Happy Reading
"Davira, maaf yah kalau aku lama datang," ucap Kaila saat sampai di lokasi tempat mereka akan membuat konsep desain mereka.
"It's okay. Aku tau kau telat karena Luna dan gengnya itu kan?" duga Davira
"Iyah. Tapi, aku udah enggak apa-apa kok," balas Kaila
"Baguslah. Tapi, kenapa kak Arcel bersamamu?" bisik Davira yang cukup terkejut dengan kehadiran Arcel.
"Ehh ... itu ...."
"Saya ketemu dengan Kaila di depan sini. Kaila bilang kalian mau tinjau lokasi untuk pengujian konsep desain kalian," potong Arcel yang tahu kalau Kaila tengah gugup hingga tidak bisa menjawab.
"Ouhh, gitu. Tapi kak Arcel ada urusan apa ke sini?" tanya Davira
"Saya hanya ingin melihat bagaimana cara kalian bekerja. Tenang aja, saya enggak akan ganggu kok," jelas Arcel
"Eh?! Enggak apa-apa kok kak. Malahan bagus, jadi kita bisa minta saran nanti. Ya kan, Kaila?" balas Davira
"E-eh iya. Udah yuk, kita mulai kerja aja," timpal Kaila seraya menarik tangan Kaila untuk menjauh. Karena dapat dipastikan kalau Davira ingin bertanya banyak hal nantinya. Sungguh Kaila baru tahu kalau Davira itu ternyata kepo.
"Kamu udah bawa flashdick-nya kan?" tanya Davira
"Udah kok. Ini," jawab Kaila seraya menyerahkan flashdisk pada Davira.
"Selamat siang nona-nona. Ada apa ya?" tanya salah satu pegawai kantor itu.
"Selamat siang. Perkenalan saya Davira Falisha. Saya keponakan dari bapak Rudy Santoso. Saya kemarin sudah memberitahu pada paman saya ingin meminjam salah satu ruangan kantornya yang kosong," jelas Davira
Kaila sedikit terkejut karena Davira adalah keponakan dari pemilik SanHouse Furniture. Bisa dibilang ini adalah usaha Furniture yang cukup besar di Jakarta Barat. Kaila jadi sedikit heran mengapa Davira lebih memilih mencari beasiswa sedangkan keluarganya adalah orang yang cukup kaya.
"Oh, anda adalah Davira yah. Baik, saya Rina, asisten pak Rudy. Saya sudah diberitahu untuk mengantar nona ke ruangan kantor yang kosong. Mari," papar Rina seraya menuntun mereka ke ruangan kantor yang kosong.
Ruangan kantor itu terletak di lantai tiga. Saat mereka sampai mereka kembali berjalan menuju ruangan yang paling ujung. Mereka pun memasuki ruangan itu. Kosong. Memang seperti yang mereka butuhkan.
"Kalau begitu saya tinggal dulu yah Nona," pamit Rina
"Iya, terima kasih," balas Davira
Sepeninggal Rina, Davira memperhatikan sekeliling ruangan itu. Ia seperti membayangkan konsep pada ruangan itu. Kaila tersenyum penuh arti. Ia sangat tahu kalau Davira itu sangat ahli dalam bidang ini. Walaupun mereka tidak pernah berinteraksi, Kaila cukup mengenal Davira karena Davira adalah orang yang bisa dibilang lawannya dalam nilai IPK.
"Aku enggak nyangka kalau kau adalah keponakan dari pemilik tempat ini," celetuk Kaila
Davira langsung menoleh pada Kaila dan tersenyum.
"Aku hanya enggak mau orang-orang tau. Kalau kau kan temanku. Makanya aku enggak apa-apa kalau kau tau," jelas Davira
"Ouhh, begitu rupanya. Makasih yah udah anggap aku ini temanmu. Dari semua mahasiswa itu, hanya kau aja yang percaya denganku," ucap Kaila
"Udahlah, aku kan udah pernah bilang. Aku itu enggak picik kayak mereka. Yang langsung percaya dengan hal yang belum tentu benar adanya," timpal Davira
Kaila tersenyum manis.
"Ya udah, kita mulai yuk," ajak Kaila
"Yuk"
Kaila pun membuka laptopnya dan menaruh di atas meja yang ada di sudut ruangan itu. Ia mencolokkan flashdisk itu di laptopnya.
"Apa menurutmu konsep ini sesuai dengan temanya?" tanya Davira
"Menurutku sih ini udah sesuai dengan perkiraan kita. Kan temanya itu urban modern kan. Jadi konsepnya itu harus memiliki kesan yang kuat dan ada kesan unfinished gitu," jawab Kaila
"Iyah, kau benar. Berarti ini udah sesuailah yah. Tinggal presentasi aja nanti kan," balas Davira
"Sebaiknya kalian buat konstruksi langit-langit yang terbuka juga," usul Arcel yang sudah berdiri di belakang mereka.
"Apakah itu sesuai dengan konsepnya?" tanya Kaila
"Tentu saja sesuai. Konsep urban modern itu bisa dibilang memerhatikan yang namanya kebebasan dan ketenangan. Soft dan homey. Jadi, meskipun di ruangan kantor itu biasanya menggunakan AC, tapi tetap saja jika seseorang itu membutuhkan suasana yang natural pastinya hembusan angin itu adalah pilihan yang terbaik. Saya saja lebih memilih dinginnya angin daripada dinginnya AC untuk menuangkan pikiran yang jenuh," jelas Arcel
"Wah, bener juga sih Kaila. Kak Arcel hebat banget mikirin sampai ke sana konsepnya," puji Davira
"Itu kan bidangnya. Makanya dia hebat," balas Kaila
"Terima kasih kak Arcel atas usulannya. Aku yakin deh kita bakalan menang nanti," ujar Davira
"Aamiin. Ya udah, kita pulang yuk. Udah agak sore nih," balas Kaila
"Ya udah, saya anterin kalian yah," ajak Arcel
"Eh?! Enggak usah kak. Nanti malam ngerepotin lagi. Udah dibantu buat desain lebih bagus, malah kakak mau anterin lagi," balas Davira
"Enggak apa-apa kok. Saya enggak repot. Ayo," jawab Arcel seraya mengajak mereka keluar.
"Udahlah, ikut aja. Lumayan hemat ongkos pulang," timpal Kaila
"Bener juga"
***
"Sekali lagi terima kasih yah kak Arcel. Kaila aku duluan yah. Hati-hati di jalan," ucap Davira saat turun dari mobil Arcel.
Saat sampai di depan rumah Davira, Kaila kembali terkejut. Rumahnya cukup besar seperti rumahnya. Nyatanya rumor yang mengatakan Davira hanyalah anak miskin itu bohong. Davira hanya tidak mau orang-orang tahu identitasnya yang sebenarnya. Tapi, Kaila masih belum menanyakan alasan Davira lebih memilih mengambil beasiswa.
Mobil Arcel telah sampai di depan rumah Kaila. Saat Kaila turun dari mobil, Kaila terheran karena Arcel juga ikutan turun.
"Kamu mau masuk dulu?" tawar Kaila
"Enggak kok," jawab Arcel
"Terus ngapain ikutan turun?" tanya Kaila
"Cuma mau liat kamu masuk ke rumah dengan selamat aja," jawab Arcel kembali.
"Ish, apaan sih Arcel. Gaje banget. Udah sana pulang. Ini aku mau masuk kok," balas Kaila yang tersenyum malu.
"Iya, kamu masuk dulu. Baru aku pulang," balas Arcel kembali.
"Oke fine. Aku masuk dulu. Hati-hati di jalan," ujar Kaila seraya masuk ke dalam rumahnya seraya melambajkan tangan pada Arcel.
Arcel pun juga ikut melambajkan tangannya pada Kaila. Saat dilihat Kaila sudah hilang dibalik pintu, Arcel pun memasuki mobilnya dan meninggalkannya kediaman Kaila.
"Cih, hebat bener yah pesonamu itu. Baru putus dengan Irsyad, langsung dapat cowok baru yang ganteng dan kaya lagi," sindir Dianti saat Kaila baru akan memasuki kamarnya.
"Kakak baru nyadar ya? Emang sih, pesonaku itu hebat banget. Dan asal kakak tau, bukan hanya pesonaku tapi Tuhan tau orang-orang yang baik itu akan selalu mendapatkan hak yang baik," jawab Kaila yang balik menyindir Dianti.
"Kau lama-lama makin kurang ajar yah. Liat aja, aku akan membuat cowok itu ikut menjauhimu juga seperti halnya Irsyad," gertak Dianti dengan pandangan penuh amarah.
"Terserah kakak. Aku enggak peduli. Lagipula Arcel itu beda dengan Irsyad," balas Kaila seraya masuk dalam kamarnya.
"Ihh, dasar yah tuh anak. Kau pikir aku main-main, hah?! Liat aja, tuh cowok akan ikut meninggalkanmu juga," desis Dianti
Quote of the day:
Seberapa berat masalah yang kau alami janganlah putus asa. Yakinlah ada akhir bahagia yang akan menjemputmu
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Okey jangan lupa follow dan comment nya reader!!!!
See you in next chapter!!!