Pernikahan Tanpa Cinta

1020 Kata
Sinar Renjani menatap gaun pengantin berwarna putih gading yang terhampar di atas tempat tidur. Jari-jarinya menggenggam erat ujung kainnya, merasakan teksturnya yang halus, tetapi hatinya terasa lebih kasar dari permukaan aspal yang terbakar matahari. Gaun itu tampak indah, mewah, dan elegan. Seharusnya, seorang pengantin wanita merasa bahagia mengenakannya. Tapi tidak dengan Sinar. Hari ini, ia akan menikah. Bukan karena cinta, bukan karena impian masa kecilnya tentang pernikahan yang bahagia. Ia menikah demi menyelamatkan keluarganya, demi menghapus utang yang menghancurkan hidup ayahnya. “Sinar…” Suara lembut ibunya terdengar dari belakang, membuatnya menoleh. Wajah wanita itu tampak cemas, garis-garis halus di wajahnya semakin kentara setelah bertahun-tahun memikul beban yang terlalu berat. “Kamu yakin mau melakukan ini?” tanya ibunya dengan nada penuh kekhawatiran. Sinar menelan ludah. Tidak, ia tidak yakin. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa pernikahan ini tidak akan menjadi mimpi buruk. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Jika ia menolak, keluarganya akan kehilangan segalanya. “Aku tidak punya pilihan lain, Bu.” Ibunya terisak pelan, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Sinar tahu, meskipun ibunya sedih melihatnya menikah dengan pria yang tidak ia kenal dengan baik, beliau juga sadar bahwa ini satu-satunya jalan keluar dari kehancuran. Pernikahan itu berlangsung di ballroom hotel mewah, dikelilingi oleh lampu kristal yang berkilauan dan tamu-tamu berpakaian formal yang hadir bukan karena ingin melihat dua insan bersatu dalam kebahagiaan, tetapi karena ingin menyaksikan kesepakatan bisnis dua keluarga besar. Langit Pramoedya, pria yang akan menjadi suaminya, berdiri di ujung altar dengan ekspresi dingin yang tidak bisa ditembus. Matanya yang tajam menatap ke depan, sama sekali tidak menunjukkan emosi saat Sinar berjalan mendekatinya. Saat Sinar berdiri di sampingnya, ia merasakan hawa dingin yang menguar dari pria itu. Tidak ada senyum, tidak ada sentuhan lembut. Bahkan saat Langit menggenggam tangannya untuk memasangkan cincin pernikahan, sentuhan itu terasa sekadar formalitas. “Aku berjanji akan mencintaimu dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat…” suara Langit terdengar tenang, tetapi hampa. Sinar ingin tertawa pahit. Mereka sama-sama tahu, janji itu hanya omong kosong. Saat akhirnya Langit mencondongkan tubuh untuk mencium keningnya sebagai simbol sahnya pernikahan, Sinar merasakan bibir pria itu menyentuh kulitnya dengan sangat singkat, nyaris tanpa kontak sama sekali. Ia tahu, bagi Langit, pernikahan ini tidak lebih dari sebuah transaksi bisnis. Dan itu menyakitkan. Malam itu, di kamar pengantin mereka yang luas dan megah, Sinar duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Langit berdiri di dekat jendela, menghadap keluar dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. “Kita perlu bicara.” Sinar mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Langit berbalik dan berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depannya. “Aku akan membuat ini jelas sejak awal.” Suaranya dingin dan tegas. “Pernikahan ini hanya untuk memenuhi perjanjian bisnis antara keluargaku dan keluargamu. Aku tidak ingin ada perasaan yang terlibat.” Sinar menggenggam tangannya erat di atas pangkuannya. Ia sudah menduga ini akan terjadi, tapi tetap saja, mendengar langsung dari mulut Langit membuat hatinya nyeri. “Aku mengerti,” jawabnya datar. Langit menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Bagus. Aku akan tidur di kamar lain. Jangan menungguku.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pria itu mengambil jasnya dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Sinar sendiri di ruangan yang terasa lebih dingin daripada musim dingin. Sinar menghela napas panjang dan menunduk. Pernikahan ini baru saja dimulai, tetapi ia sudah bisa merasakan betapa sulitnya hari-hari ke depan. Ia sudah menyerahkan hidupnya untuk pernikahan yang tidak memiliki cinta. Dan ia tidak tahu apakah ia akan sanggup bertahan. Tiga bulan sebelumnya. Sinar berdiri di depan kantor megah milik Pramoedya Corporation, menggenggam amplop berisi lamaran pekerjaan dengan erat. Ia baru saja lulus dari universitas dan berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk membantu keluarganya. Ayahnya, yang dulunya seorang pengusaha sukses, telah jatuh bangkrut setelah proyek besar yang gagal. Utang menumpuk, dan mereka hampir kehilangan rumah. Ia melangkah masuk ke dalam gedung dengan penuh harapan, tetapi tidak menyangka bahwa langkah ini justru akan mengantarkannya ke jalan yang lebih sulit. Saat wawancara kerja, ia bertemu dengan Langit Pramoedya untuk pertama kalinya. Pria itu adalah CEO termuda di dunia bisnis dan dikenal dingin serta tanpa belas kasihan. Sinar tidak pernah menyangka bahwa tiga bulan setelah pertemuan itu, ia akan berdiri di pelaminan bersamanya, bukan sebagai karyawan, tetapi sebagai istrinya. Malam pertama pernikahan mereka berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Pagi harinya, saat Sinar bangun, Langit sudah tidak ada di kamar. Ia berjalan keluar dan menemukan sarapan sudah disiapkan di meja makan. Namun, pria itu tidak terlihat di mana pun. Sinar duduk dan menatap makanan di depannya. Ia merasa seperti sedang tinggal di rumah orang asing. Saat itulah seorang pelayan datang dan meletakkan sebuah catatan kecil di meja. Dari Langit. "Aku ada urusan bisnis. Jangan menungguku." Hanya satu kalimat singkat tanpa basa-basi. Sinar menggigit bibirnya, menahan air mata yang ingin jatuh. Pernikahan ini benar-benar tidak ada bedanya dengan kesepakatan bisnis. Dan ia sadar, bahwa mencintai Langit Pramoedya hanya akan membuatnya semakin terluka. Hari-hari berlalu dalam kesepian. Langit jarang pulang, dan jika pulang pun, mereka hampir tidak berbicara. Namun, ada satu orang yang selalu bersikap ramah padanya—Dippo Rangga Wisesa, sahabat Langit yang juga merupakan pengacara perusahaan. “Jangan terlalu dipikirkan, Sinar,” ujar Dippo suatu hari saat mereka bertemu di ruang makan. “Langit memang selalu seperti itu. Dia tidak pernah membiarkan orang masuk ke dalam kehidupannya.” Sinar menghela napas. “Tapi aku istrinya. Bukankah seharusnya dia menganggapku lebih dari sekadar mitra bisnis?” Dippo tersenyum miris. “Kamu hanya perlu bersabar. Aku tidak bisa menjanjikan bahwa dia akan berubah, tapi… mungkin saja, seiring waktu.” Sinar tahu, tidak ada yang bisa menjamin bahwa Langit akan berubah. Tapi harapan kecil tetap ada di dalam hatinya, meskipun ia tahu bahwa semakin ia berharap, semakin besar kemungkinan hatinya akan hancur. Malam itu, Sinar berdiri di balkon kamar mereka, menatap kota yang gemerlap. Hatinya terasa kosong. Pernikahan ini mungkin hanya akan berlangsung 30 hari, seperti yang tertulis dalam kontrak yang mereka tanda tangani. Dan setelah itu? Ia akan kembali menjadi orang asing bagi Langit Pramoedya. Tapi mengapa… hatinya terasa semakin berat setiap kali ia memikirkannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN