Pengkhianatan(1)

2267 Kata
Happy Reading Malam yang begitu gemerlap menjadi saksi dari meriahnya acara ulang tahun Nadhira. Sebuah mobil Mercedes-Benz Z-876 baru saja memasuki kawasan parkiran rumah Nadhira. Setelah mobil itu terparkir sempurna, keluarlah sosok pria tampan yang siapa saja akan takjub dengan wajah tampannya. Setelah pria itu keluar, pria itu menuju ke bagian sisi lain mobil dan membuka pintunya. Dan keluarlah sosok wanita yang sangat cantik. "Thanks" "No, problem. Babe" Setelah wanita itu keluar. Wanita itu bergerak ke arah pintu belakang mobil dan membantu seorang wanita keluar. Sang pria juga membantu dengan mengeluarkan kursi roda. (Bayangkan Tiffany menggunakan gaun itu dengan kursi roda) "Thanks yah Irsyad," ucap Dianti saat Irsyad membantunya duduk di kursi roda. Kaila yang melihat itu menjadi jengah sendiri. Ia tahu maksud dari tatapan kakaknya itu pada pacarnya. "Biar aku aja yang dorong," ucap Kaila saat ia melihat kalau Irsyad yang ingin mendorong kursi rodanya. Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam acara ulang tahun itu. Ulang tahun itu cukup megah karena bisa dibilang kalau Andhira itu anak dari kalangan orang kaya. Ayahnya adalah salah satu petinggi di perusahaan Google. "Hello Bro. Akhirnya datang juga kau" Saat memasuki ke bagian dalam tempat acara itu, Irsyad dipanggil oleh dua orang pria yang tampan. "Kalian udah datang dari tadi?" tanya Irsyad "Belum lama kok," ucap pria dengan jas hitam. "Wah, kak Emil kau tampan hari ini. Dan ... kak Nevan kau tampak beda dengan tanpa kacamata," puji Kaila "Thanks Kai. Aku sengaja aja enggak pake kacamata. Aku pakai lens kontak," balas Nevan dengan senyuman. "Thanks yah Kai. Tapi, menurutmu siapa yang lebih tampan. Aku atau Irsyad?" tanya Emil "Emilio Kaivan, kau berani juga yah," omel Irsyad "Haha, kau cemburu yah bro?" duga Emil "Udah udah. Tentu saja aku milih Irsyad yang lebih tampan," timpal Kaila "Nah, kau udah denger kan. Udah jangan cemburu. Kau tau sendiri baga sifat Emil," lerai Nevan "Yah, I know. Pacarku akan tetap memilihku lah," balas Irsyad dengan senyum percaya diri. Semuanya tertawa dengan sifat percaya diri Irsyad. Tapi ada satu orang yang menampilkan ekspresi tidak senang. Siapa lagi kalau bukan Dianti. Ia sungguh kesal dengan Kaila yang selalu bisa menarik perhatian banyak orang. "Hei, kenapa kalian diam di situ. Ayo masuk" "Andhira!" Kaila langsung berlari ke arah Andhira. Kaila memeluk dengan erat tubuh Andhira. Begitu pula dengan Andhira. "Kau cantik banget sih Kai," puji Andhira "Hei, kau itu yang sangat cantik tau. Kau yang paling bersinar malam ini," puji Kaila balik. "Aihh, mulutmu manis banget sih," timpal Andhira "Happy Birthday my best friend," ucap Kaila seraya menyerahkan sebuah kado pada Andhira. "Ouhh, thanks my best friend. Kan aku udah bilang enggak perlu bawa kado," balas Andhira "Eihh, bagaimana mungkin aku enggak bawa kado. Kau aja setiap ulang tahunku selalu membawakanku kado," ujar Kaila "Happy Birthday yah Andhira," ucap Irsyad "Makasih kak Irsyad" "Happy Birthday Andhira" "Makasih kak Emil" "Happy Birthday Andhira" "Makasih kak Nevan" "Happy Birthday yah Andhira" "Eh, ada kak Dianti di sini?! Makasih yah kak," ucap Andhira "Iyah, maaf yah Dhira aku enggak sempat bilang. Soalnya mamaku menyuruhku untuk menjaga kak Dianti," timpal Kaila "It's okay. Lagi pula kak Dianti kan kakakmu. Dia juga boleh datang kok," balas Andhira "Maaf yah Andhira, jika kedatanganku agak merepotkan," celetuk Dianti dengan wajah sedih yang dibuat-buat. "Enggak apa-apa kok kak. Aku seneng kok kalau kakak datang. Baiklah, ayo masuk semuanya," ajak Andhira seraya menggandeng tangan Kaila. Sedangkan kursi roda Dianti didorong oleh Irsyad. Mereka pun duduk di tempat yang sudah disediakan. "Selamat malam semuanya. Saya selaku MC dari acara ini mengucapkan rasa terima kasih kepada semuanya yang telah hadir ke acara ulang tahun Andhira Cempaka yang ke-20. Semoga segala keinginannya bisa tercapaikan. Aamiin" "Aamiin" "Baiklah acara pertama yang akan dilaksanakan adalah sambutan dari Andhira. Baiklah Andhira silakan maju" Andhira maju ke depan. Ia menatap dengan senyum lebar pada semua orang yang datang pada hari spesialnya. "Pertama-tama, aku mau ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang sudah hadir di acara ulang tahunku. Terima kasih kepada papa dan mama yang sudah menyiapkan perayaan ini. Aku juga mau terima kasih pada sahabatku, Kaila, yang selalu hadir disaat suka maupun dukaku. Semoga kalian bersenang-senang di sini," ujar Andhira "Baiklah, terima kasih Andhira. Selanjutnya, mari kita lanjut ke acara selanjutnya yaitu pemotongan kue ulang tahun serta menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Andhira" "Happy Birthday to you. Happy Birthday to you. Happy Birthday. Happy Birthday. Happy Birthday Andhira" Semuanya serempak menyanyikan lagu itu. Andhira sangat terharu akan hal itu. Andhira mulai memotong kuenya. Potongan pertama ia berikan pada kedua orang tuanya. Selanjutnya potongan kedua ia berikan untuk Kaila. Kaila pun menerimanya dengan senang hati. "Mungkin kau akan bosan mendengar ini terus. Tapi aku akan selalu mengatakan happy birthday untukmu. Kau harus selalu bahagia Dhira. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Kaila "Thanks Kai. Kau yang terbaik," balas Andhira memeluk erat tubuh Kaila. Setelah acara itu, para tamu langsung disibukkan dengan berbagai hal. Mulai dari mengambil foto-foto. Ada juga yang sibuk bercengkrama dan makan. Kaila melihat Andhira yang sedang berbicara dengan teman-temannya. Andhira itu anak yang populer. Dia dengan mudah akrab dengan banyak orang. Beda dengan dirinya yang tergolong pemalu. Oleh karena itu, saat Andhira mengajaknya untuk berteman saat SMP, Kaila sedikit terkejut. Karena ia tahu kalau Andhira itu punya banyak teman. Tapi ternyata lebih memilih untuk bersahabat dengan dirinya. Kaila sungguh senang saat itu. Akhirnya ia memiliki seorang teman yang begitu baik pada dirinya. Tadi Andhira ingin mengajaknya juga untuk mengobrol bareng teman-teman kampusnya. Kaila pun kenal dengan orang-orang itu walau tidak akrab. Bagaimanapun juga Kaila cukup dikenal di kalangan jurusannya karena kepintaran yang ia miliki. Tapi Kaila harus mengurung niatnya itu karena ia memiliki tugas untuk menjaga Dianti. Bisa-bisa Dianti akan mengadu kepada orang tua mereka kalau Kaila sudah membiarkan Dianti sendirian. Kaila juga bisa melihat pacarnya, Irsyad, sedang berbincang dengan dua sahabatnya itu. Kaila jadi tersenyum melihat pacarnya yang begitu tampan. Kadang Kaila juga mikir apa yang bagus dari dirinya sampai seorang Irsyad Asadel menyukainya. Karena bisa dibilang pacarnya itu sangat famous bukan hanya di jurusannya, tapi hampir di seluruh jurusan di BINUS University. "Kau ngapain senyam-senyum enggak jelas," protes Dianti ketika melihat Kaila tersenyum. Kaila memandang jengah pada Dianti. "Hanya bahagia aja punya pacar kayak Irsyad. Udah ganteng, pintar, baik pula," jawab Kaila seraya memperhatikan ekspresi cemburu dari Dianti. Dianti langsung memandang emosi pada Kaila. Dianti langsung tersenyum remeh. "Haih, kau pikir hubunganmu akan bertahan lama. Liat aja, bentar lagi akan berakhir kok," sindir Dianti "Terserah kakak. Irsyad itu orangnya setia. Dia enggak mungkin mau mengkhianatiku. Dia cinta denganku," balas Kaila "Kau sepertinya belum mengenal Irsyad sangat baik. Liat aja nanti," timpal Dianti "Terserah kakak mau bilang apa," balas Kaila Tiba-tiba Dianti menampilkan sebuah senyuman kelicikan. "Pergi ambilkan aku minum dong," perintah Dianti "Iyah bentar" Kaila berjalan untuk mengambilkan minuman untuk Dianti. Saat mendapatkan minumannya, ia kembali pada Dianti. Kaila menyerahkan minuman itu pada Dianti. "Aku enggak mau yang ini," protes Dianti "Terus kakak mau yang mana? Kakak enggak bilang tadi mau minuman yang mana," protes Kaila kembali. "Pokoknya aku enggak mau yang ini. Ganti," balas Dianti Kaila tahu kalau Dianti ingin mengerjainya. "Yang ini aja yah. Sama aja kok," ucap Kaila seraya menyerahkan minuman itu pada Dianti. "Aku bilang aku enggak mau. Kenapa maksa sih?!" protes Dianti seraya memegang erat tangan Kaila. "Kak, kakak ngapain megang tanganku erat gini. Kakak lepasin! Sakit tau!" protes Kaila yang bingung dengan Dianti yang tiba-tiba memegang tangannya erat. "Kenapa kamu maksa sih Kai?! Aku bilang kan aku enggak mau! AHH!!" 'byurr' "KAKAK!" Kaila teriak ketika melihat Dianti yang jatuh ke dalam kolam. Orang-orang langsung menghampiri sosok Kaila. Baru saat akan menyelamatkan Dianti, seseorang sudah lebih dulu menyelamatkannya. Dan itu adalah Irsyad. Kaila sedikit tertegun dengan hal itu. Agak sakit sih. Tapi ia menghilangkan ego itu karena sungguh khawatir dengan keadaan Dianti. Irsyad naik ke atas kolan dengan menggendong tubuh Dianti. "Dianti bangun. Dian, Dianti" Irsyad berusaha mengeluarkan air dari tubuh Dianti dengan menekan-nekat dadanya. "Uhuk-uhuk" Akhirnya Dianti mengeluarkan air dari dalam mulutnya. Ia pun tersadar dengan wajah yang begitu pucat. "Ir-Irsyad" Sontak semua orang terkejut, apalagi Kaila karena Dianti yang tiba-tiba memeluk tubuh Irsyad. "Kau enggak apa-apa?" tanya Irsyad yang berusaha melepaskan pelukan itu. Ia khawatir kalau Kaila akan salah paham. "A-Aku takut. Kaila mencoba membunuhku," lirih Dianti 'deg' Semua orang yang ada di sana dibuat terkejut kembali dengan pernyataan Dianti. Mereka semua langsung menoleh ke arah Kaila yang juga sangat terkejut. "Apa maksudmu kak?! Aku enggak melakukan hal itu! Bagaimana bisa kau menuduhku melakukannya?!" protes Kaila yang sangat terkejut karena Dianti yang memfitnahnya. "K-kau jangan mengelak. Kau yang mendorongku. Aku hanya memintamu mengambilkan minuman untukku. Hanya karena aku menyuruhmu untuk menggantinya karena aku enggak suka, kau langsung kesal dan mendorongku saat kau paksa aku menerima minuman itu," jelas Dianti dengan air mata kebohongannya. Akting lagi, hah! ~ batin Kaila "Kaila apa itu benar?" tanya Irsyad "Enggak Irsyad. Kakak mengada-ada. Aku enggak mungkin celakain dia, sedangkan aku disuruh untuk menjaganya. Untuk apa aku mencelakakan kakakku sendiri," sanggah Kaila "Alah, bukankah kamu yang menyebabkan kakakmu lumpuh," celetuk seseorang. "Apa maksudmu Luna?! Darimana kau dengar? Jangan memfitnah deh!" protes Kaila "Aku udah denger dari kakakku tau," timpal Luna Ahh, Kaila baru ingat kalau seorang Lunara Jovanka adalah adik dari Vika Amanda, sahabat kakaknya. "Wah, apa itu bener?" "Enggak nyangka orang sepolos Kaila bisa lakukan hal itu pada kakaknya" "Ihh sadis bener jadi adik" Kaila berusaha menahan emosinya. "Kakak. Kakak tolong jangan fitnah aku lagi. Apa salahku pada kakak? Hanya karena kakak menyukai Irsyad, terus kakak akan terus menyiksaku?!" protes Kaila yang sudah tak tahan dengan tingkah Dianti. "Apa maksudmu Kai? Aku enggak benci kok hubunganmu dengan Irsyad. Aku malahan seneng karena adikku bisa mendapatkan orang sebaik Irsyad," sanggah Dianti dengan air mata kepalsuan. "Heh, kau itu udah salah ya salah. Ngapain ngelak lagi sih," omel Luna seraya mendorong bahu Kaila. "Aku beneran enggak melakukan hal itu. Jangan fitnah!" protes Kaila "STOP! Apa ada CCTV di sini?" tanya Irsyad "Ada. Aku akan mengantar kalian," ucap Andhira Andhira berharap kalau hal itu bukan Kaila. Andhira berharap bukan Kaila yang menyebabkan Dianti jatuh ke dalam kolam. Semua orang langsung mengikuti jalan Andhira menuju ruang CCTV. "Pak, tolong tunjukkan rekaman CCTV di dekat kolam," perintah Andhira "Baik Non" Penjaga itu mulai menunjukkan rekaman CCTV saat di area kolam. Dan terlihatlah adegan saat Dianti dan Kaila berbincang. Namun, yang anehnya rekaman itu tidak menunjukkan saat Dianti memarahi Kaila. Rekaman itu dimulai saat Dianti meminta minuman pada Kaila. Dan tentu saja adegan saat Dianti menarik tangan Kaila nampak terlihat seperti Kaila yang mendorong Dianti. "Nah kan, aku udah bilang kalau cewek ini itu enggak sepolos yang kalian kira. Heh, jahat banget sih. Saudara aja mau dibunuh," sindir Luna "Tunggu! Tunggu! Pak, coba rekaman pada lima menit sebelumnya," pinta Kaila "Baik Non" Saat penjaga itu mengarahkan pada lima menit sebelumnya, itu hanyalah adegan saat Dianti dan Kaila berdiri saja tanpa adanya pembicaraan. Kaila tentu saja terkejut akan hal itu. Bagaimana bisa seperti ini? Apakah CCTV nya sudah diperalat? "Kau jangan mengelak lagi. Buktinya udah ada di depan mata. Kau mau berdalih apa lagi," sindir Luna "Tapi beneran bukan aku yang melakukannya," sanggah Kaila "Kaila, aku mau tanya sekali lagi. Kau jawab dengan jujur yah. Apa bener kau yang mendorong Dianti ke dalam kolam?" tanya Irsyad "Tentu aja bukan aku Irsyad. Kau harus percaya padaku. Aku enggak melakukannya," sanggah Kaila "Tapi bagaimana mungkin Dianti akan berbohong untuk hal yang membahayakan nyawanya. Apalagi buktinya udah ada di depan. Kau jujur aja enggak apa-apa," timpal Irsyad Kaila memandang tidak percaya pada Irsyad. Bagaimana bisa pacarnya sendiri tidak percaya padanya? "Kau enggak percaya padaku? Irsyad, kau yang mengatakan sendiri kalau kau akan terus mempercayaiku. Tapi ini apa?" lirih Kaila dengan air mata yang mengalir. Sakit. Itu yang dirasakan Kaila saat orang yang ia cintai tidak mempercayainya. "Aku tau. Tapi di depan ini telah mengatakannya Kai. Aku harus percaya pada kebenaran yang ada di depan mataku," ucap Irsyad Kaila menggeleng tidak percaya pada Irsyad. Kaila menoleh pada Andhira yang memandangnya dengan tatapan luka. Kaila sungguh terkejut dengan tatapan itu. "Kau juga Dhira? Kau juga enggak percaya denganku?!" tanya Kaila "Maaf Kai. Awalnya aku ingin mempercayaimu. Tapi seperti yang kau liat, bukti itu menunjukkan kalah kau bersalah," ujar Andhira Dua kali hantaman. Kaila terkejut dengan pernyataan Andhira. Bahkan, sahabatnya sendiri tidak mempercayainya. "Kau sahabatku Dhira. Kau sangat mengerti aku. Apa menurutmu aku akan melakukan hal itu?" tanya Kaila dengan pandangan luka. Andhira memilih untuk bungkam. Andhira mengalihkan pandangannya seraya beranjak dari sana. "Andhira tunggu!" pekik Kaila Di saat Kaila ingin mengejarnya, tangannya ditahan oleh Luna. "Kau ini enggak tau malu yah. Andhira udah enggak percaya dengan dirimu. Mending kau pergi deh. Kau itu udah merusak acara ini," tukas Luna Kaila memegangi dadanya yang berdenyut sakit. Kaila menoleh pada Irsyad yang berusaha menghangatkan tubuh Dianti dengan handuk. Kaila memandang sakit pada hal itu. Sungguh ia tidak percaya kalau pacar bahkan sahabatnya tidak percaya dengannya. "Ngapain masih di sini?! Pergi!" tukas Luna mendorong tubuh Kaila hingga hampir terjatuh jika saja Emil tidak menahannya. "Luna! Jangan begini dong! Jangan buat suasana tambah rusuh," omel Emil "Kak Emil ngapain bela-bela dia?!" protes Luna Udahlah, aku enggak mau berdebat denganmu. Kaila, kau lebih baik pulang. Ayo," ajak Emil Kaila kembali memandang ke arah Irsyad yang nampak tak peduli padanya. Kaila pun menuruti Emil untuk pulang. Quote of the day: Aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianatan oleh hatiku yang sibuk menguntai simpul pertanda cinta ~ Tere Liye ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Semoga kalian suka yah dengan ceritaku ini reader!! Jangan lupa untuk tinggalkan love dan comment di sini!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN