Penjelasan Dan Pernyataan

1301 Kata
Happy Reading "A-Arcel?!" "Jangan sekalipun kau berani menyentuhnya. Atau kau akan kubuat mati dalam penyesalan," desis Arcel seraya menatap tajam pada Irsyad. Entah kenapa Irsyad merasakan tubuhnya sedikit takut terhadap tatapan Arcel. Tatapan itu begitu menusuk dan dingin. Arcel langsung menghempas tangan Irsyad hingga membuat Irsyad hampir terjatuh. Arcel melihat sekelilingnya. "Apa ini sikap kalian sebagai mahasiswa?! Kenapa pola pikir kalian masih seperti anak SMA?! Apakah kalian tidak bisa berpikir dengan logis?! Apa kalian harus mempercayai suatu peristiwa yang belum ada buktinya?! Bagaimana kalau hal ini terjadi pada kalian?!" murka Arcel Semua mahasiswa itu menunduk mendengar amukan dari Arcel. Arcel beralih menatap tajam pada sosok Dianti. Dianti yang ditatap seperti itu seketika salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Arcel kembali menatap Irsyad. "Khususnya kau! Apa kau pria, hah?! Kenapa kau dengan seenaknya memukul seorang wanita?! Apalagi kau tidak ada hubungan apa pun dengan dirinya?!" murka Arcel "Aku melakukan itu untuk mengajarinya sopan santun. Asal kau tau, dia mencekik kakaknya sendiri untuk membunuhnya," ungkap Irsyad "Bukan aku...." Ucapan Kaila langsung terpotong karena Rizhan mengangkat tangan padanya. "Cih, apa kau pikir aku akan percaya jika Kaila melakukan itu semua?! Aku ini orangnya realistis. Aku ini tidak akan mempercayai suatu hal yang belum ada buktinya dengan jelas. Siapa tau dia mengarang cerita itu," sindir Arcel "Aku enggak akan membuat kebohongan yang akan mencelakakan diriku sendiri," protes Dianti "Terus? Apa kau bisa membuktikan kalau Kaila yang melakukan semua ini? Oh, atau kita periksa aja CCTV di dekat sini. Pasti akan kelihatan kejadian yang sebenarnya," ancam Arcel Dianti langsung tak dapat berkata-kata. "Kenapa diam? Takut kalau bukti yang sebenarnya terungkap?" sindir Arcel Dianti yang sangat takut kebenarannya terungkap langsung melakukan akting mau pingsan. "Dianti!" Irsyad mendekati Dianti dengan pandangan khawatir. Tidak seperti sebelumnya jika Kaila akan sakit melihat Irsyad yang sangat perhatian pada Dianti, sekarang dia tak ada merasakan sedikitpun perasaan itu lagi. "Ir-Irsyad aku pusing," keluh Dianti "Ya udah, kita pulang aja yah," balas Irsyad Irsyad segera mendorong kursi roda itu keluar dari kerumunan. "Tunggu!" tahan Arcel Arcel berjalan hingga ke depan Irsyad dan Dianti. "Ada apa lagi? Tak bisakah kau melihatnya udah sangat letih. Kita bisa bicarakan lagi nanti," protes Irsyad "Aku tau. Tapi satu yang perlu kalian ingat. Masalah ini enggak akan berakhir. Aku tetap akan menyelidiki kejadian ini sampai tuntas. Saat aku tau yang sebenarnya, jangan harap untuk kabur," ancam Arcel seraya berlalu dari hadapan mereka. Dianti merasakan tubuhnya gemetar. Perkataan Arcel benar-benar membuatnya sangat takut. Ia kembali kesal karena ada saja orang yang bisa menyelamatkan Kaila. "Kalian semua boleh bubar!" teriak Arcel Seluruh mahasiswa itu akhirnya berpencar dan pergi. Kaila masih menatap dalam pada Arcel. Arcel yang merasa Kaila sedang menatapnya, segera menatap balik dirinya. Ia tersenyum manis pada Kaila. "Ayo" Arcel menarik tangan Kaila pergi. *** Suara deburan pantai menemani pasangan yang sedang duduk di salah satu gazebo. Di sinilah mereka, Kaila dan Arcel yang sedari tadi hanya diam tak berbicara apa pun. "Kaila/Arcel" Mereka langsung ternyum kikuk karena memanggilnya secara bersamaan. "Kamu duluan," ucap Kaila "Enggak. Kamu aja duluan," tolak Irsyad "Hmm, bagaimana kabarmu?" tanya Kaila Arcel sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kaila. Dia kira Kaila akan menanyakan keberadaannya selama ini. Ternyata tidak. "Bohong jika aku bilang baik-baik aja. Aku cukup tersiksa," jawab Arcel dengan pandangan sendu. Kaila langsung menatap ke arah Arcel. "Kenapa? Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Kaila "Aku sangat merindukanmu Kaila. Aku tersisa karena enggak bisa menemuimu selama ini," ungkap Arcel 'deg' Dada Kaila berdetak dengan sangat cepat kala mendengar perkataan Arcel. Arcel mengatakan merindukannya. "Terus kamu ke mana selama ini? Apa kamu tau kalau aku juga sangat mengkhawatirkanmu?! Kamu pergi tanpa penjelasan apa pun. Aku pikir kamu udah dipecat gara-gara membantuku tempo lalu. Aku pikir kamu udah bosan denganku. Aku pikir...." Ucapan Kaila terhenti karena Arcel menaruh jari telunjuknya di bibir Kaila. Ia menggeleng lemah. "Maafin aku Kaila. Perginya aku bukan kesalahanmu. Ada beberapa hal yang mesti aku urus dan itu semua enggak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Jadi, jangan salahin dirimu atas kepergianku," jelas Arcel Kaila langsung memeluk tubuh Arcel. Ia menangis dalam pelukan itu. Arcel pun membalas pelukan itu dan mengelus rambut Kaila untuk menenangkannya. "Apa kamu tau selama kamu pergi, aku terus berpikir kalau kamu enggak akan kembali lagi padaku. Aku sangat takut hal itu terjadi. Kamu adalah orang pertama yang sangat mempercayaiku. Aku takut setelah kamu pergi, enggak akan ada lagi yang peduli denganku. Aku mohon jangan pergi lagi Arcel," lirih Kaila dalam pelukan itu. Arcel tersenyum lebar mendengar perkataan Kaila. Ia memeluk Kaila lebih erat. "Apa ini sebuah pernyataan?" tanya Arcel yang melepas pelukan Kaila dan menatapnya. "Maksudnya?" tanya Kaila balik dengan tahapan bingung. Arcel terkekeh pelan dengan ekspresi lucu Kaila. "Kamu mengatakan semua itu, apa artinya kamu menyukaiku?" tanya Arcel dengan tatapan menggoda. Pipi Kaila langsung memerah mendengar hal itu. Ia pun mengangguk pelan. "Apa? Kok enggak bilang sih?" tanya Arcel yang semakin gencar menggoda Kaila. "Ihh, Arcel nyebelin! Iya, aku menyukaimu!" pekik Kaila seraya pergi dari hadapan Arcel dan berlari. Arcel pun kembali terkekeh geli. Ia pun segera menyusul Kaila yang berlari. "Kaila, sayang! Tunggu pacarmu ini dong!" teriak Arcel Kaila berbalik dan terkejut dengan perkataan Arcel. Arcel berdiri di hadapan Kaila. "A-Apa maksudmu Arcel?" tanya Kaila dengan pandangan terkejut. Arcel meraih kedua tangan Kaila. Ia menatap dalam pada wajah Kaila. "Maksudku adalah aku juga menyukaimu. Eh, bukan. Tapi aku mencintaimu," jelas Arcel dengan senyuman lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya. Kaila pun tersenyum haru mendengar perkataan Arcel. Itu artinya perasaannya terbalaskan. Padahal dia sudah takut akan ditolak. Oleh karena itu, saat dia menyatakan perasaannya, ia langsung lari karena tidak ingin mendengar balasan dari Arcel. Tapi ternyata Arcel malah membalas perasaannya juga. Arcel langsung memeluk tubuh Kaila sangat erat. Ia mencium pucuk kepala Kaila. "Aku ada sesuatu untukmu," celetuk Arcel seraya melepas pelukan itu. "Apa?" tanya Kaila "Tutup matamu dulu dong," ucap Arcel "Untuk apa tutup mata. Perlihatkan saja," tolak Kaila "Ini anak bandel juga yah. Ayo tutup matamu," perintah Arcel "Iya iya. Ini aku tutup," balas Kaila seraya menutup matanya. Arcel tersenyum penuh arti. Ia mengambil sesuatu di balik saku jasnya. "Bukanlah matamu," ucap Arcel Kaila membuka perlahan matanya. Matanya langsung melebar begitu melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang. Kaila menyentuh liontin itu dengan pandangan berbinar. "Cantik" "Ini untukmu," ucap Arcel "Untukku?!" tanya Kaila "Iyah, sini aku pakaikan," balas Arcel serat berjalan di belakang Kaila dan mengenakan kalung itu pada leher Kaila. Kaila menyentuh kembali kalung itu dan tersenyum lebar. Arcel memeluk Kaila dari belakang. "Bagaimana kamu suka?" tanya Arcel "Suka. Suka banget. Makasih yah Arcel. Kamu masih ingat aja dengan yang kusuka," timpal Kaila dengan pandangan yang tak terlepas dari kalung itu. "Selain karena kamu memang sangat menyukai bintang. Aku juga memberikan itu karena kamu adalah bintangku Kaila. Kamu adalah sinar dihidupku. Terlepas dari kita pacaran atau enggak. Aku tetap ingin selalu ada untukmu," ungkap Arcel Kaila membalikkan badannya menatap Arcel. "Harusnya aku yang bilang begitu padamu. Kamu itu yang cocok menjadi bintangku. Kamu hadir di saat aku udah sangat putus asa dengan dunia ini. Kamu hadir bagai cahaya untuk hidupku. Aku sangat senang saat kamu hadir di hidupku," ungkap Kaila Arcel langsung tersenyum manis mendengar hal itu. Ia kembali memeluk Kaila dengan erat. Kaila pun memeluk Arcel tak kalah erat. Semoga saja ini tak 'kan berakhir dengan cepat. Aku ingin masih melihat senyum di wajahnya. Aku ingin selalu bisa melindunginya ~ batin Arcel Quote of the day: Dia kembali lagi di kehidupanku. Entah aku harus merasa senang atau tidak. Aku hanya takut jika dia akan pergi lagi dari kehidupanku. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN