Jalan-Jalan di Bali

1408 Kata
Happy Reading Pagi yang cerah menyambut tidur Kaila yang sangat nyenyak. Ia merasa sisi ranjang di sampingnya. Mata yang awalnya terpejam itu perlahan terbuka dan melihat kekosongan di sana. Tak ada sosok kekasihnya itu. Kaila pun berusaha banguj serta meregangkan tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Arcel. Ia pun turun dari ranjang untuk melihat apakah di kamar mandi ada. Tidak ada juga. "Arcel ke mana yah pagi-pagi gini?" gumam Kaila seraya keluar membuka pintu balkon. Begitu membuka pintu itu, angin dari pantai Nusa Dua langsung menyambut wajah putihnya. Kaila menikmati sapuan angin itu. Ia tersenyum tipis menikmatinya. Sampai-sampai ia tak sadar jika kekasihnya itu sedang mendekatinya. 'grep' "Ahh!" pekik Kaila yang terkejut dengan pelukan di pinggangnya. Kaila menoleh ke belakang dan mendapati wajah kekasihnya yang tersenyum lembut padanya. Kaila pun mencubit lengan kekasihnya itu. "Aw! Kok dicubit sih sayang?" keluh Arcel memajukan bibirnya. "Kamu sih! Main peluk-peluk gitu. Aku kira siapa tau. Kaget tau," omel Kaila melipat tangannya di d**a. "Ihh, sayang! Kan cuma aku dan kamu yang tau kode kamar ini. Mana mungkin orang lain bisa masuk," jelas Arcel "Aku sempat kira kamu itu setan tau," ujar Kaila terkekeh. "Ha?! Setan?! Mana ada setan seganteng aku tau," kilah Arcel Kaila terkekeh geli melihat Arcel yang sedang protes. Arcel bukannya marah, justru ia sangat senang bisa melihat Kaila tertawa lepas seperti itu. Apalagi tertawaan itu karena dirinya. "Udah ketawanya?" tanya Arcel mengangkat sebelah alisnya. Kaila pun mengatur napasnya karena terus menerus tertawa. Setelahnya ia mengangguk kuat. "Udah!" "Sekarang kamu mandi terus aku tunggu yah. Kita akan sarapan di luar," papar Arcel "Siap kapten!" balas Kaila tersenyum lebar seraya berjalan masuk. "Eh, tunggu Kai," tahan Arcel yang membuat Kaila langsung berhenti. "Ada apa?" tanya Kaila dengan pandangan bingung. "Mau aku bantu mandiin enggak?" tawar Arcel dengan senyum menggoda. "Arcel m***m!" pekik Kaila seraya berlari masuk ke dalam kamar mandi serta membanting sedikit pintu itu. Arcel tertawa keras karena berhasil membuat wajah Kaila berwarna kepiting rebus. Ia tak akan mungkin melakukan itu sebelum hubungan mereka resmi. Ia itu tipikal pria yang menghargai harga diri wanita. *** Kaila keluar dengan menggunakan bathrobe yang melilit tubuh rampingnya itu. Ia melihat kamar hotel yang kosong. Mungkin Arcel lagi tunggu di luar kamar. Aku harus cepat nih ~ batin Kaila Kaila segera membuka lemari yang sudah ada pakaiannya yang sebelumnya sudah ia tata bersama dengan pakaian Arcel. Kaila memilih setelah dress warna merah dengan tali satu garis hingga memperlihatkan leher dan bahu mulusnya. Tak lupa ia mengenakan kalung yang diberikan oleh Arcel. Kaila juga mengoleskan make up yang tipis ke wajahnya. Setelah dirasa cukup, ia segera keluar kamar karena khawatir kalau Arcel bakal menunggunya lama. Ia melihat Arcel tengah berbicara dengan seseorang lewat telponnya. Melihat Kaila yang mendekatinya, buru-buru Arcel mematikan panggilan itu. "Siapa yang nelpon?" tanya Kaila "Emm, orang dari kampus nelpon memintaku untuk mengirim data mahasiswa tingkat akhir yang mengikuti magang," jelas Arcel tersenyum. "Ohh gitu." "Ayo, kita pergi," ajak Arcel "Ayo!" Arcel menarik tangan Kaila. Maafin aku yah sayang. Aku harus berbohong padamu ~ batin Arcel Akhirnya Arcel memilih salah satu restoran yang terletak di dekat pantai Nusa Dua yang bernama Sateria Beachside Restaurant. Di sana menyajikan cukup banyak jenis makanan. Mulai dari makanan khas Bali sampai mengarah ke western food. "Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Arcel Kaila melihat-lihat isi buku menu itu. "Aku mau Waffle Cup Ice Cream and Sherbet," ucap Kaila seraya menutup buku menu itu. "Itu aja? Enggak mau yang lain?" tawar Arcel "Itu aja deh," jawab Kaila "Kalau gitu satu porsi Waffle Cup Ice Cream and Sherbet dan satu porsi Homemade Tiramisu," ujar Arcel "Baik. Silahkan ditunggu pesanannya," ucap pelayan itu seraya berlalu. Kaila memperhatikan pemandangan indah dari laut Nusa Dua. Arcel ikut tersenyum melihat Kaila yang begitu bahagia. Tak lama kemudian pesanan mereka sampai dan mereka mulai memakan sarapan mereka itu. "Habis ini mau ke mana?" tanya Arcel di sela sarapan itu. "Emm, aku mau beli oleh-oleh buat Davira. Dia pasti suka nanti," jawab Kaila "Okey" Sontak Kaila terkesiap ketika Arcel mengusap bibirnya. Kaila diam mematung ketika jari bekas usapan itu dijilat oleh Arcel. "Ihh, Arcel! Kok malah dijilat sih?! Kan kotor itu!" keluh Kaila "It's okay. Ini lebih manis tau," goda Arcel dengan senyum yang lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya. Kaila merasakan jantungnya berdecak dua kali lebih cepat. "Udah ah!" sahut Kaila seraya memakan kembali sarapannya dan mengalihkan pandangannya dari Arcel karena malu. *** Selepas sarapan, Arcel mengajak Kaila pergu berbelanja sesuai permintaan Kaila tadi. Kaila begitu antusias melihat berbagai pernak pernik yang ada di pasar dekat daerah Nusa Dua. Kaila akhirnya berhenti di depan toko penjual aksesoris gelang kayu. "Permisi Pak. Bisakah saya pesan satu dengan nama 'Davira'?" tawar Kaila "Bisa Nona. Tunggu sebentar," balas pedagang itu segera membuatkan pesanan Kaila. Kaila melihat Arcel yang berada di belakangnya yang tengah melihat ke kanan dan ke kirinya. "Ini Nona pesanannya udah jadi," celetuk pedagang itu. "O-Oh ya. Makasih yah Pak. Ini uangnya," timpal Kaila seraya menyerahkan biayanya. "Makasih Nona." Setelah mengambil pesanannya, ia segera berjalan mendekati Arcel yang masih betah melihat berbagai pernak pernik yang dipajang di pasar itu. "Arcel!" panggil Kaila Arcel menoleh pada Kaila. "Udah selesai belanjanya?" tanya Arcel "Udah. Yuk!" ajak Kaila menarik tangan Arcel. "Enggak mau beli yang lain gitu?" tawar Arcel "Enggak! Aku mau jalan-jalan di pantai sekarang," jawab Kaila *** Di sinilah pasangan kekasih itu. Berjalan di tepian pantai tanpa alas kaki. Mereka sengaja melakukannya untuk merasakan tekstur halus dari pasir putih itu. Dengan tangan yang saling bertaut disertai senyuman yang selalu terpancar di wajah keduanya. Sungguh hari ini Kaila sangat senang. Bisa liburan berdua dengan orang yang ia cintai. Jujur selama berpacaran dengan Irsyad, ia tak pernah diajak liburan seperti ini. Palingan mereka akan makan saja di luar. "Kita duduk di sana, yuk," ajak Arcel menarik tangan Kaila untuk duduk di hamparan pasir. Kaila menyandarkan kepalanya di bahu Arcel. Arcel pun dengan senang hati memeluk pinggang ramping itu. Sesaat ia melihat ke arah Kaila. Akhirnya ia baru menyadari kalau Kaila memakai pakaian yang cukup seksi dengan leher jenjang yang terlihat itu. Pantesan saja selama mereka jalan-jalan tadi, banyak pasang mata liar yang melihat ke arah kekasihnya itu. "Kai" Kaila menoleh pada Arcel. "Ada apa?" "Jangan pernah memakai pakaian seperti ini lagi. Apalagi di tempat umum," jelas Arcel Kaila mengangkat kepalanya di bahu Arcel dan menatapnya bingung. "Maksudnya?" Arcel menghela napas kasar. Ia melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Kaila hingga leher putih itu tak kelihatan lagi. "Kenapa kamu pakaikan aku jaketmu?" tanya Kaila yang ingin melepas jaket itu. Namun, dengan cepat ditahan oleh Arcel. "Jangan lepas! Aku enggak suka liat kamu memperlihatkan leher jenjangmu itu. Itu membuat mata-mata liar jadi menatap lapar padamu," papar Arcel Kaila mengerti arah pembicaraan Arcel. "Ihh, Arcelku cemburu yah!" goda Kaila "Kaila, aku serius. Lain kali pakai pakaian yang lebih tertutup," tegas Arcel "Iya, iya deh. Aku ngerti," timpal Kaila terkikik geli. Kaila merasa senang Arcel seperti possesif padanya. "Arcel!" panggil Kaila "Hm" "Arcel" "Hm" Kaila mengembungkan pipinya kesal karena Arcel tak menanggapi serius panggilannya. Apa dia masih marah? "Ihh, Arcel! Aku memanggilmu!" pekik Kaila tepat di depan telinga Arcel hingga membuat si empu refleks menutup kedua telinganya. "Kaila, ngapain teriak-teriak sih," protes Arcel "Kamu sih! Aku panggil daritadi, jawabannya cuma 'hm' 'hm' aja," keluh Kaila "Iya deh, sayang. Maafin aku. Sekarang, kenapa Kailaku memanggil diriku ini?" tanya Arcel dengan nada super lembut. Kaila tersentuh dengan hal itu. "Aku ada sesuatu untukmu," celetuk Kaila "Apa itu?" tanya Arcel dengan wajah bingung. Kaila mengeluarkan sebuah gelang di tangannya dan memakaikannya pada Arcel. Arcel cukup terkejut dengan gelang yang terbuat dari kayu itu. "Kok kamu beliin aku ini? Bukannya kamu belikan untuk Davira?" tanya Arcel "Hmm, kalau untuk Davira itu kalung ini. Tapi, gelang ini aku juga pesan. Liat, aku juga pakai. Sekarang kita punya gelang pasangan," jelas Kaila dengan senyuman lebar. Arcel langsung memeluk tubuh Kaila. Kaila pun terkesiap dengan pelukan itu. "Makasih yah Kai. Kamu sangat menghargai dan mencintai hubungan ini," celetuk Arcel "Aku sangat mencintaimu, Arcel." "Aku lebih mencintaimu, sayang." Quote of the day: Rasanya sangat manis hingga membuatku merasa terkena penyakit diabetes. Itu membuatku selalu tertawa setiap harinya. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jadi jangan lupa love dan comment nya reader!!! See you in next Chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN