Dia Kembali

1176 Kata
Happy Reading "Hati-hati turunnya," ucap Irsyad yang membantu Dianti untuk turun dari mobil. "Maaf yah Irsyad. Aku jadi merepotkanmu," celetuk Dianti dengan wajah sedih. "Enggak apa-apa kok. Justru aku yang mau minta maaf karena harus mengajakmu ke kampusku dulu. Harusnya aku mengantarmu pulang dulu," balas Irsyad "Enggak kok. Aku juga mau menemui Kaila di sini," tutur Dianti "Kamu mau apa bertemu dengannya? Nanti kamu dicelakain lagi sama dia. Jangan deh," larang Irsyad Enggak nyangka sekarang Irsyad sangat membenci Kaila. Ini sangat mudah untuk membuat orang-orang semakin menjauhi Kaila ~ batin Dianti dengan senyum licik. "Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kamu tau sendiri kan dia sekarang udah diusir oleh Papa. Aku sangat khawatir dengan apa yang Kaila lakukan di luar sana," papar Dianti "Yah, kamu benar juga. Aku sangat enggak mengerti lagi dengan jalan pikiran Kaila," keluh Irsyad "Udahlah, kamu pergi aja. Aku akan menunggu di sini," timpal Dianti dengan senyuman. "Okey, aku pergi dulu yah. Enggak lama kok," pamit Irsyad seraya berlalu dari hadapan Dianti. Selepas perginya Irsyad, Dianti mengeluarkan ponselnya dan tersenyum licik. Entah apa lagi rencana jahat yang akan dilakukannya. "Halo, adikku sayang. Kau di mana?" tanya Dianti yang menghubungi Kaila. ["Aku di kampus. Kenapa? Mau buat jahat lagi?" tanya Kaila dengan nada menyindir.] "Kau ini semakin berani yah denganku. Sekarang kau datang ke sini. Temui aku," perintah Dianti dengan raut wajah kesal. ["Mau ngapain sih?! Aku lagi di kampus kak," tolak Kaila] "Kau jangan membantah. Aku ada di taman dekat fakultasnya Irsyad. Kau ke sini sekarang. Kalau enggak, liat aja hal apa yang akan aku lakukan padamu," ancam Dianti ["Ya udah deh, tunggu di sana," jawab Kaila seraya mematikan panggilan itu.] Dianti tersenyum penuh kelicikan. *** "Ada apa Kai? Kakakmu mengganggumu lagi?" tanya Davira "Mungkin. Dia menyuruhku untuk menemuinya di taman dekat fakultas bisnis," jawab Kaila seraya merapikan barang-barangnya. Padahal dia sangat sibuk dengan Davira saat ini. Mereka sedang membahas desain kerja sama dengan TM Group. Tapi semua itu harus tertunda karena Dianti yang tiba-tiba menelponnya. Kaila ingin sekali menolak, tapi ia sedikit khawatir dengan ancaman Dianti. Sungguh wanita itu punya seribu cara untuk berbuat jahat pada dirinya. "Eihh, aku ingin sekali menemanimu. Tapi Mamaku tiba-tiba menelponku," celetuk Davira dengan wajah menyesal. "Enggak apa-apa Davira, Kau tenang saja. Aku akan menjaga diriku," balas Kaila dengan senyuman manis. "Kau yakin? Atau aku ikut menemanimu sebentar deh. Aku khawatir tau kakakmu akan berbuat jahat padamu lagi," timpal Davira dengan raut khawatirnya. Sungguh Davira tidak habis pikir ada orang yang begitu jahat pada saudara kandungnya sendiri. Apalagi tempo hari lalu saat ia melihat sendiri kalau Dianti itu bisa berjalan. Bukannya terkejut, Dianti malah tersenyum tenang dan licik. Davira benar-benar kesal saat itu. "Enggak Davira. Aku akan baik-baik aja kok. Kau pulanglah. Takutnya mamamu menelpon karena ada urusan penting lagi. Udahlah, kau pulang aja," tolak Kaila dengan senyum yang meyakinkan. "Ya udah deh. Kalau gitu aku pulang dulu yah. Kau hati-hati," ujar Davira "Iyah, kau juga," balas Kaila seraya melambaikan tangannya. Selepas Davira pergi, Kaila langsung beranjak menuju tempat Dianti. Saat sampai di taman itu ia melihat Dianti yang tengah bermain ponsel. Ada sedikit perasaan waspada dalam dirinya. "Kak Dianti" Dianti menoleh begitu mendengar suara Kaila yang memanggilnya. Ia langsung menunjukkan wajah yang angkuh. "Akhirnya kau datang juga. Ada apa dengan wajahmu? Kesal, hah?" sindir Dianti "Udahlah, kak. Jangan banyak bersandiwara lagi. Ada apa memanggilku ke sini. Aku banyak kerjaan tau," komentar Kaila "Ohh, sekarang udah susah nih karena Papa enggak memberikanmu uang jajan lagi. Kasihan banget sih adikku ini," sindir Dianti Kaila berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Sungguh perkataan Dianti sangat menusuk hatinya. Memang benar, Emran tak lagi memberi uang saku pada Kaila sejak insiden Dianti jatuh dalam kolam. Tapi untuk fasilitas kuliah masih dibiayai oleh Emran. "Terus kenapa kalau Papa enggak memberiku uang jajan lagi? Aku enggak terlalu peduli kok. Lagian aku bukan orang boros seperti kakak," sindir Kaila balik. "Kau kurang ajar banget ya! Emang kenapa kalau aku ini boros?! suka-suka aku lah. Lagian uang iu diberikan oleh Papa kok untuk aku habisin. Bukan kayak kau yang sok-sokan berhemat. Padahal sangat membutuhkan uang sampai-sampai mencari dengan menjual diri," hina Dianti 'plak' Dianti melebarkan matanya saat Kaila menampar wajahnya. Baru kali ini ia melihat Kaila bersikap sangat berani padanya. "Aku benar-benar enggak tahan lagi dengan sikap kakak. Kakak sangat jahat padaku. Aku enggak ngerti kenapa kakak terus menerus melukaiku. Padahal aku sangat menyayangimu," protes Kaila "Kau berani sekali menamparku! Kau benar-benar harus kuberi pelajaran," geram Dianti seraya menarik pergelangan tangan Kaila dan menaruh di lehernya. "A-Apa yang kakak lakukan?! tanya Kaila yang terkejut dengan tindakan Dianti. "TO-TOLONG! To-Tolong! Ada yang ingin membunuh!" teriak Dianti dengan air mata yang ia buat. Kaila berusaha melepas pegangan tangannya pada leher Dianti. Yang ia khawatirkan terjadi lagi. "Hei, ada apa itu?" "Ihh, ada yang mau membunuh tuh" "Ayo ke sana" Semua mahasiswa yang ada di sekitar itu segera mendekati karena suara teriakan dari Dianti. Kaila masih berusaha melepas tangannya pada leher Dianti yang digenggam erat oleh Dianti. "Kakak lepasin dong," keluh Kaila "Kaila sakit! Lepasin aku! Uhuk, Uhuk," ucap Dianti dengan akting andalannya. "Kak Dianti!" Suara pekikan dari Luna membuat orang langsung memperhatikannya. Ia berlari ke arah Dianti. "Hei, Kaila. Kau kurang ajar banget sih! Bagaimana bisa kau ingin membunuh kakakmu sendiri," geram Luna seraya mendorong tubuh Kaila. "Aku enggak melakukannya. Kak Dianti yang tiba-tiba menarik tanganku ke lehernya. Seolah-olah aku mencekiknya," ungkap Kaila "Kaila! Kok kau tega banget sih nuduh kakak kayak gitu. Masa kakak mau celakain diri kakak sendiri," kilah Dianti dengan wajah sedih yang ia buat. Kaila terkejut dengan penuturan Dianti. "Kakak kenapa sih terus menerus memfitnahku?! Kakak jelasin dong yang sebenarnya," protes Kaila "Kau jangan berdalih lagi deh. Kelihatan banget tau kalau kau yang bersalah. Iya kan?" tukas Luna "Iya benar, aku liat sendiri dia mencekik leher kakaknya" "Ihh, dasar cewek psycho" "Enggak tau diri banget sih!" "Bukan aku yang melakukannya! Bukan aku," bela Kaila "Ada apa ini?" Semua orang langsung menoleh ke arah Irsyad yang datang. "Irsyad!" Dianti langsung menangis begitu melihat sosok Irsyad. Kaila semakin dibuat kesal dengan akting Dianti. "Dianti, ada apa denganmu?!" tanya Irsyad dengan pandangan terkejut. "Tuh kak Irsyad. Kaila ingin membunuh kak Dianti dengan mencekik lehernya," tuduh Luna Irsyad langsung memandang Kaila dengan tatapan amarah. "Apa kau benar ingin membunuhnya?! Kenapa kau bisa lakukan itu pada saudaramu sendiri!" murka Irsyad "Bukan aku yang melakukannya. Ini semua fitnah," sanggah Kaila Seketika Irsyad ingin melayangkan sebuah tamparan pada Kaila. Kaila menutup mata ketika tamparan itu ingin dilayangkan padanya. Namun Kaila langsung terheran karena tamparan itu tidak mengenainya. Seketika ia terkejut begitu membuka matanya. Ia juga melihat sosok yang selama ini ia rindukan. "A-Arcel?! Arcel dengan wajah amarahnya memegang tangan Irsyad yang ingin menamparnya. Quote of the day: Dia datang kembali disaat aku benar-benar membutuhkannya. Serasa ada jutaan kupu-kupu di perutku ketika melihat sosoknya lagi. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN