Sidang

1650 Kata
Hari demi hari kembali berlalu. Waktu yang telah terlewati sekitar tiga bulan sejak Kaila dan Davira menyiapkan skripsi mereka. Hari ini akan menjadi hari yang menegangkan untuk mereka. Karena hati ini akan menjadi hari mereka melakukan sidang pada skripsi mereka. Gugup? Takut? Pastilah! Semua mahasiswa yang akan menempuh jalur ini pasti akan merasakan keguguran ataupun ketakutan yang luar biasa. Disaat seperti ini mereka akan diuji tentang keaslian mereka dalam membuat skripsi itu. Walaupun skripsi Kaila ada yang dibantu oleh Arcel, tetap saja sebagian besar dirinyalah yang menyelesaikan skripsi itu. Apalagi Arcel hanya memberikan referensi atau saran saja padanya. Karena Arcel ingin wanitanya itu mandiri. Begitu pula dengan Kaila yang memang tak ingin banyak merepotkan pacarnya itu. Sejak seminggu sebelum sidang, Kaila maupun Davira sudah berlatih untuk berbicara di depan para dosen yang akan melihat skripsi mereka. Sehingga saat ini Kaila memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk melakukan sidang yang sebenarnya. Ia yakin dapat melakukannya dengan baik. Selain itu, Arcel mengatakan akan memberikan sesuatu untuknya jika ia sampai berhasil dalam sidangnya. Jujur itu adalah penyemangat untuk dirinya karena ia cukup penasaran dengan apa yang akan dikasih Arcel padanya. Saat ini Kaila sedang bersiap di kamarnya. Ia sedang memoleskan make up yang tipis pada wajahnya itu. Setelah dirasa cukup, ia beranjak keluar dari kamarnya. "Astaga!" pekik Kaila saat melihat sosok Arcel yang sedang berdiri di hadapannya. Arcel terkekeh pelan melihat sang pacar yang terkejut dengan kehadirannya. "Sayang, gitu aja kok terkejut sih?" kelakar Arcel Dengan cepat Kaila memukul bahu Arcel. "Ihh, Arcel! Aku kaget tau melihatmu tiba-tiba ada di depanku," keluh Kaila dengan mengelus dadanya yang cukup berdetak kencang. Arcel cengengesan. "Maafin aku yah, sayang. Aku tadi maunya mengetuk pintu kamarmu. Taunya kau udah buka duluan pintunya," jelas Arcel Kaila mengangguk mengerti. "Iyah. Enggak apa-apa. Kau kapan datangnya?" tanya Kaila "Baru aja sih. Bagaimana? Kau sudah siap bukan?" tanya Arcel Kaila langsung mengangguk kuat. Tentu ia tahu apa maksud dari pertanyaan Andrew padanya. "Tentu saja! Aku ini sudah banyak berlatih tau. Apalagi pacarku ini selalu ada untukku," jawab Kaila dengan semangat. "Ya udah. Kita berangkat sekarang. Aku udah siapkan sarapan untukmu di mobil," ajak Arcel seraya menarik tangan Kaila untuk keluar dari apartemen. Sekitar lima belas menit baru mobil yang membawa Arcel sampai di halaman kampus BINUS. Arcel membukakan pintu untuk Kaila dan menggenggam tangan wanita itu. Banyak pasang mata menatap ke arah mereka. "Aku yakin Kaila pasti dibantu oleh Kak Arcel buat skripsi. Entah dia bisa lulus atu enggak kali ini" "Kau benar! Dia pasti dapat tiket emas untk melakukan skripsinya itu" "Bagaimana bisa dia jawab para pimpinan dosen nanti saat sidang yah? Apa dia tau yang dia kerjakan?" Kaila hanya menampilkan senyuman saja saat banyak gunjingan pada dirinya. Ia tahu kalau hal ini bakal terjadi. Banyak yang akan mengira jika Arcel yang membuatkan skripsi untuk dirinya. Menurutnya, itu resiko sih karena berpacaran dengan seorang dosen. "Benar-benar jadi benalu lah kalau begitu! Kasihan Kak Arcel yang susah karena dirinya." Kaila menghentikan langkahnya. Arcel luh ikut menghentikan langkahnya. Ia melihat ke arah Kaila yang nampak menahan kesal saat ini. Kaila melepas pegangan tangannya pada Arcel. Saat wanita itu membalikkan tubuhnya, saat itulah ia melihat sosok sahabatnya yang sedang menampar walah dari wanita yang ia yakini yang menghinanya tadi. 'plak' "Hei, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menamparku?!" protesnya dengan tatapan tajam. Davira memandang sinis pada wanita itu. "Itu pelajaran buat kau yang tak bisa menjaga mulutmu dengan baik. Masih untung aku hanya menampar wajahmu itu. Daripada aku merobek mulut busukmu itu agar kau enggak perlu susah payah berkata busuk lagi. Asal kalian tau, semua yang kalian katakan itu tak ada yang benar. Jujur ya, Kak Arcel itu hanya bantu memberikan referensi untuk skripsi kami. Malahan Kak Arcel sama sekali enggak tau apa yang kami tulis. Jadi sebaiknya kalian jaga mulut kalian itu. Oh, atau mending kalian mikirin ajah tuh bagaimana kalian menyelesaikankan skripsi kalian yang enggak kunjung kelar-kelar itu. Daripada kalian habiskan waktu kalian untuk menggibah orang lain. Bye!" desis Davira dengan tatapan sinis seraya meninggalkan kumpulan nyinyir itu. Davira berjalan ke arah Kaila yang tersenyum lebar padanya. "Kau keren banget sih!" puji Kaila seraya menarik tangan Davira untuk berjalan bersamanya. Sedangkan Arcel hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia seakan telah dilupakan oleh sang pacar. Akhirnya Arcel mengikuti langkah kedua wanita itu. Mereka berjalan ke arah ruang sidang tempat eksekusi skripsi mereka. Di sana terlihat ada beberapa mahasiswa yang sedang menunggu namanya dipanggil. "Okey! Aku akan tinggalkan kalian di sini. Semoga kalian enggak gugup di dalam sana yah. Aku yakin kalian bisa melakukannya dengan baik. Kalian sudah banyak berlatih untuk melakukan hal ini," jelas Arcel tersenyum pada keduanya. Keduanya menganggukkan kepalanya. "Teeim kasih yah Kak Arcel. Kakak udah banyak membantu saya menyelesaikan skripsi ini," ucap Davira "Enggak kok. Ini semua berkat kerja kerasmu juga bukan. Saya hanya membantu sedikit saja," timpal Arcel Kaila memandang senang pada Arcel. Inilah yang ia suka dari Arcel. Pria itu begitu baik dengan orang lain. Ia selalu bisa mengerti orang lain. Arcel beralih menatap ke arah Kaila yang menatap ke arahnya. Davira yang tahu sesuatu, ia lebih memilih untuk undur diri dan membiarkan dua orang itu berbincang. "Ehm, aku mau ke sana dulu yah. Aku mau tanya-tanya siapa yang udah sidang," celetuk Davira seraya berlalu dari hadapan keduanya Selepas perginya Davira, Kaila kembali menatap Arcel yang tersenyum lebar padanya. "Kenapa kau malah menatapku seperti itu?" tanya Kaila dengan wajah bingung. "Aku hanya senang saja saat ini. Kau enggak lupa bukan dengan yang aku janjikan padamu?" tanya Arcel yang terlihat menampilkan senyum misterius. Kaila terkekeh pelan. "Mestilah aku enggak lupa hal itu. Pokoknya, kau enggak boleh lupa yah dengan janjimu itu," jawab Kaila Arcel mengangguk pelan. "Tentu saja, sayang. Aku enggak akan melanggar janjiku itu. Sekarang, kau harus bisa lolos yah dari sidang skripsi ini yah," balas Richard Kaila menganggukkan kepalanya. "Tenang aja. Itu sudah pasti," ujar Kaila "Kalau gitu, aku pergi dulu yah. Aku akan menunggu kabar baik darimu," ucap Arcel mencium kening Kaila. Sungguh, Kaila cukup terkejut dengan tindakan Arcel yang tiba-tiba. Tak ayal, banyak mahasiswa yang melihat ke arah mereka. Hal itu membuat Kaila menundukkan kepalanya malu. "Aku pergi dulu," ucap Arcel seraya berlalu dari hadapan Kaila. Selepas perginya Arcel, Kaila segera berjalan menuju ke arah Davira yang sedang memberikan senyuman menggoda dirinya. "Ehm, kayaknya energimu sudah terisi penuh yah," tutur Davira Kaila hanya memberikan respon cengengesan. "Anulika Kaila! Silahkan masuk ke dalam ruangan!" Kaila dan Davira saling pandang dengan wajah terkejut. "Kai, namamu sudah dipanggil tuh. Ayo sana," ucap Davira Kaila menganggukkan kuat. Terlebih dulu ia menarik napas yang dalam sebelum masuk ke dalam ruangan tempat sidang skripsinya. "Selamat pagi! Nama saya Anulika Kaila. Saya siap untuk melakukan sidang skripsi saya," ucap Kaila dengan mantap. "Silahkan duduk Nona Kaila. Kami akan memberikan sejumlah pertanyaan pada anda. Mohon anda jawab sesuai apa yang telah anda tulis di sini." "Baik!" Para pimpinan dosen mulai memberikan banyak pertanyaan pada Kaila. Kaila pun memberikan penjelasan yang runtut sesuai apa yang ia tahu tentang skripsinya. *** "Selamat untukmu, Kaila!" "Selamat juga untukmu, Davira!" Kaila dan Davira saling peluk satu sama lain. Bagaimana tidak, keduanya berhasil melewati masa sulit dalam sidang. Itu artinya mereka sudah lulus dari sidang skripsi yang mereka lakukan. Tangis haru mereka keluarkan. Rasa lega mereka rasakan saat ini. Beban itu sudah lepas dari mereka. 'tring' Kaila melepaskan pelukan itu saat ponselnya tiba-tiba berdering. "Bentar yah," ucap Kaila seraya meraih ponsel yang ada di sakunya. Ternyata sebuah pesan singkat dari pacarnya. Senyum mengembang di wajah Kaila saat ini ketika melihat pesan yang diberikan oleh pacarnya itu. Melihat senyum dari Kaila, Davira langsung tahu apa arti dari semua itu. Ia menyenggol pelan bahu sahabatnya itu. "Ehm, sepertinya Kak Arcel enggak sabar tuh buat ketemu denganmu. Mending kau susul aja sana. Siapa tau dia mau kasih kejutan buatmu," komentar Davit dengan kedipan sebelah mata. Kaila mengulum senyum bahagia dan menganggukkan kepalanya. "Iyah, aku pergi dulu yah, Dav. Kita akan pergi rayakan keberhasilan kita ini nanti yah," ucap Kaila Davira menganggukkan kepalanya. "Tentu! Udah sana," ujar Davira Kaila melambaikan tangannya pada Davira. "Davira" Davira membalikkan tubuhnya dan menatap terkejut pada seseorang yang kini tengah memanggilnya. *** Kaila mengikuti alamat yang telah dikirim oleh pacarnya itu. Senyum yang lebar terus terlihat di wajahnya saat ini. Jujur, ia agak gugup untuk melihat kejutan apa yang telah disiapkan oleh Arcel. Kaila berhenti di depan sebuah rumah kecil. "Ini rumah siapa yah? Apa benar ini tempatnya?" tanya Kaila dengan suara kecil sambil melihat ke arah GPS di ponselnya. Kaila memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia meraih gagang pintu rumah itu dah membukanya perlahan. Ternyata pintu itu tak dikunci. Untuk itu, Kaila langsung saja masuk ke dalam rumah itu. Detik kemudian, matanya melebar sempurna kala melihat pemandangan di depan matanya saat ini. Bagaimana tidak, hiasan indah memenuhi isi ruangan di depannya saat ini. Namun, bukan itu yang menjadi titik fokusnya saat ini. Melainkan sebuah kalimat yang bertuliskan "WILL YOU MARRY ME!" Sosok Arcel tiba-tiba muncul di hadapannya. Pria itu berjalan perlahan ke arah Kaila. Hingga pria itu berhenti tepat di depan Kaila. "A-Arcel, i-ini...." Jujur, lidah Kaila agak kelu saat ini. Ia tak bisa berucap. Bukannya menimpali, justru Arcel malah berjongkok di hadapan Kaial dan mengeluarkan kotak beludru yang menampilkan sebuah cincin yang cantik di sana. "Kaila, will you marry me?" tanya Arcel Kaila menutup mulutnya, saking terkejutnya ia pada apa yang ia hadapi saat ini. Arcel tengah melamarnya. Apalagi yang tak lebih bahagia dari dilamar oleh orang yang kita cintai. Dengan cepat Kaila menganggukkan kepalanya kuat. Senyum lebar terpatri di wajah Arcel. Kemudian, ia memasang cincin di jari manis Kaila. Ia bangkit dan mencium lama kening Kaila. "Makasih yah sayang. Aku bahagia banget saat ini," ucap Arcel dengan senyum lebar. "Aku yang harus berterima kasih padamu, Arcel. Kau sudah membuat hatiku sangat bahagia saat ini," ucap Kaila dengan senyum manis. Arcel memeluk Kaila begitu erat. Rasa bahagia terlingkup pada keduanya. Entah apakah rasa bahagia itu akan tetap ada pada hubungan mereka? To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN