Rindu Itu Berat

1285 Kata
Happy Reading Hari demi hari terlewati. Sudah banyak hal yang terjadi. Hingga tak terasa sudah dua bulan lamanya sosok Arcel menghilang. Entah ke mana sosok pria itu pergi. Tak ada kabar lagi tentangnya. Bahkan para dosen tidak ada yang tahu di mana sosok itu. Hal itu sungguh membuat Kaila kesal. Kenapa Arcel menghilang secara tiba-tiba? Kenapa dia tidak memberitahunya ke mana ia pergi? Apakah dia masih marah soal tempo lalu? Bukankah itu sudah sangat lama. Harusnya dia sudah kembali. Bahkan batang hidungnya pun tak terlihat sama sekali selama dua bulan ini. Tak dapat dipungkiri dalam hatinya yang begitu merindukan sosok Arcel. Suaranya, senyumannya, bahkan kata-kata penenang darinya. Padahal baru saja muncul dalam hidupnya, tapi ia sudah merasakan kalau ia sangat mengenal sosok Arcel. Karena Kaila biasanya sangat waspada pada orang-orang yang baru ia kenal. Tapi saat pertama kali melihat Arcel ketika ia menyelamatkannya yang hampir bunuh diri, Kaila merasa tenang dan tidak waspada. Bahkan ia menceritakan semua yang ia rasakan. Padahal dia dan Davira ingin mengucapkan terima kasih padanya. Karena bagaimanapum, Arcel turut andil dalam hasil desain itu. Arcel yang memberikan mereka inspirasi. Apalagi perihal foto yang ia lihat tampak mirip dengan Arcel tempo lalu. Jujur Kaila masih bingung dan penasaran dengan kertas yang berisi foto yang tampak mirip Arcel tersebut. Namun, anehnya namanya itu lain. Kata Davira nama Arcelio Xavier itu adalah nama dari pemilik TM Group. Tapi kenapa wajahnya tampak mirip dengan Arcel? Kalau dipikir-pikir nama depan mereka tampak sama. Arcel Andhra dengan Arcelio Xavier. "Apa mereka adalah saudara kembar kali yah? Tapi masa sih ada hal yang seperti itu? Ihh, Arcel ke mana sih makanya? Coba aja dia ada di sini, kan aku bisa tanyain. Aku udah coba hubungi nomornya beberapa kali. Tapi hanya suara operator yang terdengar. Dasar, jahat banget. Mana janjinya yang mengatakan ingin selalu melindungiku. Bullshit," gumam Kaila yang sedari tadi mengomel sendiri pada layar hitam ponselnya. Sudah banyak kali Kaila mencoba menghubungi Arcel. Tapi tetap tidak ada hasil. "Dorr" "Ahh! Ihh, Davira! Nakal banget yah," omel Kaila seraya menggelitik perut Davira. "Eh, eh?! Ampun Kai. Maaf! Maaf, enggak sengaja," balas Davira yang geli dengan gelitikan Kaila. "Makanya jangan jahil," protes Kaila yang kembali duduk di kursi taman. Davira mengambil napas seraya ikut duduk di samping Kaila. Davira sedikit memandang aneh pada ekspresi Kaila yang tampak sendu. Detik berikutnya ia menampilkan senyum kecil. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Kaila. "Ehm, kayaknya ada yang lagi kangen nih?" sindir Davira Kaila langsung menatap bingung pada Davira. "Siapa yang lagi kangen?" tanya Kaila "Siapa lagi kalau bukan kamu," jawab Davira dengan senyum menggoda. "Apa maksudmu? Aku enggak lagi kangen sama siapa-siapa," kilah Kaila seraya mengalihkan pandangannya dari Davira. Davira terkekeh lucu. "Kai, jangan mengelap lagi. Aku tau kau lagi kangen dengan kak Arcel. Jangan sembunyiin dariku lah," timpal Davira seraya menaik-turunkan alisnya. "Dav, aku enggak lagi kangen kak Arcel kok. Aku cuma lagi kepikiran aja kenapa selama dua bulan ini dia enggak masuk-masuk kampus. Dia enggak takut dipecat sama pihak kampus," sanggah Kaila "Kau bener juga sih. Tapi aku enggak terima alasanmu itu. Aku tau kau menyukainya, eh bukan, tapi kau mencintainya. Udahlah Kai, aku ini sekarang adalah sahabatmu, aku kan udah bilang akan mendukung hubunganmu dengan kak Arcel," balas Davira "Emangnya kelihatan jelas banget yah Dav?" tanya Kaila Davira mengangguk mantap. "Terlihat jelas" "Terus aku harus bagaimana Dav?" tanya Kaila kembali. "Gimana lagi? Kau teruskan aja mencintai kak Arcel. Lagipula kalian berdua kelihatan cocok kok. Enggak masalah," jawab Davira dengan senyuman. "Masalahnya aku enggak tau kak Arcel di mana sekarang. Dia menghilang tanpa jejak gitu. Aku khawatir dengannya. Aku takut rumor itu beneran Dav. Aku takut enggak bisa bertemu dengannya lagi," jelas Kaila dengan pandangan sendu. 'grep' Davira memeluk erat tubuh Kaila. Ia menepuk pelan punggung Kaila. "Kai, kau harus percaya dengan cintamu. Aku yakin kali ini kak Arcel adalah cinta sejatimu yang sebenarnya. Aku bisa melihat di mata kak Arcel itu ada dirimu. Jadi jangan khawatir, aku yakin dia akan kembali dan langsung menghampirimu," papar Davira seraya melepas pelukan itu. "Makasih yah Dav. Aku senang banget akhirnya punya seseorang yang bisa mendengarkan segala keluh kesahku. Dulu aku hanya bisa memendam perasaanku sendirian," ungkap Kaila "Kau dulu punya mereka, sahabat dan pacarmu. Kenapa kau enggak cerita sama mereka dulu?" tanya Davira "Entahlah. Aku enggak nyaman aja gitu. Kalau dengan Andhira, walaupun aku udah cukup lama bertemen dengannya, masih ada yang janggal gitu. Andhira itu orangnya cukup populer, dia mudah berteman dengan siapa aja, jadi waktu denganku itu enggak terlalu banyak, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan temannya untuk belanja. Sedangkan aku enggak terlalu suka menghabiskan waktuku melakukan hal itu. Untuk Irsyad juga, dia kebanyakan menghabiskan waktunya bareng teman-temannya. Jadi waktu denganku pun terbatas," jelas Kaila dengan senyuman yang sangat Davira tahu kalau senyuman itu mengandung luka. "Berarti kita memang sefrekuensi, aku juga enggak suka membuang-buang waktuku dengan hal itu. Bukannya enggak suka belanja, tapi menurutku enggak usah terlalu sering gitu. Apalagi belinya barang-barang yang terlalu penting," komentar Davira "Iyah, kau benar. Aku juga memikirkan hal itu. Palingan aku pergi belanja kalau emang lagi butuh banget," tambah Kaila "Iyah, betul itu. Aku...." Ucapan Davira seketika terhenti karena sosok Irsyad yang berdiri di belakang Kaila. Kaila menjadi bingung karena Davira yang tiba-tiba berhenti berbicara. "Ada apa Dav?" tanya Kaila "Itu" Davira menunjuk ke bagian belakang Kaila. Kaila pun langsung menoleh ke belakang tubuhnya dan menemukan sosok Irsyad. Kaila langsung berdiri dari duduknya. "Irsyad? Ada apa kau ke sini?" sinis Kaila "Heh, nadamu sinis banget sih denganku," sindir Irsyad "Terserah. Kau mau apa ke sini?" tanya Kaila "Aku ingin bicara berdua denganmu," jawab Irsyad "Apa yang kau ingin bicarakan? Kurasa enggak ada yang perlu dibicarakan diantara kita berdua," tukas Kaila "Sebentar aja. Enggak lama," balas Irsyad Kaila menghela napas pasrah. "Dav, aku pergi dulu yah," pamit Kaila "Hmm, hati-hati yah," balas Davira Kaila mengikuti langkah Irsyad menuju taman belakang kampus. Mereka berhenti tepat di bawah pohon maple, tempat Kaila dan Irsyad sering menghabiskan waktu bersama. Kaila menghela napas kembali. Tak ingin mengingat kenangan itu lagi. "Sebaiknya kau bicara langsung ke intinya. Aku enggak mau berurusan lagi denganmu," komentar Kaila Irsyad mengeluarkan smirk atas perkataan Kaila "Kenapa? Udah pindah ke lain hati yah? Udah kepincut dengan pesona seorang Arcel Andhra," sindir Irsyad Kaila melebarkan matanya atas pernyataan Irsyad. "Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Kaila "Bukankah perkataanku benar? Kau itu udah jatuh hati dengan dosen baru itu. Kenapa? Kau enggak tahan banget enggak punya cowok. Jadi dosen pun kau incar," hina Irsyad 'plak' "Jaga bicaramu Irsyad! Aku enggak seperti yang kau bilang. Kayaknya hubungan kita selama ini enggak bisa membuatmu mengerti karakter diriku. Kenapa? Salah jika aku menyukai kak Arcel? Asal kau tau, walaupun aku baru mengenalnya, tapi dia udah sangat tau bagaimana karakter diriku. Dia bahkan sangat mempercayaiku. Bukan seperti dirimu, yang akan langsung percaya pada bukti bohong seperti itu," geram Kaila "Kaila, Kaila. Salah jika kau menyukainya. Dia enggak seperti yang kau pikirkan. Aku yakin dia punya motif khusus mendekatimu. Mending kau jauh-jauh darinya. Aku memberikan nasihat baik padamu," balas Irsyad "Kau enggak perlu mengajariku. Mataku ini udah terbuka untuk cowok-cowok pengkhianat sepertimu. Jadi jangan mengatur aku menyukai siapa. Karena kau enggak berhak," geram Kaila seraya pergi dari hadapan Irsyad. Kaila menahan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Ia tidak menyangka kalau Irsyad akan mengatakan hal serendah itu. Bahkan ia berani menghina Arcel. Quote of the day: Kamu kemana? Apa kau akan pergi selamanya? Ku mohon kembalilah. Atau mereka akan semakin menghinamu. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN