Pertolongan(1)

1593 Kata
Happy Reading "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam, cari siapa yah?" "Saya mencari Kaila. Ada kan?" "Oh, Nona Kaila. Ada. Ini siapa yah?" "Saya Arcel. Temannya Kaila," jawab Arcel dengan senyuman. "Oh, temannya. Silakan masuk dulu. Nona Kaila ada di atas," balas bibi Sum. Arcel pun dipersiapkan untuk masuk. Arcel duduk di kursi ruang yama sambil menunggu Kaila. "Saya tinggal dulu yah tuan," pamit bibi Sum Arcel hanya menganggukkan kepalanya. Selepas perginya bibi Sum, Arcel memperhatikan sekeliling rumah itu. Terakhir kali datang ke sini, ia tidak sempat untuk memperhatikan semuanya. Pandangannya langsung terhenti pada sebuah pigura besar di ruang tamu itu. Sebuah foto keluarga. Arcel tersenyum kala melihat wajah cantik Kaila yang tersenyum manis di foto itu. Kaila juga tampak sangat bahagia di foto itu. Sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang. Kaila tampak sering murung. "Apakah kau Arcel?" Seketika Arcel mengalihkan pandangannya pada suara seorang wanita. Arcel pun berdiri. "Iyah, saya Arcel," jawab Arcel "Ohh, kau temannya Kaila ya? Aku Dianti, kakaknya Kaila," sapa Dianti dengan senyuman manis. Oh, jadi dia kakak yang membuat adiknya sendiri menderita ~ batin Arcel "Iyah, saya temannya Kaila," balas Arcel dengan senyum sopan. Dia ganteng juga. Kaila itu kenapa sih selalu dikelilingi oleh cowok-cowok ganteng ~ batin Dianti yang mengdumel. "Apakah kau udah lama berteman dengan Kaila?" tanya Dianti "Udah sangat lama," jawab Arcel seadanya. "Ouh, kupikir baru-baru ini. Soalnya aku enggak pernah melihatmu," balas Dianti "Saya udah lama kenal dengan Kaila. Bahkan sebelum Kaila berpacaran dengan pacarnya yang b******k itu," timpal Arcel dengan pandangan dingin. Dianti sedikit terkejut dengan perubahan pandangan Arcel. Sungguh dingin. Hingga ia sedikit takut. "Ke-kenapa kau tiba-tiba bilang begitu? Emang kau udah tau akar permasalahannya?" tanya Dianti Arcel menarik napas dalam. Sungguh ia sedang menahan emosinya saat ini. "Tentu saja. Saya sangat tau siapa yang bersalah. Siapa yang tidak. Siapa yang hanya berpura-pura. Dan siapa yang benar-benar jujur," sindir Arcel Dianti langsung dibuat gugup dengan pernyataan itu. Apakah Arcel tau segalanya? Bagaimana bisa? Dia kan baru muncul. "Kau kan enggak ada di tempat kejadian. Bagaimana bisa kau tau kalau Kaila enggak bersalah?" tanya Dianti kembali. "Saya tau. Saya sangat tau kalau Kaila itu enggak akan mungkin melakukan hal sebejat itu. Saya bisa melihat peril seseorang hanya dengan melihat matanya," timpal Arcel Dianti kembali dibuat terkejut dengan perkataan Arcel. Apa dia seorang indigo? "Kalau kau enggak ada bukti yang membuktikan Kaila enggak bersalah itu percuma. Asal kau tau, Kaila enggak seperti yang kau kira. Dia itu enggak sepolos yang kau liat. Dia itu menyimpan banyak akal busuk dipikirannya. Bahkan belum putus dengan pacarnya saja, dia malah selingkuh dengan pacar sahabatnya," sindir Dianti "Heh, saya enggak sepicik itu yang akan langsung percaya dengan kabar burung. Apalagi saya enggak melihat hal itu. Jadi, saya mohon pada anda untuk berhenti menjelekkan Kaila. Karena saya lebih tau siapa itu Kaila dibanding orang lain. Saya menghormati anda karena anda adalah kakaknya Kaila dan anda adalah seorang wanita. Jika saja bukan, saya pasti udah menghabisi anda sekarang," gertak Arcel dengan pandangan yang tajam. Seketika bulu kuduk Dianti berdiri melihat tatapan Arcel yang begitu menakutkan. Dianti tidak pernah setakut ini ketika berhadapan dengan seseorang. Sungguh tatapan itu benar-benar ingin menghabisinya. "Arcel, kamu udah sampai" Suara dari Kaila langsung membuatnya mengalihkan pandangannya dari Dianti. Arcel langsung berdiri dan tersenyum manis. Dianti terkesima sekaligus terkejut dengan tatapan itu. Tatapan itu langsung berubah 360° saat melihat Kaila. Dianti juga tidak bisa menyangkal kalau senyuman Arcel begitu menawan. Siapa saja yang melihatnya langsung jatuh cinta. Begitupun Dianti. Dianti menoleh ke belakang dan melihat interaksi kedua orang itu. Bagaimana Arcel yang tersenyum manis pada Kaila. Begitu pula Kaila yang membalasnya dengan senyuman tak kalah manis. Darah Dianti langsung mendidih naik. Ia sangat tidak terima dengan senyuman itu. Bagaimana bisa Kaila terus mendapatkan keberuntungan? "Kaila, kau jangan ke kampus hari ini. Bukannya kau harus menemaniku ke rumah sakit," tukas Dianti yang berjalan mendekat dengan kursi rodanya. "Enggak bisa gitu dong kak. Aku hari ini ada presentasi yang sangat penting. Aku juga udah izin kok pada mama. Dan mama juga udah setuju. Lagipula bukannya kakak akan pergi dengan pacar baru kakak," tolak Kaila "Assalamualaikum" Baru disebutkan, sudah datang juga orangnya. Pacar baru Dianti. "Waalaikumsalam. Kau udah datang Irsyad," ucap Dianti dengan senyuman manis. "Iyah" Irsyad langsung menoleh pada Kaila yang tengah berdiri dengan sosok pria. Seketika Irsyad terkejut melihat hal itu. Tentu saja Irsyad tahu siapa sosok pria yang tengah viral di kampusnya itu. Karena bukan hanya di jurusan desain. Melainkan hampir satu kampus tahu siapa itu Arcelio Andhra. "Kenapa dosenmu ada di sini?" tanya Irsyad pada Kaila. "Emang kenapa? Saya mau menjemput Kaila," jawab Arcel dengan pandangan dingin. "Saya tanya Kaila. Bukan anda," tukas Irsyad "Emang penting siapa yang jawab. Jawabanku udah mewakilimu kan, Kaila," balas Arcel seraya menatap pada Kaila. Kaila menggangguk. "Bukannya sedikit enggak pantes seorang dosen seperti anda menjemput mahasiswanya. Apalagi anda tengah heboh di Binus. Takutnya ada berita yang enggak diinginkan lagi," sindir Irsyad "Tuan Asadel. Perlu anda ingat dalam kepala anda itu, saya bukan hanya dosennya melainkan temannya. Apa salah seorang teman menjemputnya?" sindir Arcel kembali dengan menampilkan smirknya. "Oh, ternyata masih ada yang mau berteman denganmu setelah apa yang kau lakukan," hina Irsyad "Apa maksudmu Irsyad? Kau enggak berhak yah mengatakan hal itu. Terserah orang mau berteman denganku atau enggak. Karena enggak semua orang akan berpikiran sempit seperti kalian," tukas Kaila ""Udahlah, Kaila. Jangan membuang tenagamu untuk orang-orang kayak mereka. Ingat, kamu harus menyimpan energimu untuk presentasi hari ini," tutur Arcel seraya mengajak Kaila pergi. Irsyad memandang penuh luka pada Arcel yang menggenggam tangan Kaila pergi. Entah kenapa ia merasa sebagian dirinya pergi ketika melihat Kaila pergi menjauh. Dianti kembali kesal dengan Kaila. Ia sangat tahu tatapan dari Irsyad itu. Kau liat aja, apa yang akan kau dapat benalu ~ batin Dianti. *** Akhirnya Kaila sampai di kampusnya. Terlihat Davira yang tengah menunggunya di ujung lorong jurusannya. Kaila pun segera turun dari mobil diikuti oleh Arcel. "Kaila tunggu!" tahan Arcel "Ada apa?" tanya Kaila yang nampak terburu karena takut Davira menunggunya lama. "Ini, makanlah" "Permen?" "Permen itu manis. Jadi dengan manisnya permen bisa menurunkan kegugupanmu. Ingat tarik napas yang dalam-dalam dan berdoa saat kamu akan mulai presentasi. Okey?" ujar Arcel dengan senyuman manis hingga lesung pipinya terlihat. Dan itu sangat tampan. Kaila pun ikut membalas senyuman itu tak kalah manis. "Makasih yah Arcel. Kalau begitu aku masuk dulu," balas Kaila seraya berjalan menuju Davira. "Davira!" "Eh, Kaila. Akhirnya kamu datang," balas Davira "Lama tah nunggunya?" tanya Kaila "Enggak kok. Hanya aku butuh teman untuk menghilangkan kegugupanku," ujar Davira "Ini untukmu," ucap Kaila seraya menyerahkan sebungkus permen. "Permen? Untuk apa?" tanya Davira "Ada orang yang bilang jika makan permen bisa menghilangkan kegugupan karena rasa manisnya," timpal Kaila "Hebat bener teorinya. Ya udah deh, makasih yah," balas Davira "Yuk masuk" Mereka berdua memasuki ruang kelas mereka. Di situ sudah ada beberapa mahasiswa yang suda hadir. Mereka seperti melihat kembali persiapan mereka. Tak lama kemudian rektor beserta dua ahli desain dari TM Group datang. Mereka pun dengan segera bersiap-siap. "Semoga presentasi kita lancar," celetuk Davira "Iyah" "Baiklah mahasiswa sekalian. Pertama saya ingin memperkenalkan pada kalian dua orang di hadapan kalian saat ini. Mereka adalah ahli desain yang dikirim oleh perusahaan TM Group. Mereka akan menilai desain siapa yang sesuai yang mereka inginkan. Baiklah silakan" "Halo, selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Alfred Thomingson dan di sebelah saya ini bernama Mike Royn. Kami di sini diberi tugas pada CEO kami untuk memilih desain kalian yang layak untuk digunakan pada salah satu ruangan di kantor kami. Baiklah, kalian bisa memulai," jelas Alfred "Peserta dengan urutan nomor satu silakan" Kaila dan Davira pun maju ke depan. Kaila membawa serta laptopnya. Mereka pun segera menyiapkan persiapan presentasi mereka. Namun.... "Loh?! Flashdisk-nya mana?!" Kaila mengobrak-abrik tasnya mencari keberadaan flashdisk untuk keperluan presentasi mereka. "Ada apa Kaila?" tanya Davira "Flashdisk-nya enggak ada Dav. Bagaimana ini?!" timpal Kaila "Aduh, gimana dong?! Kita udah harus mulai presentasi ini," balas Davira tidak kalah khawatir. "Perasaan tadi malam aku udah taruh tau di tasku. Kenapa sekarang enggak ada?!" Kaila sungguh sangat khawatir saat ini. Bagaimana bisa barang yang paling penting untuk presentasi tidak ada. "Ada apa? Kenapa kalian belum mulai?" tanya Alfred "Maaf tuan. Sepertinya flashdisk tempat kami menaruh desain kami enggak ada," ujar Davira Semua mahasiswa yang berada di kelas itu pun terkejut mendengarnya. "Eihh, barang penting gitu enggak dibawa. Makanya Davira aku udah bilang kan, enggak usah satu kelompok dengan cewek ini. Sial tau," sindir Luna "Semuanya harap tenang!" Suara dari rektor membuat mereka langsung terdiam. "Kalau kalian tidak membawa hasil desain kalian. Otomatis kalian akan didiskualifikasi. Dan nilai mata akhir kelas ini akan gagal," ungkap rektor Kaila maupun Davira dibuat terkejut akan hal itu. "Davira, maafin aku yah," ucap Kaila "Ini bukan salah kamu. Jangan salahin dirimu," balas Davira Kaila dibuat terharu dengan sikap Davira. Bagaimana bisa Davira masih memaafkannya sedangkan masalah ini diciptakan olehnya. "Mereka tidak akan didiskualifikasi" Semua orang langsung menoleh pada Arcel yang muncul di hadapan mereka. Arcel berjalan mendekat pada rektor. "Apa maksud anda tuan Andhra? Kedua mahasiswa ini tidak membawa desain mereka. Tentu saja mereka harus didiskualifikasi," balas rektor "Ini flashdisk tempat desain mereka," ujar Arcel seraya menunjukkan flashdisk di tangannya. Seketika mereka semua terkejut melihat hal itu. Kaila langsung bernapas lega melihat flashdisk itu ada di tangan Arcel. Tapi bagaimana bisa? Quote of the day: Kau kembali datang menyelamatkanku. Kau benar-benar adalah sayap pelindungku. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini reader???? Jangan lupa untuk follow dan comment nya reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN