Apakah Dia Serius?

1054 Kata
Seorang wanita tampak sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Tatapannya sangat datar melihat bayangan dirinya di depan cermin. Tak lama kemudian, ia membuang sisir yang ia pakai ke lantai. Bukan hanya sisir, melainkan semua barang yang ada di atas mejanya juga ia buang hingga menimbulkan suara yang nyaring. Akibat dari suara yang nyaring itu, membuat sang Mama langsung datang menghampiri kamarnya. Tatapan terkejut ia perlihatkan kala melihat kamar anaknya yang sangat berantakan itu. "Ya ampun, Dianti! Kenapa kamu melempar semua barang kamu?" pekik sang Mama, Devi. Bukannya menjawab, wanita bernama Dianti itu malah menangis sangat keras. Membuat sang Mama jadi semakin khawatir dengan anaknya itu. "Dianti sayang! Ada apa Nak? Kenapa kamu menangis? Katakan pada Mama apa yang terjadi?" tanya Devi yang terlihat menjadi panik. "Ma-Mama, wanita itu mengambil Arcel dariku. Dia mengambil Arcel. Arcel itu milikku! Kenapa dia mengambil Arcel dariku?! Pa-Pasti dia menggunakan ilmu hitam untuk merayu Arcel. Aku yakin itu. Ma, Mama harus bantu aku untuk membawa Arcel kembali. Dia tak akan bahagia bersama dengan wanita itu," keluh Dianti dengan nada lirih. Devi menganggukkan kepalanya pelan. Ia jadi ikutan nangis kala melihat anaknya itu menangis. Ia tak kuasa melihat anaknya itu menderita. "Iyah, sayang. Mama pasti akan bantu kamu bawakan Arcel kembali. Arcel akan kembali padamu. Asal kamu jangan menangis lagi yah. Jangan nangis sayang," timpal Devi memeluk erat anaknya itu sambil mengelus bahunya dengan pelan. Dianti melepaskan pelukan itu dengan wajah yang basah oleh air mata. "Ma, aku mau bertemu dengan Arcel sekarang. Aku mau berbicara dengan Arcel. Aku yakin bisa meyakinkan Arcel untuk kembali lagi padaku. Aku mohon, Ma. Anterin aku ke tempat Arcel," pinta Dianti dengan wajah yang memohon. Devi yang sangat menyayangi anaknya itu jadi tak tega. Ia pun jadi menganggukkan kepalanya pelan untuk menyetujui permintaan anaknya itu. "Iyah, Mama akan antarkan kamu ke tempat Arcel. Kamu siap-siap aja dulu yah. Mama akan tunggu kamu di luar," jelas Devi mengelus dengan pelan wajah anaknya itu. Dianti langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat seraya tersenyum lebar. "Iyah, aku akan segera bersiap-siap," ujar Dianti Devi beranjak keluar dari kamar anaknya itu. Selepas keluar dari kamarnya Dianti, Devi mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Kalian cari di mana Arcel Andhra berada. Cepat!" perintah Devi seraya mematikan panggilan itu. Mama akan lakukan apa pun untuk kamu, Dianti. Kamu adalah anak Mama yang tersayang ~ batin Devi *** Seorang wanita cantik menuruni tangga. Senyum lebar terpatri di wajahnya itu. Pakaian yang nampak elegan membuat kesan glamour terpancar pada dirinya. Apalagi ditambah dengan high heels yang ia kenakan membuat kesan wanita mewah terpancar pula pada dirinya. Wanita itu adalah Dianti yang baru saja habis bersiap-siap untuk menemui Arcel bersama dengan Mamanya itu. "Ma, aku sudah siap," ucap Dianti dengan senyum lebar. Devi yang sedari tadi sudah menunggu anaknya itu, segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri sang anak. Senyum lebar juga terbit di wajahnya. Hatinya senang melihat anaknya yang jadi tampak normal hanya karena ingin bertemu dengan Arcel. "Kamu tampak sangat cantik, sayang. Ayo kita pergi," ajak Devi menarik tangan anaknya itu untuk keluar dari mansion-nya. Mereka menaiki mobil yang dikendarai oleh seorang supir. Berkali-kali Dianti terlihat memperbaiki riasan di wajahnya. "Sayang, kamu udah cantik tau. Enggak usah perbaiki lagi," celetuk Devi Dianti langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku harus tampil sempurna di depan Arcel, Mama. Aku harus buat dia mengerti jika aku ini lebih cantik dari wanita itu," kilah Dianti yang kembali memfokuskan dirinya pada cermin kecil di tangannya. Akhirnya Devi membiarkan sang anak yang tetap fokus pada riasannya itu. Sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di halaman parkiran Universitas tempat Arcel mengajar. Tadi Dianti sudah menyuruh anak buahnya itu untuk mencari di mana Arcel berada dan memberitahu dirinya jika Arcel sedang mengajar di kampus saat ini. Saat Dianti dan Mamanya turun, beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Karena mereka mengenal dua wanita itu sebagai keluarga dari Kaila. Terutama masalah yang pernah terjadi, yang mengakibatkan Kaila difitnah habis-habisan oleh banyak orang karena perbuatan kakaknya sendiri. "Mama dan kakaknya Kaila ngapain ke sini yah?" "Mungkin mereka ingin menemui Kak Arcel kali." "Tapi untuk apa? Kaila saja tak ikut bersam mereka." Dianti lebih memilih tetap berjalan masuk ke kampus itu. Seorang dosen menghampiri mereka. "Ini keluarganya Kaila yah?" sapanya Wajah Dianti nampak tak bersahabat. Sedangkan Devi menganggukkan kepalanya pelan. "Iyah, kami adalah keluarganya Kaila," jawab Devi "Tapi, kenapa Kaila enggak ikut?" tanyanya Dianti yang tak tahan jadi mendengus kesal. "Arcel, di mana?" tanya Dianti "Tuan Andhra? Dia ada di ruangannya. Tapi, ada hal penting kah?" tanyanya kembali "Antarkan aku ke sana," tukas Dianti dengan wajah angkuh. "Baiklah! Mari," ujar dosen itu seraya menuntun kedua wanita itu menuju ruangan Arcel. Hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu. Belum saja dosen itu berucap, Dianti sudah lebih dulu menerobos masuk ke dalam. Membuat dosen itu jadi agak terkejut. "Terima kasih atas bantuannya. Permisi," ucap Devi yang menyusul anaknya itu untuk masuk. Dosen itu nampak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sifatnya tak sama dengan Kaila yang sopam santun," komentar dosen itu seraya berlalu. Sedangkan di ruangannya Arcel, terlihat pria itu yang baru saja habis menghubungi sang tunangan. Senyum yang lebar itu langsung luntur begitu melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya. "Arcel!" panggil Dianti dengan senyum yang lebar. Arcel menghela napas pelan. "Apa kalian tak mengerti yang namanya sopan santun? Kalian main masuk ke dalam ruangan saya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu," sindir Arcel Terlihat wajah Dianti yang cemberut. Namun, itu hanya sementara. Dengan cepat ia berjalan mendekati Arcel dan memeluk Arcel dengan erat. "Arcel, aku merindukanmu. Kenapa kau tak menelponku lagi?" keluh Dianti Arcel mengeryitkan dahinya. Apakah yang dikatakan Kaila benar kalau wanita ini amnesia? ~ batin Arcel Arcel langsung bangkit dari duduknya dan menatap kesal pada Dianti. "Jangan seenaknya memeluk orang. Untuk apa kalian datang ke sini?" protes Arxel dengan tatapan yang berubah tajam. "Arcel! Kok kau jadi gini sih?! Kenapa bersikap dingin padaku?! Oh, atau karena wanita itu kau jadi berubah kayak gini? Kenapa kau lebih memilihnya?! Kenapa kau malah meninggalkanku?!" geram Dianti sambil memukul bahu Arcel bertubi-tubi. Dengan cepat Arcel memegang kedua tangan wanita itu. "Apa maksudmu mengatakan semua itu? Aku ini bukan siapa-siapamu. Aku ini adalah milik Kaila. Jangan berkata sembarangan," desis Arcel "Kenapa kau berkata seperti itu, Arcel?! Aku ini pacarmu. Kenapa kau...." Belum selesai ia berucap, Dianti sudah lebih dulu jatuh pingsan. Arcel dan Devi langsung terkejut melihat hal itu. "Dianti!" To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN