Mengancam

1029 Kata
Dianti masih memandang bagaimana reaksi Kaila yang terlihat sangat terkejut dengan isi kertas yang dipegang. "Kenapa? Terkejut yah?" tanya Dianti dengan nada menyindir sambil menumpukan kedua tangannya di atas meja. Kaila meletakkan kertas itu di atas meja, nyaris membantingnya. Ia menatap kesal pada wanita di depannya itu. "Ini pasti bohong bukan? Kau sengaja melakukan ini untuk mengganggu diriku. Kau pasti sudah memanipulasi semua ini. Iya kan?!" protes Kaila dengan alis yang menukik juga tatapan tajam. Dianti langsung tertawa sinis. "Haihh, Kaila, Kaila. Kau ini bodoh banget yah. Liat tanda di kertas itu. Aku menguji itu di rumah sakit militer. Kau pikir aku bisa melakukan penipuan di sana? Bagaimana? Percaya kan kalau kau itu bukan anak dari Papa dan Mama? Aduhh, kasihan banget yah. Pantas aja nih yah dari dulu aku itu enggak pernah punya hubungan yang baik denganmu. Karena ternyata kau itu bukan adikku," jelas Dianti dengan nada hinaan. Kaila mengepalkan tangannya kuat. "Aku enggak percaya dengan apa yang kau katakan. Sebelum Papa dan Mama sendiri yang mengatakannya padaku. Kau bisa melakukan segala hal agar tujuanmu tercapai. Aku yakin jika semua bukti yang kau tunjukkan ini hanya tipuan belaka yang sering kau lakukan. Bahkan aku percaya jika kau itu sebenarnya tak amnesia sama sekali. Kau sengaja melakukan semua itu untuk mendapatkan kasih sayang dari Papa dan Mama lagi," geram Kaila dengan tatapan tajam. "Hei, aku ini tak peduli dengan apa yang kau katakan yah. Lagian mereka adalah orang tuaku. Jadi wajar jika aku ini ingin disayang oleh mereka. Sedangkan dirimu itu bukan anaknya Papa dan Mamaku. Kasihan banget yah dibuang oleh orang tuanya. Masih untung orang tuaku mau merawat dirimu dari kecil. Bukannya balas budi tapi malah ngelunjak," ujar Dianti yang semakin menghina Kaila. "Aku udah bilang kalau aku ini enggak percaya dengan apa yang kau bilang. Aku yakin semua ini kebohongan yang ingin kembali kau lakukan," sanggah Kaila dengan tatapan kesal. Dianti kembali tertawa sinis. "Haha, terserah kau mau percaya padaku atau enggak. Karena aku sudah memberikan bukti yang sebenarnya padamu. Oh ya, apa kau enggak penasaran dengan wanita yang menggendongmu itu?" tanya Dianti dengan senyum miring. Kaila langsung teringat dengan hal itu. Ia juga ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita yang ada di foto itu dan tengah menggendong dirinya. Sebaiknya masalah ini nanti aku akan coba tanya pelan-pelan pada Papa dan Mama. Aku harus siap dengan segala jawaban yang nanti muncul ~ batin Kaila "Siapa wanita itu?" tanya Kaila yang tak ingin berbasa-basi. "Kau ini emang enggak sabaran yah. Aku bakal kasih tau semuanya padamu. Tapi dengan satu syarat," ujar Dianti dengan senyum yang misterius. Kaila merasakan hawa tak enak saat ini ketika melihat tatapan dari Dianti yang seperti menyimpan rencana licik. "Syarat apa yang kau maksud?" tanya Kaila dengan wajah bingung. Dianti terdiam sejenak sebelum kembali berucap. "Syaratnya adalah kau biarkan Arcel bersama denganku. Dengan begitu aku akan kasih tau semuanya padamu tanpa terkecuali," jelas Dianti Seperti yang ia duga. Ada udang di balik batu dalam permintaan yang dilakukan Dianti. Tentu saja Kaila tak akan mengizinkan hal itu. "Aku sudah menduga jika kau pasti akan mengatakan hal ini. Bahkan aku tau akhirnya tujuanmu mengajakku ke sini. Karena kau ingin mengancamku untuk melepaskan Arcel. Tapi maaf saja, aku enggak akan pernah bisa meninggalkan Arcel. Selain karena aku yang enggak mau, Arcel juga sama sekali tak ingin melakukannya padamu. Seharusnya kau bisa sadar diri," jelas Kaila yang menolak permintaan dari Dianti. Dianti langsung tersenyum sinis. "Oh, kau enggak mau yah? Berarti sebaiknya aku buang aja kali yah semua barang-barang ini?" timpal Dianti yang mengangkat sebuah kotak berukuran sedang di tangannya. Kaila yang melihat kotak itu jadi agak terkejut. "I-Itu kotak apa?" tanya Kaila Kena kau! ~ batin Dianti "Tentu saja ini semua adalah barang yang menjelaskan siapa orang tuamu yang sebenarnya. Sebenarnya bukan hanya kotak ini saja sih. Melainkan ada banyak di mansion," jelas Dianti Flashback On Sosok Dianti berjalan menuruni tangga dengan wajah yang lesu. Saat ia menuruni tangga itu, ia merasakan suasana yang sepi di mansion-nya itu. "Mama ke mana?" tanya Dianti pada salah satu pelayan yang lewat. Pelayan itu langsung berhenti di depan Dianti. "Nyonya tadi mengatakan pergi ke rumah temannya untuk melakukan arisan," jelasnya Dianti mengangguk paham. "Ya udah, pergi sana!" tukas Dianti dengan nada sinis. Nona Dianti sama sekali tak bisa sebaik dan selembar Nona Kaila ~ batin pelayan itu. Dianti berjalan ke arah belakang rumah. Saat ia tengah merasakan kebosanan, matanya tiba-tiba menangkap sebuah pintu yang terlihat di balik sebuah pekarangan bunga. Karena penasaran, ia segera berjalan mendekati pintu itu. Pintu yang terlihat usang membuat Dianti jadi agak jijik. "Sejak kapan di sini ada pintu yah? Selama aku hidup tak pernah melihat pintu ini," gumam Dianti Saat ia ingin membuka pintu itu, ternyata tak bisa karena ternyata pintu itu dikunci. "Jika pintu ini dikunci, pasti ada rahasia di dalam pintu ini. Aku harus cari tau apa itu," celetuk Dianti Akhirnya ia menggunakan jepit rambutnya untuk membuka pintu tersebut. Dianti masuk ke dalam begitu pintunya telah terbuka. Debu yang tebal membuat Dianti terbatuk-batuk. "Aduh, apa ruangan ini tak pernah dibersihkan yah. Debunya banyak banget," keluh Dianti sambil menutupi mulutnya. Ia kembali berjalan dengan perlahan untuk mengelilingi ruangan itu. Hingga ia akhirnya menemukan semua barang yang ia pikir pasti akan membuat Kaila sangat terkejut nanti. Flashback Off "Kau enggak berbohong padaku kan?" tanya Kaila dengan tatapan selidik. "Aku enggak berbohong padamu. Kalau kau mau menerima semua barang ini, kau harus mengikuti apa yang aku inginkan. Yaitu membiarkan diriku bersama dengan Arcel," timpa Dianti dengan senyum sinis. Kaila langsung mengeluarkan helaan kasar sembari merotasikan bola matanya. "Aku udah bilang berkali-kali padamu jika aku enggak mau melakukan hal itu. Arcel pasti tak akan mau melakukannya padamu," balas Kaila Wajah Dianti langsung terlihat menahan emosi di wajahnya. Namun Kaila tak mau terlalu memperdulikan hal itu. Ia tak akan mau melakukan hal yang akan membuat hubungannya dengan Andrew jadi rusak. "Okey! Tersebut padamu saja. Aku akan membuang saja semua barang ini agar kau tak perlu lagi mencari orang tua kandungmu itu," ancam Dianti seraya berlalu dari hadapan Kaila dengan wajah kesal. Selepas perginya Dianti, Kaila mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya menjadi pening saat ini karena pembicaraannya dengan Dianti. Sekarang semua kemungkinan masuk ke dalam otaknya. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN