Motor Aji melaju di jalanan basah yang mulai menghitam. Langit sore menggantung berat di atas kepala, awan kelabu seperti sedang menahan tangis—sama seperti perempuan yang duduk di belakangnya. Aji bisa merasakannya. Meski suara tangis itu tak terdengar, dan helm menutupi hampir seluruh wajah, tapi dari gerakan napas dan cara Sekar memeluk tasnya… Aji tahu. Perempuan itu menangis diam-diam. Dan entah kenapa, hatinya ikut terjepit pelan. Mbak Sekar, begitu ia memanggilnya sejak mereka pertama kenalan di warung bubur. Dingin, tertutup, dan sering menjawab seperlunya. Tapi hari ini… wajah itu tampak rapuh. Di perempatan lampu merah, Aji menoleh sedikit ke belakang. Hujan gerimis mulai turun, seperti pertanda langit pun ikut merasakan resah mereka. “Mbak…” panggil Aji pelan, suaranya tert

