Kebohongan Yang Lain

1272 Kata
Happy Reading Kaila pulang dalam keadaan marah ke rumahnya. Irsyad benar-benar memancing emosinya. Kaila jadi heran kenapa dulu bisa menyukai lelaki b******k seperti Irsyad. Memang cinta membutakan segalanya. "Aku pulang," ucap Kaila seraya masuk ke dalam rumahnya. Sepi, tidak ada orang. "Eh, Nona Kaila. Udah pulang. Mau makan siang dulu, biar bibi buatkan," tawar bibi Sum "Enggak deh Bi. Aku udah makan di luar tadi," tolak Kaila dengan senyum sopan. "Baiklah" "Oh ya Bi. Yang lain ke mana? Sepi banget rumah," tanya Kaila "Tuan dan Nyonya lagi pergi ke acara temannya. Kalau Nona Dianti, ada di kamarnya kok Nona," jawab bibi Sum "Oh gitu. Makasih yah Bi," balas Kaila "Saya balik ke dapur dulu Nona," pamit bibi Sum seraya meninggalkan Kaila. Selepas perginya bibi Sum, Kaila berjalan menuju kamar Dianti. Biar bagaimanapun sikap Dianti padanya, tetap saja Dianti adalah saudara satu-satunya. Jadi Kaila harus tetap peduli padanya. Lagipula tidak baik bertengkar lama-lama dengan saudara. Dia dan Irsyad juga sudah putus sesuai keinginan Dianti. Seharusnya mereka sudah bisa baikan bukan? Kaila sampai di depan kamar Dianti. Ingin mengetuk tapi pintu itu terlihat terbuka sedikit. Detik berikutnya Kaila melebarkan matanya melihat Dianti yang sedang berjalan dengan santai melalui celah kamarnya. Seketika Kaila membuka pintu kamar itu. "Kak Dianti udah bisa jalan?!" pekik Kaila yang terlampau senang hingga memeluk tubuh kakaknya itu. "Ihh, apaan sih?! Lepasin!" tukas Dianti seraya mendorong tubuh Kaila hingga hampir terjatuh. Dianti terkejut karena melihat Kaila yang tiba-tiba masuk dalam kamarnya. "Alhamdulillah, akhirnya kaki kakak bisa jalan lagi. Papa dan Mama pasti seneng kalau denger ini," balas Kaila dengan senyum yang lebar. Dianti menatap dingin pada Kaila. Kaila yang mendengar suara mobil Papanya dari luar, segera berlari. Ia melihat Papa dan Mamanya yang sedang masuk ke dalam rumah. Kaila pun segera menghampiri keduanya. "Pa! Ma!" teriak Kaila "Kenapa kamu teriak-teriak sih?! Kayak di gua aja," protes Devi "Pa! Ma! Kak Dianti udah bisa jalan lagi!" pekik Kaila dengan raut wajah senang. "Benarkah?! Dianti udah bisa jalan?!" pekik Devi dengan raut wajah senang pula. "Terus di mana Dianti?" tanya Emran "Kak Dianti...." "Pa! Ma!" pekik Dianti yang keluar dengan kursi roda dengan keadaan menangis. Mereka langsung terkejut melihat Dianfi seperti itu. Khususnya Kaila yang terkejut karena Dianti keluar dengan kursi roda. Padahal Kaila. Dengan jelas melihat Dianti berjalan dengan lancar tadi. "Sayang, kamu kenapa Nak? Kok kamu pake kursi roda lagi? Bukannya kata Kaila kamu udah bisa jalan lagi?" tanya Devi dengan raut khawatir. "Iya, Nak. Kok masih pake kursi roda lagi?" tanya Emran pula. "Pa, Ma. Aku belum bisa jalan. Tadi Kaila memaksaku untuk berjalan. Dia bilang gara-gara aku lumpuh, semua orang jadi menjauhinya. Dia memaksaku sampai lutut aku luka, Pa, Ma," tuduh Dianti dengan air mata palsunya. Kaila memandang terkejut pada Dianti. Bagaimana bisa Dianti berbohong kalau dia tidak bisa berjalan? Kenapa pula ia menuduh Kaila memaksanya untuk berjalan hingga lututnya luka? Emran dan Devi mengalihkan pandangannya pada Kaila. Devi berjalan dengan cepat ke arah Kaila. 'plak' "Kamu berbohong pada kami! Kenapa Kai?! Kenapa?! Kenapa kamu selalu mencelakakan Dianti atas semuanya?! Enggak cukup kamu buat banyak masalah hah?! Mau sampai kapan kamu berbuat seperti ini?!" murka Devi seraya mendorong-dorong tubuh Kaila hingga punggung Kaila terbentur oleh meja di belakangnya. "Auch! Pa, Ma! Kalian harus percaya padaku. Jelas-jelas Kaila liat sendiri kak Dianti jalan dengan lancar di kamarnya," jelas Kaila "Kamu kok bisa bilang gitu Kai?! Aku beluk sembuh sama sekali. Kamu malah memaksaku untuk berjalan agar semua orang enggak lagi menyalahkanmu," sanggah Dianti "Kakak jangan bohong lagi dong?! Mau sampai kapan Kak?! Kakak kenapa jahat banget sih sama aku?!" pekik Kaila dengan air mata yang menumpuk. 'plak' Tamparan kedua dilayangkan padanya oleh Emran. Emran memandang geram pada Kaila. "Papa enggak pernah ajarkan kamu untuk berbuat seperti ini pada saudaramu sendiri. Papa benar-benar sudah sangat kecewa sama kamu, Kaila. Kamu benar-benar sudah kelewat batas. Sekarang lebih baik kamu keluar dari rumah ini. Papa capek liat keributan terus di rumah ini. Papa enggak mau liat Dianti celaka lagi kalau ada kamu di sini. Papa akan memberikan sebuah apartemen untukmu. Kamu tinggal di sana aja," papar Emran "Papa ngusir aku. Kalian benar-benar enggak percaya denganku?! Baik, aku akan pindah dari sini. Mungkin dengan aku pindah, bisa buat kalian lebih tenang," balas Kaila seraya berlari ke kamarnya. Dianti mengeluarkan smirk melihat rencananya berjalan dengan sangat lancar. Kaila mengeluarkan kopernya dari kamar. Air matanya terus mengalir sedari tadi. "Nona, beneran akan pergi?" tanya bibi Sum dengan air mata yang keluar. "Maafin aku yah Bi. Jika selama ini selalu nyusahin bibi. Aku terima kasih banget dengan bibi yang udah sangat menyayangiku selama ini. Aku pamit ya," ujar Kaila seraya memeluk tubuh bibi Sum. "Nona tunggu!" Langkah Kaila langsung terhenti karena panggilan dari bibi Yan. "Ada apa Bi?" tanya Kaila "Nona Dianti memanggil Nona. Sekarang nona Dianti ada di belakang Nona," jawab bibi Yan Apa lagi yang mau dia perbuat? ~ batin Kaila "Ya udah, makasih yah Bi," balas Kaila Kaila segera pergi menemui Dianti. Ia melihat Dianti tengah duduk di kursi rodanya dekat kolam. "Ada apa?" tanya Kaila dengan nada datar. Dianti menoleh dan tersenyum sinis pada Kaila. "Seneng enggak bisa keluar dari rumah ini selamanya?" sinis Dianti "Apa maksud kakak?" tanya Kaila "Bukankah bagus kalau kamu bisa bebas dari rumah ini? Jadi kamu enggak perlu takut kalau harus pulang malam-malam karena pekerjaanmu itu," sindir Dianti Kaila langsung tahu arah pembicaraan Dianti. "Heh, aku memang harus berterima kasih pada kakak. Dengan begitu aku enggak perlu lagi mengurus kakak," balas Kaila "Kurang ajar! Kamu pikir ini akan berakhir. Liat aja!" ancam Dianti 'byurr' Kaila langsung terkejut karena Diantu yang tiba-tiba menyeburkan dirinya dalam kolam renang. "KAK DIANTI!" Seketika Kaila langsung melompat ke dalam kolam untuk menyelamatkan Dianti. Emran dan Devi langsung berlari menuju ke kolam renang karena mendengar teriakan Kaila. "Diant!" teriak Devi Kaila mengangkat tubuh Dianti ke atas. Kaila menekan-nekan d**a Dianti. Akhirnya Dianti sadar dengan mengeluarkan air dari mulutnya. "Uhuk-uhuk" Devi langsung mendorong tubuh Kaila hingga tangan Kaila terseret oleh ubin kolam renang dan berdarah. "Ah!" "Nak, kamu enggak apa-apa?" tanya Emran "Kai-Kaila mendorongku ke kolam," lirih Dianti seraya menunjuk ke arah Kaila. Kaila melebarkan matanya terkejut. "Eng-Enggak! Bukan Kaila, Pa, Ma! Kak, jangan nuduh aku lagi dong!" pekik Kaila 'plak' Devi kembali melayangkan tamparan pada Kaila. "Kamu mau membuat kakakmu terbunuh, baru kamu puas, hah?!" murka Devi seraya menarik-narik merah baju Kaila. "Bukan aku Ma! Kalau aku yang mendorongnya, ngapain aku repot-repot menolong kak Dianti tadi," bela Kaila "Bohong! Kamu sengaja menolongku agar kamu enggak disalahkan kan?! Kamu benar-benar ingin membunuhku," lirih Dianti dengan air mata buatannya. "Sekarang kamu pergi Kaila! Pergi! Jangan harap kamu bisa kembali ke rumah ini lagi!" geram Emran Kaila langsung berlari keluar rumah dengan membawa kopernya. "Nona Kaila, tunggu!" tahan bibi Sum Kaila memeluk tubuh bibi Sum. "Kenapa ini semua terjadi padaku Bi?! Apa salahku?!" pekik Kaila dengan air mata berlinang. "Nona yang sabar yah. Ini semua ujian untuk Nona. Lebih nona ganti baju dulu yah, tangannya juga luka itu," balas bibi Sum "Enggak perlu Bi. Aku harus cepat pergi. Kalau Papa dan Mama masih liat aku di sini, yang ada mereka makin marah lagi," tolak Kaila "Tapi Non...." "Enggak apa-apa Bi. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Kaila seraya meninggalkan rumah yang menjadi tempat tumbuhnya. Quote of the day: Ya Tuhan, sampai mana penderitaan ini harus aku tanggung. Rasanya sangat berat. Aku tidak sanggup, Tuhan. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN