Pengkhianatan(2)

1290 Kata
Happy Reading Pagi yang cerah tak secerah hati Kaila. Sungguh malam itu adalah malam yang paling menyakitkan baginya. Rasanya Kaila ingin menghilang dari dunia ini. Kaila sangat berharap kalau malam itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi kenyataan kembali menamparnya. Itu bukanlah mimpi. Buktinya, Irsyad yang biasanya datang untuk menjemputnya pagi ini tidak datang. Kaila pun sudah berusaha untuk menghubunginya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Hatinya tentu saja sakit. Kaila masih tidak menyangka kalau Irsyad tidak percaya padanya. Padahal baru kemarin Irsyad berjanji akan selalu mempercayai Kaila. Tapi ini? Bahkan sahabatnya sendiri tidak percaya padanya malam itu. Kenapa masalah selalu datang padanya? Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal itu, Kaila pun segera bersiap untuk berangkat kuliah karena dia ada jadwal pagi. Lagipula dia pasti akan bertemu dengan Irsyad atau Andhira. Kaila akan menjelaskan kembali kalau bukan dia yang salah. *** Sesampainya di tempat kampus, Kaila langsung pergi mencari Irsyad. Ia mencarinya di bagian jurusannya. Jaraknya cukup jauh, kalau berjalan sekitar lima belas menit. Namun, Kaila tidak memperdulikan hal itu. Yang penting hari ini ia harus menjelaskan sesuatu pada Irsyad. Sesampainya di gedung jurusan International Business Management, Kaila berjalan menuju kelas Irsyad. Saat sampai di sana ia melihat Irsyad yang sedang duduk sendirian. Kesempatan yang bagus untuk bicara berdua dengan Irsyad. "Irsyad!" Irsyad tidak menolehkan wajahnya karena dia tahu siapa yang datang. Melihat Irsyad yang tidak memberikan reaksi, Kaila langsung berdiri di hadapan Irsyad. "Irsyad, aku panggil kamu. Tapi kenapa kamu enggak jawab? Aku telpon tadi pagi juga kamu enggak angkat-angkat. Kamu kenapa sih?" protes Kaila "Heh, kamu masih nanya. Seharusnya kamu tau apa yang telah kamu lakukan," jawab Irsyad begitu dingin. Kaila tertegun dengan nada suara Irsyad yang begitu dingin. Selama mereka berpacaran, Irsyad tidak pernah bersikap seperti ini. "Kamu masih enggak percaya denganku?! Harusnya kamu tau aku yang salah atau bukan," tukas Kaila "Kaila, aku bisa aja percaya denganmu jika bukti itu enggak memperlihatkan kalau kamu yang salah. Tapi apa, bukti itu dengan jelas memperlihatkan kalau kamu yang mendorong Dianti. Aku hanya enggak habis pikir, Kaila yang aku kenal itu adalah gadis yang lembut dan baik hati. Tapi, bukti itu udah jelas memperlihatkan kalau kamu juga bisa jahat, dan lagi itu terhadap saudaramu sendiri," cerca Irsyad "Tapi, kamu itu pacarku. Kamu harusnya tau kalau aku enggak bersalah," protes Kaila "Hanya karena aku ini pacarmu bukan berarti harus membelamu kalau kamu berbuat hal yang salah. Udahlah, lebih baik kita jaga jarak dulu sampai kamu merenungi apa kesalahanmu," tukas Irsyad seraya berlalu dari hadapan Kaila. Kaila memandang kosong pada meja di depannya. Air matanya mengalir dan buru-buru diusap oleh Kaila. Ia berusaha menenangkan hatinya agar berfikir jernih. Jujur hatinya sangat sakit. Setelah bertemu dengan Irsyad, Kaila beranjak untuk kembali ke gedung fakultasnya. Saat memasuki area kelas, semua pasang mata menatapnya. Tak terkecuali Andhira. Kaila pun beranjak mendekati Andhira. "Andhira bisakah kita bicara?" tanya Kaila "Kalau kamu mau ngomong soal yang tadi malam mending enggak usah deh. Aku enggak mood bicarain hal itu," jawab Andhira seraya mengalihkan pandangannya dari Kaila. "Kamu juga masih enggak percaya denganku?! Aku pikir kamu mengenal siapa diriku. Karena kamu adalah sahabatku mestinya kamu lebih mempercayaiku," timpal Kaila dengan tatapan sedih. "Udahlah, aku udah bilang kan enggak mau bicarain soal itu. Lagipula dosen lagi bentar datang," keluh Andhira Dan benar saja dosen mereka telah masuk. Kaila pun mengurungkan niatnya dan beranjak untuk duduk di kursinya. Selama penyampaian materi oleh dosennya, sungguh pikirannya tidak bisa fokus. Akhirnya kuliahnya selesai. Kaila pun buru-buru mengejar Andhira begitu melihat Andhira keluar duluan dari kelasnya. "Andhira! Andhira tunggu!" teriak Kaila "Ada apa lagi sih Kai? Aku udah bilang kalau aku enggak mau bicarakan itu dulu," keluh Andhira "Aku hanya ingin kamu percaya denganku kalau bukan aku yang salah. Kamu benar-benar harus percaya denganku," jelas Kaila "Aku bakal percaya kalau buktinya enggak seperti itu. Tapi...." "KAILA!" Kaila maupun Andhira segera menolehkan wajahnya pada seseorang. "Ada apa Davira?" tanya Kaila "Pa-pacarmu sedang berkelahi dengan kak Emil di lapangan fakultas hukum," papar Davira dengan napas ngos-ngosan. Seketika Kaila langsung berlari menuju lapangan itu. Andhira pun juga ikut berlari. Saat sampai di sana, betul saja Irsyad dan Emil sedang berkelahi hebat. Mereka saling melayangkan baku hantam. Kaila pun segera mendekati mereka. "KALIAN STOPP!!" teriak Kaila hingga kedua pria itu berhenti dari aksi berkelahinya. Bahkan semua orang langsung menatap ke arah Kaila. "Wah, itu dia penyebabnya" "Enggak tau malu banget sih" Kaila cukup terkejut dengan komentar para mahasiswa. "Kenapa kalian berkelahi?! Kalian kan sahabatan?!" geram Kaila "Heh, kamu hebat juga yah Kai. Kenapa? Kamu benci denganku karena mendiamimu hingga hatimu cepat berpaling pada cowok lain. Dan lagi itu adalah sahabatku sendiri?!" murka Irsyad "A-Apa maksudmu Irsyad?! Aku enggak ngerti," jawab Kaila yang sungguh bingung dengan situasi itu. "Jangan pura-pura lagi. Kamu selingkuh kan dengan Emil?" tuduh Irsyad "Apa?! Kamu bercanda?! Aku mana mungkin akan selingkuh dengan cowok lain apalagi itu sahabatmu sendiri," sanggah Kaila "Cih, mana ada maling yang mau ngaku. Semuanya udah tau kalau seorang Anulika Kaila itu bukan cewek yang baik-baik. Satu cowok aja enggak cukup. Eh, malah ambil cowok lain. Dan lagi tuh cowok sahabat cowoknya sendiri," sindir Luna yang tiba-tiba muncul di tengah kerumunan itu. "Kamu jangan asal nuduh yah! Darimana kamu mendapat informasi enggak jelas itu?!" protes Kaila "Liat aja di forum mahasiswa. Semuanya ada di situ," balas Luna dengan senyum liciknya. Kaila langsung membuka forum mahasiswa di ponselnya. Kaila langsung melebarkan matanya melihat beberapa foto yang menampilkan dirinya dan Emil. Tapi itu saat Emil mengantarnya pulang malam hari itu. "Ini semua bohong. Ini semua udah dimanipulasi. Malam itu kak Emil cuman mengantarku pulang ke rumah. Karena enggak ada yang anterin. Setelah itu enggak terjadi apa-apa," ungkap Kaila "Kaila bener. Aku dan Kaila enggak ada hubungan apa-apa. Malam itu aku murni hanya mengantarnya pulang karena pacarnya sendiri enggak peduli dengannya malam itu," jelas Emil Irsyad memandang penuh amarah pada Emil. "Terus bagaimana kakak menjelaskan foto yang kalian berciuman itu?" tanya Luna "Itu semua hanya editan. Saat itu aku hanya memegang Kaila yang hampir jatuh karena kepalanya pusing. Enggak lebih kok. Pasti ada orang yang sengaja mengambil keuntungan dari ini semua," papar Emil "Irsyad kamu percaya kan denganku kalau bukan aku selingkuh darimu," ujar Kaila seraya menghadap ke arah Irsyad. "Maaf Kai. Aku udah enggak bisa," ucap Irsyad "A-Apa maksudmu?!" tanya Kaila "Kurasa kita udah enggak bisa pertahankan hubungan ini. Lebih baik kita putus," jelas Irsyad 'deg' "A-Apa kamu bilang?! Putus?! Tapi kenapa?! Aku udah jelasin. Bahkan kak Emil juga udah jelasin kalau kita ini enggak selingkuh. Tapi kenapa kamu mengatakan putus denganku?!" protes Kaila dengan air mata yang mengalir. "Sulit untukku percaya lagi setelah ini. Aku enggak bisa. Maaf kita harus putus," ujar Irsyad "Jangan ucapkan kata 'maaf' kalau pada akhirnya kamu yang membuatku sakit. Apa hanya segini cinta yang kamu miliki untukku? Apa selama ini hubungan kita enggak memberikan rasa apa-apa padamu? Hingga hanya karena hal ini, membuat cintamu hilang padaku," lirih Kaila dengan air mata yang terus mengalir. "Irsyad, kamu enggak bisa gini dong. Aku kan juga udah jelasin semuanya. Apa bahkan denganku kamu enggak percaya, hah?!" protes Emil Bukannya menjawab Irsyad langsung beranjak dari sana. Kaila menatap kepergian Irsyad dengan penuh luka. Semakin jauh tubuh itu berjalan, semakin sakit pula hati itu. "Hej, rasain siapa suruh jadi cewek kecentilan banget. Semua cowok mau diembat," hina Luna "Luna! Bisa enggak sih kau jaga mulutmu. Jangan buat suasana makin rusuh lagi," bentak Emil Kaila melihat Andhira yang berbalik menjauh darinya. Apakah semua orang meninggalkannya? Orang tua, sahabat, bahkan pacarnya sudah menjauhinya. Apakah ia tidak akan bahagia lagi? Quote of the day: Pengkhianatan lebih menyakitkan daripada marathon bertelanjang kaki, kau tau? Katakan padaku apa yang lebih buruk daripada seorang saudara yang merebut kekasihmu sendiri. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa tinggal jejak kalian dengan follow dan comment yahh!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN