Jangan Memaksanya

1050 Kata
"Tunggu Kaila!" tahan Devi seraya menahan tangan anaknya itu. Kaila langsung menghentikan langkahnya kala tangannya ditahan oleh sang Mama. "Apa lagi, Ma? Kalau Mama hanya mau membahas perihal masalah aku yang harus membujuk Arcel untuk membantu, maaf saja, aku enggak bisa melakukannya. Aku sudah berjanji pada Arcel untuk tak menerimanya," jelas Kaila dengan tatapan serius. "Kaila! Kenapa kau malah jadi egois gini sih? Dianti itu kakak kamu loh. Masa kamu enggak mau bantu biar Dianti bisa sembuh?" protes Devi dengan alis yang menukik. "Egois? Mana bilang aku ini egois? Terus permintaan kalian itu bukan egois namanya? Saat Kak Dianti mengambil Irsyad dariku, aku berusaha untuk merelakannya. Tapi untuk Arcel, maaf saja. Aku enggak mau mengulangi masalah yang sama lagi. Lagian aku sudah memberitahu pada kalian kalau aku dan Arcel akan menikah. Aku enggak bisa hanya mementingkan diri sendiri sedangkan Arcel saja tak mau melakukannya," tukas Kaila dengan tatapan yang mulai emosi. "Arcel yang tak mau atau malah kamu yang tak mau melakukannya?" sindir Devi Kaila langsung melebarkan matanya atas perkataan dari Mamanya itu. Ia menatap tak percaya pada ucapan yang ia dengar dari Mamanya sendiri. "Maksud Mama aku telah berbohong gitu? Aku enggak berbohong mengatakan semua itu. Arcel memang tak ingin melakukannya. Aku sudah mengatakan semuanya pada Arcel," tukas Kaila dengan tatapan yang emosi. Kaila mengepalkan tangannya kuat. Matanya sudah terlihat memerah karena menahan tangis. "Mama jahat! Ternyata kalian masih sama saja seperti dulu. Kalian enggak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Kalian hanya mementingkan Kak Dianti saja. Aku membenci kalian semua," geram Kaila "Kaila!" bentak Devi yang ingin melayangkan tamparan pada wajah anaknya itu. Namun, sebuah tangan tiba menahan itu semua. Kaila maupun Mamanya itu memandang terkejut pada Arcel yang ternyata melakukan hal itu. Tatapan Arcel begitu dingin dan menusuk. Membuat Devi jadi agak takut saat ini. "Apakah anda orang tuanya? Bisa-bisanya anda ingin menampar anak anda sendiri di hadapan banyak orang. Saya jadi meragukan apakah anda ini orang tuanya atau enggak," geram Arcel Terlihat wajah Devi yang agak tertegun setelah mendengar perkataan Arcel. Wajah gugup juga terlihat di wajah wanita paruh baya itu. "Aku tak melakukan apa pun pada Kaila. Aku ini Mamanya yanh asli. Mana mungkin ingin mencelakai anaknya sendiri," sanggah Devi "Terus tadi apa? Anda ingin menampar anak anda sendiri," desis Arcel dengan tatapan tajam. "Aku bukan ingin menamparnya. Aku hanya ingin Kaila bersikap adil dengan kakaknya sendiri," sanggah Devi kembali. Arcel langsung berdecih pelan. "Adil? Maksud anda adil dengan menyuruh tunangan dari adiknya untuk bersama dengan kakaknya begitu maksud anda?" protes Arcel dengan tatapan yang emosi. Semua orang terlihat terkejut dengan penuturan dari Arcel. Mereka langsung berbisik tak sedap pada Devi. Devi yang mendengar itu jadi kesal sendiri. "Kakaknya itu sedang sakit, aku hanya mau Kaila bisa mengerti keadaan kakaknya," kilah Devi yang masih tak mau kalah. Arcel menghela napas kasar. Jika saja orang yang di depannya ini seorang pria dan tak lebih besar darinya, sudah daritadi ia melakukan baku hantam. Karena jujur, ia paling tak suka ada yang menggangu wanitanya itu. "Bagaimana dengan Kaila? Kaila juga anak anda. Anda tak memikirkan perasaannya juga. Kami akan segera menikah dan maaf saja, bukannya aku egois. Tapi aku hanya bertindak secara rasional. Aku tau kalau Dianti itu hanya berbohong melakukan semua itu. Jadi aku mohon, jangan