Awal Dari Segalanya(5)

1681 Kata
Tiga bulan kemudian.... "Pagi Ma, Pa," sapa Dianti saat menuju ruang makan dengan bantuan kursi roda yang didorong oleh Kaila. "Pagi sayang. Ayo cepet sarapan, kamu kan ada jam kuliah pagi ini," balas Devi dengan tatapan lembut. "Pagi Pa, Ma," sapa Kaila juga "Hmm" "Iya pagi" Hatinya begitu sakit mendapat balasan yang begitu dingin dari orangtuanya. Memang sudah tiga bulan ini baik papa dan mamanya bersikap dingin terhadapnya. Gara-gara masalah kemarinlah penyebab orangtuanya menjadi begitu dinginnya. Tidak ada lagi tatapan lembut dan kasih sayang dari keduanya. Melainkan tatapan dingin dan benci yang ditunjukkan. Ia tak tahu harus berbuat apa supaya keduanya percaya kalau bukan dia pelakunya. Sungguh hatinya sangat kesal sekarang. Dianti yang melihat Kaila sepertinya sedih dengan balasan dari papa dan mamanya, tersenyum penuh kemenangan. Ini baru permulaan ~ batin Dianti "Kamu temenin Dianti nanti pergi ke kampus," perintah Emran "Maaf Pa, aku enggak bisa. Aku juga harus pergi ke kampus hari ini," tolak Kaila "Enggak bisa gitu dong, Kai. Kamu udah janji mau tanggung jawab kan?" ujar Devi dengan tatapan marah. "Aku tau Ma. Tapi, aku emang harus submit tugas hari ini. Bukankah bisa suruh pelayan di rumah ini dulu," sanggah Kaila "Cukup Kaila! Jangan berdalih lagi. Pokoknya kamu temenin Dianti ke kampus," tegas Emran Kaila hanya bisa menerima dengan pasrah keputusan itu. Apa dia sudah tidak ada di mata kedua orangtuanya? "Enggak apa-apa kok Pa, Ma. Dianti bisa pergi sendiri, jangan nyusahin Kaila," celetuk Dianti dengan ekspresi sedih yang sengaja ia buat. Kaila memandang sinis ke arah Dianti karena bakat aktingnya yang luar biasa. Apakah kakaknya itu tidak mempunyai hati nurani? Sampai-sampai mau menjebak adiknya seperti ini hanya karena seorang laki-laki. "Udahlah, sayang. Kamu jangan bela dia terus. Dia kan harus bertanggung jawab atas kesalahan yang Kaila lakuin," ujar Devi mengelus dengan lembut surai putri sulungnya. Kaila memandang sakit ke arah mamanya. Kaila sudah tidak lagi mendapatkan perlakuan lembut itu lagi sejak kejadian itu. Sudah tidak ada kata 'sayang' yang keluar dari mulut mamanya itu. Akhirnya Kaila mengikuti perintah kedua orangtuanya untuk menemani Dianti ke kampus. Ia mengeluarkan mobil dari dalam bagasi. Dianti pun masuk ke dalam mobil dibantu dengan mamanya. Setelah Dianti masuk, mobil itu bergerak meninggalkan kediaman. Selama perjalanan hanya keheningan yang menemani. "Gimana rasanya dicampakkan sama papa mama? Sakit yah?" celetuk Dianti dengan ekspresi meremehkan. Kaila tidak menanggapi ucapan Dianti dan memilih untuk fokus menyetir. Melihat Kaila tidak merespon pernyatannya, membuatnya sangat kesal. Ia pun mencoba untuk memancing emosi Kaila lagi. "Tapi kau tenang aja, ini baru permulaan. Setelah papa dan mama, aku akan buat orang yang kau sayangi hilang satu persatu dari hidupmu," ujar Dianti "Kakak kenapa sih? Jahat banget sama aku. Padahal aku sayang sama kakak. Kenapa kakak mau melakukan semua ini?" kesal Kaila yang sudah tidak tahan dengan semua akting Dianti. "Heh, masih nanya lagi. Sejak kelahiranmu kau udah jadi pembawa sial dalam hidupku. Kau merebut semua perhatian yang harusnya aku miliki. Terutama Irsyad. Harusnya aku yang jadiannya dengannya. Bukan dirimu," sinis Dianti "Hanya karena seorang laki-laki sampai membuatmu melupakan fakta kalau aku ini adikmu," sindir Kaila "Hei, jangan ngarep yah. Sejak kapan aku anggap kamu ini adikku?" protes Dianti memandang remeh pada Kaila. Bagai tertusuk ribuan jarum, hatinya begitu sakit kala mendengar perkataan Dianti. Jadi selama ini dia tidak dianggap sebagai adiknya? Padahal dia sangat menyayangi kakak satu-satunya itu. Ia lebih memilih diam dan tak menanggapi lagi perkataan Dianti. Akhirnya mereka sampai di halaman President University. Kaila duluan keluar untuk membantu Dianti keluar dari mobil. Ia dengan sigap menuntun kakaknya itu untuk duduk di kursi roda. Walaupun masih terasa sakit akan ucapan Dianti tadi, tetap saja ia harus berbaik hati menuntun kakaknya. Setelah kakaknya duduk di kursi roda, ia mulai mendorong kursi roda itu memasuki area kampus untuk menuju kelas Dianti. "Oh, jadi ini adik yang enggak tau diri itu. Yang buat kakaknya sampe celaka," celetuk salah seorang mahasiswa. Kaila tersentak dengan perkataan mahasiswa itu. Ia tahu siapa dia. Dia adalah teman dekat kakaknya, Vika. "Apa maksudmu mengatakan itu?" protes Kaila memandang tajam ke arah Vika. "Emang bener kan? Kamu penyebab kakakmu jadi lumpuh kayak gini," balas Vika sinis. "Oh, jadi dia penyebab Dianti kecelakaan" "Dasar adik durhaka" "Ihh, dasar enggak tau diri. Jahat banget sama saudara sendiri" "Temen-temen udah yah, jangan judge adikku lagi. Aku enggak apa-apa kok. Aku tetep sayang dengan adikku," celetuk Dianti dengan aktingnya lagi. Kaila tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya itu. Ia yakin, Dianti pasti sudah cerita dengan sahabatnya itu sehingga Vika itu langsung menudingnya. Walaupun ini bukan area kampusnya, tetap saja ia merasa terhina di sini atas perbuatan yang sama sekali tidak ia lakuin. "Kamu jangan terlalu baik dengan adikmu. Dia pantes mendapatkan ini semua. Tenang aja, karma pasti akan berlaku," sinis Vika Kaila lebih memilih mendorong kembali kursi roda itu menuju kelas kakaknya. Saat sampai di kelasnya, ia mendorongnya ke dalam dan berhenti tepat di slah satu bangku. Saat hendak berjalan keluar, tangannya dicekal oleh Dianti. "Bagaimana adikku sayang? Sakit banget yah?" ujar Dianti meremehkan. Kaila menghempaskan tangan Dianti. "Kau keterlaluan tau enggak," protes Kaila seraya berlalu keluar kelas dan berjalan ke taman. Kaila memilih duduk di salah satu bangku taman itu untuk menghindari kerumunan. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak keluar. "Kau harus kuat Kaila. Jangan sedih" *** Kurang lebih hampir dua jam ia menunggu kakaknya itu selesai kuliah. Kaila langsung beranjak menuju kelas Dianti untuk menjemputnya. Ia bisa melihat kakaknya itu sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Ia pun melangkah mendekati Dianti. "Eh, adikku udah datang nih. Aku duluan yah guys," ujar Dianti setelah melihat Kaila yang berjalan mendekatinya. "Kau enggak mau aku yang antar aja. Nanti kamu dicelakain lagi sama adik enggak tau diri kamu ini," celetuk Vika memandang sinis ke arah Kaila. Kaila memandang jengah ke arah Vika. "Maaf ya nona. Jika aku mau celakain kakakku udah dari tadi aja, pas nganter," protes Kaila "Aku pulang dulu yah," pamit Dianti "Iyah, hati-hati Dian" Mereka pun masuk ke dalam mobil dan melesat kembali ke rumah. Tugasnya sudah ia submit dalam bentuk file pdf. Untung saja dosennya mengerti dengan alasannya. Sesampainya di rumah, ia mendorong kembali kursi roda itu. Saat masuk ke dalam rumah, ia melihat mamanya sedang berbincang dengan Irsyad. "Irsyad?" "Kaila, aku cari tau tadi di kampus. Ku kira kamu masuk hari ini," ujar Irsyad seraya berdiri di hadapan Kaila. "Harusnya sih aku masuk. Tapi, aku harus anter kak Dianti ke kampusnya," balas Kaila "Oh gitu, kau udah enggak apa-apa Dian?" tanya Irsyad memandang ke arah Dianti. "Udah enggak apa-apa kok. Cuman kakiku sering agak lelah aja," jawab Dianti dengan senyuman malu. Kaila memutar bola matanya melihat reaksi Dianti yang seakan menggoda Irsyad. "Syukurlah. Oh iya sayang, kamu jadi kan pergi beli gaun?" tanya Irsyad "Jadi kok. Ayo," jawab Kaila "Kamu membeli gaun untuk apa?" tanya Dianti. Kalia bisa melihat ekspresi cemburu dari Dianti. "Sahabatku, Andhira berulang tahun hari ini. Jadi, dia mengundang kami untuk datang ke rumahnya," jawab Kaila yang sedikit senang memprovokasi Dianti. "Asik banget yah pasti. Coba aja aku diundang," balas Dianti dengan ekspresi sedih yang ia buat. "Kaila, kamu kan harus jaga Dianti," ujar Devi tiba-tiba. "Aku tau kok Ma. Tapi kan aku harus pergi ke acara ulang tahun Andhira, dia kan sahabatku," jawab Kaila "Ya sudah, kalau kamu mau pergi, ajak Dianti juga denganmu," titah Devi "Enggak bisa dong, Ma. Kak Dian kan enggak diundang oleh Andhira. Aku enggak bisa dong main ajak orang," tolak Kaila. Kaila sangat kesal karena mamanya terus-terusan membela Dianti. "Aku enggak apa-apa kok, Ma. Mungkin Kaila malu ngajak aku yang lumpuh gini," celetuk Dianti sedih. "Kakak jangan asal nuduh yah. Aku enggak pernah tuh kepikiran kayak gitu," sanggah Kaila "Udah! Kalau kamu enggak mau ajak Dianti, kamu juga enggak usah pergi," tegas Devi "Udahlah, sayang. Ajak aja Dianti, lagipula Andhira enggak akan memprotesnya karena dia kakakmu," tutur Irsyad menenangkan Kaila. "Ya udah deh. Kakak boleh ikut," ujar Kaila. "Yeay, makasih. Kalau gitu aku boleh kan ikut beli gaun juga, soalnya aku enggak punya gaun bagus di lemari," ucap Dianti Kaila memandang tidak percaya terhadap Dianti. Pasalnya, kakaknya itu punya banyak koleksi gaun baru di lemarinya. Karena setiap saat kakaknya itu pasti membeli baju atau gaun baru. Sedangkan Kaila tidak pernah melakukan hal itu. Ia hanya akan membeli baju atau gaun baru ketika akan mengahdiri suatu acara atau keperluan. "Iyah, boleh dong sayang. Kamu ikut aja dengan mereka. Tapi, apa kamu enggak cape?" tanya Devi dengan ekspresi khawatir. "Enggak kok Ma, aku enggak cape. Aku boleh ikut kan, Irsyad?" Dianti memandang sendu ke arah Irsyad. Irsyad memandang sebentar ke arah Kaila. Kaila pun menganggukkan kepalanya lemah. "Boleh kok" Akhirnya, mereka bertiga masuk ke dalam mobil Irsyad. Dianti duduk di belakang setelah dituntun masuk oleh mamanya. Mobil itu melesat menuju ke salah satu pusat pembelajaan di daerah Jakarta. Irsyad membantu menurunkan kursi roda milik Dianti dan menuntunnya ke kursi roda. "Ahh!" "Hati-hati!" Hatinya Kaila seakan memanas melihat adegan itu. Bagaimana tidak, Dianti pura-pura terpeleset untuk dipeluk oleh Irsyad. Saat Dianti akan jatuh, Irsyad dengan sigap memeluk pinggang Dianti. "Kau enggak apa-apa?" tanya Irsyad seraya meletakkan Dianti di kursi roda. "Aku enggak apa-apa, kok. Makasih yah Irsyad," jawab Dianti dengan malu-malu. "Kita masuk yuk," ajak Irsyad Kaila masuk duluan ke dalam tanpa mau mendorong kursi roda milik Dianti. Alhasil, Irsyad-lah yang mendorong kursi roda itu. "Kayaknya Kaila marah deh sama aku?" duga Dianti "Enggak kok, enggak apa-apa?" jawab Irsyad Mereka memasuki salah satu toko di sana. Kaila mulai melihat-lihat gaun di toko itu. Setelah menemukan satu yang cocok, ia pun segera memasuki ruang ganti. "Irsyad, bagaimana penampilanku?" tanya Kaila setelah keluar dari ruang ganti. "You're so beautiful honey. Oh my god, pacarku cantik banget sih," puji Irsyad yang sangat mengagumi kecantikan kekasihnya itu. "Makasih sayang" Kaila tersenyum malu karena pujian Irsyad. Dianti memandang kesal ke arah mereka. Dia memandang tajam ke arah Kaila. Ia sangat tidak suka dengan senyuman bahagia itu. "Kau sepertinya perlu kuberi pelajaran yah?" gumam Dianti Quote of the day: Jika kamu berani tuk jatuh cinta Maka kamu harus berani merasakan sakit hati oleh orang yang kamu cintai ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Ayo dong love and comment reader!! Supaya aku lebih semangat upnya!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN