Jangan Menipu Lagi!

2052 Kata
"Dianti!" teriak Devi seraya mendekati anaknya yang tengah pingsan. Arcel pun juga cukup terkejut karena wanita itu tiba-tiba pingsan. "Arcel, kenapa kamu malah diam saja? Ayo tolong bawa Dianti ke rumah sakit," keluh Devi Mau tak mau Arcel harus membantu membawa Dianti ke rumah sakit. Dia bukan manusia yang akan sekejam itu dengan membiarkan orang sekarat di dekatnya. Meskipun ia benci dengan orang itu. Arcel mengangkat tubuh Dianti ala bridal style. Ia menggendong tubuh Dianti keluar dari ruangannya bersama dengan Devi yang mengikuti dari belakang. Saat ia keluar dari ruangannya, berbagai pasang mata menatap ke arahnya. Pasti akan timbul gosip di kampus nanti dengan kejadian ini. Ia hanya berharap gosip itu tak akan simpang siur sampai ke telinga sang tunangan. Arcel memasukkan Dianti ke dalam mobilnya. Devi masuk dan memangku kepala Dianti. Sedangkan Arcel langsung menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan kampus. "Aduh, Dianti. Sadar dong, Nak. Jangan buat Mama khawatir," lirih Devi yang terlihat sangat khawatir. Arcel baru ingat jika ia harus memberitahukan hal ini pada Kaila. Karena wanita itu tentunya berhak tahu. Selain itu, ia juga ingin menghindari yang namanya salah paham nanti. Arcel mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi sang tunangan. Ia bernapas lega karena panggilan itu tersambung. "Halo sayang. Kau ada di mana?" tanya Arcel Devi langsung melihat ke arah Andrew saat pria itu tengah menghubungi seseorang. Dari gayanya berbicara, ia sudah menangkap jika pria itu tengah menelpon Kaila. ["Aku ada di tempat kerja. Ada apa emangnya?" tanya Kaila] Iyah, Kaila saat ini sudah masuk dalam perusahaan besar yaitu Skylight Group. Karena kehebatan wanita itu yang sudah dikenal sejak dia dan Davira membuat suatu proyek. Apalagi dengan nilai kelulusan wanita itu yang membuat perusahaan itu langsung ingin merekrut wanita itu. Sedangkan Davira tak masuk ke perusahaan yang sama dengannya. Karena sahabatnya itu lebih memilih masuk ke dalam perusahaan keluarganya. "Aku mau kasih tau kalau kakakmu masuk rumah sakit. Kau datang saja ke rumah sakit Cempaka Utama nanti," jelas Arcel ["Apa?! Kak Dianti masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?" tanya Kaila dengan nada yang panik.] "Nanti aku akan jelaskan padamu semuanya. Kau datang aja ke rumah sakit dulu. Aku tutup dulu yah. Sampai jumpa," jelas Arcel kembali seraya menutup panggilan itu. "Sebaiknya tadi kamu enggak usah kasih tau Kaila perihal kejadian ini," celetuk Devi Arcel langsung memandang Devi lewat kaca spion depan mobil. Ia memandang bingung pada wanita paruh baya itu. "Kenapa anda malah mengatakan hal itu? Bukankah hal wajar memberi tahukan hal ini pada Kaila? Dia kan adiknya Dianti," komentar Arcel "Bukan begitu. Saya hanya tak mau muncul keributan saat Dianti bertemu dengan Kaila. Dianti tak suka jika melihat Kaila. Karena ia berpikir jika Kaila telah mengambil kamu darinya," jelas Devi Arcel menghela napas kasar. "Saya tak peduli dengan masalah amnesia Dianti. Saya melakukan semua ini karena saya masih mengingat nilai kemanusiaan. Selain itu, Dianti adalah kakak dari Kaila. Kaila tadi saja sangat panik saat mendengar Dianti akan masuk rumah sakit," papar Arcel dengan tatapan yang terlihat dingin. Devi agak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arcel. "Apakah kamu enggak bisa bantu Dianti agar cepat pulih?" pinta Devi yang terlihat memohon pada Arcel. Arcel kembali menghela napas kasar. "Saya kira kejadian di restoran waktu itu sudah menjelaskan semuanya bukan," timpal Arcel Saat Devi akan berkata kembali, tiba-tiba saja mobil itu telah berhenti. Devi melihat mereka sudah sampai di area rumah sakit. Pintu penumpang terbuka dan Arcel kembali menggendong Dianti untuk masuk ke dalam rumah sakit. Arcel dan Devi menunggu di luar saat dokter memeriksakan keadaan Dianti di dalam ruangan. "Arcel!" Arcel dan Devi langsung menolehkan wajahnya pada sosok Kaila yang baru saja sampai di rumah sakit. Kaila mendekati sosok Arcel dan Mamanya yang juga ada di sana. "Mana Kak Dianti?" tanya Kaila yang terlihat khawatir. Arcel tersenyum tipis karena hal itu. Ia sungguh takjub dengan sifat dari tunangannya itu. Walaupun sudah disakiti, wanitanya itu masih saja tetap menunjukkan sikap yang khawatirnya. "Kakakmu ada di dalam ruangan. Dia sedang diperiksa oleh dokter. Kau jangan khawatir yah," jawab Arcel sambil menyentuh bahu Kaila. "Tapi apa yang terjadi? Kenapa Kak Dianti bisa sampai masuk rumah sakit? Dan kenapa kau yang ada di sini?" tanya Kaila dengan wajah bingung. Arcel melirik sekilas pada sosok wanita paruh baya di dekatnya itu. "Tadi, Mama dan kakakmu ini datang ke kampus untuk menemuiku. Dianti bersikap seolah aku ini adalah kekasihnya. Dia marah karena aku dekat denganmu sampai akhirnya dia jadi pingsan kayak gini," ungkap Arcel Kaila cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh prianya itu. Ia jadi melihat ke arah Mamanya itu. Ia tak menyangka jika Mamanya itu akan membantu sampai sejauh ini. Apa mereka sama sekali tak memikirkan perasaan dirinya? Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok dokter yang memeriksa Dianti. Langsung saja Devi mendekati dokter itu. "Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Devi yang terlihat sangat khawatir. Untuk sesaat Kaila kembali merasakan iri. Jujur, dia tak pernah melihat Mamanya itu bersikap hal yang sama dengannya. Padahal ia mengira setelah kejadian waktu itu, rasa kasih sayang akan ada untuknya. Nyatanya sama saja. "Anda tenang saja, Nyonya. Anak anda baik-baik saja. Hanya saja jangan terlalu banyak memberikan tekanan padanya karena itu akan memengaruhi kesehatan ingatannya," jelas sang dokter "Apa saya sudah bisa masuk ke dalam untuk melihat anak saya?" tanya Devi kembali Dokter itu menganggukkan kepalanya pelan. "Tentu. Anda sudah bisa masuk ke dalam karena anak anda juga sudah sadar. Saya permisi dulu," jawab Dokter itu seraya berlalu dari hadapan Devi. Selepas perginya Dokter itu, Devi berjalan mendekati kedua orang itu. "Ehm, bisakah Mama minta kamu jangan masuk ke dalam? Biar Arcel aja yang masuk ke dalam ruangan nanti," pinta Devi Arcel dan Kaila langsung saling pandang dengan wajah bingung. "Kenapa Kaila enggak boleh masuk? Dia kan adiknya Dianti," protes Arcel "Bukannya saya melarang, saya kan sudah memberitahukan hal ini pada kamu. Saya hanya enggak mau Dianti sampai drop lagi nanti. Kaila, kamu mengerti bukan dengan penjelasan yang Mama maksud?" timpal Devi seraya menyentuh bahu Kaila. Kaila menatap ke arah Arcel. "Ya udah, Arcel. Aku enggak apa-apa diam di sini aja. Kau masuk aja ke dalam. Nanti kau kasih tau aja bagaimana keadaan Kak Dianti," ujar Kaila Arcel menggeram kesal. "Enggak bisa, kau juga harus masuk. Ayo," kilah Arcel seraya menarik tangan Kaila masuk ke dalam ruangan Dianti berada. Devi terkejut melihat hal itu. Dengan cepat ia menyusul Kaila dan Arcel masuk ke dalam ruangan itu. Saat sudah masuk ke dalam ruangan itu, mereka melihat Dianti yang sudah tersadar dari pingsannya dan sedang bersandar pada ranjang rumah sakit. Tatapan Dianti langsung saja terkejut begitu melihat Arcel dan Kaila secara bersamaan. Apalagi saat melihat tangan Arcel yang menggenggam erat tangan Kaila. Membuat emosi langsung naik dalam dirinya. Dengan cepat ia menuruni ranjang rumah sakit dan langsung melepaskan pegangan tangan itu. Ia bahkan mendorong tubuh Kaila untuk menjauh. Untung saja Kaila bisa menahan tubuhnya agar tak jatuh. "Jangan mendekati Arcelku! Menjauh darinya!" teriak Dianti dengan tatapan yang tajam. Kaila sungguh terkejut dengan perlakuan Dianti. Apa wanita itu benar-benar amnesia saat ini? Kenapa rasanya ia sama sekali tak bisa percaya dengan hal itu? Melihat Kaila yang didorong oleh Dianti, membuat Arcel jadi emosi saat ini. Dengan cepat ia balik mendorong tubuh Dianti dan berjalan mendekati Kaila. "Apa maksudmu mendorong Kaila seperti itu? Jangan berani-beraninya melewati batas atau aku enggak akan memperdulikan jika dirimu itu seorang wanita," geram Arcel dengan tatapan tajam. Melihat tatapan tajam dari Arcel membuat nyali Dianti agak ciut. Namun ia tak mau menyerah. Baginya Arcel itu miliknya seorang dan tak boleh ada yang berani mengambilnya. "Arcel! Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?! Aku ini pacarmu tau. Kenapa kau malah membela dirinya?!" protes Dianti dengan tatapan kesal. Arcel menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Perlu kau ingat sekali lagi, Dianti. Aku ini bukan pacarmu. Aku ini adalah tunangan dari Kaila. Adikmu sendiri. Jadi hentikan semua permainan bodohmu ini," tukas Arcel dengan tatapan kesal. Dianti menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air mata sudah membasahi wajahnya itu. Perlahan ia memundurkan langkahnya hingga ia terjatuh ke lantai. "Dianti!" teriak Devi mendekati sang anak. Saat Kaila ingin menyusul juga, dengan cepat tangannya ditarik oleh Arcel. Arcel menggelengkan kepalanya pada Kaila. Devi memeluk anaknya itu dengan wajah sedih. Tak lama kemudian, ia langsung memandang geram pada Kaila dan Arcel. "Apa kalian tak memiliki rasa kemanusiaan?! Kenapa kalian sangat jahat pada Dianti? Harusnya kalian bisa mengerti bagaimana keadaan Dianti saat ini. Tapi kalian seolah buta dengan itu semua. Bahkan adiknya sendiri bersikap acuh dengan kakaknya sendiri," protes Devi Kaila jadi tertegun dengan apa yang dikata oleh Mamanya itu. Ia merasakan hatinya sangat sakit saat mendengar itu semua. Bahkan air mata perlahan terjatuh dari pelupuk matanya itu. Arcel yang melihat itu jadi merasa kesal. Baru saja ia ingin berucap, suara Kaila lebih dulu terdengar. "Bersikap acuh Mama bilang? Terus bagaimana dengan kebohongan yang dilakukan Kak Dianti dulu? Apa Mama berpikir itu enggak jahat juga? Karena kejadian itu, semua orang jadi membenci diriku. Semua orang jadi menghina diriku. Bahkan Papa dan Mama juga percaya bukan dengan kebohongan yang kakak lakukan? Tapi hanya satu orang yang percaya padaku saat itu. Orang itu adalah Arcel. Dia yang selalu mendukungku bahkan membela diriku. Jadi, maaf saja jika Mama mengatakan kalau aku ini egois. Karena aku enggak akan pernah membiarkan Arcel kembali diambil oleh kakak," jelas Kaila dengan tatapan serius. Arcel tersenyum mendengarkan perkataan Kaila yang terdengar sangat berani. Ini baru Kaila yang aku kenal. Seorang wanita yang sangat percaya diri. Wanita dari Arcel ~ batin Arcel Dianti langsung bangkit dari jatuhnya. Ia menatap geram pada Kaila. Ia berjalan dengan cepat ke arah adiknya itu. "Ketahuilah jika yang bukan milikmu akan cepat kembali pada pemilik aslinya. Aku enggak akan nyerah untuk merebut Arcel untuk kembali lagi padaku karena dia itu hanya mencintai diriku bukan dirimu," desis Dianti dengan tatapan tajam. Kaila terkekeh pelan dengan tatapan sinis. "Kau sudah mengatakannya sendiri, Kak. Berarti kau harusnya sadar jika Arcel itu milik siapa bukan? Kau harusnya bisa sadar diri dengan posisimu itu. Karena dari awal sampai sekarang, Arcel itu adalah priaku bukan priamu," tukas Kaila dengan tatapan tajam. "Sialan!" teriak Dianti seraya ingin menampar wajah Kaila. Namun dengan cepat tangan itu ditahan. Bukan oleh Arcel, melainkan oleh Kaila sendiri. Kaila memandang tajam pada wanita di depannya itu. "Jangan kira aku enggak berani yah, Kak. Sudah cukup permainan yang kau lakukan. Aku akan buktikan jika semua yang kau lakukan ini juga kebohongan seperti yang dulu kau lakukan untuk menjebakku. Tapi perlu aku kasih tau satu hal. Aku bukan Kaila yang dulu lagi. Aku punya banyak orang yang mendukung diriku. Terutama Arcel yang akan selalu ada untuk diriku," papar Kaila dengan senyum kemenangan. Kaila melepaskan dengan paksa tangan kakaknya itu. Devi jadi menatap kesal pada Kaila. "Kaila! Dianti ini kakakmu. Kenapa kamu bersikap kasar padanya?" protes Devi memegangi tubuh Dianti. Arcel maju ke samping Kaila. "Jangan lagi kalian berani mengganggu Kaila. Karena aku akan buat perhitungan bagi siapa saja yang berani mengganggu Kaila. Ayo, Kaila. Sebaiknya kita pergi dari sini. Karena tugas kemanusiaan kita sudah selesai kita lakukan," jelas Arcel seraya menggenggam tangan Kaila untuk keluar dari ruangan itu. "Ma! Mama liat sendiri kan bagaimana sikap wanita itu padaku? Dia benar-benar licik dengan mengambil Arcel dariku. Mama harus bantu aku untuk mendapatkan Arcel kembali," keluh Dianti Devi memeluk anaknya itu. "Iyah, Mama pasti akan membantumu, sayang. Kamu adalah anak Mama," timpal Devi Kenapa Devi malah mengatakan hal itu? Apakah Kaila bukan anaknya juga? Sedangkan di tempat lain, Kaila dan Arcel sudah duduk di mobil Arcel. Karena tadi Kaila datang ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. Arcel mulai menjalankan mobilnya untuk meninggalkan kawasan rumah sakit. "Apa kau akan kembali ke kantor lagi?" tanya Arcel menatap sekilas pada wanitanya itu. Namun, Kaila malah tak menggubris panggilan dari tunangannya itu. Hal itu membuat Arcel jadi memandang bingung padanya. "Sayang? Kau kenapa?" tanya Arcel kembali seraya menyentuh bahu Kaila. Kaila langsung tersadar dari lamunannya. Melihat Kaila yang ternyata melamun, membuat Arcel jadi mengerti jika tunangannya itu masih memikirkan kejadian tadi. Arcel pun menghentikan mobilnya. "Kenapa kau malah berhenti di sini?" tanya Kaila dengan wajah bingung. Arcel langsung menatap ke arah wanitanya itu. "Apa kau masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Arcel Kaila tersenyum miris. "Bohong jika aku bilang enggak. Hatiku sangat sakit saat mengingat apa yang dikatakan Mama tadi," ujar Kaila Arcel langsung memeluk erat tubuh tunangannya itu. "Kau yang sabar yah. Aku ada di sini untukmu. Jangan khawatir," ujar Arcel sambil mengelus punggung wanitanya itu. Kaila mengangguk pelan dalam pelukannya itu. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN