Mencari Kebenaran

1512 Kata
Sehabis bertemu dengan Dianti, Kaila memutuskan untuk kembali lagi ke perusahaan. Meskipun saat ini hatinya benar-benar bimbang tentang apakah perkataan kakaknya itu benar. Kakak? Apa setelah mendengar semua perkataan Dianti, ia harus memanggil wanita itu dengan sebutan kakak lagi? Akhh! Kepala Kaila bisa pecah lama-lama jika memikirkan masalah itu terus. Sebaiknya ia harus mencari sendiri kebenaran yang sebenarnya. Ia tak mau dulu mempercayai apa yang dikatakan oleh Dianti. Siapa tahu wanita itu hanya ingin mengancamnya agar bisa bersama dengan Arcel. Entah kenapa wanita itu sangat suka merebut prianya. Mulai dari Irsyad yang berhasil ia ambil darinya. Dan sekarang ia ingin mengambil Arcel darinya? Maaf saja! Kaila tak akan mau melepaskan Arcel. Arcel pun pasti tak akan mau meninggalkan dirinya. Kaila yakin jika Dianti tak mengalami amnesia. Wanita itu pasti sengaja ingin merusak hidupnya lagi seperti dulu. Padahal ia mengira setelah kejadian itu, Dianti akan berubah. Saat sampai di meja kerjanya, Kaila menghela napas kasar. Ia mencoba berpikir keras saat ini. Ia berusaha untuk mencari cara untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Di tengah ia yang sedang berpikir keras, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia mengeluarkan ponselnya yang ada di balik saku celana kainnya. Ia melihat nama dari sang tunangannya di sana. Segera ia menggeser ikon hijau di ponselnya itu. "Halo Arcel. Ada apa?" tanya Kaila ["Halo sayang. Kau masih di kantor yah saat ini?" tanya Arcel balik.] "He'em. Aku emang lagi di kantor. Baru pulang dari makan siang," jawab Kaila ["Kau makan siang di mana tadi?" tanya Arcel] Jantungnya seketika berdetak cukup kencang. Ia tak boleh mengatakan jika ia tadi bertemu dengan Dianti saat makan siang. Kaila berusaha mengatur dirinya agar tak gugup. "Aku makan di kantin kantor tadi. Kalau kau bagaimana? Apa kau udah makan siang?" tanya Kaila yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan. ["Oh, begitu. Baguslah kalau kau udah makan siang. Aku tadi udah makan bareng Tony," jawab Arcel] "Baguslah kalau kau juga udah makan siang. Apa kau ada di kampus saat ini?" tanya Kaila ["Tadinya. Saat ini aku sedang bersama Tony. Oh ya, apa kau mau aku jemput nanti saat pulang kerja?" tanya Arcel] Kaila terdiam sejenak. "Ehm, kayaknya enggak perlu deh, Arcel. Bukannya aku menolak, tapi aku masih ada kerjaan yang banyak. Aku juga ada bawa mobil sendiri. Jadi aku akan pulang sendiri saja nanti. Kau jangan khawatir yah," jelas Kaila dengan nada yang tak enak karena telah menolak ajakan dari Arcel. ["Oh, ya udah. Tapi kau hati-hati di jalan yah. Langsung telpon aku jika ada masalah," timpal Arcel] "Iyah, aku pasti akan langsung menelponmu. Kalau gitu, aku tutup dulu yah. Aku masih ada kerjaan," ujar Kaila ["Okey! Selamat bekerja sayangku. Semangat yah," ujar Arcel] "Iyah, kau juga. Sampai jumpa," balas Kaila seraya menutup panggilan itu. Selepas mematikan panggilan itu, Kaila mengeluarkan helaan napas kasar. "Maafkan aku, Arcel. Aku malah berbohong padamu. Aku melakukan ini karena aku ingin mencari tau tentang kenyataan yang sebenarnya. Aku bakal datang ke rumah untuk mencari tau yang sebenarnya," ucap Kaila Sedangkan di tempat lain, tepatnya di tempat Arcel berada. Dia memang ada bersama dengan Tony. Tapi mereka saat ini bukan berada di dimensi yang sama dengan Kaila. Melainkan di dimensi yang seharusnya mereka berada. Dimensi masa depan berusia sepuluh tahun. "Ada apa Arcel? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Tony yang melihat perubahan pada wajah Arcel selepas menghubungi Kaila. Arcel langsung memandang serius pada Tony. "Apa kau tak mengatur pekerjaan Kaila seperti yang aku minta?" tanya Arcel "Untuk apa? Kita enggak bisa gitu dong, Tuan Xavier yang terhormat. Bagaimana bisa aku yang mengaturnya? Itu bukan wewenangku juga tau. Lagian, biarin aja kali Kaila bekerja sesuai pekerjaannya. Kita jangan mengaturnya lagi. Kau tau sendiri kalau tunanganmu itu sangat pintar. Dia pasti akan curiga nanti," timpal Tony dengan nada protes. "Tapi, kenapa aku merasa Kaila seperti menyembunyikan sesuatu dariku yah?" tanya Arcel dengan wajah bingung. Tony melipat kedua tangannya di d**a. "Kau udah lupa yah, jika bagian dari dirimu ada pada Kaila saat ini? Jika kau merasakan hal semacam itu, pastinya itu benar. Ada yang disembunyikan Kaila dari dirimu," ungkap Tony "Tapi, apa yang disembunyikan Kaila dariku?" tanya Arcel Tony mengedikkan bahunya. "Kalau itu aku enggak tau. Kau harus mencari sendiri tentang hak itu," jawab Tony "Tony, kau balik ke sana dan cari tau apa yang disembunyikan Kaila dariku," perintah Arcel "Idihh, mentang-mentang kau itu atasanku, terus kau bisa seenaknya menyuruhku terus yah. Arcel, perlu kau ingat kalau aku ini lebih besar tujuh tahun darimu," sindir Tony Arcel terkekeh pelan. "Kau sendiri yang menyuruhku untuk tak menganggapmu lebih besar dari dirimu. Okey! Kak Tony, bisakah aku minta tolong melihat apa yang dilakukan oleh Kaila?" pinta Arcel Tony langsung bergidik ngeri saat Arcel memanggilnya dengan sebutan kakak. "Idihh, hentikan itu! Lebih baik kau memanggilku dengan sebutan Tony aja deh. Itu enggak cocok sama sekali denganmu. Ya udah, aku akan balik dan melihat Kaila. Sampai jumpa," ucap Tony seraya berlalu dari hadapan Arcel. Selepas perginya Tony, wajah Arcel berubah menjadi sendu. Ia memegangi dadanya yang terasa agak sakit. Ia pun mencoba untuk duduk di atas ranjangnya. "Apa yang kau sembunyikan dariku, K?" gumam Arcel *** Sebuah mobil baru saja berhenti di depan sebuah mansion yang terlihat cukup besar itu. Tak lama kemudian, sosok Kaila turun dari dalam mobil itu. Seperti rencananya di awal, ia akan mencari kebenaran yang sebenarnya dari orang tuanya itu. Ia perlu menanyakan apakah yang dikatakan Dianti tadi itu benar. Kaila berjalan masuk ke dalam mansion itu. Saat ia masuk salah satu pelayan menghampirinya. "Nona Kaila, lama tak jumpa. Bagaimana kabarnya?" Kaila tersenyum lebar. "Saya baik kok, Bi. Oh ya, Papa dan Mama di mana?" tanya Kaila "Tuan dan Nyonya ada di ruang tengah Nona" "Makasih yah Bi. Saya pergi menemui mereka dulu," ucap Kaila seraya berlalu. Ia sudah menduga jika orang tuanya itu pasti ada di rumah di jam segini. Karena ia tahu kalau Papanya itu sudah pulang dari kantornya kalau jam segini. "Papa, Mama!" panggil Kaila Emran dan Devi langsung melirik ke arah Kaila yang datang. Seketika keduanya langsung bangkit secara bersamaan dari duduknya. "Kaila, kamu datang ke sini enggak bilang-bilang dulu sama Mama," ucap Devi Kaila tersenyum sinis. "Emang kenapa, Ma? Aku enggak boleh yah datang ke sini? Atau karena aku ini orang asing hingga aku enggak bisa datang ke sini?" tanya Kaila dengan nada menyindir. Emran dan Devi nampak agak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kaila. "A-Apa maksudmu Kaila?" tanya Devi Kaila menunjukkan sebuah kertas tes DNA yang diberikan Dianti padanya saat itu. Devi menerimanya dan membacanya bersama dengan Emran. Sontak mata keduanya langsung melebar melihat isi dari kertas itu. Melihat reaksi dari dua orang di depannya, membuat Kaila kembali tersenyum sinis. "Melihat reaksi dari kalian, sepertinya kertas itu memang benar yah," sahut Kaila "Siapa yang memberikan kertas ini padamu?" tanya Emran "Anak kalian yang memberikannya padaku. Kalian tentunya tau siapa itu bukan karena kalian hanya memiliki seorang anak saja. Karena aku bukanlah anak kalian," tukas Kaila dengan tatapan sedih. Jujur, ia sebenarnya tak ingin jika kertas itu menunjukkan yang sebenarnya. Walaupun ia terkadang membenci kedua orang tuanya itu, tetap saja, ada di mana keduanya sangat menyayangi dirinya. Ia juga tak lupa jika keduanya lah yang merawatnya selama ini. "Kaila, kami bisa jelaskan padamu semuanya. Tapi kamu jangan emosi gini yah," ujar Devi Kaila menghela napas kasar. "Aku enggak akan emosi kok. Aku hanya ingin tau kebenaran yang ada. Kenapa aku enggak bersama dengan orang tua kandungku. Kenapa aku bisa bersama dengan kalian?" tanya Kaila Emran dan Devi saling tatap dan kemudian mengangguk pelan. "Iyah, apa yang dituliskan di kertas ini memang benar. Kamu bukanlah anak kami, Kaila. Kami menemukanmu dibuang di sebuah taman saat kami sedang jalan-jalan di sana. Mamamu sangat kasihan denganmu, makanya kamu langsung kita ambil dan rawat. Seharusnya kamu tau bukan bagaimana cara berterima kasih pada kami yang telah merawat dirimu selama ini?" timpal Emran Kaila cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Papanya itu. Atau bisa dibilang orang tua angkatnya itu. "Ma-Maksud Papa apa?" tanya Kaila "Maksud Papa itu, kau harus memberikan Arcel padaku," celetuk Devi dari atas tangga. Kaila langsung memandang geram pada sosok wanita yang tengah menuruni tangga itu. Kaila kembali menatap ke arah kedua orang tua yang telah memungut dirinya itu. "Aku tetap tak akan merubah keputusanku. Aku tetap tak akan membiarkan Arcel bersama dengan wanita licik ini. Arcel pasti akan sengsara bersama dengan dirimu!" hima Kaila dengan tatapan yang tajam. Sebuah tamparan melayang pada wajahnya. Ia menatap terkejut pada Emran yang telah menamparnya itu. "Kamu itu memang anak yang enggak tau terima kasih yah. Masih untung kami mau merawat dirimu sampai sebesar ini. Kalau tau gini, mending kami biarkan aja dirimu di sana," geram Emran Mata Kaila memerah karena menahan amarahnya. "Anda pikir saya juga mau diambil oleh kalian? Lebih baik saya mati saja daripada harus hidup di keluarga yang seperti ini!" teriak Kaila seraya berlari keluar dari mansion itu. "Hei!" Dianti yang melihat itu tersenyum lebar. Ia sangat senang melihat wanita itu tersiksa seperti itu. Inilah yang ia harapkan selama ini. Ini baru permulaan. Aku akan mengambil semuanya darimu. Termasuk Arcel. Karena kau itu enggak pantas untuk bahagia. Kau itu pantasnya sengsara selama hidupmu itu ~ batin Dianti To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN