Cemburu

1466 Kata
Happy Reading "Kamu tidak perlu mengantarku pulang," ucap Kaila saat Arcel memaksanya untuk mengantarnya pulang. "Aku enggak terima penolakan Kaila. Ayo masuk!" perintah Arcel seraya memaksa Kaila masuk dalam mobilnya. Sungguh Kaila tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Rumor apa lagi yang akan menimpanya setelah Arcel secara tiba-tiba menarik tangannya pergi dari sana. Kaila tentu saja terkejut setengah mati. Walaupun ia tidak terlalu peduli lagi dengan pandangan orang, tapi bagaimana dengan Arcel. Ia adalah seorang dosen. Bagaimana kalau nanti dia mendapat teguran dari pimpinan kampus? Mau menolak pun sudah percuma. Sekarang mobil itu telah bergerak meninggalkan area kampus. Kaila hanya bisa pasrah. Kaila menoleh ke samping dan sedikit terkejut dengan aura dari Arcel. Begitu dingin dan datar. "Harusnya kamu jangan melakukan itu," celetuk Kaila "Apa maksudmu?" tanya Arcel seraya mengalihkan sedikit pandangannya pada Kaila. "Harusnya kamu jangan meladeni Irsyad. Dia orangnya cukup tempramen. Dia enggak suka kalau ada yang menandinginya," jawab Kaila "Jadi, maksudmu aku yang salah? Aku salah udah menggertak sekaligus memilin tangannya," timpal Arcel dengan pandangan marah. "Bukan kayak gitu Arcel. Aku hanya enggak ingin kamu berurusan dengannya. Ayahnya itu orang yang cukup berpengaruh. Aku enggak ingin kamu kenapa-kenapa," balas Kaila "Heh, aku enggak takut dengan dia ataupun keluarganya. Emang dia siapa? Apa aku harus takut sama manusia? Kita sama-sama diciptakan dengan tanah. Ngapain aku takut dengan mereka," komentar Arcel "Arcel, kumohon kamu harus ngerti. Aku sangat tau bagaimana sifatnya Irsyad. Aku ini adalah mantan pacarnya. Walaupun kebanyakan orang mengira dia anak yang baik, tapi dibalik itu semua, dia juga punya sisi yang enggak baik. Kamu harus mendengarkanku," ucap Kaila dengan pandangan memohon. Arcel sedikit terkejut dengan tatapan itu. Ia langsung mengalihkan pandangan ke depan. Arcel menggertakkan giginya. Ia meremas dengan kuat stir mobil hingga buku-buku tangannya memutih. "Aku hanya enggak suka pria itu semena-mena terhadapmu. Kamu enggak salah Kaila. Jadi aku harus menutup mulutnya," keluh Arcel "Aku tau Arcel. Tapi enggak perlu seperti ini. Enggak akan ada gunanya. Lagipula dia seperti itu karena fitnah yang menimpaku," balas Kaila "Jadi kamu membelanya?! Kamu enggak terima aku beri dia pelajaran?!" selidik Arcel seraya menatap Kaila dengan tatapan marah. "Aku enggak bela dia. Aku hanya ingin jangan terlalu meladeninya," sanggah Kaila "Kaila, aku udah pernah bilang sama kamu kalau aku akan melindungimu dari orang-orang yang berbuat jahat padamu. Jadi, aku akan tetap membalas mereka yang udah buat jahat danganmu," tukas Arcel dengan pandangan tajam ke depan. 'deg' Kaila merasa antara senang dan bingung mendengar hal itu. "A-Apa maksudmu? A-Apa jangan-jangan, kamu yang menyebarkan foto itu?" duga Kaila Arcel hanya diam tidak menjawab pertanyaan Kaila. "Arcel jawab! Apa kamu yang melakukannya?" tanya Kaila kembali. "Sudah sampai" Mobil Arcel telah sampai di depan rumah Kaila. Tapi bukannya turun, Kaila malah tetap di dalam mobil sambil menatap serius pada Arcel. "Kaila, kita udah sampai," ucap Arcel tanpa melihat wajah Kaila. "Aku enggak mau turun sebelum kamu menjawabnya," tolak Kaila "Kita akhiri pembicaraan kita sampai di sini. Nanti kita bicara lagi setelah suasana hati kita udah agak tenang," timpal Arcel Seketika Kaila membuka pintu mobil itu dan sedikit membantingnya. Kaila segera berlari ke dalam rumahnya tanpa berbalik melihat Arcel. Arcel menatap kepergian Kaila dengan wajah yang sendu. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum menggerakkan mobilnya meninggalkan rumah itu. *** Seorang pria tengah termenung di depan sebuah kaca besar di kamarnya. Tatapannya begitu kosong hingga tak ada yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. 'cklek' Pintu kamar pria itu terbuka dan menampilkan sosok pria lain yang sedang berjalan ke arahnya. "Akhirnya kau kembali juga," ucap pria itu seraya berdiri di samping pria yang tengah menatap kosong hamparan bunga matahari yang ada di luar kamarnya. Pria itu langsung berdecih karena tidak mendapatkan respon apapun dari lawan bicara. "Apa kau kembali hanya karena sedang patah hati saja? Kenapa? Udah dicampakkan nih?" duga pria itu. Akhirnya lawan bicaranya merespons apa yang ia katakan. Lawan bicaranya memberikan tatapan yang begitu tajam hingga pria itu terkekeh sejenak. "Apa kau bisa diam, Wyman?" Pria berkacamata itu langsung mengangkat kedua tangannya begitu mendengar pria itu memanggil 'marganya'. Itu artinya ia sangat marah saat ini.  "Okey, sorry bro. Aku hanya berspekulasi. Ternyata bener," timpalnya. Tatapan tajam kembali ia dapatkan. "Mending kau pergi sebelum aku melemparmu dari sini" "Arcel, aku tau kau sedang patah hati sekarang. Tapi kau enggak perlu menyiksa dirimu terus. Sudah seminggu ini kau enggak makan dan tidur dengan baik. Aku sebagai sekretaris dan dokter pribadimu enggak tega melihatmu seperti ini terus," ucap n pria itu. "Aku hanya masih merasa kesal, Tony. Aku hanya enggak suka saat dia membela pria lain di depanku. Itu membuat darahku langsung mendidih," balas Arcel Tony menghela napas kasar. "Kau ini! Aku udah beberapa kali harus menasehatimu. Sudahi semua ini. Kau menggunakan kepintaranmu hanya untuk menyakitimu. Kau harus bolak-balik portal waktu hanya untuk menemuinya. Kau juga tau sendiri, apa resiko yang akan kau terima," komentar Tony "Aku juga udah berapa kali bilang padamu. Aku enggak peduli jika harus melanggar ketentuan hukum yang ada. Aku hanya peduli pada Kaila. Aku hanya menginginkannya. Enggak peduli rintangan apa yang ada di hadapanku," tukas Arcel "Arcel, kau harus tau, enggak selamanya kau bisa terus kembali padanya setiap waktu. Kau harus ingat, kau penjelajah waktu yang memiliki batas," balas Tony seraya pergi dari hadapan Arcel. Arcel tetap setia menatap hamparan bunga matahari tanpa melihat kepergian dokter pribadinya itu. "Bagaimana kabarmu K? Apa kamu merindukanku di sana? Heh, iyakah? Kayaknya hatimu belum ada namaku yah," gumam Arcel *** "Kamu kemana sih Ar? Kok tiba-tiba menghilang gitu? Kamu marah yah karena kejadian seminggu yang lalu? Aku hanya enggak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu itu temanku yang paling baik. Kamu selalu ada di saat aku sedih. You're my savior," gumam Kaila yang sedang duduk sendirian di sebuah taman dekat fakultasnya. Sedari tadi Kaila hanya bisa bergumam sendiri. Ia sungguh kesepian saat ini. Ia tidak menyangka kalau Arcel akan menghilang setelah kejadian itu. Apa dia marah? Padahal Kaila berniat baik untuk menghindarinya dari masalah. Kaila hanya tidak ingin, gara-gara dia, Arcel jadi ikutan kena masalah. Entah kemana Arcel sekarang. Kaila tidak terlalu mengenai sosok Arcel. Ia hanya tahu sedikit tentangnya. Bahkan rumahnya Arcel pun ia tidak tahu. Jika saja ia tahu, sudah pasti ia akan mendatangi rumahnya itu. Padahal selama seminggu ini, Arcel punya jadwal tiga kali di kelasnya. Tapi tidak pernah hadir. Apa dia tidak takut dipecat nanti? Kaila juga sudah menanyakan kepada dosen lainnya, tidak ada yang tahu di mana Arcel berada. Ada yang bilang dia mengambil cuti. "Hahh, pusing aku. Bagaimana caranya bisa ketemu dengan Arcel lagi?" "Kaila!" Kaila segera menoleh pada sosok yang memanggilnya. Kaila langsung memutarkan bola matanya. "Ada apa?" tanya Kaila dengan nada jengah. "Bisakah kamu hentikan ini semua? Apa kamu enggak kasihan melihat Luna terus terusan dihina oleh satu kampus?" tanya Andhira dengan nada protes. Kaila langsung menegakkan tubuhnya dan berdiri di hadapan Andhira. Kaila melipat kedua tangannya dan memandang remeh pada Andhira. "Baik banget yah dengan teman barumu itu. Kenapa enggak melakukan hal yang sama denganku dulu? Oh, aku tau. Kau cuma memanfaatku aja kan," sindir Kaila dengan tatapan dingin. "A-Apa maksudmu mengatakan itu?! Aku enggak ada memanfaatkanmu. Kenapa kau malah memfitnahku sekarang?!" protes Andhira "Kau enggak perlu berpura-pura lagi. Aku udah denger semua pembicaraanmu dengan teman barumu itu di toilet dua hari yang lalu. Jadi, maaf aku enggak peduli dengan urusan kalian," timpal Kaila seraya mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan Andhira. Namun, Andhira segera menahannya. "Kau jangan enak pergi dulu. Aku menyuruhmu untuk menghapus semua berita palsu itu. Kasihan Luna," omel Andhira "Cih, dasar munafik. Bukankah sudah dikonfirmasi yah kalau bukan aku pelakunya? Pelakunya itu anonim. Terus ngapain kamu datang-datang minta aku buat hapus foto-foto itu. Hei, aku bukan kayak kalian yang akan membalaskan dendam dengan cara yang sama. Jika saja aku mau membawa masalah fitnahku itu ke jalur hukum, pasti udah ditau tuh siapa yang menyebarkannya. Sayangnya aku masih baik hati dan enggak picik seperti kalian," geram Kaila "Kenapa? Kau udah seneng karena ada yang membelamu? Dan lagi itu adalah dosen kita sendiri. Betul kata Luna, kau itu emang hebat dalam merayu semua cowok," hina Andhira 'plak' Andhira langsung menatap terkejut pada Kaila. Ini pertama kalinya ia ditampar oleh Kaila. "Jaga ya bicaramu. Aku selama ini enggak bertindak apa-apa padamu karena aku masih sedikit menghargai pertemanan kita yang dulu. Jangan pernah kaitkan masalahku dengan kak Arcel. Dia enggak tau apa-apa," murka Kaila Andhira sedikit takut dengan tatapan tajam Kaila. Ia segera meninggalkan Kaila seraya memegangi pipinya yang panas karena tamparan itu. Quote of the day: Kamu ke mana? Kamu pergi juga kah? Apa kamu akan seperti mereka yang akan meninggalkanku sendiri dalam kegelapan. ~TBC~ Bagaimana dengan chapter ini??? Identitas asli Arcel udah kebuka nih!!! Tapi ini belum akhir yah reader!!! See you in next chapter!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN