Tony Memilih....

1139 Kata
"Kau sepertinya terlihat takut saat ini?" sindir Davira menatap sinis pada Andhira di depannya. Anindira yang merasa tersindir, langsung saja menggebrak meja di depannya dengan cukup keras. Ia menatap nyalang pada sosok Davira di depannya. "Kau jangan menghinaku yah. Kita belum mendengar jawaban dari Tony akan bagaimana. Huh, aku yakin dia akan mendengarkan diriku ini. Dia pasti akan lebih memilih diriku ini. Secara yah, aku ini lebih elegan dan lebih cantik dari dirimu," hina Andhira dengan tatapan sinis. Kaila menatap tak percaya pada wanita yang ada di depannya ini. Apakah sua masih Andhira, orang yang ia kenal? Rasanya Andhira yang ada di depannya ini sangat berbeda dengan Andhira yang dulu ia kenal. Andhira yang sekarang tak ada beda jauh dengan para wanita angkuh seperti Luna. Apa karena bergaul dengan Luna, hingga membuat wanita yang dulu dekat dengannya itu langsung berubah sedrastis ini? "Cukup Andhira! Kenapa kau bisa berubah secepat ini? Andhira yang aku kenal tak akan bersikap seperti ini. Aku yakin kau seperti ini karena pengaruh dari ajakan Luna bukan?" duga Kaila Terlihat Andhira yang langsung berdecih keras saat mendengar perkataan Kaila. Saat ini, giliran Kaila yang ditatap sinis olehnya. "Kau tak usah deh sok-sokan menceramahiku dengan semua perkataan omong kosongmu itu. Karena aku sama sekali enggak akan ada peduli dengan hal seperti itu," tukas Andhira dengan tatkala yang berubah tajam. "Udahlah Kai. Kau jangan membuang-buang energimu untuk memberikan petuah pada wanita di depanmu ini. Karena dia itu wanita yang memiliki hati yang keras. Dia tak akan mau melihat orang lain. Karena dia akan menghalalkan segala cara agar keinginannya itu tercapai," geram Davira yang balik menatap tajam ke arah Andhira. Sedangkan Andhira hanya menatap remeh pada dua wanita di depannya itu. Heh, dasar wanita-wanita enggak tau diri! Liat aja, saat Tony datang dan memilih diriku, aku akan tetawa keras di depan mereka. Biar mereka tau kalau seorang Andhira tak akan bisa mereka lawan ~ batin Andhira yang bersmirk. Pintu kafe terbuka. Suara lonceng pintu itu membuat ketiga wanita yang terlihat bersitegang itu langsung menatap ke arah pintu kafe. Tatapan agak terkejut dan lega terlihat di wajah mereka saat melihat sosok Tony yang baru saja masuk ke dalam. Tony mengedarkan pandangannya sejekap untuk mencari keberadaan orang yang tadi menelpon dirinya. Senyum lebar langsung terbit di wajahnya kala menemukan orang itu. Ia segera berjalan mendekati meja di mana Davira dan Andhira berada. Senyum lebar tetap terpatri di wajahnya. Andhira melihat penuh harap pada sosok Tony yang semakin mendekati mejanya. Dalam hatinya berpikir jika Tony akan langsung memeluk dirinya. Karena ia berpikir senyuman lebar itu ditujukan untuknya. Namun, semua itu langsung terbantahkan kala sosok Tony malah melewati dirinya dan lebih memeluk Davira. Tony bahkan mencium pucuk kepala Davira dengan sayang. Seketika mata Andhira melebar melihat interaksi itu. Sedangkan Davira langsung memandang Andhira dengan tatapan penuh kemenangan. Melihat hal itu membuat Andhira langsung mengepalkan tangannya dengan kuat. Kaila tentu saja melihat hal itu. Sebenarnya ia agak kasihan dengan Andhira. Namun ini adalah kenyataan yang sebenarnya. Tony yang nyatanya akan lebih memilih Davira yang dari dulu ia cintai. "Davira, kenapa kau memanggilku ke sini?" tanya Tony "Emm, aku mau membuktikan sesuatu saja pada seseorang saat ini," jawab Davira dengan senyum tipis. Tony langsung mengeryitkan dahinya. "Membuktikan sesuatu pada siapa?" tanya Tony dengan wajah bingung. "Apa kau tak melihat wanita yang ada di depanku sekarang? Kau ini yah, saking rindunya denganku, sampai-sampai melupakan keberadaan orang lain," komentar Davira dengan tatapan yang menyindir ke arah Andhira. Sontak Tony langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan. Ia cukup melebarkan matanya saat melihat sosok Andhira yang menatapnya dengan penuh luka. "Kenapa Tony? Kenapa kau malah lebih memilih wanita ini dibandingkan dengan diriku ini? Apa kurangnya aku? Aku lebih baik dibandingkan dengan dirinya. Kau seharusnya lebih memilih diriku tau," protes Andhira dengan wajah yang menahan amarah. Bahkan, air mata telah turun membasahi wajah wanita itu. Tony langsung menghela napas kasar. "Andhira, aku udah berkali-kali mengatakan padamu kalau aku enggak punya perasaan apa pun padamu. Asal kau tau, Davira lebih baik dibandingkan dengan dirimu. Jangan pernah merasa kalau kau itu lebih baik dari orang lain. Inilah sifat yang tak aku suka dari dirimu ini. Kau itu egois," tukas Tony dengan tatapan emosi. Terlihat Andhira yang terkejut mendengar perkataan Tony. Kaila tak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia tak mungkin menenangkan Andhira disaat wanita itu memang salah. Hanya saja, ia paling tak tegaan melihat wanita yang menangis di depannya ini. Ia juga tak mungkin berpihak pada Andhira disaat ia adalah sahabat dari Davira. Ini sudah menjadi kenyataan yang harus diterima Andhira. Bahwa ia tak boleh mencintai pria yang sudah dimiliki oleh wanita lain. "Kau jahat Tony! Aku sudah banyak melakukan apa pun untukmu. Aku bahkan sering memujimu di depan Papa agar Papa menyukaimu. Tapi ini balasanmu padaku?!" geram Andhira dengan tatapan tajam. Tony menggelengkan kepalanya melihat sikap Andhira. "Asal kau tau, Andhira. Aku enggak pernah meminta ataupun menyuruhmu untuk memujiku di depan Papamu itu. Kalau kau berpikir tentang proyek yang aku terima dari Papamu itu, kau salah besar. Itu bukan karena dirimu. Tapi karena presdir kami, Tuan Arcelio Xavier yang membuat Papamu tergerak untuk bekerja sama dengan kami. Jadi, jangan menganggap bahwa dirimu lah penyebab kerja sama itu terjadi," tukas Tony Kaila sedikit tertegun kala Tony menyebutkan nama seorang Arcelio Xavier. Entah kenapa dadanya tiba-tiba langsung berdetak kencang. Apa mungkin ia jadi kepikiran kembali dengan perkataan anak laki-laki waktu itu, yang mengatakan kalau Arcelio Xavier adalah suaminya? Kaila langsung menepis pemikirannya itu. Mana mungkin dia akan bersama dengan pria itu, kenal saja enggak. Yang benar adalah, suaminya itu bernama Arcel Andhra bukan Arcelio Xavier. Andhira bangkit dari duduknya. Ia menatap kesal pada sosok Tony dan Davira. "Kalian liat aja! Aku bakal membalas perbuatan kalian ini padaku. Aku pasti akan membalas kalian," geram Andhira seraya berlalu dari hadapan mereka semua. Kaila memandang sendu pada sosok Andhira yang telah menghilang dari pandangannya. Davira dapat menangkap ekspresi itu. "Kau kasihan yah dengan Andhira?" tanya Davira Kaila langsung menatap ke arah sahabatnya itu. "Bukan kasihan sih. Aku hanya merasa sedikit tak enak saja. Tapi ini yang terbaik untuknya. Daripada dia harus melakukan cara kotor untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," jelas Kaila Davira mengangguk mengerti. Ia berbalik menatap ke arah Tony. "Maafkan aku memanggilmu karena hal ini," timpal Davira dengan wajah yang tak enak. Tony langsung terkekeh pelan. "Untuk apa kau minta maaf padaku? Lagian ini udah bagus kau lakukan. Aku jadi enggak perlu buang tenaga lagi untuk mengusirnya untuk menjauh dariku," jelas Tony Davira langsung tersenyum manis mendengar hal itu. Sempat ia berpikir jika Tony akan kecewa dengan sikapnya yang seperti ini. Ia hanya tak ingin saja Tony kembali menjauh darinya. "Sepertinya kalian perlu menceritakan padaku tentang apa yang terjadi pada hubungan kalian berdua," celetuk Kaila dengan tatapan menyelidik. Davira langsung terkekeh pelan. "Iyah, aku bakal cerita padamu. Kenapa hal ini bisa terjadi," timpal Davira sambil merangkul bahu Kaila. To be continued.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN