Permintaan Andhira

1565 Kata
Sinar matahari masih terlihat malu untuk keluar. Namun, suara burung sudah terdengar. Di sebuah kamar yang besar itu terlihat sepasang pria dan wanita yang saling memeluk dalam hangatnya selimut. Sang wanita yang terlebih dulu terbangun. Ia mengerjapkan matanya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. "Engh!" Dialah Kaila, yang saat ini berada di apartemen tunangannya, Arcel. Ia sempat lupa kalau ia sedang berada di apartemen tunangannya itu. Kaila menatap wajah tunangannya yang masih terlihat tertidur pulas. Senyum merekah di wajah cantiknya itu. "Dia sangat polos ketika sedang tertidur seperti ini. Ia pasti kelelahan karena kemarin. Aku banyak curhat dengannya. Aku sampai lupa kalau aku nginap di sini," gumam Kaila Ia baru ingat kalau dia menginap kemarin karena ia ingin banyak cerita pada Arcel. Tentu saja tentang keluarganya. Jujur, ia ingin kakaknya itu kembali ke rumah. Dia sudah memaafkan kesalahan sang kakak itu. Tapi, sampai saat ini ia tak pernah lagi bertemu dengan kakaknya itu. Karena kebanyakan curhat dengan Arcel, membuat tunangannya itu sampai lupa dengan tugasnya sebagai seorang dosen. Hal itu mengakibatkan Arcel jadi harus begadang semalaman untuk menyelesaikan tugasnya. Kaila agak merasa bersalah karena hal itu. Kaila mengelus rambut Arcel yang lembut itu. Elusan itu seketika terhenti kala suara ponselnya berbunyi. Dengan cepat Kaila mengambil ponsel yang ada di sampingnya itu. Terlihat nama sahabatnya, Davira, di sana. Segera ia menggeser ikon hijau di ponselnya itu. Namun, sebelum itu ia turun dari ranjang dan menjauh dari Arcel agar prianya itu tak terbangun. "Halo Davira. Ada apa?" tanya Kaila yang berjalan ke arah balkon kamar. ["Halo Kai. Kau ada di mana saat ini?" tanya Davira] "Aku ada di apartemennya Arcel. Ada apa emangnya?" tanya Kaila kembali. ["Oh, kau lagi sibuk berarti yah?" duga Davira dengan nada yang tak enak.] Kaila langsung mengeryitkan dahinya. "Enggak kok. Aku lagi enggak sibuk juga. Jelaskan padaku, ada apa?" tanya Kaila lagi. ["Emm, sebenarnya aku mau minta tolong untuk menemaniku bertemu dengan Andhira," jawab Davira] "Apa?!" jerit Kaila yang langsung menutup mulutnya karena refleks setelah mendengar perkataan Davira. Ia melihat ke arah Arcel yang terlihat masih tertidur di ranjang. Helaan napas lega ia keluarkan karena Arcel tak terbangun dengan jeritannya. "Maaf, aku malah menjerit. Kenapa dia inguj bertemu denganmu?" tanya Kaila dengan wajah yang terlihat penasaran. ["Aku juga enggak tau sih sebenarnya. Dia hanya ingin bertemu denganku saja. Aku enggak tau apa yang ia ingin lakukan. Makanya aku ingin mengajakmu bertemu. Apa kau bisa?" tanya Davira] "Kau tenang saja, Davira. Aku akan menemanimu untuk bertemu dengan Andhira," jawab Kaila ["Baguslah! Apa enggak apa-apa kalau kau ikut juga? Apa Kak Arcel enggak marah nanti?" tanya Davira] "Enggak apa-apa. Masalah Arcel, aku bisa bicarakan hal ini dengannya. Kau ada di mana saat ini?" tanya Kaila balik. ["Aku ada di rumah sih saat ini. Aku mau pergi ke tempat di mana Andhira ingin mengajakku bertemu," jawab Davira] "Okey! Kau kirimkan saja alamat di mana Andhira ingin mengajakmu bertemu. Kita ketemuan di sana saja nanti," jelas Kaila ["Baiklah! Aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Sampai jumpa di sana yah," timpal Davira] "Okey! Sampai jumpa di sana," balas Kaila seraya menutup panggilan telpon itu. Kaila menarik napas yang dalam lalu menghembuskannya. Saat ia membalikkan tubuhnya, sontak ia terkejut seraya memekik. "Astaga! Arcel, kau membuatku terkejut tau," keluh Kaila mengusap dadanya ketika ia melihat Arcel sedang berdiri di belakangnya. Arcel saat ini sedang menatap menatap ke arah Kaila dengan tatapan penuh intimidasi. Terlihat pula kedua tangannya yang ia lipat di dadanya. Kaila yang melihat tatapan Arcel seperti itu, jadi agak gugup. Apa prianya itu mendengar semua yang ia katakan dengan Davira? Sebenarnya Kaila tak ingin memberitahu Arcel tentang rencananya untuk menemani Davira menemui Andhira. "K-Kau sudah bangun rupanya. Aku akan mandi dulu yah," ucap Kaila seraya melewati tubuh Arcel masuk ke dalam kamar kembali. "Kau mau ke mana, Kai?" tanya Arcel mengikuti langkah Kaila masuk ke dalam kamar kembali. Kaila menghentikan langkahnya. Ia jadi bertambah gugup saat ini. "Emm, aku mau ke mall bareng Davira," jawab Kaila yang berusaha mengurangi rasa gugupnya itu. Saat Kaila hampir menyentuh gagang pintu kamar mandi, suara Arcel kembali terdengar dan membuatnya menghentikan langkahnya kembali. "Kau mau menemui Andhira bukan?" duga Arcel Kaila langsung membalikkan tubuhnya dengan perlahan dan menatap wajah tunangannya itu. Kaila cengengesan. "Kau mendengarnya yah?" tanya Kaila Arcel menghela napas kasar. Ia mendekati wanitanya itu. "Kai, aku udah bilang padamu untuk mengatakan apa pun yang terjadi padaku," keluh Arcel "Aku bukannya enggak ingin memberitahukan hal ini padamu. Aku hanya khawatir kau enggak akan memberikanku izin untuk pergi," jelas Kaila Arcel menghela napas kasar kembali. "Untuk apa kau bertemu dengan Andhira?" tanya Arcel penuh selidik. "Aku hanya ingin menemani Davira. Andhira ingin mengajak Davira untuk bertemu. Aku enggak bisa membiarkan Davira sendirian ke sana. Karena aku yakin Andhira ingin membahas soal Tony dengan Davira," papar Kaila "Kai, aku enggak mau kau bertemu dengan Andhira. Bagaimana kalau dia malah mencelakai dirimu kayak kemarin? Aku enggak mau yah," protes Arcel Kaila langsung mengeluarkan helaan napas kasar. Inilah alasan dia tak mau memberitahu tunangannya itu soal ia yang akan bertemu dengan Andhira. Karena ia yakin jika Arcel pasti akan melarang. Tapi ia tak bisa kali ini. Ia sudah berjanji dengan Davira untuk menemani wanita itu. "Arcel, jangan gitu dong. Aku udah janji dengan Davira. Aku enggak mungkin melanggarnya bukan? Lagian, Davira adalah sahabatku. Aku mesti ada buat dia. Kau tenang aja yah, aku bakal menjaga diriku," papar Kaila menyentuh tangan Arcel untuk menenangkan prianya itu. "Ya udah, aku akan mengantarmu ke sana," ucap Arcel Kaila langsung mengeluarkan senyum penuh kelegaan. "Baguslah! Makasih yah sayang," timpal Kaila sambil memeluk erat tubuh Arcel. Arcel pun membalas pelukan itu dan mencium pucuk kepala Kaila. Namun di wajahnya terbit senyum yang misterius. *** "Makasih yah, Arcel. Kau sudah mengantarku ke sini. Aku turun dulu yah," ujar Kaila saat ia sudah sampai di tempat tujuan. "Eh? Tunggu!" tahan Arcel menarik tangan Kaila. Kaila langsung memandang bingung pada Arcel. "Ada apa?" tanya Kaila "Kalau ada apa-apa, kau harus cepat menelpon diriku yah," jelas Arcel Kaila langsung menganggukkan kepalanya pelan. "Iyah, kau tenang aja yah. Aku turun dulu," ucap Kaila sambil mencium pipi Arcel sebelum turun dari mobil. Kaila melihat Davira yang swfabg berdiri di dekat pintu masuk sebuah kafe. Dengan cepat ia menghampiri sahabatnya itu. "Davira!" panggil Kaila seraya melambaikan tangannya. Davira tersenyum lebar saat melihat Kaila yang sedang berjalan ke arahnya. "Kaila! Makasih yah kau sudah datang. Apa Kak Arcel enggak marah kau datang ke sini?" tanya Davira Kaila terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Tenang aja. Aku udah bilang kan kalau Arcel enggak bakal melarangku untuk datang. Ya udah, yuk kita masuk ke dalam," ajak Kaila Davira mengangguk pelan. Segera keduanya masuk ke dalam kafe. Mereka mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Andhira di kafe itu. Hingga mereka menemukan sosok itu yang sedang duduk membelakangi mereka. Kaila sangat mengenal postur tubuh mantan sahabatnya itu. "Ayo kita ke sana," ucap Kaila yang diangguki oleh Davira. Keduanya langsung berjalan menuju ke arah Andhira. "Andhira" Sosok Andhira langsung terkejut kala menemukan sosok Kaila yang ada di samping Davira. "Kenapa kau malah mengajak Kaila ke sini? Kau takut denganku yah?" sindir Andhira Saat Davira untuk menjawab sindiran Andhira, Kaila langsung menahannya. Kaila menatap sinis pada wanita di depannya itu. "Kau enggak usah menyindir Davira karena aku sendiri yang ingin menemaninya. Aku tau kau itu punya rencana licik. Jadi aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan. Selain itu, Davira adalah sahabatku. Aku jadi berhak untuk menemaninya," tukas Kaila Terlihat wajah Andhira yang sedang menahan emosi. Kaila dan Davira langsung duduk di depan wanita itu. "Baiklah, aku udah ada di sini. Kau mengatakan akan mengatakan sesuatu hal yang penting denganku," ucak Davira Terlihat Andhira yang langsung memasang wajah sinis. "Iyah, aku memang mengajakmu bertemu karena ingin mengatakan hal yang penting. Karena aku enggak suka yang namanya basa-basi, jadi aku akan langsung mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku mau kau menjauh dari Tony. Karena dia adalah milikku," tukas Andhira Kaila langsung melebarkan matanya. Ia sudah tahu maksud Andhira yang mengajak Davira bertemu karena berhubungan dengan Tony. "Kau jangan seenaknya mengatakan itu yah, Andhira. Itu bukan hakmu untuk mengatur siapa yang ingin didekati oleh Tony. Itu haknya dia. Lagian, harusnya kau sadar akan posisimu yang hanya seorang pelakor," geram Kaila dengan tatapan tajam. Davira menahan Kaila yang ingin melupakan emosinya itu. Beda halnya dengan Kaila yang emosi, sedangkan Davira hanya memasang wajah biasa saja. "Bagaimana kalau aku enggak mau?" tanya Davira dengan tatapan angkuh. Kaila langsung mengulum senyum senang mendengar jawaban Davira. Sedangkan Andhira langsung menatap penuh emosi pada Davira. "Heh, kau enggak nyadar apa kalau kau itu sama sekali enggak cocok dengan Tony. Dia hanya cocok dengan wanita berkelas seperti diriku. Bukan kutu buku macam dirimu ini. Aku yakin Tony pasti akan lebih memilih diriku ini," desis Andhira dengan wajah angkuhnya. Davira langsung tertawa sinis. Hal itu mbjat Andhira geram dibuatnya. "Haih, kau yakin yah jika Tony memilih dirimu? Mau liat yang sebenarnya, siapa yang akan dia pilih?" tanya Davira dengan nada tantangan. Wajah Andhira langsung terkejut. "Apa maksudmu?" tanya Andhira dengan wajah yang agak khawatir. "Kenapa? Kau takut yah enggak akan dipilih oleh Tony nantinya?" sindir Davira "Eng-Enggak kok! Aku yakin jika Tony pasti lebih memilih diriku dibanding dirimu," sanggah Andhira yang masih memasang wajah angkuhnya. "Okey! Mari kita buktikan. Apakah Tony akan memilih dirimu atau diriku?" timpal Davira dengan senyum miringnya. Kaila mamandang takjub pada sosok Davira saat ini. Jujur, ia belum pernah melihat sosok Davira yang seperti ini. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN