Happy Reading
"Wahh, perusahaannya besar banget yah"
"Iyah, enggak kebayang bisa masuk ke sini"
Dua wanita itu sedari tadi tidak henti-hentinya memandang kagum pada interior TM Group. Sejak dari pintu masuk hingga ke lobi, mereka tak henti-hentinya melihat ke sekelilingnya.
"Nona Kaila dan nona Davira, kalian bisa tunggu di sini. Saya akan mengajak kalian untuk melihat ruangan yang akan digunakan untuk desain kalian," celetuk Alfred
"Iya, terima kasih"
"Aku enggak nyangka bisa langsung diajak ke sini. Kupikir itu akan dilakukan nanti," celetuk Davira
"Aku juga sih. Mereka langsung mengajak kita ke sini. Apa mungkin CEO mereka ada di sini sekarang?" duga Kaila
"Bisa jadi tuh. Wahh, aku enggak sabar melihat CEO-nya. Pasti di orang yang tampan," puji Davira
"Kok kau bisa tau dia ganteng? Emang kau udah pernah melihatnya?" tanya Kaila dengan kekehan.
"Ihh, Kaila! Aku itu emang enggak pernah liat CEO itu. Tapi kata pamanku dia itu masih muda tau, umurnya itu baru 25 tahun. Bayangkan orang semudah itu sudah punya perusahaan sebesar ini. Ini pun cuma perusahaan cabangnya aja," puji Davira dengan pandangan berbinar.
"Berarti seumuran dong dengan kak Arcel," celetuk Kaila
"Eh?! Iya juga yah. Kak Arcel umurnya 25 tahun," timpal Davira
Davira melihat ke arah Kaila dan tersenyum kecil melihat Kaila yang terlihat merenung.
"Kau sedang memikirkannya yah?" duga Davira
"Siapa?" tanya Kaila
"Kak Arcel. Kau sedang memikirkannya kan?" duga Davira kembali.
'deg'
"Ma-Mana ada?! Aku enggak memikirkan kak Arcel kok?" gugup Kaila seraya mengalihkan pandangannya.
Davira terkekeh geli melihat Kaila yang tampak salah tingkah. Ternyata Kaila tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya. Itu terlihat jelas dari pipinya yang bersemu merah.
"Kau enggak perlu menutupinya Kai. Enggak apa-apa kali kalau kau menyukainya. Kayaknya kal Arcel memiliki perasaan juga padamu," timpal Davira dengan senyuman manis.
"Ihh, Davira jangan ngaco deh! Mana mungkin kak Arcel punya perasaan padaku. Dia itu orang yang populer tau. Mana mungkin ada hal seperti itu," sanggah Kaila yang berusaha menutupi kegugupannya.
"Udahlah! Kau ini enggak percaya padaku. Yang penting jika benar kala Arcel menyukaimu, aku adalah orang pertama yang akan mendukung hubungan kalian," timpal Davira
Kaila tersenyum manis menanggapi perkataan Davira. Belum berhubungan saja, sudah ada yang mendukung.
"Nona Kaila dan nona Davira silahkan ikut saya ke ruangan yang akan kalian desain nanti," celetuk Mike yang hadir di tengah mereka.
"Baik"
Kaila dan Davira mengikuti langkah Mike menggunakan lift. Mereka sampai di lantai paling atas dari perusahaan itu. Kaila dan Davira sedikit bingung karena bagian lantai ini tampak kosong.
"Kok bagian lantai ini sepi yah? Enggak kayak lantai lainnya," bidik Davira
"Kalian pasti bingung yah kenapa lantai ini saja yang kosong. Ini adalah lantai khusus CEO. Jadi, orang yang tidak berkepentingan dilarang naik ke lantai ini. Hanya jajaran atas yang bisa naik ke sini," papar Mike yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kaila dah Davira.
"Memang ada apa dengan lantai ini?" tanya Kaila
"CEO kami tidak terlalu suka berinteraksi dengan banyak orang. Dia tidak suka ada yang mengganggunya saat bekerja. Nah, diujung itu yang pintu besar bercat putih adalah ruangan CEO kami. Dan ... ini adalah ruangan yang akan kalian desain," jelas Mike seraya membuka pintu bercat coklat kayu.
Kaila dan Davira mengikuti langkah Mike memasuki ruangan itu. Kaila maupun Davira takjub dengan ruangan itu. Walaupun hanya ruangan kosong putih, tapi nuansa di ruangan itu begitu tenang. Memang pantas ruangan ini didesain dengan desain yang mereka miliki.
"Kalau begitu, saya akan meninggalkan kalian di sini. Kalian bisa mulai merancang desain kalian pada ruangan ini. Nanti saya akan kembali lagi," tutur Mike
"Terima kasih tuan Mike"
Mike segera berlalu dari hadapan mereka. Kaila berjalan mendekat pada dinding ruangan itu. Ia mengelusnya. Halus.
"Tekstur dindingnya halus yah," puji Davira yang ikut meraba permukaan dinding.
"Iyah, kayaknya material yang digunakan memang yang berkualitas baik. Mari kita cocokkan di mana seharusnya kita taruh interior di desain kita," timpal Kaila
"Ayo"
Mereka mulai sibuk memikirkan apa saja yang cocok ditaruh di ruangan itu. Mulai dari kursi jenis apa, meja, hiasan lainnya yang pasti tidak melenceng dari tema desain mereka. Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba saja Kaila merasakan ia kebelet ke toilet.
"Dav, aku pergi ke toilet bentar yah," celetuk Kaila seraya menahan rasa ingin buang airnya.
"Oh, iya pergilah. Mau aku temenin?" tawar Davira
"Eh, enggak perlu. Kau lanjutin aja, aku enggak lama kok," tolak Kaila
"Baiklah. Kau hati-hati yah," balas Davira
Setelah itu, Kaila langsung keluar ruangan mencari toilet. Untung saja saat berjalan di gedung ini ia sudah menanyakan memang di mana letak toilet. Setelah menemukan toiletnya, ia segera menuntaskan hajatnya.
Tak lama kemudian Kaila keluar dari dalam toilet dengan perasaan lega. Setelah itu ia segera balik menuju ruangan itu. Saat sedang merapi kan pakaiannya yang tampak berantakan, Kaila tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria hingga membuat beberapa kertas terjatuh.
"Aduh! Maaf tuan. Biar saya bantu," ucap Kaila seraya membantu memungut kertas-kertas itu.
'deg'
Kaila terkejut ketika memegang salah satu kertas yang ia pungut. Ia tidak salah lihat kan. Ini adalah foto Arcel tapi kenapa namanya berbeda. Otaknya seketika blank.
"Maaf Nona. Kertasnya," ucap pria itu.
"O-Oh maaf Tuan. Ini kertasnya, maaf saya sudah menabrak anda," tutur Kaila
"Tidak apa-apa. Saya juga tidak melihat jalan tadi. Saya permisi," ucap pria itu seraya berlalu dari hadapan Kaila.
Kaila pun memandang punggung pria itu yang sudah berjalan menjauh. Kalian langsung berpikir ada yang janggal.
Kenapa pria itu ada di lantai ini? Apa dia adalah salah satu jajaran atas perusahaan ini? Dia tidak mungkin masuk ke ruangan tempat aku dan Davira mendesain. Tidak salah lagi, dia pasti masuk ke ruangan CEO. Apa mungkin dia sekretarisnya? Terus kertas tadi bagaimana? ~ batin Kaila
"Kaila. Kaila!" panggil Davira dengan sedikit teriakan karena Kaila tampak melamun.
"Eh, Dav. Ada apa?" tanya Kaila dengan wajah polos.
"Kau kenapa sih? Baru balik dari toilet langsung melamjn. Ada hal yang terjadi?" tanya Davira
"Enggak ada kok. Oh ya, apakah kau tau orang yang bernama Arcelio Xavier?" tanya Kaila
"Hmm, taulah. Itu kan nama CEO perusahaan ini," jawab Davira
"Kau yakin?" tanya Kaila kembali.
"Yakinlah. Emang ada apa kau menanyakan hal itu? Masa kau tidak tau nama CEO perusahaan ini?" tanya Davira
"Hanya melihat tadi nama itu di kertas yang kutemukan," balas Kaila
"Udahlah, jangan dipikirin lagi. Mending kita selesain ini cepat. Biar kita bisa lanjut ke tahap yang lain," balas Davira
"Iyah, kau benar," timpal Kaila seraya kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
***
Seorang pria tengah melakukan olahraga di ruang fitness. Peluh keringat tampak membanjiri kening hingga lehernya. Bahkan rambut dan pakaian yang ia kenakan tampak basah oleh keringat itu.
'cklek'
Seorang pria lain masuk ke dalam ruang fitness itu. Ia mengambil tempat duduk di salah satu sudut ruangan itu.
"Bagaimana? Kau udah bertemu dengannya?" tanya pria yang sedang berlari di atas treadmill.
"Kau ini enggak ada hal lain apa yang ingin ditanyakan. Aku baru aja nyampe dan kau langsung menanyakan orang lain. Kau enggak tanya gitu, apa aku lelah atau enggak," protes pria yang tengah menatap jengah padanya.
"Bukannya tujuanmu ke sana hanya untuk melihat istriku. Terus apa lagi?" balasnya
"Kau tenang aja. Tadi aku udah bertemu dengan dia. Dia tampak baik-baik aja kok. Mendingan kau fokus pada pemulihanmu. Masalah istrimu itu, biar aku yang menanganinya," timpal pria itu seraya melempar sebotol air mineral pada pria yang baru saja selesai berlari di treadmill.
"Iyah, aku tau. Apa kau udah bertemu dengannya juga?" tanyanya seraya meneguk dengan cepat air mineral itu.
"Iyah, aku bertemu juga dengannya. Enggak nyangka dia masih sama kayak dulu," balasnya
Pria yang baru saja menghabiskan sebotol air minum itu melihatnya dengan tatapan sendu.
Quote of the day:
Kau terlalu cepat mengambilnya, hingga aku merasa tak sanggup jika kau tak ada
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Jangan lupa untuk love dan comment nya reader!!!
See you in next chapter!!!