Kenyataan Yang Menyakitkan

1532 Kata
Di malam yang cukup gelap itu, Kaila mengendarai mobilnya dengan kencang. Air mata terus turun membasahi wajahnya itu. Kaila mengusap kasar air mata pada wajahnya itu. Hatinya sangat sakit saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Apa benar dia ditemukan di sebuah taman? Itu berarti dia telah dibuang oleh orang tua kandungnya. Tapi kenapa? Kenapa dia malah dibuang? Apa saat itu ia cacat hingga orang tua kandungnya malah membuang dirinya? Berbagai spekulasi buruk mulai memenuhi pikirannya. Rasa sesak itu terus saja memenuhi relung di hatinya. Kenyataan bahwa ia bukan anak sebenarnya dari orang tua yang ia kenal selama 22 tahun tahun ini. Kenapa baru sekarang dia tahu kebenaran ini? Kaila menghentikan mobilnya karena ia merasa tak sanggup menyetir lagi. Kaila menundukkan kepalanya. Isakan demi isakan mulai terdengar darinya. Isakan yang kecil itu berubah menjadi isakan yang keras. Ia memukul stir mobil secara terus menerus. Ia meluapkan kekesalannya pada stir mobil itu. Kaila membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Ia berjalan pelan di tengah gelapnya malam. Entah apa yang dipikirkan Kaila saat ini sampai membiarkan mobilnya. Bahkan ia tak mencabut kunci mobilnya itu. Terserah jika mobilnya itu akan diambil oleh orang. Ia sudah tak peduli lagi. Saat ini ia benar-benar frustrasi dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja suara dari guntur terdengar dan disusul dengan hujan yang turun dengan sangat deras. Kaila mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat rintikan hujan yang mengenai wajahnya. Kaila tersenyum miris di tengah guyuran hujan itu. Air matanya sudah bercampur dengan air hujan. Ini bisa bagus juga. Jadi tak ada yang tahu jika dirinya tengah menangis saat ini. Rasa sakit di dadanya semakin kian bertambah. Karena tak kuat menahan beban di tubuhnya karena ia yang cukup lemas, Kaila terjatuh di atas tanah. Tangisan keras terdengar dari dirinya. "Kenapa? Kenapa masalah kembali terjadi padaku?! Apa salahku?! Apa aku enggak berhak bahagia?! Kenapa mereka meninggalkanku?! Kenapa mereka jahat padaku?! Padahal aku enggak pernah berbuat jahat pada orang lain. Kenapa?!" teriak Kaila dengan tangisan yang tersedu-sedu. Hujan semakin deras dan tangisan Kaila semakin keras. Angin yang sangat dingin itu sangat menusuk tubuh Kaila. Namun, wanita itu tak memperdulikan hal itu. Karena yang lebih menyakitkan saat ini adalah hatinya. Ia berpikir di mana orang tua kandungnya berada saat ini. Kenapa orang tua kandungnya itu malah membuang dirinya? Hujan yang malah semakin deras itu membuat tubuh Kaila tidak tahan. Hingga ia pun jatuh pingsan karena pening di kepalanya. Dalam pikirannya memikirkan apakah lebih baik ia mati saja daripada harus menghadapi semua ini *** "Enghh!" Rasa pening menyerang kepalanya. Kaila berusaha untuk bangun dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut sakit itu. Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekelilingnya. Ia mengeryitkan dahinya karena mendapati dirinya ada di kamarnya saat ini. Ia masih sangat mengingat dengan jelas di mana dia berada seharusnya. Seharusnya dia berada di jalan, di mana ia pingsan. "Kenapa aku malah ada di kamar saat ini? Seharusnya aku di jalan bukan? Apa ada yang menyelamatkanku? Tapi siapa?" gumam Kaila dengan wajah bingung. Hingga ia menyadari satu orang yang paling mungkin melakukan ini semua. Ia melihat pakaiannya yang sudah berganti. Perasaan malu langsung muncul dalam benaknya. Itu berarti tubuhnya sudah dilihat semua bukan? Wajahnya seketika menjadi panas karena memikirkan hal itu. Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok yang memenuhi pikirannya saat ini. Kaila memandang orang itu dengan tatapan malu. "A-Arcel?" panggil Kaila dengan senyum yang ia kulum. Namun, yang ia lihat saat ini adalah tatapan dingin dari Arcel. Membuat Kaila jadi agak takut. Karena ia belum pernah melihat tatapan Arcel yang sedingin itu. Arcel terlihat membawa sebuah nampan berisi makanan. Arcel menaruh nampan itu di atas nakas dan ia duduk di kursi samping ranjang Kaila. "A-Arcel...." Ucapan Kaila terhenti kala punggung tangan Arcel menempel pada dahinya. "Sudah tidak panas. Sekarang kau harus makan," ucap Arcel seraya mengambil nampan itu. Saat ia akan menyuapi Kaila, wanita itu langsung mengalihkan pandangannya. Membuat Arcel jadi mengeryitkan dahinya. "Kenapa kau enggak mau makan?" tanya Arcel dengan wajah bingung. Kaila menatap ke arah Arcel. "Aku tau kau sedang marah padaku saat ini. Kenapa kau enggak mengutarakannya?" tanya Kaila Arcel terdiam sejenak. "Aku enggak marah padamu kok. Ayo makan," ujar Arcel yang kembali ingin menyuapi Kaila. Namun, lagi dan lagi Kaila mengalihkan pandangannya dari Arcel. Arcel menghela napas pelan. "Kai, ada apa? Kenapa kau enggak mau makan?" tanya Arcel Kaila melipat kedua tangannya di d**a. "Aku enggak mau makan sebelum kau mengatakan semuanya padaku. Aku yakin kau sedang marah padaku saat ini. Ayo katakan padaku," tukas Kaila dengan tegas. Arcel kembali menghela napas kasar. Ia menaruh nampan itu di atas meja dan menatap Kaila. "Okey! Kau ingin aku marah bukan? Aku akan memarahimu saat ini," ucap Arcel dengan tatapan yang berubah serius. Kaila menelan salivanya dengan agak kasar. Tapi dia yang meminta agar Arcel mengatakan semuanya. "Kenapa kau bisa jatuh pingsan di tengah guyuran hujan, malam hari lagi? Pasti ada yang terjadi padamu bukan?" tanya Arcel dengan tatapan tegas. Ia sudah tahu jika Arcel pasti akan menanyakan hal itu padanya. Karena sejak ia bangun tadi, ia sudah tahu jika Arcel-lah yang pasti membawanya pulang. Air matanya kembali menetes karena mengingat sebab ia pingsan kemarin malam. Melihat Kaila yang menangis membuat Arcel jadi merasa bersalah. "Kaila, sayang. Kenapa kau menangis? Ini yang aku enggak mau ketika memarahimu. Jangan menangis yah," ujar Arcel seraya duduk di samping Kaila sambil memeluk erat tubuh wanitanya itu. Kaila menggelengkan kepalanya dengan lemah. "A-Aku bukan sedih karena kau yang memarahiku. Aku hanya sedih mengingat alasan aku pingsan kemarin malam," jelas Kaila dengan lirih. Arcel melepas dengan perlahan pelukan itu dan mengusap dengan pelan wajah Kaila. "Katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Arcel Kaila mengigit bibirnya pelan. "Aku mengetahui yang sebenarnya, Arcel. Aku akhirnya mengetahuinya," ucap Kaila dengan isakan kecil. Arcel agak tertegun dengan apa yang diucapkan Kaila. Ia khawatir yang dimaksudkan oleh Kaila adalah dirinya sendiri. "Apa yang kau maksud, Kaila? Kau mengetahui tentang apa?" tanya Arcel yang jadi agak gugup. Kaila menatap Arcel dengan lirih. "Aku mengetahui bahwa orang tua yang selama ini kukenal, nyatanya bukan orang tuaku yang asli. Mereka hanya orang tua yang menemukanku dibuang oleh orang tua kandungku sendiri," ungkap Kaila dengan tatapan sendu. Arcel langsung melebarkan matanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kaila. Namun, ada perasaan sedikit lega karena yang diketahui oleh Kaila bukan tentang dirinya. "Apa itu benar, Kai? Siapa yang memberitahukan padamu tentang hal itu?" tanya Arcel mengelus bahu Kaila. Kaila menarik napas yang dalam sebelum kembali berucap. "A-Aku bertemu dengan Kak Dianti sebelumnya. Dia yang mengatakan padaku terlebih dahulu tentang hal itu. Awalnya aku enggak percaya dengan hal seperti itu. Tapi, pada saat kemarin malam aku datang ke rumah dan menanyakan hal itu, mereka bukannya menyangkal, mereka malah mengiyakan semua kenyataan itu. Aku sangat terkejut saat itu. Aku enggak menyangka ada kenyataan seperti ini. Pantas mereka saat ini akan tetap mementingkan kebahagiaan Kak Dianti dibandingkan dengan diriku," papar Kaila dengan air mata yang kembali turun dengan deras. Arcel langsung memeluk erat tubuh Kaila. Ia mengelus dengan pelan rambut Kaila untuk menenangkan wanitanya itu. "Sabar yah, sayang. Kau harus ingat kalau kau masih memiliki aku yang enggak akan mungkin berubah untukmu. Aku akan selalu ada untukmu, sayang. Kau jangan khawatir yah. Semuanya akan berjalan dengan baik. Meskipun kau mendapati kenyataan seperti itu," jelas Arcel Kaila melepaskan dengan pelan pelukan itu. Ia menatap dengan lirih pada prianya itu. "Mereka menyuruhku untuk bisa tau caranya berterima kasih pada mereka," ucap Kaila Arcel kembali mengeryitkan dahinya. "Apa yang mereka maksud dengan mengatakan itu?" tanya Arcel dengan wajah yang bingung. "Mereka mau aku membiarkanmu bersama dengan Kak Dianti. Mereka menyuruhku untuk meninggalkanmu," lirih Kaila dengan air mata yang mengalir kembali. Arcel melebar sedikit matanya kala mendengarkan perkataan Kaila. "Kau tak perlu melakukan itu bukan? Aku tau mereka sudah merawat dirimu selama ini. Tapi itu bukan berarti mereka harus merenggut kebahagiaan yang kau miliki. Jangan turuti perkataan mereka," timpal Arcel sambil menghapus air mata wanitanya itu. Kaila memeluk erat tubuh Arcel. Ia menumpahkan air matanya di d**a Arcel. "Kenapa aku harus mengalami ini, Arcel? Kenapa orang tua kandungku malah membuangku?! Kenapa mereka memilih meninggalkanku?! Apa salahku sampai mereka melakukan hal ini padaku?!" jerit Kaila dengan isakan yang keras. Arcel menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia tak bisa memberitahukan pada Kaila yang sebenarnya. Ia tak akan sanggup mengatakan semua itu. Kenyataan tentang orang tua kandung dari wanitanya itu. Maafkan aku sayang. Aku enggak akan bisa mengatakan yang sebenarnya padamu. Ini sangat berat. Aku tak sanggup melihat reaksimu yang sebenarnya saat kau mengetahui yang sebenarnya tentang orang tuamu itu. Aku akan tetap menyimpan erat kenangan ini ~ batin Arcel Yah, sebenarnya Arcel tahu jika orang tua kandung Kaila bukanlah yang sekarang. Oleh karena itu, ia terlihat tak terlalu akrab dengan kedua orang tua Kaila yang sekarang. Karena ia tahu latar belakang dari itu semua. Tapi ia tak akan memberitahukan pada Kaila yang sebenarnya. Ia akan menutup masalah ini hanya untuk dirinya sendiri. Arcel melepaskan dengan pelan pelukan itu dan menghapus dengan pelan air mata yang masih turun di wajah wanitanya itu. "Kau enggak perlu memikirkan hal itu yah. Yang terpenting sekarang adalah kau memiliki aku di hidupmu. Orang yang akan selalu ada untukmu," jelas Arcel Kaila mengangguk lemah. "Iyah! Aku punya dirimu dan itu sudah cukup," ucap Kaila seraya memeluk kembali tubuh Arcel. To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN