelesaikan kalimatnya, tangan Langit sudah terlebih dahulu menarik paksa handuk yang digunakan Sinar.
"Langit!" Kali ini teriakan Sinar langsung memenuhi ruang kamar tersebut. Wanita itu langsung ambruk sesaat setelah meneriaki pria yang baru saja melepaskan satu-satunya kain penutup tubuhnya. Jantung Sinar seakan hendak terlepas karena kejutan yang bertubi ini
"Dasar norak!" Langit tak memedulikan Sinar dan tetap tenang melangkah ke kamar mandi meski dalam hati dia juga merutuki dirinya sendiri yang tak bisa membuat tidur benda kesayangannya itu. Meski begitu, ada senyum bahagia menyimpul wajah tampannya setelah sekilas memandangi tubuh proporsional Sinar tadi.
"Ternyata, dia eksotik juga." Fikiran nakal Langit mulai bergerilya mengetahui jika Sinar memiliki tubuh yang sangat ideal dan juga high quality. Kulit putih mulus, bersih terawat, lekuk tubuh seperti biola spanyol yang padat berisi di beberapa tempat terbaiknya, dan juga bau tubuhnya yang harum. Semua itu semakin sempurna dengan rambut panjang yang tergerai acak dan basah.
Sementara Sinar, dia masih belum beranjak dari posisinya saat ini. Pemandangan yang baru saja dilihatnya terlalu pribadi untuk bisa diserap akal sehatnya. Terlebih, sikap dingin pria itu yang sepanjang hari tak menggubris keberadaannya.
"Ahh, apaan sih?" Sinar memukuli kepalanya sendiri yang dengan nakal mulai memikirkan hal-hal kotor setelah mengetahui pemandangan indah dari tubuh sang suami.
Bergegas, Sinar langsung berjalan menuju wardrobe untuk berpakaian.
Hawa panas, masih menjalar di wajahnya, sementara sekujur tubuhnya pun masih merasakan sengatan syok yang dialaminya berkat sikap Langit tadi.
"Tidak! Tidak! Lupakan! Lupakan!" Sinar terus mengafirmasi dirinya untuk tidak memikirkan hal yang kotor lagi tentang Langit. Meski begitu, sebagai wanita dewasa, jelas Sinar tak bisa mengabaikan apa yang baru saja terjadi telah membuatnya berdesir hebat.
"Mana pakaianku?" Suara Langit memecah keheningan, membuat Sinar kembali terkejut.
"Apa? Pakaianmu?" Sinar menoleh ke arah Langit yang kini berdiri di pintu ruangan wardrobe. Bola mata Sinar kembali melebar melihat betapa menariknya Langit saat ini, dengan rambut yang masih agak basah dan beberapa buliran air yang masih tersisa di tubuhnya, serta d**a bidang yang dengan tenang dibiarkannya terbuka di depan Sinar.
"Per-fect!" Spontan Sinar berucap.
"Lama sekali! Minggir!" Langit melangkah melewatinya. Pria itu kemudian mengambil sendiri pakaiannya dan memakainya dengan tenang tanpa peduli jika Sinar berada di sebelahnya.
Jeda menit membungkam Sinar dan Langit.
"Pakaikan dasinya! Ini semua menjadi tanggung jawabmu bukan? Setidaknya, meski hanya 30 hari, kau harus menunjukan jika kau berguna!" Kalimat tersebut dilontarkan Langit dengan sangat dingin sembari menyodorkan sebuah dasi berwarna navy bergaris putih kepadanya.
Sinar mengangguk. Jantungnya berdebar sangat hebat, terlebih ketika Langit mendekat ke hadapannya. Pria itu kini berdiri hanya satu jengkal di hadapannya. Postur tinggi Langit semakin terasa saat mereka berdiri sedekat ini. Ya ... Sinar bahkan harus berjinjit untuk bisa meraih leher suaminya itu.
Hembusan nafas Langit, terasa menghangat di ujung kepalanya, membuat jantung Sinar semakin tak menentu.
"Kau bisa memakaikan dasi bukan?" Langit bertanya sambil menatapnya.
Sesaat, dua pasang manik mata mereka saling bertemu. Alih-alih kesal dengan semua perlakuan Langit, Sinar justru merasakan kehangatan yang berbeda.
"Seperti inikah rasanya menikah?" Batin Sinar.
Tanpa Sinar ketahui, dibalik sikap dingin Langit saat ini, pria itu pun merasakan keanehan yang sama.
Ya, bahkan sejak malam tadi. Langit nyaris tak bisa tertidur karena keberadaan Sinar di ranjangnya. Langit terbangun, ketika Sinar tadi melangkah turun dari ranjang mereka. Bahkan aroma lavender dari sabun mandi yang digunakan Sinar mendadak membiusnya dalam debaran aneh yang menggetarkan sekujur tubuhnya.
Untuk semua itu, Langit pun terus mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia harus mengabaikan wanita yang telah diperistrinya itu.
Sialnya, Langit semakin tergugah ketika melihat Sinar keluar dari kamar mandi dengan rambut panjangnya yang tergerai basah dan kaki jenjang mungilnya yang membuat gairah lelakinya seketika terjaga.
Sekuat tenaga, Langit mencoba menahan diri dengan berpura-pura mengacuhkan wanita itu.
"Selesai!" Sinar menepuk dua kali simpul dasi yang baru saja dibuatnya. Lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan wardrobe. Dia perlu berhias sebelum keluar dari kamarnya ini.
Sementara itu Langit, hanya berdiri mematung memandanginya yang menjauh pergi.
"Sial! Kenapa dia harum sekali," gumam Langit sambil mengelus lembut benda kecilnya yang entah kenapa terus menegang setiap kali berdekatan dengan Sinar.
***
Gaun putih sederhana membalut tubuhnya dengan pas, rambutnya ia biarkan tergerai lembut. Tidak ada yang salah dengan penampilannya, tetapi tetap saja, ada perasaan aneh yang mengganggu hatinya.
Hari ini adalah hari pertama ia datang ke kantor Pramoedya Corporation sebagai istri Langit. Meski ia tidak memiliki peran penting di dalam perusahaan, setidaknya ia harus menunjukkan bahwa ia bagian dari keluarga Pramoedya.
Langit tidak memintanya tetap datang ke kantor dan bekerja seperti biasanya.
"Ingat! Di perusahaan, jangan ada seorangpun selain Dippo yang tahu status pernikahan kita! Supir akan mengantarmu sampai stasiun, kau berangkat dengan bis seperti biasa."
"Ya."
Perbincangan singkat setelah sarapan itu pun menutup pagi mereka kali ini.
Langit tak segera berangkat, dia memeriksa dulu beberapa surat kabar di ruang keluarga. Sementara Sinar, dia harus tahu diri dan segera berangkat bekerja.
***
"Antarkan ke ruangan Pak CEO," perintah Kepala Departemen Hukum dimana Sinar bekerja.
"Baik," dengan antusias Sinar menjawab. Bagaimanapun dia memang sangat ingin melihat Langit saat ini.
Langkah bersemangat Sinar, mendadak terhenti ketika tiba di depan pintu ruangan kerja Langit. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Sinar melihat suaminya berdiri di samping seorang wanita cantik bergaun merah.
Mereka tampak akrab.
Terlalu akrab.
Wanita itu tersenyum dengan manis, dan Langit membalasnya dengan tatapan lembut yang belum pernah Sinar lihat sebelumnya.
Hatinya mencelos.
Seolah ada batu besar yang tiba-tiba menekan dadanya.
Sinar tahu pernikahannya dengan Langit bukan karena cinta, tetapi menyaksikan suaminya menunjukkan ekspresi yang begitu hangat kepada wanita lain—sesuatu yang tak pernah ia dapatkan—membuat hatinya perih.
Sebuah suara menariknya kembali ke realitas.
“Sinar?”
Sinar menoleh dan melihat Dippo tengah menuju ke arahnya. Wajah pria itu tampak sedikit terkejut melihatnya berdiri di depan pintu kantor Langit.
“Kamu kenapa?” tanyanya dengan nada penuh perhatian.
Sinar mengangguk cepat, lalu memalingkan wajahnya sebelum Dippo bisa melihat kilatan kesedihan di matanya. “Aku hanya datang untuk menyerahkan dokumen ini. Beruntung kamu datang Pak, bisakah berkasnya dibawa sekalian?”
Dippo melirik ke dalam ruangan Langit sebelum menatapnya kembali. Ada pemahaman dalam matanya.
“Okay, sekalian aku berikan. Oh ya ... Jangan terlalu dipikirkan,” katanya pelan. “Langit… memang lebih terbuka dengan orang-orang tertentu.”
Sinar mengangguk, meskipun ia tidak benar-benar memahami maksud Dippo.
Siapa wanita itu?
Dan mengapa Langit terlihat begitu berbeda ketika bersama dengannya?
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sinar membalikkan badan dan berjalan menjauh. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, tetapi yang jelas, ia tidak ingin melihat Langit dan wanita itu lebih lama lagi.
Aku tidak seharusnya merasa seperti ini.
Tapi, mengapa rasanya seperti seseorang baru saja meremukkan hatinya?
"Aku tidak boleh melibatkan perasaanku!" Sinar menegaskan dirinya.