Seorang pria tengah berjalan pada sebuah lorong di apartemen. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu. Ia menekan kata sandi pintu apartemen itu dan terbuka lah pintu apartemen itu.
Ia mengeryitkan dahinya kala merasakan sunyi di apartemen itu. Ia mencoba berjalan masuk lebih dalam ke sana. Ia mencoba masuk ke dalam sebuah kamar. Namun, suasana sunyi pula yang ia rasakan di sana.
"Kok rasanya sepi yah? Kaila ada di mana?" tanyanya dengan wajah bingung.
Suara pintu kamar mandi terbuka, membuat pria itu segera menolehkan wajahnya pada sosok wanita yang baru saja keluar dari sana.
"Arcel?! Kau ada di sini?" tanya Kaila dengan wajah yang terlihat terkejut.
Pria bernama Arcel itu segera mendekati sang wanita yang masih menatap terkejut padanya.
"Sayang, kau habis darimana sih? Kok aku merasa kau enggak lagi di rumah?" tanya Arcel dengan wajah yang agak khawatir.
Kaila malah langsung mengeryitkan dahinya. Ia jadi teringat dengan kejadian di mana dia malah tiba-tiba tiba-tiba hilang tadi. Di mana ia berada di tempat yang asing yang sama sekali ia tak tahu di mana ia berada. Sampai ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang memanggilnya dengan sebutan 'Mama'. Sungguh hal itu di luar dugaannya. Apalagi saat anak laki-laki itu mengatakan jika Papanya adalah seorang bernama Arcelio Xavier. Sungguh ia terkejut mendengar hal itu. Bagaimana bisa itu terjadi jika dirinya saja tak pernah bertemu dengan pria itu.
Arcel melihat Kaila dengan tatapan bingung karena wanita itu hanya diam saja.
"Kai, kenapa kau hanya diam saja? Ada apa?" tanya Arcel seraya menyentuh pelan bahu Kaila.
Kaila agak terkesiap dengan sentuhan pada bahunya. "O-Oh, enggak apa-apa kok. Aku hanya agak terkejut karena kau tiba-tiba ada di sini," timpal Kaila dengan senyum tipis.
Arcel juga ikutan tersenyum tipis. "Oh, begitu. Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Tadi kau ke mana?" tanya Arcel
"Aku ada di kamar mandi tadi. Ini, aku ketinggalan cincin ini. Nanti yang ada tunanganku ini malah marah padaku lagi," jawab Kaila sambil mencubit pelan pipi Arcel.
Arcel terkekeh pelan. "Oh begitu rupanya. Ya udah, ayo kita pergi," ajak Arcel sambil menarik tangan Kaila.
Saat di depan mobilnya, Arcel dengan sigap membukakan pintu untuk Kaila dan dibalas Kaila dengan senyum lebar. Arcel mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan apartemen.
Selama di dalam perjalanan, terlihat Kaila yang nampak tak fokus atau lebih tepatnya melamun. Wanita itu terus menatap ke arah luar jendela dengan wajah yang nampak berpikir keras.
Tentu saja ia masih memikirkan tentang kejadian tadi yang benar-benar membuat dirinya sangat terkejut. Apalagi wajah anak itu terlihat sangat mirip dengan Arcel. Namun, anak itu mengatakan jika Papanya adalah seorang pria bernama Arcelio Xavier.
Apa tadi ia hanya mimpi saja yah? Tapi rasanya sangat nyata.
Arcel melirik sebentar ke arah tunangannya itu. Ia mengeryitkan dahinya karena melihat Kaila melamun, persis seperti tadi.
"Sayang, kau sedang pikirkan apa sih?" tanya Arcel sambil menyentuh kepala Kaila dengan lembut.
Lagi dan lagi ia harus terkesiap dengan sentuhan tiba-tiba dari tangan Arcel. Ia melihat ke arah tunangannya itu.
"Enggak apa-apa kok, Arcel. Aku hanya lagi memikirkan apa saja yang harus kita lakukan hari ini," jawab Kaila dengan senyum tipis.
Arcel tahu jika wanitanya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Namun ia tak ingin menekan Kaila untuk langsung menceritakan apa yang terjadi karena ia tak mau terlalu mengekang wanitanya itu.
Akhirnya mobil yang membawa Arcel dan Kaila sampai di depan sebuah mall. Arcel kembali sigap membukakan pintu untuk Kaila. Kaila segera memeluk lengan Arcel dengan posesif. Tentu saja itu ia lakukan untuk membuat para calon pelakor yang sedang menatap ke arah Arcel jadi berhenti.
Arcel yang melihat itu membuatnya jadi terkekeh pelan. Ia jadi senang karena melihat Kaila jadi cemburu untuknya. Itu berarti wanitanya itu sangat mencintai dirinya bukan.
Arcel dan Kaila berjalan-jalan di dalam mall. Tentu saja banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.
"Arcel, kita ke sana," ajak Kaila seraya menarik tangan Arcel untuk masuk ke dalam sebuah toko.
Arcel memperhatikan sebuah toko yang terdapat banyak aksesoris itu. Arcel mengikuti langkah Kaila yang sedang melihat banyak pernak-pernik di sana.
"Sayang, apa kau ingin beli sesuatu?" tanya Arcel
Kaila mengangguk pelan. "Iyah. Aku ingin beli gelang pasangan untuk kita. Lihat ini!" jawab Kaila seraya menunjukkan sebuah gelang yang ada di tangannya.
Arcel tersenyum lebar. "Okey! Ayo, kita beli yang ini," timpal Arcel seraya menarik tangan Kaila menuju kasir.
Setelah membayar gelang pasangan itu, Arcel dan Kaila bersama-sama saling memasangkan gelang di lengan mereka masing-masing.
Setelahnya, keduanya kembali berjalan menyusuri isi mall itu. Arcel mengajak Kaila untuk bermain di Time Zone. Arcel kembali menemukan sang tunangan yang melamun.
Bahkan beberapa kali Kaila hampir menabrak orang. Wanita itu juga nampak tak fokus selama mereka bermain di sana. Hal itu membuat Arcel jadi penasaran, apa yang sedang mengganggu pikiran wanitanya itu.
Hingga akhirnya Arcel lebih memilih mengajak sang tunangan untuk pergi ke sebuah kafe.
"Kau mau pesan apa, sayang?" tanya Arcel saat mereka sudah duduk di kursi.
Namun, Kaila nampak tak mendengar apa yang dikatakan Arcel. Arcel menghela napas kasar.
"Kaila?" panggil Arcel menyentuh tangan Kaila.
Kaila langsung tersadar dari lamunannya.
"O-Oh, ada apa Arcel?" tanya Kaila dengan wajah polos.
Arcel tersenyum maklum. "Kau mau pesan apa?" tanya Arcel kembali.
"Samain aja denganmu," jawab Kaila
Arcel mengangguk pelan. "Itu aja yah, Mba," ujar Arcel pada pelayan itu.
"Baik Tuan! Mohon ditunggu pesanannya," balas pelayan itu seraya berlalu dari hadapan Arcel dan Kaila.
Arcel melihat ke arah Kaila. Ia kembali memegang tangan Kaila.
"Kai?" panggul Arcel
Kaila melihat ke arah Arcel. "Ada apa?" tanya Kaila dengan wajah bingung.
"Kaila, aku tau kau sedang memikirkan sesuatu daritadi," ucap Arcel
"Aku enggak...."
Arcel langsung menggelengkan kepalanya untuk menghentikan Kaila berbicara.
"Jangan berkilah lagi, sayang. Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu daritadi. Kau enggak fokus sejak tadi kita pergi. Kau seperti sedang berpikir yang berat. Ayolah, aku ini sudah menjadi tunanganmu. Apa kau akan menyembunyikannya dariku juga?" tanya Arcel dengan tatapan sendu.
Kaila jadi tertegun dengan perkataan Arcel. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, Arcel. Bukannya aku enggak mau cerita apa pun padamu. Hanya saja, aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jujur, aku sangat bingung saat ini dengan apa yang terjadi," jelas Kaila dengan tatapan yang frustrasi.
Arcel menggenggam erat kedua tangan Kaila.
"Enggak Kai. Kau harus menceritakannya padaku. Aku yakin setelah kau menceritakannya padaku, beban pikiranmu akan hilang," timpal Arcel
Kaila nampak berpikir sejenak apakah ia harus menceritakan hal itu pada Arcel. Kaila menarik napas yang dalam. Ia mulai menceritakan kejadian tadi. Di mana dirinya yang tiba-tiba berada di tempat lain. Hingga seorang anak yang memanggilnya dengan sebutan 'Mama' itu.
Arcel nampak terkejut dengan cerita Kaila.
"Apa kau yakin itu bukan mimpi, sayang?" tanya Arcel
Kaila langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin itu bukan mimpi, Arcel. Aku sangat merasa nyata saat itu. Aku langsung tiba-tiba saja kembali lagi ke kamar mandi saat itu. Aku enggak tau apa yang telah terjadi," jelas Kaila
Arcel jadi tak dapat berkata-kata lagi. Seorang pelayan langsung menghampiri mereka untuk mengantarkan pesanan mereka.
Kaila mulai memakan makanannya. Sedangkan saat ini giliran Arcel yang malah melamun memikirkan cerita dari Kaila. Ia tak habis pikir jika Kaila akan datang ke dimensi lain di mana kehidupan masa depan berjalan. Ia tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi secara tiba-tiba.
Apa maksud dari semua ini? Tak ada yang bisa seenaknya berjalan ke dimensi lain tanpa adanya alat itu. Apa yang telah terjadi? ~ batin Arcel dengan wajah bingung.
To be continued.....