Hari yang masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Tentunya pada jam segitu banyak orang pasti akan sibuk. Terutama para karyawan di perusahaan yang pastinya sangat sibuk pada jam segitu. Begitu pula yang terlihat pada seorang wanita yang sedari tadi tengah fokus di depan meja kerjanya. Tangannya begitu lihai menari di atas papan keyboard. Dia adalah Anulika Kaila yang saat ini tengah sibuk dengan rutinitas kerjanya di perusahaan yang baru saha menerimanya. Hingga suara notifikasi dari ponselnya membuat wanita itu sedikit melirik ke arah ponselnya itu.
Untuk sejenak Kaila menghentikan gerakan jarinya itu dan mengambil ponselnya itu. Sebuah notifikasi dari pesan yang dikirimkan oleh seseorang. Dari luar terlihat orang itu mengirimkan sebuah foto padanya. Sempat ia mengira jika yang mengirim pesan itu adalah Arcel, namun semua itu sirna kala ia melihat nomor yang tak dikenal.
Karena sangat penasaran dengan foto apa yang dikirimkan padanya itu, segera ia membuka pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tak dikenal itu. Sontak matanya terkejut melihat foto yang dikirimkan oleh nomor yang tak dikenal itu.
Sebuah foto yang menunjukkan seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang bayi. Tapi bukan itu yang menjadi agensi dari dirinya, melainkan bayi yang digendong oleh wanita itu. Tentu saja ia mengenal sosok bayi itu karena itu adalah dirinya ketika masih kecil.
Tapi, siapa wanita yang menggendongnya itu? Dia merasa tak pernah melihat wanita itu sama sekali. Terus, untuk apa foto ini dikirimkan padanya?
Sibuk bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering. Tapi bukan notifikasi untuk pesan melainkan seseorang yang menelponnya. Nomor yang sama dengan yang mengirimkannya sebuah foto. Karena semakin penasaran, Kaila segera menggeser ikon hijau di ponselnya itu.
"Halo. Ini siapa yah?" tanya Kaila
["Ini aku. Pacarnya Arcel," jawabnya]
Dari nada suaranya saja Kaila sudah paham siapa yang sedang berbicara saat ini. Apalagi kalimat yang mengatakan 'pacarnya Arcel'. Siapa lagi kalau bukan kakaknya, Dianti.
"Jadi kau yang mengirimkan foto itu. Apa maksudmu mengirimkan foto itu padaku?" tanya Kaila dengan wajah yang bingung.
Terdengar suara tertawaan sinis dari sana.
["Bukankah kau sangat pintar? Harusnya kau tau maksudnya aku mengirimkan foto itu padamu," timpal Dianti]
Kaila menautkan kedua alisnya. Ia benar-benar tak mengerti arti dari foto yang dikirimkan oleh kakaknya itu.
"Aku benar-benar enggak mengerti. Siapa wanita yang ada di foto itu? Kenapa dia menggendong diriku?" tanya Kaila
["Tentu saja itu Ibumu, Kaila sayang. Emang siapa lagi?" jelas Dianti]
Sontak Kaila melebarkan matanya atas perkataan dari Dianti. Dia tak salah dengar bukan?
"Jangan main-main, Kak! Bagaimana bisa kau mengatakan wanita di foto itu adalah Ibuku. Semua orang juga tau siapa Ibuku yang asli. Dia adalah Mama kita," sanggah Kaila
Kaila berusaha untuk tetap tenang saat ini. Ia tak boleh ribut di sini karena ia sedang berada di tempat kerjanya.
["Aku berkata yang jujur tau. Wanita itu benar-benar adalah Ibumu," ujar Dianti]
"Aku enggak percaya dengan kata-katamu," timpal Kaila
["Okey kalau kau enggak mau percaya. Tapi aku masih punya banyak bukti yang lainnya kalau kau itu bukan anak dari Papa dan Mama," jelas Dianti dengan nada sinis.]
Kaila melebarkan matanya karena terkejut dengan perkataan Dianti.
"Aku akan percaya jika melihat bukti yang lainnya," balas Kaila
["Haha, aku tau kau pasti akan penasaran. Kalau kau mau tau, datanglah ke kafe Sunshine siang ini. Aku akan menunjukkannya di sana. Bye!" jelas Dianti]
Kaila melihat ponselnya ketika panggilan itu sudah berakhir. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasa khawatir juga penasaran ada di dalam hatinya saat ini. Rasa khawatir itu muncul karena timbul pertanyaan apakah dia benar-benar bukan anak dari orang tuanya. Dan rasa penasaran tentang wanita cantik yang ada di foto itu. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sabar Kaila. Belum tentu semua itu benar. Kau harus selidik nanti dengan suatu bukti yang akan ditunjukkan oleh Kak Dianti. Apa aku harus menghubungi Arcel aja yah untuk datang menemani diriku?" gumam Kaila
Tiba-tiba saja suara notifikasi muncul di ponselnya. Ia melihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh kakaknya itu yang berisikan.
"Jangan mengajak siapapun saat kau datang ke sini. Datanglah sendiri jika kau memamg ingin mengetahui yang sebenarnya!"
Pertanyaannya sudah terjawab. Berarti ia tak boleh mengajak Arcel saat ini. Atau tidak Dianti tak akan mengeluarkan buktinya itu. Karena jujur saat ini ia jadi tambah penasaran. Terutama sekali ia sangat ingin mengetahui siapa wanita yang tengah menggendongnya itu.
***
Tepat pukul sebelas siang, pada saat jam makan siang. Barulah Kaila bisa keluar dari perusahaan. Dengan cepat ia menaiki mobilnya untuk menuju ke tempat di mana ia akan menemui sang kakak.
Sekitar sepuluh menit, ia baru sampai di depan kafe bernama 'Sunshine Cafe' itu. Terbilang cepat memamg karena rasa penasaran Kaila yang membuatnya ingin cepat-cepat datang menemui Dianti untuk melihat bukti yang dimaksudkan.
Setelah masuk ke dalam kafe itu, ia sudah bisa melihat siluet dari sang kakak. Segera ia berjalan mendekatinya.
"Kak Dianti," panggil Kaila
Sosok wanita yang berkaca mata itu melepaskan kaca matanya dan menatap ke arah Kaila.
"Oh? Kau sudah datang rupanya. Silahkan duduk," ujar Dianti dengan wajah angkuhnya.
Kaila pun segera duduk di depan wanita itu.
"Mana bukti yang kau maksud?" tanya Kaila yang tak ingin banyak berbasa-basi lagi.
Dianti tertawa sinis. "Kau ini enggak sabaran banget sih. Aku ingin makan dulu baru habis itu aku kasih tau," tukas Dianti seraya memanggil seorang pelayan.
Kaila menghela napas kasar. Ia hanya memesan minuman saja karena saat ini ia tak ada keinginan untuk makan karena pikirannya terfokus pada bukti yang ingin ditunjukkan oleh wanita di depannya itu.
Sekitar tujuh menit barulah makanan yang dimakan oleh Dianti habis. Setelah makanan itu habis, Kaila kembali menatap serius pada kakaknya itu.
"Makananmu sudah habis bukan? Sekarang kau bisa katakan padaku bukti yang kau maksud?" tanya Kaila yang berusaha untuk sabar.
Dianti mengangguk pelan. Ia mengeluarkan sebuah map coklat dan memberikannya pada Kaila.
Kaila menautkan kedua alisnya. "Apa ini?" tanya Kaila dengan wajah bingung.
"Buka saja dan liat," jawab Dianti dengan senyum misterius.
Kaila langsung saja membuka map itu untuk mengambil isi di dalamnya. Sebuah kertas ia ambil dari map itu. Kaila awalnya masih terbingung dengan kertas yang ia pegang itu. Namun, detik kemudian matanya langsung melebar sempurna begitu membaca isi dari kertas itu. Bahkan tangannya Kaila menjadi gemetar. Ia menatap tak percaya pada kertas yang ia pegang saat ini.
Melihat reaksi Kaila yang sepertinya itu menimbulkan senyum puas di hati Dianti. Ia sudah menduga hal ini.
To be continued....