Manja Banget

1371 Kata
Sebuah mobil berhenti di sebuah parkiran untuk sebuah gedung apartemen yang cukup besar di wilayah Jakarta. Tak lama kemudian, sosok pria tampan dengan kacamata hitam keluar dari sana. Pria melepas kaca mata yang ia kenakan dan terlihatlah wajah tampan dengan mata dark brown itu. Dialah Arcel Andhra yang sedang mengunjungi sang kekasih di apartemennya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ia yakin jika pacarnya itu pasti sedang memikirkan tentang sahabatnya, Davira. Ia harus bisa menghibur sang pacar agar bisa ceria lagi. Richard berjalan masuk ke dalam gedung apartemen itu. Seperti biasa, semua pasang mata menatap ke arah dirinya. Siapa yang tak terpukau coba dengan paras seorang Arcel yang begitu rupawan. Apalagi tubuh tegap pria itu membuat banyak pria akan iri. Dan para wanita akan terpesona dengan hal itu. 'ting' Pintu lift terbuka dan Arcel kembali berjalan menuju apartemen sang pacar. Ia menekan pin dari apartemen yang memang ia sudah tahu. Karena Kaila sendiri yang memberitahukan padanya pin apartemen itu. Pandangan yang ia temukan pertama kali saat masuk ke apartemen itu adalah kesunyian. Ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan sang pacar di sana. "Kaila ke mana yah? Kok apartemen sepi gini?" tanya Arcel yang menyusuri apartemen itu. Arcel pun memutuskan untuk mencari Kaila ke kamarnya. Pasti wanitanya itu ada di sana. Saat Arcel membuka pintu kamar Kaila, ia melihat keadaan kamar yang gelap. Arcel mencari saklar lampu dan menyalakannya. Namun, saat ia menyalakan lampu kamar itu, ia tak menemukan sosok Kaila di situ. "Kaila! Sayang, kau ada di mana?" panggil Arcel dengan suara teriakan. Nihil, tak ada sahutan dari sang pacar. Hal itu membuat Arcel mengeryitkan dahinya. Ia langsung mencari sang pacar ke dalam kamar mandi. "Kaila, kau ada di sini?" panggil Arcel saat ia membuka pintu kamar mandi. Keadaan yang sama ia temukan di sana. Tak ada sosok Kaila di sana. Pandangannya yang terhenti kala melihat kain gorden dari arah balkon yang bergerak seperti ditiup angin. Hal itu membuat Arcel berpikir jika Kaila ada di sana. Segera ia berjalan mendekati arah balkon. Ia menyibak kain gorden dan saat itulah Arcel melihat sosok Kaila yang tengah berdiri di pagar balkon. Ia berjalan mendekati wanitanya itu. Ia melihat angin malam menerbangkan rambut Kaila dengan bebas. Hingga Arcel berdiri di samping Kaila. Arcel melihat wanita itu menutup matanya. "Kaila?" panggil Arcel, namun Kaila tak menggubris panggilan Arcel. Hal itu membuat Arcel jadi terheran. Hingga saat Arcel menyentuh bahunya, baru Kaila tersadar dari lamunannya. "Kaila?" panggil Arcel dengan tepukan pada bahunya. Kaila menatap terkejut pada Arcel yang ada di sampingnya. "Arcel? Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Kaila dengan wajah bingung. Arcel langsung tersenyum maklum. "Aku ada di sini sejak tadi. Kau terlihat melamun sedari tadi. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Arcel Kaila menggeleng pelan. "Enggak apa-apa kok, Arcel. Kenapa kau datang ke sini?" tanya Kaila Wajah Arcel langsung terlihat cemberut. "Huh, apa aku enggak boleh datang menemui pacarku sendiri? Aku jadi sedih karena di sini hanya aku saja yang merindukanmu," keluh Arcel dengan wajah sedih yang sengaja ia buat. Kaila langsung menggeleng pelan. Ia mendekati tubuh Arcel yang membelakanginya. Dengan cepat ia memeluk tubuh Arcel dari arah belakang. Hal itu cukup membuat Arcel terkejut dengan tindakan Kaila yang tiba-tiba. "Jangan marah dong, Arcel-ku. Aku tentunya merindukanmu tau. Aku rindu semuanya. Aku hanya tak mau membebanimu dengan terus mengatakan kalau aku ini merindukan dirimu," jelas Kaila Wajah Arcel langsung tersenyum lebar. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya agar menatap wajah cantik pacarnya itu. "Kaila, aku udah sering mengatakan padamu bukan kalau kau bisa selalu mengatakan padaku kapanpun kau rindu padaku. Aku pasti akan langsung menemuimu saat itu. Kau perlu ingat kalau aku ini adalah pacarmu. Kau bebas meminta apa pun padaku. Jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku," papar Arcel seraya mengelus dengan lembut wajah Kaila. Kaila tersenyum lebar. Perkataan Arcel benar-benar membuatnya merasakan kehangatan. Ia sangat berharap hal ini akan terus bertahan. Baru saja Kaila ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba suara yang begitu nyaring terdengar dari perut Kaila. Kaila langsung menundukkan kepalanya dengan malu. Sedangkan Arcel langsung terkekeh pelan. "Sepertinya kau enggak makan daritadi yah? Itu akibat kau terus melamun dari tadi. Ayo, aku akan buatkan makanan untukmu," ajak Arcel seraya menarik tangan Kaila menuju dapur. Kaila pun mengikuti langkah Arcel menuju dapur. "Aku mau bantu," ucap Kaila Arcel langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, sayang. Kau duduk aja di sini yah. Biar priamu ini yang buatkan makanan untukmu," tolak Arcel seraya mendudukkan Kaila di meja makan. Kaila langsung melipat kedua tangannya dengan kesal. "Huh, aku mau bantu tau," keluh Kaila "Udah yah, tunggu di sini aja. Aku enggak akan lama kok," timpal Arcel seraya mencium kening Kaila. Kaila jadinya hanya pasrah. Ia hanya bisa melihat sang pacar memasak di dapur dengan apron di tubuhnya. *** "Ini dia, makanan untuk pacar Arcel yang cantik," celetuk Arcel seraya membawa nampan ke depan Kaila. Kaila tersenyum tipis melihat kelakuan sang pacar yang menurutnya sangat lucu itu. Arcel duduk di depan Kaila. "Ayo, kau harus makan yang banyak yah. Tubuhmu terlihat agak kurus tau. Kau harus menggemukkan tubuhmu ini tau," jelas Arcel "Emang bagus yah kalau aku ini gemuk?" tanya Kaila Arcel terkekeh pelan. "Kau tetap cantik apa pun bentuk tubuhmu. Aku akan tetap mencintaimu, Kaila. Karena kau adalah hidupku," jelas Arcel dengan senyuman yang lebar. Kaila langsung tersipu malu dengan perkataan Arcel. Ia mulai memakan makanan yang dibuat oleh pacarnya itu. "Bagaimana rasanya?" tanya Arcel menatap Kaila. "Hm, tentu saja ini sangat enak. Enggak pernah ada makanan yang tak enak yang kau buat untukku," jelas Kaila dengan senyuman lebar. Arcel tersenyum puas dengan pujian yang diberikan oleh pacarnya itu. Ia pun juga ikut memakan masakan yang ia buat. Namun, keanehan Arcel temukan saat melihat Kaila yang tampak kembali melamun saat makan. Ia menyentuh punggung tangan pacarnya itu. "Kai? Ada apa?" tanya Arcel Kaila terlihat terkesiap dengan pegangan pada tangannya. Ia menatap ke arah Arcel yang kini menatapnya. "A-Ah, enggak apa-apa kok. Aku baik-baik saja," jawab Kaila seraya kembali melanjutkan makannya. Arcel menghela napas kasar. Ia tahu jika pacarnya itu sedang memikirkan sesuatu. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan wanitanya itu. Aku perlu bicara dengan Kaila saat ini ~ batin Arcel *** Kaila melihat ke arah Arcel yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tengah. Ia pun segera menghampiri Arcel dan duduk di sampingnya. "Arcel?" panggil Kaila Namun, Arcel tak menanggapi panggilan darinya. Hal itu membuat Kaila jadi terheran. "Arcel?" panggil Kaila kembali dengan sentuhan pada bahunya. Arcel hanya tetap menatap datar ke depannya. Hal itu semakin membuat Kaila bingung. "Arcel, kenapa kau malah diam saja? Katakan padaku apa yang terjadi," pinta Kaila menyentuh kedua tangan Arcel. Arcel menatap cukup datar pada Kaila. "Untuk apa kau menanyakan hal itu sedangkan kau saja tak mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," timpal Arcel Kaila cukup tertegun dengan apa yang dikatakan Arcel. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Arcel saat ini. Kaila menundukkan kepalanya sebentar. "Maafkan aku, Arcel. Aku malah mengabaikanmu tadi. Aku juga tak mengatakan yang sebenarnya padamu. Jujur, aku memang lagi memikirkan sesuatu saat ini. Aku...." "Ini tentang Davira bukan?" duga Arcel Kaila mengangguk pelan. "Iyah. Maaf aku mengabaikanmu karena hal itu. Tapi aku saat ini sedih dengan Davira. Dia begitu sedih karena kejadian waktu itu. Wajahnya nampak selalu murung. Aku enggak tega melihat Davira seperti itu terus. Aku ingin Davira bisa bahagia," jelas Kaila dengan tatapan sendu. Arcel tersenyum maklum. Ia memeluk erat tubuh Kaila. Hal itu cukup membuat Kaila terkesiap dengan pelukan yang tiba-tiba itu. "Aku sudah tau kau pasti akan memikirkan hal itu. Rasa cemas dan sedihmu itu tak salah sama sekali. Malahan itu menandakan kau itu peduli dengan Davira. Tapi kau harus katakan padaku kalau emang memikirkan hal itu. Aku bisa membantumu untuk menyelesaikan masalah yang kau hadapi," papar Arcel sambil mengelus kedua pipi Kaila. Kaila tersenyum tipis dan menganggukkan pelan. "Iyah, aku harusnya tau hal itu. Tapi, aku hanya tak ingin merepotkanmu tau," timpal Kaila Arcel menggelengkan kepalanya pelan. "Sayang, kau itu enggak akan pernah merepotkanku tau. Aku senang jika kau selalu menggunakan kekuatanku untuk membantu dirimu. Lain kali jangan sembunyikan apa yang kau rasakan yah," jelas Arcel Kaila menganggukkan kepalanya. "Iyah. Aku pasti bakal kasih tau dirimu," balas Kaila dengan senyuman lebar. Arcel membalas senyuman itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Kaila dan mencium pelan bibir manis pacarnya itu. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN