Pertolongan(2)

1604 Kata
Happy Reading "Kenapa kalian memberikan aksen langit-langit yang terbuka pada desain kalian?" "Aksen langit-langit yang terbuka memberikan makna kebebasan. Sesuai dengan temanya 'Urban Modern'. Jadi maksud dari desain kami ini adalah walaupun terlihat elegan tapi menyisakan sedikit ruang untuk kreatifitas dan kebebasan. Karena saat seorang karyawan merasa lelah dan penat karena tekanan pekerjaan, ia bisa membuka bagian atas ruangan yang akan memberikan udara segar masuk. Karena udara segar bisa menenangkan hati dan pikiran kita yang lelah," jelas Kaila dalam satu tarian napas. 'prok-prok' Kedua pengamat desain itu bertepuk tangan atas penjelasan Kaila. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum. "Kalian hebat bisa memikirkan ide yang brilian seperti itu. Kalian bukan hanya memikirkan tentang popularitas, tapi kalian juga memikirkan kenyamanan dari orang lain. Bagus," puji Alfred "Iyah benar. Saya suka bagaimana kalian memikirkan dengan sangat detail pada desain ini. Bagaimana desain ini menampilkan sisi yang suasana rumahan seperti bagian bata yang tidak perlu dicat itu tapi kalian tetap memberikan kesan yang mewah," puji Mike juga. Kaila dan Davira saling pandang seraya tersenyum lebar karena pujian itu. "Terima kasih atas pujian tuan-tuan sekalian. Kami akan terus berusaha dari sekarang," ujar Davira "Baiklah. Kalian tunggu saja pengumuman selanjutnya," ucap Alfred "Baik. Terima kasih atas waktunya untuk memperhatikan presentasi kami. Terima kasih semuanya," ujar Kaila dan Davira berbarengan. Kaila dan Davira segera membereskan presentasi mereka dan berjalan ke belakang karena mahasiswa lain akan presentasi juga. "Baiklah mahasiswa selanjutnya" "Kaila" "Iya. Ada apa?" tanya Kaila seraya duduk di salah satu kursi. "Bagaimana bisa flashdisk itu ada di tangan kak Arcel?" tanya Davira sedikit berbisik. "Aku juga enggak tau. Nanti aja kita tanyain selesai presentasi ini," jawab Kaila dengan suara pelan. Akhirnya presentasi semua siswa selesai. Mereka semua berdiri karena kedua pengamat itu ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum kembali. "Baiklah. Pertama-rama kami ingin mengucapkan terima kasih pada pak rektor yang telah menemani kami di sini. Khususnya pada mahasiswa sekalian yang telah menunjukkan hasil desain yang sangat bagus. Kalian hebat! Kalian baru semester empat tapi kemampuan kalian sudah berada di atas kakak tingkat kalian. Saya yakin ke depannya kalian semua pasti akan menjadi seorang desainer yang hebat," papar Alfred "Aamiin" "Kalau begitu. Selamat tinggal. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu kembali. Berdoalah yang banyak kepada Tuhan, semoga nama kalian yang keluar untuk juaranya," timpal Mike Kedua pengamat itu akhirnya keluar diantar oleh rektor. Setelah kepergiannya, para mahasiswa langsung bernapas lega. "Syukurlah. Udah selesai, tegang juga yah" "Iya, berasa kayak sidang skripsi aja" "Kaila, ayo! Kita cari kak Arcel," ajak Davira "Oh iya! Ayo," balas Kaila seraya membereskan barangnya. Baru akan keluar dari kelas, ternyata sosok Arcel sudah berdiri di dekat pintu. "Bagaimana presentasi kalian?" tanya Arcel "Bagus kak. Lancar makasih yah. Untung ada kak Arcel," jawab Davira "Iyah, sama-sama. Cuma kebetulan kok," balas Arcel "Tapi bagaimana kakak bisa memegang flashdisk itu?" tanya Kaila Sebenarnya Kaila hampir memanggil namanya saja tanpa embel-embel 'kak', tapi Kaila kembali ingat ini di area kampus dan ada Davira di sampingnya. "Saya enggak sengaja lewat saat ingin melihat presentasi kalian. Ada dua mahasiswa perempuan yang berdiri di dekat tong sampah. Saya samar-samar mendengar nama 'Kaila', jadi saya mencoba mendekat. Saat semakin dekat saya liat flashdisk itu, saya ingat itu flashdiskmu, jadi saya langsung merebut dan menanyakannya," ungkap Arcel "Ha?! Kan Kaila aku udah duga, pasti ada orang yang jahil yang melakukannya. Aku tau kau enggak seceroboh itu untuk melupakan barang penting," komentar Davira "Kakak tau siapa mahasiswa itu?" tanya Kaila "Mereka dari jurusan arsitektur," jawab Arcel "Perasaan aku enggak pernah punya masalah dengan jurusan arsitektur," pikir Kaila "Ha! Aku ingat," celetuk Davira yang sedikit mengejutkan Kaila maupun Arcel dengan suara melengkingnya. "Ingat apa?" tanya Kaila "Kau emang enggak punya masalah dengan anak arsitektur. Tapi apa kau ingat, kalau Luna itu suka bergaul dengan mereka. Siapa tau dia yang melakukannya?" duga Davira Kaila menghela napas kasar. "Aku enggak mau berburuk sangka dulu. Aku engga punya bukti Dav," timpal Kaila "Kalian tenang saja, dua mahasiswa itu ada di ruang rektor sekarang. Mereka akan diberi skorsing selama seminggu karena menyebabkan kesalahan besar. Mereka juga disuruh mengaku siapa yang menyuruh mereka," terang Arcel "Wah, terima kasih yah kak," ucap Davira "Terima kasih kak Arcel," balas Kaila dengan senyuman manis. "Iya, sama-sama. Kalau gitu saya pamit dulu. Saya masih ada jadwal," pamit Arcel seraya berlalu dari hadapan mereka. Selepas perginya Arcel, kedua gadis itu beranjak ke kantin. Sungguh perut mereka sekarang keroncongan habis presentasi. Setelah sampai di kantin mereka memesan nasi goreng dan jus jeruk. "Kai" "Hmm" "Apa menurutmu kak Arcel terlalu baik yah sama kita? Kayak bukan perlakuan terhadap mahasiswa gitu," komentar Davira Kaila langsung menatap wajah Davira. "Kenapa kau berpikiran seperti itu? Atau jangan-jangan kau menyukai kak Arcel yah?" duga Kaila dengan pandangan menggoda. "Ihh, apaan sih Kai. Yang ada kau itu yang mungkin dengan kak Arcel. Aku sih enggak yah," sanggah Davira "Kok aku sih?! Emang kau enggak suka dengan tipe kayak kak Arcel gitu?" tanya Kaila "Kak Arcel itu bukan tipe aku Kai. Aku cuman kagum dengan sifat baik dan pintarnya itu. Malahan menurutku kau itu yang cocok dengannya," timpal Davira 'uhuk-uhuk' Seketika Kaila terkejut dengan perkataan Davira hingga membuatnya tersedak. "K-Kau ngomong apa sih?! Enggak mungkinlah aku dengan kak Arcel. Dia itu terlalu bagus untukku," gerutu Kaila "Yee, dikasih tau juga," balas Davira seraya memakan kembali makanannya. "Emang tipemu itu seperti apa?" tanya Kaila seraya mengelap mulutnya. Pergerakan Davira mengambil sesendok nasi goreng terhenti, ia meletakkan kembali sendok itu dan menatap ke arah Kaila. "Tipeku itu enggak terlalu susah. Yang penting dia tau bagaimana cara menghargai wanita yang dicintainya," jawab Davira dengan pandangan sendu. Kaila seperti merasa kalau Davira menyimpan rahasia dibalik matanya itu. "Aku doakan semoga kau mendapatkan cowok yang sesuai dengan keinginanmu. Kau baik Davira. Aku yakin kau pasti akan mendapatkan cowok yang baik juga," timpal Kaila "Uhh, makasih yah Kai. Kau juga pasti mendapatkan yang baik pula," balas Davira "Cih, orang kayak kalian akan mendapatkan cowok baik? Mimpi di siang bolong. Hei, bangun nona-nona. Mana ada cowok mau sama cewek busuk kayak kalian. Liat aja tuh temanmu itu, pacarnya aja kabur karena sifat jahatnya. Mana ada cowok mau sama seorang j*la*ng," hina Luna yang tiba-tiba hadir di tengah mereka bersama dengan Andhira. 'plak' "Jaga ya mulutmu. Kau pikir kau siapa?! Kau pikir dirimu sempurna hingga bisa men-judge orang seenakmu. Ingat! Karma pasti berlaku," hardik Davira "Heh, cewek cupu. Kau berani yah menamparku. Mau aku buat beasiswamu dicabut terus kau enggak bisa kuliah lagi," ancam Luna seraya memegang pipinya yang panas akibat tamparan Davira. "Emang kau siapa yang berhak menentukan pemegang beasiswa. Orang tuamu bukan pemilik kampus ini. Bukan juga penyumbang sekolah ini. Yang ada, kau yang akan dikeluarkan karena sifatmu ini," caci Kaila "Heh, dasar cewek-cewek liar. Kalian masih beruntung bisa presentasi tadi. Coba aja kak Arcel enggak bawa itu flashdisk, pasti tamat deh," sindir Luna "Ohh, jadi benar dugaanku. Kau dalang dari kejadian itu," tukas Davira "Emang iya. Terus kenapa? Mau lapor? Laporin aja, lagian enggak ada bukti kan," tandas Luna dengan senyum yang meremehkan. "Kau benar-benar licik. Bisa-bisanya kau mau berbuat curang seperti itu. Bagaimana bisa kau melakukan hal kejam seperti itu? Andhira, kau liat sendiri orang yang kau ajak berteman. Orang kayak dia enggak pantes punya teman," geram Kaila "Luna enggak sepenuhnya salah. Aku juga ikut andil dalam hal ini," celetuk Andhira "Apa?! Kau juga ikut?! Heh, emang sebenci itu kau denganku? Sampai kau mau berbuat jahat seperti ini. Apa pengorbanan yang selama ini aku lakukan untukmu enggak ada artinya?" tanya Kaila dengan mata yang memerah. "Kau pikir ini jahat? Hei, Kaila. Liat dirimu sendiri. Kau pikir dirimu suci. Kau udah melakukan kejahatan besar. Kau hampir membunuh kakakmu sendiri. Hal yang kita lakukan ini enggak sebanding sama apa yang kau lakukan," hina Andhira "Heh, kau emang bukan sahabat yang baik untuk Kaila. Hanya dengan segelintir kebohongan itu kau udah berpikir kalau Kaila itu pelakunya. Ingat kata-kataku ini! Jangan harap kalian bisa tenang. Tuhan melihat apa yang kalian lakukan. Pembalasan pasti akan segera menimpa kalian," geram Davira seraya menarik tangan Kaila pergi. Kaila mengikuti langkah Davira hingga ke sebuah taman kampus. Mereka berdua duduk di salah satu bangku di sana. Davira melihat Kaila yang tampak sangat murung. Davira jadi ikutan sedih melihatnya. "Kai, kau yang sabar yah. Ini ujian untukmu. Aku yakin semua masalahmu akan segera selesai. Pasti mereka akan mendapat balasan. Kau yang sabar yah," ujar Davira seraya memeluk Kaila. Kaila pun membalas pelukan Davira. "Makasih yah Dav. Kau baik banget udah bela aku tadi," balas Kaila seraya melepas pelukan itu. "Iyah sama-sama. Lagipula kau enggak salah tau," timpal Davira "Ehh, kenapa para mahasiswa itu kayak heboh gitu yah lihat hp mereka?" tanya Kaila yang tampak bingung melihat kumpulan mahasiswa itu. "Entah, coba kita tanyain," jawab Davira Mereka pun mendekati kumpulan mahasiswa itu. "Kalian sedang liat apa sampai heboh gitu?" tanya Davira "Ini liat berita heboh mengenai Luna anak jurusan desain interior" "Ha?! Luna?! Coba liat," ujar Davira Kaila dan Davira melihat berita yang mengatakan tentang Davira itu. Mereka berdua langsung terkejut melihat berita itu. Itu foto-foto bahkan video Luna sedang bersama seorang sugar daddy. "Ini beneran?" tanya Kaila "Iyah bener" Kaila dan Davira saling memandang satu sama lain. Kaila pun terlihat bingung dengan hal itu. Apa Luna memang benar seperti itu? Kenapa kejadiannya seperti yang ia alami? Quote of the day: Jangan sesekali berbuat jahat pada orang lain. Ingat hukum Karma. Kejahatan yang lakukan pasti akan berbalik pada kalian ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini reader??? Ayo dong comment di bawah yah!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN