Happy Reading
"Kaila! Akhirnya kau masuk kampus juga. Kau kemana aja dua hari ini? Aku cari-cariin tau," celetuk Davira saat melihat Kaila yang memasuki ruang kelas.
Kaila tersenyum haru karena mengetahui ada lagi orang yang mengkhawatirkannya. Benar kata Arcel kalau masih ada orang yang sayang padanya.
"Sebenarnya dua hari lalu aku kecelakaan. Jadi aku dirawat di rumah sakit selama dua hari ini," jawab Kaila
"Apa?! Kecelakaan?! Kok bisa sih?! Kau enggak apa?! Masih sakit kah?!" tanya Davira bertubi-tubi seraya memutar-mutar tubuh Kaila.
"Eihh, aku udah enggak apa-apa kok. Beneran," balas Kaila yang sedikit pusing karena diputar-putar oleh Davira.
Kaila tersenyum lucu karena ekspresi khawatir Davira. Davira benar-benar peduli padanya. Sungguh ia beruntung saat ini memiliki teman seperti Davira. Tapi, Kaila masih cukup menjaga jarak dari Davira. Bisa dibilang ia cukup trauma dengan hubungan pertemanannya dengan Andhira.
"Syukurlah jika begitu. Tunggu kau agak sehatan deh. Baru kita lanjutin kerja kelompoknya," timpal Davira
"Iyah makasih yah Davira," balas Kaila
"Ohh yah, ada berita yang lagi heboh tau di kampus kita," tutur Davira
"Berita heboh apa?" tanya Kaila
"Kampus kita kedatangan seorang dosen baru. Dan lagi rumornya itu dia masih muda dan ganteng banget lagi," jawab Davira
Kaila tertawa melihat ekspresi Davira yang menggebu-gebu menceritakan gosip baru di kampusnya. Ia sedikit tidak menyangka kalau seorang Davira Falisha yang notabene-nya dijuluki sebagai seorang kutu buku ternyata bisa jadi tukang gosip juga.
"Kok tertawa sih?" protes Davira dengan bibir yang digembungkan.
"Maaf maaf. Aku lucu aja ternyata kau bisa gosip juga," ujar Kaila
"Eihh, aku kan juga seorang manusia. Apalagi aku ini seorang perempuan pastinya punya jiwa-jiwa gosip," balas Davira
"Okey, terus apa jurusan dosen itu?" tanya Kaila
"Jurusannya itu desain tata ruang," jawab Davira
"Bukannya udah ada pak Indra yah? Kemarin dia ada kan waktu beri kita tugas kelompok," timpal Kaila
"Kau kan enggak masuk dua hari ini jadi enggak tau beritanya. Pak Indra itu udah pindah ke Australia karena ada kerja utamanya ada di sana," jelas Davira
"Oh iya juga sih. Pak Indra kan cuma dosen sementara di sini," balas Kaila
"Itu kau tau," ujar Davira
"Oh yah, bukannya jadwal pagi ini desain tata ruang?" tanya Kaila
"Yap, kau benar," balas Davira
"Berarti dosen baru itu akan masuk dong hari ini?" tanya Kaila kembali.
"Iyah. Kenapa? Sepertinya kau juga tertarik dengan dosen baru itu?" selidik Davira
"Ish, apaan sih Davira. Aku kan cuma tanya," balas Kaila
Davira menertawakan tingkah lucu Kaila yang seperti salah tingkah. Entah kenapa rasanya jantungnya berdecak begitu cepat. Padahal ia belum pernah bertemu dengan dosen baru itu.
Akhirnya jam masuk mulai berbunyi dan semua mahasiswa mulai masuk ke dalam kelas mereka. Banyak dari teman kelasnya sudah berdandan cukup nyentrik. Kaila tahu mereka pasti ingin mencari perhatian dari dosen baru itu.
'tap-tap'
Terdengar suara sepatu pantopel mulai memasuki ruang kelasnya. Seisi kelas mulai memekik terutama para kaum hawa yang tak tahan dengan ketampanan dari si dosen baru. Beda halnya dengan Kaila, bukannya memekik justru ia malahan menampilkan ekspresi terkejut.
Dosen baru itu berdiri di hadapan semua mahasiswanya. Saat ia menampilkan senyumannya semua kaum hawa itu berteriak histeris.
"Assalamualaikum semuanya. Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Arcel Andhra. Saya di sini bertugas sebagai dosen tata ruang yang akan menggantikan tugas pak Indra Jayadi. Semoga ke depannya kita bisa bekerja sama dengan baik," ujar Arcel seraya menampilkan senyumnya yang menawan.
"Sebelum kita mulai pada materi hari ini. Ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Arcel
"Kami sebaiknya panggil anda dengan sebutan apa? Sepertinya anda sangat muda untuk dipanggil 'pak'," tanya Juna yang merupakan ketua kelas.
"Terima kasih karena menganggap saya muda. Kalian bisa memanggil saya kak Arcel," jawab Arcel
"Umur kakak berapa? Dan apa pendidikan terakhir kakak?"
"Umur saya 25 tahun dan saya sudah S3," jawab Arcel kembali.
"Wuihhh, udah S3 diumur segitu. Hebat yah"
Para mahasiswa itu memandang kagum pada sosok Arcel.
"Ada lagi?"
"Kak Arcel udah punya pacar enggak?" tanya Luna dengan gaya centilnya.
"Idihh, tuh cewek enggak bisa banget liat yang bening. Langsung aja mau diembat," sindir Davira
Kaila terkikik mendengar sindiran Davira. Memang benar sifat Luna seperti itu kalau melihat pria tampan. Oleh karena itu, Luna sangat membenci Kaila karena semua pria yang diincarnya lebih memilih Kaila.
"Saya tidak punya pacar. Tapi saya sudah mempunyai orang yang saya cintai," ucap Arcel seraya menatap dalam pada wajah Kaila.
Seketika Kaila tertegun dengan tatapan itu. Entah kenapa ia terpaku dengan tatapan Arcel yang begitu dalam. Jantungnya pun berdetak dengan kencang. Arcel pun mengalihkan tatapan itu seraya tersenyum kembali pada mahasiswanya.
"Baiklah, sampai di sini dulu perkenalannya. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, kalian bisa tanyakan di kesempatan berikutnya. Oke, kita sekarang masuk ke materi," ujar Arcel
Arcel melangkah duduk di kursinya. Arcel menatap kembali pada Kaila yang menundukkan kepalanya. Ia sedikit tertawa akan hal itu. Ia tahu kalau Kaila pasti terkejut melihatnya.
"Ketua kelas, tugas terakhir dari pak Indra adalah tugas kelompok mengenai desain penataan ruang suatu kantor, kan?" tanya Arcel
"Iyah kak. Itu tugas terakhir yang diberikan pak Indra," jawab Juna
"Kalian sudah tahu tidak reward untuk desain yang terpilih?" tanya Arcel
"Belum tahu kak. Emang ada?"
"Tentu saja. Bagi desain yang terpilih nanti, desainnya itu akan digunakan untuk penataan salah satu ruangan di perusahaan TM Group," ungkap Arcel
"Wah, TM Group. Bukannya itu perusahaan teknologi yang sedang viral di dunia?"
"Wuihh, hebat bagi yang menang nanti"
Arcel tersenyum penuh makna.
"Oleh karena itu, kalian harus bersungguh-sungguh dalam tugas kali ini. Karena bagi yang lolos nanti, akan menjadi tolak ukur untuk menjadi seorang desainer interior yang berbakat. Kalian akan semakin dipandang nantinya. Apalagi soal pekerjaan, banyak perusahaan yang akan mengincar kalian," papar Arcel
"Wah, hebat juga yah. Tapi, kak kita kan baru semester empat, memang tidak apa-apa kah kita yang melakukannya? Lagipula hal sebesar ini, bukannya dilimpahkan pada yang semester enam ke atas?" tanya Juna
"Pemikiranmu tidak salah. Tapi apa salahnya jika kita mengambil yang semester empat? Bukannya banyak dari kalian yang sangat berbakat padahal baru semester empat. Saya sudah melihat mahasiswa-mahasiswa semester di atas kalian. Tapi, kemampuan mereka masih biasa saja. Jadi, mulai sekarang kalian jangan nyerah meskipun semester kalian masih baru. Tingkatan kelas bukan berarti lebih hebat," jelas Arcel
"Baik kak"
***
Akhirnya mata kuliah itu selesai dalam dua jam. Berkali-kali Kaila harus menahan keguguran karena terus ditata oleh Arcel. Arcel selalu punya kesempatan untuk mendekati Kaila. Arcel yang mendekati Kaila saat menulis dan Arcel yang menyuruh Kaila untuk membantunya menulis di papan.
"Sumpah, baru kali ini aku semangat untuk mengikuti pelajaran desain tata ruang. Bukan karena kak Arcel yang tampan yah. Tapi, cara dia ngajar tuh enak banget. Cepet banget ngeresap di otak," puji Davira
"Iyah, kau benar. Cara dia ngajar itu santai. Jadi kita semua juga enak terima materi dari yang dia ajarkan," tambah Kaila
"Eh, aku ke toilet dulu yah. Baru nyadar kebelet," ucap Davira
"Okey, pergilah. Aku tunggu di dekat parkiran yah," balas Kaila
"Okey"
Davira langsung beranjak ke toilet. Kaila dan Davira sudah ada janji untuk mengunjungi salah satu ruangan kantor yang kosong dan sesuai dengan ukuran yang akan mereka gunakan. Hal itu mereka lakukan untuk memikirkan desain yang cocok.
"Hei, j*al*ng berhenti!"
Kaila langsung menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang tiba-tiba menghinanya. Kaila langsung tersenyum remeh melihat siapa yang baru saja menghinanya.
"Berapa kali harus kubilang padamu untuk menjaga mulutmu itu. Apakah tamparan tempo lalu masih kurang?" geram Kaila
"Pegangin tangannya," perintah Luna pada kedua temannya.
"Hei, apa yang mau kalian...."
'plak'
Satu tamparan melayangkan di pipi mulusnya Kaila.
"Ini untuk tamparanmu yang kemarin," ujar Luna
'plak'
Tamparan itu kembali dilayangkan di pipinya.
"Ini untuk sikap kurang ajarmu pada kak Dianti," ujar Luna
Di saat ingin menampar Kaila kembali, tangannya Luna ditahan oleh seseorang.
"K-Kak Arcel?!"
Mereka bertiga langsung terkejut melihat sosok Arcel yang memandang mereka dengan dingin.
Seketika kedua teman Luna langsung melepas genggaman mereka pada Kaila. Kaila juga memandang terkejut pada sosok Arcel.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arcel dengan nada dingin.
"I-itu kak, Luna yang menyuruh kami"
"Eh?! Kok kalian malah nuduh aku sih?!" pekik Luna yang terkejut karena mereka langsung mengatakan yang sebenarnya.
"Karena kalian sudah melakukan tindakan kekerasan pada mahasiswa lain. Kalian harus menghadap rektor sekarang," tukas Arcel
"Rektor?! Ja-jangan kak. Kita akan minta maaf sama Kaila"
"Kaila maafin kita yah. Kita sebenarnya enggak mau melakukan hal ini. Ini perintah Luna"
Kaila tidak memberikan respon apa-apa.
"Sudah! Sekarang kalian bertiga ikut saya ke ruang rektor. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian," perintah Arcel
"Tapi kak...."
"Kaila, kamu pergi ke ruang kesehatan. Nanti saya nyusul yah," ujar Arcel seraya membawa ketiga mahasiswa pembully tersebut.
Kaila memandang haru pada sosok Arcel. Sungguh Arcel sudah menyelamatkannya. Hatinya langsung menghangat.
Tanpa Kaila sadari ada sosok yang memandang geram pada peristiwa itu.
Quote of the day:
Kedatangannya bagai plester yang menutup luka di hatiku. Aku berharap kau selalu bisa menutupi luka ini
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Jangan lupa untuk follow dan comment nya reader!!!
See you in next chapter!!!