Happy Reading
Hari demi hari berlalu. Tak terasa sudah seminggu Kaila dan Arcel berlibur di pulau Dewata itu. Ternyata ajakannya pada Kaila ke sini benar-benar tepat. Selama di sini, Arcel bisa lebih dekat dan mengenal sosok pujaan hatinya itu. Begitu pula dengan Arcel yang cukup banyak cerita mengenai dirinya. Walaupun untuk masalah keluarga, Arcel tak pernah mau menceritakannya.
Saat ini mereka sedang berbenah untuk segera berangkat ke bandara. Semua pakaian itu sudah Kaila rapikan sejak kemarin malam. Karena khawatir akan kelupaan nantinya.
"Sudah semuanya sayang?" tanya Arcel yang memeluk pinggang Kaila posesif.
Kaila mengangguk kecil seraya memggenggam tangan besar Arcel di pinggangnya. Arcel menumpukan kepalanya di bahu Kaila sambil memanyunkan bibirnya. Melihat hal itu membuat Kaila mengeryitkan dahinya.
"Ada apa Arcel? Kok mukanya belipet banget?" tanya Kaila menoleh sedikit pada Arcel karena saat ini ia sedang merapikan barang-barangnya di dalam tas.
"Rasanya aku enggak mau pulang deh. Mau di sini terus aja gitu," celetuk Arcel
Kaila terkekeh pelan.
"Kenapa? Seneng yah liat wanita seksi mulu," sindir Kaila
Dengan sekali sentak tubuh Kaila langsung menghadap ke arah Arcel yang tengah menatap tajam padanya. Hal itu membuat Kaila cukup gugup dengan pandangan yang intens itu.
"A-Ada apa? Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?" keluh Kaila sedikit tergagap.
"Kai! Udah berapa kali aku bilang kalau hanya dirimu saja yang dapat membuat hati ini bergetar. Aku enggak peduli dengan wanita manapun. Jadi, stop mengatakan hal itu lagi. Karena aku enggak suka," protes Arcel
'grep'
Kaila tersenyum seraya memeluk erat tubuh Arcel.
"Iyah, Arcelku. Aku tau kok kalau hanya aku yang ada di hatimu. Aku hanya bercanda denganmu," jelas Kaila seraya melepas pelukan itu dan menatap wajah Arcel.
Terlihat Arcel yang tersenyum tipis. Dengan secepat kilat ia mengecup bibir ranum itu. Yang sedari tadi sudah menggoda keimanannya. Ingatkan Arcel kalau mereka belum SAH!
"Iyah, kamu benar. Hanya kamu yang aku cintai untuk seumur hidupku. Lagipula aku mengatakan gak itu tadi karena aku mau tinggal lama di sini bersamamu. Dengan begitu tak ada lagi yang akan mengusik kita," papar Arcel
"Iyah, di sini memang sangat tenang. Lain kali kita ke sini yah," ucap Kaila
"Pasti!"
Akhirnya setelah perbincangan itu, mereka berdua segera beranjak keluar dari kamar hotel dan menuju ke arah mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.
***
"Ahh! Akhirnya sampai juga di Jakarta!" pekik Kaila ketika menurun pesawat berjenis Garuda Indonesia tersebut.
Arcel menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kaila seperti anak kecil. Bahkan, ia tak peduli dengan tatapan orang-orang yang sedang memperhatikannya. Bukannya malu, Arcel malahan tertawa kecil. Segera ia mendekati pacarnya itu.
"Ayo, Kai. Kita pulang dulu. Kau pasti lelah kan?" ajak Arcel
"Enggak bisa Arcel," tolak Kaila menghentikan langkahnya.
"Loh?! Emangnya ada apa?" tanya Arcel ketika Kaila menghentikan langkahnya ketika ia menarik tangan kecil itu.
"A-Aku sebenarnya udah buat janji dengan Davira untuk bertemu hari ini," ungkap Kaila sedikit menundukkan kepalanya.
Ia takut jika Arcel tak akan mengizinkannya pergi.
"Emang Davira udah baikan sampai kamu ajak dia bicara?" tanya Arcel
"Justru karena dia belum baikkan, Arcel. Aku sebagai sahabatnya harus ada di sampingnya," jelas Kaila dengan tatapan meyakinkan.
"Aku salut tau sama kamu, sayang. Kau masih bisa menerima seorang sahabat di hidupmu setelah kejadian pengkhianatan itu. Aku benar-benar bangga denganmu," jelas Arcel seraya memeluk erat tubuh Kaila.
Kaila juga membalas pelukan itu tak kalah erat. Apakah ini berarti....
"Apa itu berarti kamu mengizinkan aku pergi menemui Davira sekarang?" tanya Kaila memastikan.
"Kamu emang enggak capek? Aku anterin yah," ucap Arcel
"Eitss, enggak perlu sayangku. Aku bisa sendiri kok. Lagipula aku udah terlanjur pesan ojol. Aku pamit yah," papar Kaila
"Iyah, kau juga yang hati-hati. Jika ada sesuatu yang terjadi padamu segera menelponku," perintah Arcel
Kaila mengangguk kuat seraya melambaikan tangannya pada Arcel. Arcel juga ikut melambaikan tangannya pada Kaila. Jujur rasa khawatirnya pada Kaila ada. Hingga ia menghubungi seseorang yang dapat membantunya.
"Halo"
"Iyah, kau segera laksanakan tugasmu."
Arcel menutup sepihak panggilan itu. Entah siapa yang sedang ditelpon oleh Arcel.
***
"Iyah, Davira. Aku sedang jalan ini ke restoran tempat kita janjian. Oh, kau udah datang. Tunggu yah," ucap Kaila seraya menutup panggilan telpon.
Mendengar bahwa Davira sudah sampai di restoran, membuat Kaila mempercepat langkah kakinya. Jarak antara pemberhentian bus dan restoran bisa dibilang cukup jauh. Sekitar lima sampai tujuh menit jika berjalan.
'cling'
Suara bel berbunyi kala Kaila membuka pintu restoran itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sosok sahabatnya itu. Seseorang yang sedang ia cari ternyata melambaikan tangan padanya. Segera Kaila mendekat ke arah orang itu.
"Hai, Davira! Udah lama ya?" sapa Kaila segera duduk di kursi.
"Enggak kok. Malahan aku mau minta maaf padamu karena langsung mengajakmu bertemu padahal kau baru pulang kan?" timpal Davira dengan tatapan bersalah.
Kaila menggenggam tangan Davira erat.
"Hei, kenapa jadi enggak enakan gitu. Aku ini kan sahabatmu. Udah pasti aku akan ada disaat kau butuh, Davira," balas Kaila
Davira tersenyum lembut.
"Makasih yah Kai. Kau memang sahabatku yang baik," tutur Davira
"Okeh, sekarang kau harus ceritakan semuanya padaku," pinta Kaila dengan wajah serius.
Davira menarik napas yang dalam sebelum memulai ceritanya.
"Aku enggak mau lagi berhubungan dengannya," ucap Davira
Kaila terlihat terkejut dengan ucapan Davira.
"Kenapa?" tanya Kaila spontan.
"Aku rasa udah enggak ada kecocokan dari kita berdua, Kai. Dia udah bukan untukku lagi," jelas Davira dengan wajah sendu.
"Enggak Dav! Aku melihat tatapan itu padanya," papar Kaila
Davira mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu?" tanya Davira
"Aku melihat tatapan cinta itu padanya. Dia masih sayang sama dirimu, Dav. Aku bisa melihatnya," ungkap Kaila
"Heh, Kai. Aku sangat mengenalnya. Dia enggak mungkin mencintaiku lagi. Karena wanita itu lebih dariku. Aku sadar diri kok. Dia seperti itu hanya karena kasihan denganku. Itu saja," pungkas Davira kesal.
"Tap Dav...."
"Tony, aku maunya ke restoran Perancis. Bukan ke sini."
"Tapi aku mau beli sesuatu di sini."
Sontak Kaila dan Davira menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah sumber suara. Detik berikutnya Kaila membulatkan matanya sempurna melihat pemandangan di depan matanya. Beda halnya dengan Davira yang nampak biasa saja. Tapi, dapat diketahui kalau hatinya sangat sakit saat ini.
Di sana, Kaila melihat seorang wanita sedang bergelayut manja di lengan Tony. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Kaila. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah dua orang itu. Sontak Davira terkejut karena Kaila yang tiba-tiba bangkit dan berjalan cepat ke arah Tony.
"Kai! Kau mau ke mana?!" pekik Davira segera menyusul Kaila.
"Ohh, jadi benar yang dikatakan Davira. Kau benar-benar membuatnya kecewa. Dan aku enggak menyangka banget kalau wanita diantara hubungan Davira dan Tony itu kau, Andhira Cempaka," desis Kaila dengan pandangan tajam.
Tony membulatkan matanya sempurna melihat kehadiran Kaila di situ. Apalagi saat ia menoleh ke belakang dan melihat Davira yang memandang dingin padanya. Sontak ia melepas genggaman tangan Andhira dan berjalan ke arah Davira.
"Da-Davira, ini bukan seperti yang kau lihat. Aku beneran enggak ada hubungan dengannya," jelas Tony menggenggam tangan Davira.
'bats'
Seketika Davira menepis tangan itu. Ia memandang remeh pada Tony.
"Untuk apa kau menjelaskannya padaku? Kita enggak ada hubungan apa-apa. Kau bebas berhubungan dengan siapapun," ketus Davira melipat kedua tangan di d**a.
Terlihat wajah Tony yang terluka dengan kata-kata itu.
"Davira, aku udah jelasin semuanya padamu. Harusnya kau mengerti posisiku," lirih Tony
Kaila sedikit tertegun dengan wajah Tony. Terlihat kesakitan di mata itu kala Davira memandang dingin.
"Oleh karena aku mengerti dirimu. Makanya aku enggak mau mencampuri segala urusanmu lagi. Jadi jangan pernah deketin aku lagi," protes Davira segera berlalu dari hadapan Tony.
"Davira! Tunggu!" teriak Tony segera mengejar Davira keluar.
"Tony! Kau mau ke mana?!" pekik Andhira yang nampak kesal.
Kaila menolehkan wajahnya kembali pada Andhira, mantan sahabatnya.
"Aku bersyukur karena kita udah enggak sahabatan lagi. Aku malu punya sahabat seorang pelakor," hina Kaila sebelum pergi juga dari restoran itu.
Andhira nampak terkejut dengan penuturan Kaila. Terlihat wajahnya yang memerah menahan malu dan kesal. Bagaimana tidak, orang-orang yang ada di kafe itu nampak menggunjingnya.
"Liat aja, Davira! Tony itu milikku. Aku enggak akan biarkan dia balik padamu," desis Andhira segera pergi dari kafe itu.
Quote of the day:
Rasanya hatiku sudah mati rasa. Aku tak dapat lagi merasakan rasa cinta darimu. Jadi cukuplah!
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!!
See you in next chapter!!!