Happy Reading
Kaila menyambut pagi yang cerah dengan wajah suram. Kejadian kemarin kembali membuatnya merasa begitu terpuruk. Kaila sangat tidak menyangka jika Dianti akan kembali memfitnahnya. Padahal seharusnya mereka sudah berbaikan karena tidak ada lagi yang harus diperselisihkan. Keinginan Dianti agar Kaila putus dengan Irsyad sudah terpenuhi. Sekarang apa yang diinginkan oleh Dianti?
Kaila menghela napas kasar beberapa kali. Dia akan menampilkan senyum palsunya kali ini. Dia tidak akan menampilkan kesedihan yang ia alami. Kaila harus sabar kali ini. Walaupun banyak masalah menimpanya, ia tidak boleh malas untuk pergi ke kampus.
"Itu dia orangnya. Dasar adik enggak tau diri! Masa kakak sendiri mau dibunuh"
"Iya, dasar enggak tau diri! Mending pergi deh dari sini"
"Nanti kampus kita kena sial lagi ada seorang pembunuh. Pergi sana!"
"Iya, pergi! Jangan di sini!"
Kaila memandang dengan terkejut pada kumpulan mahasiswa yang tengah mengerumuninya sambil melemparkan sumpah serapah. Kaila tidak mengerti maksud dari mereka semua.
"STOP! Kalian kenapa sih?! Datang-datang langsung fitnah orang!" pekik Kaila dengan raut amarah.
"Hei, kita enggak fitnah yah. Kita tau kau itu ingin membunuh kakakmu sendiri kan. Dasar adik enggak tau diri! Siapa coba yang mau punya saudara kayak dirimu"
Kaila mendorong wanita itu hingga terjatuh.
"Jaga bicaramu kalau kau enggak memiliki bukti apa pun untuk menuduhku. Aku bisa menuntut kalian semua atas pencemaran nama baik," geram Kaila
"Cih, mana ada maling yang mau ngaku. Udah buat salah, masih aja membela dirinya sendiri," sindir Luna yang hadir di tengah kerumunan itu bersama dengan Andhira.
"Apa maksudmu?!" desis Kaila memandang tajam ke arah Luna.
"Iya kan? Ucapanku benar. Asal kalian tau Kaila ini memaksa agar kakaknya berjalan lagi agar dia enggak akan disalahkan oleh semua orang. Padahal kakaknya itu belum sembuh, tapi dia paksa sampai kakaknya terluka. Parahnya lagi yah dia mendorong kakaknya ke kolam renang agar kakaknya itu mati," tuduh Luna
"Benarkah?! Wah, dasar pyscho"
"Ihh, saudara apaan?! Kakak sendiri mau dibunuh"
"Iri kali yah. Dasar!"
Kaila sangat terkejut dengan penuturan Luna. Bagaimana dia bisa tahu kejadian kemarin? Kaila langsung menyadari kalau Dianti yang memberitahukan itu semua pada Vika, kakaknya Luna. Kaila semakin kesal dengan sikapnya Dianti.
"Kaila, aku benar-benar enggak nyangka kau akan melakukan tindakan kriminal seperti itu. Bagaimana bisa kau ingin membunuh kakakmu sendiri?! Padahal kak Dianti sangat baik dengan dirimu. Tapi kau?! Aku bersyukur enggak jadi temanmu lagi," hardik Andhira
"Udah aku bilang kak Andhira. Dia itu enggak sepolos yang kita kira. Dia hanya berusaha menutupi kesalahan yang dia lakukan. Cih, dasar cewek psycho," hina Luna
'plak'
Kaila menampar dengan keras wajah Luna. Ia menatap dengan penuh amarah pada Luna maupun Andhira.
"Aku peringatkan pada kalian untuk jaga bicara. Apa kalian punya bukti kalau aku yang melakukan itu semua?! Asal kalian tau, kak Dianti itu udah bisa berjalan. Hanya saja dia berbohong enggak bisa berjalan. Itu yang sebenarnya," ungkap Kaila
"Heh, Kaila. Kau pikir kami akan percaya dengan cerita omong kosongmu itu. Mana mungkin kak Dianti akan berbohong hal seperti itu. Enggak masuk akal banget," sindir Andhira dengan tatapan sinis.
"Terserah kalian mau percaya atau enggak. Aku enggak peduli," tukas Kaila seraya pergi dari hadapan mereka.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, seseorang melempar ya dengan telur hingga mengenai kepalanya. Itu bukan telur biasa melainkan telur busuk. Kaila segera membalikkan badannya dengan cepat untuk melihat pelaku yang melakukan hal itu.
"Siapa yang melempar itu?!" pekik Kaila
"Itu pantes untuk orang pembunuh sepertimu"
"Iya, pergi dari sini!"
"Pergi"
Para mahasiswa itu kembali melempar telur-telur busuk itu pada Kaila. Bukan hanya telur melainkan berbagai macam sampah. Kaila berusaha melindungi dirinya.
"STOP! KALIAN BERHENTI!"
Mereka semua langsung berbalik mendengar teriakan seseorang. Orang itu langsung memeluk tubuh Kaila dan memandang penuh amarah pada kumpulan mahasiswa itu.
"Kai, kau enggak apa-apa?"
"Davira?! Kau di sini?!" Kaila terkejut melihat keberadaan Davira.
"Kalian kenapa sih?! Kenapa kalian mem-bully Kaila?! Salah apa dia?!" pekik Davira dengan pandangan tajam.
"Dia itu ingin membunuh kakaknya. Kita harus beri pelajaran padanya karena jadi enggak tau diri!"
"Iya, orang kayak dia enggak pantes ada di sono!"
"Iya benar"
"Kalian gila ya?! Kenapa kalian percaya pada sesuatu yang belum ada bukti kebenarannya?! Aku bisa adukan hal ini pada rektor agar kalian semua diberi hukuman! Kalian mau?!" ancam Davira
Semua mahasiswa itu terdiam karena ucapan Davira.
"Untuk kalian berdua liat aja, akan ada balasan atas sikap rendahan kalian," ancam Davira kembali pada Luna dan Andhira.
Davira mengajak Kaila untuk berdiri dan beranjak meninggalkan kerumunan mahasiswa.
Davira mengajak Kaila pergi ke toilet untuk membersihkan tubuhnya. Untung saja Kaila membawa baju ganti di tasnya. Setelah membersihkan tubuhnya, ia segera keluar untuk menemui Davira.
"Udah selesai?" tanya Davira begitu melihat Kaila keluar dari dalam toilet.
"Udah. Makasih yah Dav. Kalau kau enggak datang tadi, mungkin aku udah babak belur dengan mereka semua," timpal Kaila dengan senyuman.
"Iya, sama-sama. Lagipula kau enggak salah, merekanya aja yang terlalu picik sampai mempercayai berita yang belum tentu benar," balas Davira dengan pandangan kesal.
"Kau benar. Aku hanya enggak nyangka hal ini bakal terjadi," tutur Kaila dengan pandangan sendu.
"Aku heran deh bagaimana mereka sampai tau hal internal kayak gini. Emang Luna atau Andhira datang ke rumahmu, makanya tau hal itu?" tanya Davira
"Enggak, mereka enggak pernah ke rumahku," jawab Kaila
"Terus bagaimana caranya mereka tau? Atau mungkin mereka mengada-ada?" duga Davira
"Aku berpikir mungkin kak Dianti memberitau temannya yang bernama Vika itu yang merupakan kakaknya Luna," duga Kaila
"Nah, kalau kemungkinan itu bisa sangat terjadi. Aku jadi heran deh dengan kakakmu itu. Kenapa jahat banget sih dengan saudaranya sendiri?" kesal Davira
"Makasih yah Dav, kau percaya banget denganku," celetuk Kaila
"Kai, walaupun aku baru-baru ini berteman denganmu. Tapi aku tau bagaimana sifatmu yang sebenarnya. Kita kan satu kelas, jadi aku tau bagaimana karakteristik seseorang walaupun enggak pernah berbicara langsung padanya," balas Davira
"Makasih yah"
Kaila memeluk erat tubuh Davira dan Davira pun membalas pelukan itu tak kalah erat.
'kring-kring'
Kaila mengambil ponsel dalam tasnya karena berbunyi. Kaila melihat nama 'MAMA' yang menghubunginya. Kaila langsung menggeser ke ikon hijau.
"Halo, Ma. Ada apa?" tanya Kaila
["Mama mau menyuruhmu untuk menemani Dianti di rumah sakit"]
"Bukannya Papa dan Mama melarangku untuk dekat-dekat dengan kak Dianti lagi?" tanya Kaila
["Kami sedang sibuk saat ini. Lagipula kamu jangan lupa kalau Dianti masuk rumah sakit karena kamu mendorongnya ke kolam renang"]
Rahang Kaila langsung mengeras.
"Baiklah, Kaila akan ke rumah sakit sekarang," jawab Kaila seraya mematikan panggilan itu.
"Ada apa Kai?" tanya Davira
"Mamaku menyuruhku untuk menemani kak Dianti di rumah sakit," jawab Kaila dengan lesu.
"Oke, aku akan menemanimu," celetuk Davira
"Kau mau ikut?! Serius?" tanya Kaila dengan pandangan sedikit terkejut.
"Iya, aku ikut. Aku khawatir kakakmu itu akan melakukan hal licik lainnya," jawab Davira
Kaila terkekeh mendengar jawaban Davira.
"Kalau gitu, kita jalan sekarang," ujar Kaila
"Ayo"
***
Kaila dan Davira sampai di rumah sakit tempat Dianti di rawat. Mereka segera mencari keberadaan kamar Dianti. Mereka pun sampai di depan kamar ruangan Dianti.
"Eh?! Kaila bentar yah aku mau ikat tali sepatu," celetuk Davira seraya berjongkok untuk mengikat tali sepatunya.
"Okey, kalau gitu aku masuk duluan yah," balas Kaila seraya masuk dalam ruangan Dianti.
'cklek'
"Apa kakak enggak mau mempertahankan posisi ini sampai Papa dan Mama melihatnya?" sindir Kaila yang melihat Dianti berjalan dengan santai di dalam ruangannya.
"Kalau enggak mau terus kenapa? Kasihan difitnah semua orang," hina Dianti
"Jadi bener itu semua kakak yang lakukan! Kakak bener-bener jahat banget yah sama aku. Kakak mau apa lagi?! Aku dan Irsyad udah putus seperti yang kakak mau. Sekarang apa lagi?!" protes Kaila
"Aku mau kamu mati jadi aku enggak perlu capek-capek terus menerus dibandingkan denganmu," tukas Dianti seraya berjalan mendekat pada Kaila.
"Jadi bener kamu udah bisa jalan?!" pekik seseorang yang baru saja memasuki ruangan Dianti.
Dianti memandang terkejut pada seseorang yang memasuki ruangan itu.
Quote of the day:
Rasanya sangat sakit ketika mengetahui saudaramu sendiri adalah alasan dibalik semua fitnahan itu.
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!!
See you in next chapter!!!