Happy Reading
Seorang wanita tengah duduk di sebuah ranjang dan memandang ke arah luar jendela. Beberapa kali wanita itu terlihat menghelakan napasnya. Terlihat di wajahnya seperti menanggung beban yang begitu berat.
'cklek'
"Kaila, kamu enggak apa-apa?"
Suara pintu dan seseorang membuat wanita itu menoleh. Ia hanya menampilkan senyuman yang sendu.
"Enggak apa-apa. Cuma nyeri dikit," jawab wanita bernama Kaila itu pada sosok pria di hadapannya.
"Sini kulihat"
'deg'
Kaila merasakan jantungnya berpacu begitu cepat. Wajah pria itu terlalu dekat dengannya. Padahal mereka bisa dibilang baru berkenalan, tapi Kaila merasakan perasaan yang akrab dengannya. Dan apalagi ini? Kenapa ia merasa seperti jatuh cinta kembali? Belum genap sebulan dia putus dengan Irsyad.
"U-udah enggak apa-apa kok. Aku baik-baik kak," gagap Kaila seraya menundukkan kepalanya karena malu.
"Apanya enggak apa-apa? Pipimu memar tau. Bentar," protes Arcel seraya ikut duduk di ranjang ruang kesehatan.
Arcel mengambil sebuah salep pereda nyeri di sakunya. Ia mengoleskan sedikit di jarinya dan mengusapnya perlahan di pipi Kaila. Kaila merasakan waktunya berhenti. Ia terpaku pada sosok Arcel. Mata bulat, hidung mancung, bibir yang kissable, garis wajah yang begitu tegas dan yang membuatnya spesial adalah telinganya yang agak lebar sedikit.
Dalam hati Kaila memuji ketampanan yang dimiliki sosok Arcel. Sudah tampan, baik, pintar lagi. Sungguh sepertinya Tuhan tersenyum indah kala memciptakan sosok Arcel.
"Udah. Masih nyeri enggak?" tanya Arcel
"O-oh, eng-enggak kok. Udah enggak nyeri. Makasih yah kak," jawab Kaila
"Tumben kamu panggil aku 'kak'. Kemarin masih panggil 'Arcel'," timpal Arcel dengan senyum menggoda.
Kaila memutar matanya.
"Saat itu aku kan enggak tau kalau kamu lebih besar dariku. Aku pikir kita seumuran saat itu. Enggak nyangka aja ternyata kita beda lima tahun. Dan lagi, sekarang kamu itu dosenku. Aku harus lebih hormatlah padamu," jelas Kaila
Arcel terkikik geli.
"Enggak perlu. Panggil aku seperti biasa aja. Jangan pake embel-embel 'kak'. Lagipula kamu bilang kita kelihatan seumuran," balas Arcel
"Ihh, enggak bisa gitulah. Kamu itu dosenku sekarang. Yang ada mahasiswa lain jadi marah kalau tau aku dekat denganmu," tolak Kaila
"Ngapain kamu peduli dengan pendapat mereka. Mereka aja enggak peduli dengan apa yang kamu rasakan. Lagipula kita itu udah duluan kenal. Gini aja, kamu panggil aku 'Arcel' ketika di luar kampus. Bagaimana?" ujar Arcel
"Baiklah. Itu solusi yang lebih baik," balas Kaila dengan senyuman.
Arcel pun membalas senyuman itu.
"Okeh, karena kamu udah enggak ada jadwal kuliah. Ayo, aku ajak kamu makan siang," ajak Arcel
"Bentar, aku harus kasih kabar ke Davira dulu. Aku akan menyuruhnya untuk berangkat duluan ke lokasi," jawab Kaila
"Kamu hari ini mau tinjau lokasi?" tanya Arcel
"Iyah"
Kaila mengetikkan pesan pada Davira.
"Udah?"
"Udah. Tapi, kamu keluar duluan yah," ujar Kaila
"Memangnya kenapa?" tanya Arcel
"Kamu kan tau sendiri kalau kamu itu lagi viral di kampus. Yang ada kalau mereka liat aku lagi, mereka akan langsung menyerbu aku," jelas Kaila
Arcel menghela napas panjang.
"Udahlah, ayo. Enggak perlu peduliin pandangan orang. Kalau mereka mau jahatin kamu, aku yang ada di depan untuk melindungimu," jawab Arcel seraya menarik tangan Kaila.
Kaila merasakan hatinya menghangat. Sungguh sifat ini berbeda dengan yang dimiliki Irsyad. Jujur, jika Irsyad, ia akan menyanggupi untuk berjalan duluan ketika mereka masih masa-masa pacaran sembunyi-sembunyi. Bagaimana tidak? Irsyad adalah pria yang paling dikagumi di BINUS University. Oleh karena itu, pada awalnya Kaila merasa tidak nyaman jika hubungan mereka diketahui banyak orang.
Dan saat hubungan mereka belum diketahui, Irsyad memperlakukannya seperti orang biasa. Seperti mereka belum berpacaran. Beda saat mereka memutuskan untuk memberitahu semua orang. Sikap Irsyad langsung berubah, ia baru memperlakukan Kaila selayaknya seorang pacar. Entah apa maksud dari itu semua? Kaila pun tidak mengambil pusing hal itu.
Seperti yang ia duga, banyak mahasiswa yang memperhatikan mereka semua. Kaila berusaha melepas genggaman itu, namun Arcel seperti tidak memberikan celah untuknya. Alhasil Kaila lebih memilih menundukkan kepalanya. Kaila sangat tahu bagaimana tatapan para mahasiswa terhadapnya. Apalagi kesalahpahaman yang menyangkut dirinya. Jujur rasanya lebih tertekan daripada saat hubungannya dengan Irsyad diketahui.
Kaila menghela napas lega begitu masuk dalam mobil Arcel. Arcel yang melihat itu jadi terkikik geli.
"Kamu kayak lagi disidang aja sampai berkeringat gitu," celetuk Arcel
"Ihh, malah ngeledekin. Sumpah aku seperti ditatap dengan puluhan mata singa tadi," timpal Kaila
Kaila langsung dibuat terkejut dengan Arcel yang mendekat ke arahnya. Otomatis Kaila memundurkan tubuhnya.
'tik'
Kaila langsung membuka matanya begitu mendengar suara dari seatbelt yang terpasang. Kaila langsung menatap polos ke depan. Arcel yang melihat itu jadi terkikik gemas.
"Kamu pikir aku mau ngapain?" goda Arcel
"Ihh, udahlah. Aku udah lapar tau," protes Kaila seraya menggembungkan pipinya seraya menatap ke arah jendela.
Arcel menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mobil Arcel langsung bergerak meninggalkan kawasan BINUS University.
Setelah 15 menit perjalanan, mobil itu berhenti di restoran bernama COTECA. Arcel dan Kaila langsung turun dan masuk dalam restoran tersebut.
***
"Makasih yah, udah traktir aku makan siang," ujar Kaila saat keluar dari restoran itu.
"No problem"
"Kalau gitu, aku pamit yah. Aku mau nyusul Davira ke tempat lokasi," ujar Kaila
"Eh tunggu!" tahan Arcel
"Ada apa?" tanya Kaila
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Nanti aku aja yang anterin kamu ke lokasi," jawab Arcel
"Ke mana?" tanya Kaila
***
"Wahh! Bagus banget di sini. Aku enggak tau loh di dekat sini ada bukit. Indah lagi pemandangannya," puji Kaila seraya tersenyum menatap hamparan bunga di bawah bukit itu.
"Ini bisa dibilang tempat rahasiaku. Tempat di mana aku bisa meluapkan semua keluh kesahku," timpal Arcel
"Kamu punya beban hidup?" tanya Kaila
"Haha, Kaila. Bagaimana bisa kamu mengira aku enggak punya beban hidup?" kelakar Arcel yang sungguh dibuat tertawa dengan pertanyaan polos Kaila.
"Yahh, aku kan enggak tau. Soalnya kamu kelihatan selalu bahagia gitu. Kamu sepertinya juga memiliki segalanya di hidupmu. Kamu tampan, baik, diusia yang begitu muda udah berpendidikan tinggi dan banyak yang suka lagi," simpul Kaila
Arcel tersenyum sejenak.
"Semua manusia itu punya beban hidup. Mau itu masalah besar atau kecil. Semua manusia pasti punya. Manusia itu bukan makhluk yang sempurna. Jadi mau sebagus apapun atau sepintar apapun orang itu. Dia pasti punya beban dihidupnya," jelas Arcel
"Beban apa yang kamu punya? Apakah lebih berat dari beban yang aku miliki?" tanya Kaila
"Sangat. Sangat berat"
Arcel mengambil napas yang panjang sebelum mulai berbicara kembali.
"Orangtuaku meninggal ketika aku masih berumur sepuluh tahun," ungkap Arcel seraya menatap ke arah langit.
"O-orangtuamu udah enggak ada?! Ma-maaf yah Arcel. Harusnya aku enggak bertanya," sesal Kaila
"Enggak kok. Bukan salahmu. Lagipula aku pasti akan menceritakannya padamu," balas Arcel
"Tapi kau hebat bisa menutupi semuanya," timpal Kaila
"Aku hanya enggak mau menunjukkan pada orang-orang kalau aku sedang sedih. Aku hanya ingin menunjukkan sisi bahagia dari diriku. Cukup aku saja yang bersedih," balas Arcel
Kaila tersenyum penuh arti pada Arcel. Sungguh bertambah lagi nilai plus Arcel dalam diri Kaila. Kaila tidak bisa membayangkan jika berada diposisi Arcel. Ditinggalkan oleh orangtua disaat umur kita masih kecil. Disaat kita masih butuh perhatian orang tua.
"Udahlah kamu jangan natap aku kayak gitu. Aku enggak apa-apa kok. Lagipula aku yakin orangtuaku akan bahagia di tangan Tuhan. Aku hanya ingin mengatakan padamu. Seberat apapun masalah yang kamu miliki. Ingat, semua itu ada tujuannya. Bersabarlah. Kamu itu orang yang baik Kaila. Aku yakin, akan ada akhir bahagia untukmu," papar Arcel
Entah kenapa air mata itu langsung turun begitu mendengar pernyataan Arcel. Sungguh kata-kata itu sangat menenangkan hatinya.
"Makasih yah Arcel. Aku jadi sedikit lega sekarang. Kamu benar. Aku enggak boleh lemah. Aku harus kuat. Aku yakin dapat membuktikan kalau aku itu enggak bersalah," balas Kaila dengan senyuman.
"Nah, gitu dong. Baru namanya Kaila. Ayo, aku antar kamu. Nanti temanmu itu malah nungguin lagi," ujar Arcel
"Ehh, iya juga. Ayo," jawab Kaila
Quote of the day:
Rasa yang dirimu hadirkan terlalu spesial. Aku seperti sebuah kaca yang kau jaga begitu hati-hati. Terima kasih pengeran berkuda putihku. ??
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Jangan lupa FOLLOW dan COMMENT nya reader!!!!
See you in next Chapter!!!