ganggu Kaila lagi. Aku masih menghargai anda sebagai orang tua dari Kaila. Jangan bersikap terlalu kejam. Ayo, Kaila," jelas Arcel dengan tatapan tajam seraya menarik tangan Kaila untuk keluar dari restoran itu. Sedangkan Devi harus menahan malu karena semua orang semakin menyinggung dirinya. Arcel memasukkan Kaila ke dalam mobil dan langsung mengendarai mobilnya itu meninggalkan kawasan restoran. Selama mobil itu berjalan, Kaila merasakan hawa dingin di sampingnya. Ia melirik dengan perlahan ke arah Arcel yang terlihat fokus pada stir kemudinya. Bukan itu saja yang menjadi atensi dari Kaila, melainkan tatapan Arcel yang begitu dingin, tanpa ekspresi sama sekali. Kaila jadi agak takut untuk memulai pembicaraan. Jadinya ia hanya diam sambil memandang ke arah luar jendela. Hingga mobil itu tiba-tiba berhenti berjalan. Membuat Kaila langsung memandang bingung. "Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Kaila yang mengeryitkan dahinya. Tatapan Arcel masih tanpa ekspresi. Ia memandang ke arah Kaila yang juga menatap ke arahnya. "Kenapa kau tak mengatakan ingin bertemu dengan Mamamu?" tanya Arcel Kaila langsung terdiam dengan pertanyaan dari Arcel. Ia memikirkan jawaban yang pas untuk dikatakan pada prianya itu. "Bukannya aku enggak mau kasih tau. Aku hanya tak mau selalu mengandalkan dirimu untuk menyelesaikan masalahku. Aku bisa mengatasinya sendiri," jelas Kaila dengan kepala yang sedikit ia tundukkan. Arcel menghela napas kasar. "Maksudmu dengan Mamamu yang ingin menamparmu, seperti itu yang kau bilang bisa mengatasinya sendiri?" sanggah Arcel Kaila langsung menatap terkejut pada Arcel. "A-Aku enggak tau kalau Mama bakal menampar diriku. Tadi Mama mengajakku hanya karena ingin minya maaf soal kejadian malam itu. Makanya aku jadi pergi menemuinya," papar Kaila dengan tatapan sendu. "Bukannya aku ingin menjelekkan orang tuamu, Kai. Tapi kau juga harusnya bisa menyadari sifat mereka, bukan? Jika orang tuamu mengajak bertemu lagi, aku yakin mereka akaj membahas masalah yang sama kembali. Aku hanya tak ingin sampai terjadi sesuatu dengan dirimu," jelas Arcel sambil memegang kedua bahu Kaila. Kaila menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Iyah, aku tau kau pasti akan mengatakan hal itu. Maafkan aku yah, Arcel. Aku kembali merepotkan dirimu. Tapi, bagaimana kau tau aku ada di sana?" tanya Kaila dengan wajah bingung saat mengingat kedatangan Arcel yang tiba-tiba. Arcel langsung terkesiap dengan pertanyaan Kaila. "Aku tadi ingin ke apartementmu dan ingin membawakan sesuatu untukmu. Enggak disangka kau ada di sini dengan Mamamu," jelas Arcel Kaila mengangguk mengerti. Tanpa ia sadari jika penjelasan Arcel sebenarnya adalah suatu kebohongan saja karena nyatanya Arcel menggunakan kekuatannya untuk menemukan Kaila. Hingga membuat suatu kesalahan pada dirinya. "Tapi, kau enggak apa-apa kan? Enggak ada hal yang serius terjadi tadi? Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Arcel bertubi-tubi dengan wajah yang nampak khawatir. Melihat ekspresi Arcel, membuat Kaila jadi terkekeh pelan. Hal itu membuat Arcel jadi memandang bingung terhadapnya. "Kenapa kau malah tertawa? Emang ada yang lucu yah?" tanya Arcel Kaila menganggukkan kepalanya pelan. "Iyah, kau itu yang lucu. Tapi aku enggak apa-apa kok. Enggak terjadi hal yang serius. Saat Mama memintaku kembali melakukan hal itu, aku dengan tegas menolaknya," timpal Kaila Arcel menganggukkan kepalanya. "Baguslah! Kau mengerti apa yang telah aku katakan padamu," balas Arcel sambil mengelus kepala Kaila dengan pelan. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN