Dimensi Lain

1081 Kata
Seorang wanita tengah mengenakan make up tipis di depan cermin. Senyum yang lebar senantiasa terpatri di wajah Cantik u itu. Dialah Kaila, yang saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi kencan dengan sang pacar. "Yap! Ini sudah selesai. Aku yakin Arcel pasti akan terpesona dengan kecantikanku ini," gumam Kaila dengan senyum yang lebar. Memang sejak Arcel melamarnya dua hari yang lalu, Kaila menjadi seorang wanita yang perfeksionis. Dia memerhatikan segala penampilannya untuk bertemu dengan calon suaminya itu. Entahlah, ia hanya ingin selalu tampil sempurna di mata Arcel. Padahal Arcel sering mengatakan padanya kalau dirinya akan tetap cantik dengan pakaian apa pun. Namun, bukan Kaila namanya jika tak kekeuh dengan pendiriannya. Ia tetap akan melakukan apa yang ia mau. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Oh ya, cincinku ada di kamar mandi. Aku harus mengenakannya. Arcel pasti akan marah nih kalau sampai aku enggak pakai tuh cincin," gumam Kaila seraya berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil cincinnya. Pintu kamar mandi ia buka. Namun, tiba-tiba keanehan yang ia temukan saat membuka pintu kamar mandi itu. 'bruk' "Aduh! Nona, hati-hati dong jalannya. Enggak liat orang lain apa?!" Sontak Kaila menatap terkejut pada orang yang tengah memaki ke arahnya. Kaila memandang bingung pada orang. Dengan cepat ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Mulutnya langsung melebar karena melihat dirinya yang sedang ada di jalan trotoar. "A-Aku ada di-di mana?!" pekik Kaila dengan wajah panik. "Nona, kau ini kenapa?" tanya orang yang tadi menabraknya. "P-Pak, ini di mana yah?" tanya Kaila dengan walah bingung. "Nona, apa kau sudah lupa ingatan? Ini di Jakarta," jawabnya Kaila kembali memperhatikan sekitarnya. "Jakarta mana?" tanya Kaila kembali. "Jakarta Selatan" 'deg' Kaila terkejut setengah mati. Mana mungkin ini daerah Jakarta Selatan? Sedangkan dia adalah warga di sana. Ia tak pernah melihat daerah seperti ini. Apa yang telah terjadi? "Apa anda yakin ini di Jakarta Selatan?" tanya Kaila yang seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan orang itu. Orang itu langsung memandang aneh ke arah Kaila. "Ini benar-benar Jakarta Selatan, Nona. Udahlah, lebih baik saya pergi. Dasar aneh!" ketusnya Kaila masih memandang bingung pada tempat yang ia berdiri saat ini. "Kenapa aku bisa di sini yah? Bukankah tadi aku mau masuk ke kamar mandi, terus kenapa aku ada di sini? Apa aku mimpi?" gumam Kaila Ia mencoba menampar pelan pipinya. Ia mencoba mencubit pelan pipinya itu. "Auw! Ini sakit. Aku enggak mimpi," keluh Kaila dengan helaan napas kasar. Ia semakin bingung saat ini. Ia sedang ada di mana saat ini. Ia yakin jika ini bukan kota Jakarta Selatan. Ia juga yakin ini bukan kota di Jakarta manapun. Karena dia sudah pernah mengelilingi seluruh bagian di Jakarta. Dan ia tak pernah mendapati wilayah seperti ini. Ini bukan seperti di Jakarta. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada orang lain. "Permisi, Mba. Saya mau tanya, ini di mana yah?" tanya Kaila "Ini di daerah Menteng, Jakarta Selatan, Mba," jawabnya Kaila terkejut. Ternyata apa yang dikatakan orang tadi benar. Namun, karena masih tak percaya, ia bertanya pada banyak orang. Jawaban sama ia dapati. Hal itu membuat Kaila jadi menghela napas kasar. Karena terlalu lelah berlari sana-sini, Kaila lebih memilih untuk duduk sejenak di sebuah halte. Kaila memperhatikan sekitarnya di mana banyak orang yang berlalu lalang. Ia kembali memikirkan di mana ia berada saat ini. "Sebenarnya aku di mana yah? Kenapa aku bisa di sini sih? Bagaimana caranya aku harus kembali? Bagaimana nanti Arcel jadi khawatir denganku karena aku enggak ada? Aduhh! Sial banget sih!" keluh Kaila yang malah mengacak kasar rambutnya. Sungguh, ia tak tahu harus melakukan apa saat ini. Kepalanya benar-benar pening saat ini. Hingga sebuah suara mengalihkan pandangannya. "Mama!" Kaila mengalihkan pandangannya pada sosok anak laki-laki yang tengah berlari ke arahnya. Namun, karena Kaila yang tak menyadari jika dirinya lah yang tengah dipanggil oleh anak itu, ia mengedarkan pandangannya mencari siapa yang dipanggil oleh anak itu. Namun, ternyata tak ada orang lain di sekitarnya selain dirinya. Masa dia sih yang dipanggil oleh anak itu? "Dik, kamu panggil siapa?" tanya Kaila Anak laki-laki itu terlihat mendengus kesal. "Ihh, Mama! Kok enggak kenal aku sih?! Eh, Mama emang enggak kenal aku yah. Tapi, Mama ngapain ada di sini. Mama harusnya belum ke sini," jelasnya Kaila langsung mengeryitkan dahinya. Kenapa anak ini malah memanggilnya dengan sebutan 'Mama'? Apa maksudnya dari perkataan anak ini? "Dik, kamu salah orang yah? Aku ini bukan Mama kamu tau. Atau kamu tersesat yah? Mau kakak anterin enggak untuk mencari Mamamu?" tawar Kaila Anak itu terlihat kebingungan dengan apa yang dikatakan Kaila. Terlihat anak yang berumur lima tahun itu menggelengkan kepalanya. "Mamaku itu namanya Anulika Kaila," jawabnya Kaila langsung melebarkan matanya atas perkataan anak itu. "Hei, Dik! Jangan aneh-aneh yah. Kakak saja belum menikah, walau udah punya calon sih. Tapi kami belum melakukan hal seperti itu. Bagaimana mungkin aku akan punya anak sepertimu?" tanya Kaila dengan wajah bingung. "Kamu itu Mamaku, tapi di masa depan. Lagian ngapain sih Mama datang ke sini. Apa Mama datang bersama Papa?" tanyanya dengan wajah antusias. Kaila semakin bingung saat ini. Ia sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan anak itu. Namun, semakin dilihat anak itu terlihat sangat mirip dengan pacarnya, Arcel. Hal itu membuatnya jadi agak penasaran saat ini. "Siapa nama Papamu?" tanya Kaila Untuk sejenak anak itu memandangnya dengan heran. "Mama ini lucu tah, masa nama Papa enggak ditahu sih? Nama Papa kan Arcelio Xavier," jelasnya Kaila langsung melebarkan matanya. Tentu ia tahu nama orang itu. Itu adakah pemilik dari perusahaan teknologi besar di Jakarta. Pemilik yang tak pernah muncul ke hadapan banyak orang. Tapi, bagaimana bisa orang itu akan menjadi suami darinya? Bertemu saja tak pernah. "Dik, apa mungkin kamu salah nama? Mungkin Arcel Andhra kali," timpal Kaila Anak itu langsung menggeleng kuat. "Enggak Ma! Nama Papaku dan suami Mama itu Arcelio Xavier. Huh, masa Mama lupa sih? Nanti kalau Papa sampai denger hal ini, yang ada Papa pasti marah tau," jelasnya kembali. Kaila semakin dibuat bingung saat ini. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Apa mungkin dia akan berhubungan dengan pria bernama Arcelio Xavier itu? Tapi bagaimana hubungannya dengan Arcel nanti? Baru saja ia ingin bertanya kembali, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik ke belakang dan ternyata ia sudah berdiri di dalam kamar mandinya. Tepatnya pada sebuah cermin di dalam kamar mandinya. "Loh, aku balik lagi ke kamar mandi nih?" tanya Kaila yang langsung berjalan keluar dari kamar mandi. Ia melihat ke luar dan ternyata ia sedang ada di kamarnya saat ini. "Tadi itu apa yah? Apa aku benar-benar mimpi kali yah? Tapi rasanya sangat nyata. Aku bingung deh," gumam Kaila To be continued.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN