Sudah tiga hari Sekar menjalani rutinitas barunya—membantu jualan bubur Bu Norma di pagi hari, lalu menghabiskan sisa waktu bersama si kembar di rumah kontrakannya yang sederhana. Hidupnya mungkin masih jauh dari kata nyaman, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sekar merasa… sedikit lebih ringan. Naya dan Nara tampak bahagia. Mereka tidak rewel, tidak lagi bertanya soal “Om Reza” seperti beberapa minggu lalu. Entah mereka lupa, atau memang sudah cukup mengerti untuk tidak menyinggung nama itu lagi di hadapan ibunya. Hari itu, setelah membereskan lapak bubur bersama Bu Norma, Sekar membersihkan tangannya lalu mengecek isi tas kecilnya. Di dalamnya terselip catatan lusuh—daftar nama-nama yang masih punya tanggungan padanya. Salah satunya: Bu Dila. Beberapa hari lalu, lewat p

