Sesuai permintaan Sekar, Aji menghentikan motornya di depan gang kecil menuju rumah kontrakan mereka. Malam mulai turun, menyisakan bias cahaya lampu jalan yang temaram. Sekar turun pelan-pelan, merapikan rok panjangnya yang sempat tersingkap karena angin sepanjang perjalanan. Ia menoleh ke arah Aji yang masih duduk di atas motor sportnya. “Terima kasih ya, Ji,” ucapnya pelan, suaranya lembut namun terdengar jelas. Aji mengangguk kikuk, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Iya… Sama-sama, Mbak” Sekar mengangguk kecil. Ia tak bertanya lebih lanjut. Setelah satu helaan napas, ia membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam gang. Suaranya sempat menggema di kepala Aji—lembut, tenang, tapi entah kenapa membuat dadanya ikut bergemuruh. Aji masih terdiam di atas motor, menatap punggung

