Happy Reading
Seorang wanita berjalan menuju ke arah Kaila dan Davira. Sangat terlihat wajah yang penuh dengan amarah. Wanita itu berjalan dengan menggebu-gebu ke arah Kaila.
"Hei, cewek busuk. Kau kan yang menyebar ini semua," tuduh Luna pada Kaila.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu?! Aku aja baru tau tentang berita itu. Jangan asal nuduh yah," sanggah Kaila
"Alahh, enggak usah ngelak deh. Kau mau balas dendam soal berita jelekmu yang kau pikir aku yang melakukannya kan?! Heh, dasar cewek busuk. Sekarang malah lempar batu sembunyi tangan," hina Luna
"Hei, jaga bicaramu. Kau pikir siapa yang busuk?! Enggak nyadar apa dengan perilaku sendiri. Palingan berita itu benar dan kau malah menuduh Kaila yang melakukannya padahal itu sih perbuatanmu sendiri," sindir Davira dengan pandangan meremehkan.
"Kau jangan ikut campur yah cupu. Aku tau ini adalah perbuatan dia. Lebih baik kau konfirmasi sekarang berita itu. Atau aku akan melaporkanmu pada polisi," ancam Luna
"Kau pikir aku takut?! Laporin aja sana! Malahan lebih bagus. Jadi polisi tau siapa yang benar dan siapa yang salah," balas Kaila dengan pandangan yang tajam.
"Kaila, udah dong. Aku tau kau marah soal beritamu di klub itu terekspos. Tapi kau enggak bisa gini dong. Luna enggak kayak gitu. Mending kau hapus deh beritanya," ujar Andhira
Kaila memandang terkejut pada pada perkataan Andhira. Bagaimana bisa?!
"Cih, Andhira. Sampai saat ini aku masih menghargai persahabatan kita. Tapi nyatanya harga itu enggak berlaku yah untukmu. Kau lebih mempercayai orang yang baru kau kenal dibandingkan dengan orang yang selalu setia bersamamu. Kau masih berpikir berita fitnah itu benar. Sedangkan saat Luna yang mengalaminya, kau malah berpikir itu adalah suatu kebohongan?! Haha, lucu banget yah," tukas Kaila dengan pandangan meremehkan.
"Hei, orang juga tau kali siapa yang benar dan salah di sini. Jadi kau enggak usah ngelak lagi deh. Mending sekarang kau hapus berita itu atau aku akan benar-benar panggil polisi ke sini," ancam Luna kembali.
"Mau seribu kalipun aku mengatakan padamu, kau juga enggak akan percaya. Bukan aku yang melakukannya. Walaupun aku sangat membencimu, aku enggak akan menggunakan cara rendahan seperti ini. Jadi, jika kau mau memanggil polisi ke sini, terserah, aku enggak peduli," jelas Kaila seraya melompat kedua tangannya.
"Kau benar-benar jahat yah," ucap Luna seraya menarik kuat rambut Kaila.
"A-Ah! H-hei, lepasin Luna! Sakit!" pekik Kaila.
Semua yang ada di sana juga jadi terkejut dengan tindakan Luna. Davira maupun Andhira berusaha untuk melepaskan mereka berdua.
"Lepasin Luna! Sakit!" pekik Kaila lagi hingga Kaila jadi ikutan menarik rambut Luna.
"Aku enggak mau lepasin sebelum kau menghapus berita itu," tolak Luna
Para mahasiswa itu bukannya membantu malahan memvideokan aksi perkelahian antara Kaila dan Luna.
"Hei! Hei! Berhenti!"
Irsyad beserta teman-temannya, Emil dan Nevan membantu untuk melepaskan kedua wanita itu. Irsyad yang memegangi Luna dan Emil yang memegangi Kaila. Nevan berada di tengah-tengah untuk membantu melepaskan. Alhasil, beberapa kali ia jadi ikutan ditarik rambutnya oleh Kaila dan Luna. Akhirnya pegangan itu terlepas.
"Lepasin aku! Aku mau beri pelajaran padanya. Dia udah nyebarin fitnah untukku," geram Luna dengan air mata yang telah mengalir seraya ingin melepas pegangan Irsyad.
"Kenapa kau terus menuduhku?! Itu bukan aku," sanggah Kaila seraya melepas genggaman Emil padanya.
"Kaila, jadi itu kau yang menyebarnya?!" tanya Irsyad dengan pandangan terkejut.
Kaila memandang terkejut pada Irsyad.
"Itu bukan aku! Terus walaupun aku menjelaskannya, apakah kau akan percaya?!" tanya Kaila dengan pandangan sinis.
"Kaila aku tau kau marah dan kesal gara-gara berita itu. Kau mengira itu semua dilakukan oleh Luna, kan? Tapi enggak boleh balas dendam kayak gini. Mending kau hapus ya," ucap Irsyad
"Cih, bagaimana cara aku menghapusnya kalau bukan aku yang melakukannya?! Mau berapa kali aku harus mengatakannya pada kalian kalau bukan aku yang melakukannya?!" geram Kaila dengan mata yang telah memerah menahan air mata yang keluar.
"Udahlah Irsyad. Kita juga enggak bukti yang mengatakan Kaila yang menyebarkannya, kan? Mending kita cari tau dulu kebenarannya. Jangan asal nuduh dulu," bela Emil
"Kau membelanya Emil?! Oh, apa mungkin rumor itu benar kalau kau emang menyukai Kaila dari dulu?!" tuduh Irsyad dengan pandangan amarah.
"Kok kau bawa-bawa hal itu lagi sih?! Ini enggak ada hubungannya tau. Aku enggak bela siapa-siapa di sini. Aku hanya berusaha bersikap netral. Sekarang kita sama sekali enggak tau siapa yang benar dan salah," balas Emil yang marah dengan tuduhan Irsyad, sahabatnya. Emil tidak menyangka jika Irsyad akan mempercayai rumor yang jelas-jelas bohong itu.
"Tapi kau harusnya tau...."
"Udah! Udah! Ini kenapa kalian yang jadi berkelahi lagi sih?! Irsyad, benar apa yang dikatakan Emil. Kita jangan asal nuduh dulu. Mending kita cari dulu siapa yang salah di sini," tahan Nevan
"Kenapa kak Emil dan kak Nevan malah bela Kaila sih?! Di sini aku yang jadi korban, bukan dia," protes Luna
"Luna kau diam! Jangan makin memperkeruh suasana," kritik Nevan
"Ihh, kakak kenapa sih. Itu jelas-jelas Kaila yang menyebabkannya. Dia itu benci karena mengira aku yang menyebar berita tentangnya," protes Luna kembali.
"Hei, nenek lampir. Jangan asal nuduh terus dong. Kau emang ada bukti kalau Kaila yang menyebarnya? Enggak kan?! Kalau kau terus menerus menuduh Kaila, yang ada kami yang akan melaporkanmu pada polisi atas kasus pencemaran nama baik," gertak Davira dengan pandangan tajam.
Entah kenapa Emil sedikit tertegun dengan tatapan Davira. Sungguh ia tidak tahu jika Davira memiliki sisi berani seperti ini. Ia mengira kalau Davira itu anak cupu dan penakut seperti rumor yang beredar. Emil sedikit merasakan detak jantungnya berdetak cepat.
"Heh, kau berani?! Kau itu cuma anak cupu. Mana berani melawanku. Cih, dasar! Sama-sama cewek busuk," hina Luna
'plak'
"Aku udah cukup sabar dengan semua perlakuanmu padaku. Tapi jangan sekali-sekali kau membawa-bawa sahabatku pada masalah ini. Dia lebih terhormat dibandingkan denganmu. Orang bermuka dua," geram Kaila seraya menampar dengan keras pada Luna.
Semua yang ada di sana memandang terkejut pada tamparan itu. Luna memandang penuh amarah pada Kaila. Luna yang tidak terima langsung ingin menampar Kaila kembali. Namun...
'grep'
Semua yang ada di sana langsung terkejut dengan kehadiran....
"K-Kak Arcel?!"
Arcel memandang dingin pada Luna seraya menggenggam tangan Luna yang ingin menampar Kaila.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Masih belum cukup yang kemarin? Ingin berbuat ulah lagi. Ingat! Jika orang tuamu tahu lagi kamu berbuat seenaknya, mereka akan langsung menghukummu," tukas Arcel seraya melepas tangannya Luna.
Luna sungguh takut dengan pandangan dingin Arcel yang ditujukan padanya.
"Bu-bukan saya yang salah kak. Ini salah Kaila. Dia menyebar fitnah pada saya lewat foto," jawab Luna dengan pandangan menunduk.
"Bukan aku kok. Aku..."
"Tunggu Kaila. Kamu ada buktinya kalau dia menyebarkan foto itu?" tanya Arcel
"Eng-Enggak ada kak," jawab Luna
"Terus bagaimana bisa kamu menuduhnya tanpa bukti. Kamu bisa dituntut oleh Kaila atas pencemaran nama baik. Kalau mau menuduh orang, kamu harus ada bukti yang kuat. Jangan main nuduh ada. Ingat fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," komentar Arcel
Luna menundukkan kepalanya tak menjawab.
"Kalian juga! Kenapa melihat ini kalian tidak memisahkan, kalian malah memvideokannya?! Ingat! Jika saya menemukan ada mahasiswa yang menyebarkan video itu, kalian akan langsung dikeluarkan dari kampus ini," ancam Arcel
"Baik kak!"
Kaila tersenyum manis pada Arcel. Arcel kembali menyelamatkannya dari bahaya. Pandangan itu tak luput dari mata Irsyad. Irsyad memandang benci pada hal itu. Darahnya seketika mendidih kala melihat tatapan kagum Kaila pada Irsyad.
"Emang anda siapa yang berhak mengatur siapa yang keluar dan tidak? Bukannya anda hanya dosen, bukan rektor. Lagipula para mahasiswa itu enggak membantu karena tau kalau emang Kaila yang bersalah," celeguk Irsyad
Kaila sungguh terkejut dengan pernyataan Irsyad. Air mata Kaila langsung meluruh. Ia tidak bisa menahan rasa sakit di dadanya.
"Hei, kak Irsyad. Jangan asal nuduh dong! Kakak enggak ada bukti yang mengatakan Kaila yang bersalah," komentar Davira seraya menenangkan Kaila.
Arcel mendekati Irsyad dengan mata penuh amarah. Arcel Mencengkam kuat bahu Irsyad hingga Irsyad sedikit meringis.
A-Apa ini?! Kenapa tatapannya begitu menakutkan?! Rasanya tubuhku membeku ~ batin Irsyad
"Dengerin baik-baik untukmu dan untuk kalian semua. Jangan ada yang berani menuduh Kaila lagi sebelum bukti itu ditemukan. Kalau kalian masih menuduhnya, kalian akan benar-benar keluar dari kampus ini. Meskipun saya hanya seorang dosen," gertak Arcel dengan memberikan tatapan tajam pada Irsyad.
Irsyad merasakan tubuhnya menegang dengan tatapan itu. Matanya Arcel begitu tajam, sampai-sampai bisa memotong seluruh tubuhnya.
Tapi bukan Irsyad namanya jika tak bisa melawan. Dengan sekali hentakan ia melepas genggaman itu dan melayangkan bogeman ke wajah Arcel. Namun, dengan cepat tangan itu ditahan oleh Arcel.
'crack'
"Ahh!!"
Arcel memilin tangan Irsyad ke belakang hingga Irsyad mengaduh kesakitan.
"Kamu berani yah melawan dosen. Jangan sok hanya karena kamu anak seorang pejabat. Saya bisa menghancurkanmu bahkan keluargamu sekalipun," bisik Arcel di telinga Irsyad.
Irsyad melebarkan matanya setelah mendengar perkataan Arcel. Arcel langsung melepas genggaman itu.
Semua yang ada di sana tentu saja langsung terkejut. Apalagi Kaila yang menahan napasnya ketika tiba-tiba saja Irsyad ingin memukul Arcel. Biar bagaimanapun rasa itu masih ada karena hubungan mereka yang belum lama berakhir.
Quote of the day:
Seburuk apapun orang-orang itu membenciku, aku tidak akan membalas mereka dengan cara yang sama. Kalau begitu apa bedanya aku dengan mereka.
~TBC~
Bagaimana dengan chapter ini???
Suka tidak???
See you in next chapter!!!