Pengkhianatan(3)

1977 Kata
Happy Reading Kaila kembali ke rumahnya dalam keadaan lesu. Matanya cukup bengkak karena sedari tadi menangis. Ia masih tidak menyangka kalau hubungannya dengan Irsyad akan berakhir secepat ini. Apakah sudah tidak harapan lagi akan hubungannya? "Sepertinya ada yang udah putus nih," celetuk Dianti dengan pandangan angkuh. Kaila langsung menghampiri Dianti yang sedang menonton televisi. Kaila memandang geram pada kakaknya itu. "Kakak puas hah?! Gara-gara kakak, Irsyad jadi memutuskanku. Kenapa kakak jahat banget sih?! Enggak cukup kejadian malam itu sampai kakak harus fitnah aku berhubungan dengan kak Emil. Kenapa sih?! Aku enggak habis pikir dengan kakak," geram Kaila dengan tatapan tajam. "Cih, bukankah aku udah memperingatkanmu sebelumnya. Aku udah bilang padamu untuk menjauh dari Irsyad. Tapi, kau enggak mau mendengarkanku kan. Itu salahmu sendiri, makanya jadi cewek enggak usah tebar pesona kesana-kesini," hina Dianti dengan pandangan sinis. "Kakak jahat banget sih!" protes Kaila "Aduhhh!" Seketika Kaila terkejut dengan tingkah Dianti yang tiba-tiba. Padahal dia tidak ada menyentuh Dianti. Kenapa tiba-tiba dia mengaduh kesakitan. Apakah dia mau akting lagi? Tapi tak ada siapa-siapa di rumah. Hingga sebuah suara di belakangnya mengejutkan dirinya. "Dianti, ada apa Nak?" tanya Devi yang hadir dari belakang dan langsung menghampiri anak sulungnya itu. "Kaila marah denganku karena dia mengira aku yang menyebabkan dia putus dengan Irsyad," lirih Dianti dengan air mata kebohongannya. "Kaila! Bagaimana bisa kamu menuduh kakakmu seperti itu?! Kalau hubunganmu putus dengan Irsyad, itu pasti kesalahanmu sendiri. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu buat," murka Devi "Mama enggak bisa dong langsung nyalahin aku. Emang bener kok, gara-gara fitnahan kak Dianti padaku, Irsyad jadi memutuskanku. Asal mama tau, kak Dianti menuduhku selingkuh dari Irsyad. Padahal itu adalah kak Emil, sahabatnya Irsyad. Mana mungkin aku selingkuh dengannya, " ungkap Kaila "Kok kamu nuduh aku yang melakukannya. Emang aku tau kamu dekat dengan Emil? Enggak kan," sanggah Dianti "Dianti bener. Bagaimana bisa kamu berspekulasi kayak gitu. Udahlah, sekarang kamu masuk ke kamar dan renungkan masalah kamu. Jangan berharap bisa keluar hari ini," perintah Devi "Tapi Ma...." "Masuk!" Kaila pun menuruti perintah itu dan segera masuk ke kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya, tubuhnya langsung merosot ke bawah. Kaila menekuk lututnya dan membenarkan wajahnya. Isakan mulai keluar dari bibir manisnya. *** Pagi harinya Kaila terbangun dengan mata yang sembab. Bahkan bibirnya tampak pucat. Sejak kemarin Kaila juga tidak keluar dari kamarnya. Alhasil, dari kemarin ia pun tidak makan apapun. Tak ada satu orang pun yang peduli dia sudah makan atau belum. Biasanya jika dia telat saja makan, mamanya pasti datang ke kamar mengantarkan makanan untuknya. Tapi sekarang hal itu tidak terjadi ;agi. Kaila menarik napas dalam-dalam dan mencoba membuat dirinya tenang. Lagipula dia ada jadwal kuliah pagi ini. Nanti Kaila akan membuat makanan sendiri di dapur. Setelah selesai menyiapkan keperluan kuliahnya, Kaila pun turun untuk membuat sarapan untuk dirinya. Namun pandangan di depannya membuatnya mengurunngkan niatnya untuk membuat sarapan. Bagaimana tidak, ia melihat sosok Irsyad yang sedang menyuapi Dianti. Kaila mengambil langkah mendekati Irsyad dan Dianti. "Irsyad, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaila "Aku meminta Irsyad untuk datang menemaniku check up di rumah sakit," jawab Dianti Sakit. Itulah yang dirasakan Kaila. Ternyata Irsyad begitu perhatian dengan Dianti. "Bukannya kakak biasanya pergi bareng mama?" tanya Kaila "Mama lagi sibuk. Lagipula Irsyad juga mau kok. Iyakan Irsyad?" tutur Dianti "Iyah, aku yang mau anterin Dianti. Emang kenapa?" tanya Irsyad Kaila merasakan dadanya teramat sakit melihat tatapan dingin Irsyad padanya. "Enggak apa-apa kok. Kalau gitu, aku pergi dulu," balas Kaila seraya membalikkan badannya untuk pergi. Air matanya ingin keluar tapi Buru-buru ia tahan. Baru saat akan berbalik, suara Dianti mengintrupsinya. Kaila pun menarik napas yang dalam dan menoleh ke arah Dianti. "Ya, ada apa kak?" tanya Kaila "Kau mau ke kampus kan?" tanya Dianti "Iya, emang kenapa?" tanya Kaila yang sudah sedikit jengah. Sungguh ia saat ini tidak ingin menatap wajah Irsyad. "Kalau gitu bareng kita aja. Tapi kau harus ikut temenin aku check up ke rumah sakit dulu," jawab Dianti "Enggak perlu. Waktunya mepet. Kalian pergi aja. Aku pamit," balas Kaila seraya kembali berjalan keluar. "Kayaknya Kaila marah yah denganku? Padahal aku ingin bersikap baik padanya," lirih Dianti dengan wajah sedih buatannya. "Kau enggak perlu pikirin dia. Ayo, kita harus ke rumah sakit," ajak Irsyad "Hmm, ayo" *** "Baiklah, anak-anak sampai di sini dulu pertemuan kita. Ingat tugas yang saya berikan harus kalian kerjakan secara berkelompok minimal dua orang" "Baik pak" Setelah dosen itu keluar, para mahasiswa kelas II-A Interior Design langsung sibuk mencari pasangan untuk bekerja kelompok. Kaila pun menoleh ke arah Andhira. "Andhira, kita satu kelompok yuk," ajak Kaila "Maaf yah Nona. Andhira itu satu kelompok denganku," celetuk Luna "Apa benar itu Andhira?" tanya Kaila "Iyah, Luna bener," timpal Andhira tanpa memandang wajah Kaila. "Bukannya biasanya kita akan satu kelompok. Kenapa sekarang kau enggak mau satu kelompok denganku lagi?" tanya Kaila "Heh, kau pikir siapa yang mau satu kelompok dengan seorang pembunuh kayak dirimu. Hih, amit-amit deh," hina Luna "Apa maksudmu mengatakan itu?! Aku bukan pembunuh," geram Kaila "Semua orang juga udah tau kali kalau kau itu orang yang ingin membunuh saudaranya sendiri," sindir Luna "Itu hanya kesalahpahaman. Itu enggak bener," sanggah Kaila "Kalau itu cuman kesalahpahaman, pastinya kak Dianti akan langsung mengkonfirmasinya," balas Luna "Udah! Stop! Kaila, aku enggak mau kita berteman lagi. Mending kau menjauh dariku. Aku enggak mau berteman dengan seorang penjahat. Kau dengan mudah menyakiti sanudaramu, apalagi aku yang hanya sahabatku," tukas Andhira "Itu enggak bener Dhira. Kau harusnya percaya denganku," balas Kaila "Aku udah enggak mau denger apa-apa darimu lagi. Jangan mendekatiku lagi. Ayo Luna kita pergi," ujar Andhira seraya berlalu dari hadapan Kaila "Bye bye" Luna memandang Kaila dengan tatapan mengejek. Semua mahasiswa itu juga pergi dari hadapan Kaila. Kaila menarik napas yang dalam. Ia harus sabar. Ini ujian untuknya. "Hai, kau mau satu kelompok denganku?" tanya seorang perempuan yang muncul di hadapan Kaila. "Davira? Enggak apa-apa kok. Aku enggak apa-apa mengerjakannya sendiri tanpa kelompok. Kau jangan mengasihani diriku," balas Kaila seraya memberikan peralatannya di atas meja.  "Siapa yang mengasihanimu? Aku juga belum dapat kelompok. Lagipula susah tau kalau sendiri. Belum mikirin konsepnya, cari bahannya lagi yang susah, apalagi nanti pengerjaanya, susah tau kalau cuman sendirian. Bagaimana? Kita satu kelompok aja. Aku janji akan menjadi partner kerja yang baik, "ajak Davira "Kau yakin mau satu kelompok denganku? Yang lain aja pada menjauhiku. Kau harusnya ikut menjauh juga," balas Kaila "Kaila, aku bukan orang yang akan berpikiran sempit hanya Karena satu video itu. Sekarang semua hal bisa dengan mudah dimanipulasi. Aku percaya kok denganmu," timpal Davira "Entah kenapa perkataanmu membuatku jadi semangat lagi. Makasih yah kalau kau percaya padaku," ujar Kaila "Terus bagaimana? Kau setuju kan, kita satu kelompok?" tanya Davira "Hmm, tentu saja. Lagipula kau sangat hebat di bidang tata ruang," jawab Kaila "Baiklah. Kalau gitu, mau ke kafe enggak sekalian mikirin konsep yang akan kita gunakan?" tawar Davira "Boleh. Ayo" Kaila dan Davira berjalan beriringan menuju ke tempat parkiran. Namun, lagi dan lagi Kaila harus merasakan sakit di dadanya begitu melihat Irsyad bersama dengan Dianti. Ternyata Irsyad membawa Dianti ke kampusnya. Bisa Kaila lihat kalau Irsyad seperti berbicara sesuatu pada Dianti sebelum pergi ke arah lain. Hatinya sangat sakit ketika melihat Irsyad yang mengusak rambut Dianti. "Kau enggak apa-apa kan?" tanya Davira. Tentu saja Davira tahu berita tentang Kaila yang sudah putus dengan Irsyad. Karena berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kampus. Karena bisa dibilang kalau mereka adalah pasangan yang goals. Dengan Irsyad yang sebagai pangeran kampus berpacaran dengan si jenius desain Interior. Kaila mengangguk seraya tersenyum lemah. Namun ponselnya tiba-tiba berdering dan menampilkan nama 'Kak Dianti'. Ingin sekali Kaila tidak menjawab panggilan itu. Tapi Kaila tahu, jika Kaila tidak menjawab panggilan itu, bisa-bisa pulang nanti ia akan mendapat amukan dari orang tuanya. Sungguh kakaknya itu benar-benar Drama Queen. "Ya, halo kak. Ada apa?" tanya Kaila ["Aku tau kau ada di kampus sekarang. Aku udah siluet dirimu yang sedang berdiri bersama temanmu di parkiran. Cepat ke sini"] "Kakak mau ngapain? Aku masih ada urusan ini," tolak Kaila ["Oh, kau berani menolak? Baiklah, jangan salahkan aku jika saat pulang nanti kau akan mendapatkan hukuman yang berat dari papa dan mama"] "Okey, okey. Kakak tunggu di sana," balas Kaila "Ada apa Kai?" tanya Davira "Kakakku menyuruhku untuk menemuinya. Aku ke sana bentar yah," jawab Kaila "Ouh, okey. Ayo aku temenin ke sana," balas Davira "Hmm" Kaila dan Davira berjalan ke arah taman tempat Dianti berada. Jaraknya tidak cukup jauh dari area parkiran. Oleh karena itu, Dianti bisa melihat siluet tubuh Kaila. "Eh, kau duluan aja Kai. Aku mau terima telpon dulu," celetuk Davira karena ponselnya tiba-tiba berdering. "Oh, okey" Kaila kembali berjalan mendekati Dianti. "Ada apa kak?" tanya Kaila begitu sampai di hadapan Dianti. "Aku hanya mau bilang kalau ini semua belum berakhir. Masih banyak penderitaan yang akan Ku berikan padamu. Jadi, siap-siap aja yah," ujar Dianti "Heh, kakak benar-benar bukan seorang manusia. Apakah kakak adalah iblis? Mana hati nurani kakak. Padahal kita adalah saudara kandung. Tapi sepertinya kakak benar-benar enggak punya hati yah. Rasa malu pun enggak ada. Sampai-sampai mau bersikap seperti seorang j*la*g hanya untuk mengambil pacar adiknya sendiri," hina Kaila yang sudah tidak tahan dengan perilaku Dianti. "Apa kau bilang?! Ku berani?! AHH!" teriak Dianti yang kesakitan karena terjatuh dari kursi roda. Jangan salahkan Kaila karena itu adalah murni kesalahan Dianti yang ingin memukul Kaila tanpa ia sadari kalau ia tidak bisa berjalan. Baru akan menolong Dianti, suara teriakan tiba-tiba terdengar. "Kak Dianti!" teriak Andhira Kaila cukup terkejut dengan kehadiran Andhira beserta Luna. Andhira membantu Dianti untuk duduk kembali di kursi rodanya. "Hei, apa yang kau lakukan?! Kau mau mencelakakan kakakmu lagi?! Benar-benar pembunuh nih anak," hardik Luna 'plak' "Please watch your mouth. Kau enggak ada di sini, jadi kau enggak tau apa yang telah terjadi. Jangan asal menuduh," murka Kaila seraya menampar wajah Luna. Luna cukup terkejut dengan tamparan itu. Ia tidak berpikir kalau Kaila akan menamparnya. Jujur Luna jadi sedikit takut dengan tatapan Kaila. "Emang kita enggak ada di sini. Tapi apa yang kita liat udah membuktikan kalau kau yang salah Kaila," ucap Andhira "Kau benar-benar enggak mengenal diriku Andhira. Asal kau tau, kak Dianti yang ingin memukulku, tapi dia lupa kalau ia sedang lumpuh. Alhasil, dia jadi jatuh," ungkap Kaila "Aku memukulmu sebagai kakak. Aku hanya enggak nyangka kau bisa berselingkuh dari Irsyad. Padahal Irsyad udah sangat baik padamu. Dan lagi kau berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Apa kau Ingin merusak hubungan pertemanan mereka?" sanggah Dianti "Heh, kak Dianti bener. Kau emang harus dipukul. Biar sadar akan kesalahanmu. Dasar j*la*g," hina Luna "Cih, kau pikir kau siapa? Two faced. Kau pikir aku enggak tau alasan kau mendekati Andhira. Kau hanya ingin numpang tenar. Baps. Benar-benar benalu," hina Kaila kembali. Luna yang tidak terima dihina seperti itu langsung ingin menampar wajah Kaila. Namun tangannya dengan cepat ditahan oleh seseorang. 'grep' "Jangan seenaknya menampar orang. Emang bener kok yang dikatakan Kaila. Karena jika kau marah, berarti emang bener kan kau itu benalu," sindir Davira seraya menghempas tangan Luna. "Auw, sakit. Heh, cupu. Kau pikir siapa dirimu, hah? Kau itu hanya anak beasiswa. Jadi jangan sok di sini," hardik Luna "Kau..." Kaila menahan Davira yang ingin membalas Luna. "Terus kenapa kalau anak beasiswa? Bukan hal buruk kan? Mereka masuk ke sini murni karena jerih payah mereka sendiri. Bukan yang seperti seseorang yang akan menghalalkan segala cara untuk masuk ke sini. Jujur aku iri dengan anak beasiswa. Karena apa? Karena mereka enggak perlu nyusahin orang tua mereka untuk kuliah, dan terlebihnyta enggak perlu jadi benalu untuk orang lain," jelas Kaila "Udahlah Kai. Mending kita pergi dari sini. Enggak usah berurusan dengan orang yang enggak penting," ajak Davira seraya berjalan menjauh bersama Kaila. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang dari awal memperhatikan interaksi itu. Orang itu tersenyum lemah. Quote of the day: Kepercayaan diperoleh bukan dengan banyaknya perkataan. Melainkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan love dan comment nya reader!!! See you in next Chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN