Langkah kaki Sekar makin cepat begitu keluar dari rumah Bu Norma. Hatinya berdegup tak karuan. Perasaan waswas menyergap sejak mendengar kabar itu—Reza datang dan menjemput Naya serta Nara. Sekar berlari kecil, menembus hujan gerimis yang membasahi bajunya. Ia tak peduli meski kakinya becek, rambutnya lepek, atau tubuhnya menggigil. Yang penting… cepat sampai rumah. Sesampainya di depan pintu kontrakan, Sekar menelan ludah, lalu memutar gagang pintu dengan pelan. Daun pintu bergeser perlahan, mengeluarkan suara berderit halus, lalu memperlihatkan pemandangan yang membuatnya nyaris limbung. Reza. Pria itu duduk bersandar santai di sofa, tersenyum sambil memperhatikan Naya dan Nara yang sedang asyik bermain dengan mainan baru—boneka dan mobil-mobilan plastik cerah yang belum pernah mereka

