Skripsi

1518 Kata
Hari demi hari kembali berlalu. Tak terasa sudah setahun hubungan Arcel dan Kaila berjalan. Sudah banyak hal yang terjadi pada hubungan mereka. Namun, keduanya bersyukur selama setahun itu tak ada masalah yang terjadi. Malahan hubungan keduanya semakin dekat saja. Kaila merasa bahagia setiap harinya. Karena Arcel selalu memanjakannya. Selama setahun ini juga, hubungan antara Davira dan Tony tak mengalami kemajuan. Davira memilih untuk menjaga jarak dengan pria itu. Bukan karena apa, hanya saja ia tak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama. Walaupun Tony sering mengatakan padanya kalau ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, tapi tetap saja Davira mengatakan kalau ia membutuhkan waktu untuk menjalin hubungan kembali dengan Tony. Dan Kaila sebagai sahabat hanya bisa mendukung dan menemani sang sahabat melewati itu semua. Jujur, bersama Davira ia lebih merasa nyaman dibandingkan saat ia bersama dengan Andhira. Davira lebih mengerti dirinya. Davira juga sering memberikan banyak nasihat padanya. Ia jadi merasa beruntung memiliki Davira dalam hidupnya. Mengenai keluarganya, beberapa kali sang Mama mengajaknya untuk kembali tinggal di rumah lagi. Bukannya ia tak mau, ia hanya tak ingin kembali ke rumah itu dulu. Selain itu, sebenarnya ia tahu kenapa keluarganya itu ingin dia kembali ke rumah. Karena mereka ingin mengakrabkan diri dengan Arcel, pacarnya. Entah kenapa mereka melakukan itu pada Arcel. Arcel bukan seorang yang memiliki pekerjaan yang sehebat para pemimpin perusahaan. Walaupun Arcel sebenarnya cukup terkenal karena menjadi dosen yang sangat hebat. Saat ini tepatnya setahun telah terlewati dalam masa perkuliahan Kaila. Oleh karena itu, saat ini Kaila maupun Davira tengah Sibuk-sibuknya menyiapkan skripsi mereka. Saat ini mereka sedang masa sibuk-sibuknya keduanya menyiapkan banyak bahan untuk skripsi mereka. Saat ini Kaila ada di sebuah perpustakaan kota untuk mencari banyak bahan untuk skripsi yang ia miliki. Ia hanya berangkat sendiri saja. Awalnya ia ingin meminta Arcel untuk mengantar dirinya. Namun, ia tahu kalau dirinya tak boleh merepotkan Arcel saat ini. Karena Arcel memiliki tugas sebagai seorang dosen di kampus juga. Jadinya dari apartemen ia berjalan sebentar sekitar lima belas menit menuju ke perpustakaan karena jaraknya yang memang lumayan dekat. Sekalian olahraga pagi menurutnya. Kaila menyusuri tiap rak besar di perpustakaan itu pada bagian ilmu desain. Ia ingin skripsi yang ia buat sempurna sehingga bisa lulus dengan cepat. Untuk itu, Kaila mengorbankan segala waktunya untuk mencari banyak bahan buat skripsinya itu. Ia bahkan sering lupa makan karena terlalu fokus buat skripsinya itu. Hingga sang pacar memarahinya karena tak bisa mengatur waktu makannya. Arcel jadi harus memperhatikan Kaila setiap waktu agar wanitanya itu bisa makan dengan teratur. Ia tak mau Kaila malah jadi sakit karena terlalu memporsir waktunya. Jika biasanya orang akan mengatakan jika suatu hubungan antara sepasang kekasih akan meregang kala kesibukan masing-masing. Beda halnya dengan Kaila dan Arcel yang justru lebih terlihat lengket karena tugas skripsi itu. Mungkin karena Arcel adalah dosen Kaila sendiri sehingga Kaila banyak minta saran pada Arcel. Kaila yang sedang fokus pada buku yang ia cari tiba-tiba teralihkan kala ponselnya berdering. Dengan cepat Kaila mengambil ponselnya itu karena saat ini ia sedang berada di area perpustakaan yang tak brg ada keributan. Ia melihat nama sahabatnya 'Davira' di sana. Buru-buru Kaila menggeser ikon hijau di ponselnya itu. "Halo Davira. Ada apa?" tanya Kaila dengan nada bisikan. ["Halo Kai. Kau ada di mana saat ini? Aku mau mengajakmu mencari referensi tambahan buat skripsi kita," jelas Davira] "Aku ada di perpustakaan kota saat ini. Kau datang aja ke sini sekarang," jawab Kaila ["Okey, baiklah! Aku akan ke sana sebentar lagi yah," ucap Davira] Kaila menutup panggilan dari Davira. Ia berjalan ke arah depan untuk menunggu Davira di depan. Takutnya sahabatnya itu malah tak tahu di mana keberadaan dirinya. Karena perpustakaan di sini bisa dibilang cukup besar. Sekitar lima belas menit ia menunggu, akhirnya sosok Davira muncul di hadapannya. "Kaila!" panggil Davira dengan suara yang cukup keras. "Shutt!" Kaila menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya untuk mengisyaratkan agar Davira menurunkan volume suaranya. Davira yang menyadari hal itu langsung saja menutup mulutnya. Tatapan bersalah ia berikan seraya mendekati Kaila. "Maaf, aku enggak bisa mengontrol suaraku," tutur Davira dengan kekehan pelan. Kaila menggelengkan kepalanya pelan. "Kebiasaan yah. Ya udah, kita masuk aja ke dalam," ajak Kaila sambil menarik tangan Davira ke dalam perpustakaan. Davira menganggukkan kepalanya pelan seraya mengikuti langkah Kaila menuju dalam perpustakaan. Kaila mengajak Davira duduk di tempat meja yang sudah ada beberapa buku yang telah ia cari. "Wah, kau sudah mencari beberapa buku ternyata," ujar Davira dengan tatapan berbinar. Kaila terkekeh pelan. "Iyah, ada beberapa yang udah aku temukan. Kau ada bawa laptopmu bukan?" tanya Kaila Davira menganggukkan kepalanya. "Iyah. Ini aku bawa kok," jawab Davira seraya duduk dan mengeluarkan laptop di dalam ransel yang ia bawa. Kaila pun ikut mengeluarkan laptop yang ia bawa. Beruntungnya keduanya bisa melakukan skripsi bersama-sama. Mereka berdua bisa menyelesaikan mata kuliah mereka secara bersamaan. Kaila dah Davira berharap mereka bisa menyelesaikan perkuliahan secara bersama-sama. Oleh karena itu, kedua saling membantu untuk menyelesaikan skripsi yang mereka buat. Walaupun judul mereka berbeda, tapi ilmu dasar tentunya masih sama. "Eh, Kai. Kau enggak panggil Kak Arcel aja ke sini? Dia kan bisa bantu kita buat skripsi ini, buat referensi gitu. Dia kan punya pengetahuan yang banyak," timpal Davira Kaila mengangguk pelan. "Maunya sih tadi begitu. Soalnya tadi Arcel masih belum selesai dengan kelasnya. Pasti dia sudah selesai sekarang. Aku akan menelpon dirinya sekarang," jelas Kaila seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia bernapas lega karena sambungan telponnya tersambung. ["Halo sayang! Baru saja aku akan menghubungimu. Ada apa kau menelponki saat ini?" tanya Arcel] Kaila mengulum senyum malu. Karena setiap Arcel mengucapkan kata 'sayang' padanya, pasti ia akan merasa malu. Padahal hubungan mereka sudah berjalan setahun dah Arcel juga sering kali mengatakan hal itu padanya. Tapi tetap saja ia akan merasa canggung dengan itu. "Halo Arcel. Aku mau minta kau untuk datang ke sini. Aku mau minta bantuanmu untuk membantuku membuat skripsi dengan Davira. Bisa kan?" tanya Kaila dengan nada bisikan. ["Oh, tentu saja, sayang. Aku emang mau nelpon untuk hal itu. Ya udah, sekarang kau ada di mana?" tanya Arcel] Kaila memekik tertahan karena ia mengingat kalau dirinya saat ini ada di perpustakaan. "Aku ada di perpustakaan kota. Kau cepat datang ke sini yah," jawab Kaila. ["Ya udah. Kau tunggu yah aku di sana. Sampai jumpa," timpal Arcel] "Okey!" balas Kaila seraya mematikan panggilan telpon dari Arcel. "Bagaimana? Kak Arcel akan datang ke sini?" tanya Davira Kaila mengangguk pelan dengan senyuman lebar. "Iyah. Dia bilang akan datang ke sini," jawab Kaila "Ye...." Kaila dengan cepat menutup mulut Davira saat wanita itu ingin berteriak kembali. Ia mendelikkan matanya pada sahabatnya itu. "Davira, jangan teriak dong," tegur Kaila dengan nada bisikan. Davira terkekeh pelan. "Hehe, maaf yah. Aku reflek melakukannya," ucap Davira *** "Halo semuanya," sapa Arcel yang telah datang ke tengah-tengah mereka Kaila tersenyum lebar melihat kedatangan sang pacar di sana. Rasanya semakin semangat untuk menyelesaikan skripsinya. Arcel duduk di samping Kaila dan menaruh tas ransel yang ia bawa. "Aku udah bawa beberapa buku yang bagus untuk bahan kalian buat skripsi," jelas Arcel seraya membuka tas ranselnya. Kaila dan Davira saling pandang dengan wajah penasaran. Hingga mata mereka langsung melebar kala melihat tumpukan buku yang dibawa Arcel. Tapi bukan karena tumpukan buku itu, melainkan semua buku tentang desain yang mereka ketahui sangat langka untuk mereka cari. "Ini kan...." Arcel langsung tersenyum lebar kala melihat ekspresi dari keduanya. "Aku tau apa yang sedang ada di dalam pikiran kalian. Tapi sekarang, daripada kalian terus menampilkan ekspresi terkejut itu, mending sekarang kalian fokus pada skripsi kalian. Aku akan melihat skripsi kalian nanti dah akan mengoreksi kalau ada yang salah," jelas Arcel Keduanya langsung menganggukkan kepalanya kuat. Mereka mengambil buku yang dibawa oleh Arcel dan mulai membaca isi buku itu. Tatapan kagum mereka perlihatkan karena suka dengan isinya. Benar-benar yang mereka cari untuk menyelesaikan masalah skripsi mereka. "Arcel, kalau yang ini apa maksudnya?" tanya Kaila sambil menunjuk ke arah kalimat yang tak ia mengerti. "Oh, kalau itu begini maksudnya...." Arcel menjelaskan dengan runtut isi atau maksud dari buku itu. Kaila maupun Davira mendengarkan dengan seksama. "Bagaimana? Apa kalian mengerti?" tanya Arcel Keduanya mengangguk kuat. "Iyah, aku udah mengerti. Makasih yah Arcel," jawab Kaila dengan senyum lebar. "Makasih Kak Arcel," tambah Davira Arcel mengangguk pelan. "Sama-sama. Ya udah, kalian baca lagi. Kalau masih ada yang enggak ngerti, tanyakan aja," timpal Arcel Keduanya kembali membaca buku itu sambil membuat rencana dari skripsi mereka. *** Hari sudah berganti menjadi malam. Dua orang terlihat baru sampai di depan gedung apartemen. Keduanya masuk ke dalam hingga berhenti di depan pintu sebuah apartemen. "Arcel, makasih yah udah bantuin aku dah Davira mencari referensi buat skripsi kamu," celetuk Kaila dengan senyum lebar. Arcel mengangguk pelan. Ia mengelus dengan pelan rambut Kaila. "Kau enggak perlu terima kasih padaku, sayang. Sudah menjadi tugasku untuk membantumu. Aku udah bilang kan untuk selalu membuatku repot," timpal Arcel dengan senyum lebar. Kaila memeluk Arcel dengan erat. Arcel cukup terkesiap dengan tindakan Kaila yang tiba-tiba. Arcel membalas pelukan itu tak kalah erat. "Aku benar-benar beruntung dengan kehadiranmu di hidupku, Arcel. Aku MerS lebih hidup saat ini. Kau banyak memberikan warna di hidupku," jelas Kaila "Aku akan selalu ada untukmu, sayang. Hanya kau yang membuatku bisa seperti ini," balas Arcel To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN