Udara kamar itu dingin. Bukan karena angin dari jendela, tapi karena kosongnya kehadiran Papa di ruangan itu. Bahkan bau tubuhnya pun seperti sudah pudar—tak ada lagi parfum lembut yang biasa Mama semprotkan untuknya setiap pagi. Hanya ada senyap, dan isak yang entah sudah berhenti atau hanya tertahan. Aluna membuka pintu perlahan. Suara engsel berdecit pelan membuat Mama menoleh sejenak, lalu kembali menunduk. Ia duduk bersandar di ranjang, mengenakan daster lusuh warna biru muda. Rambutnya belum tersisir, dan mata itu… sudah sembab sejak malam. “Ma,” ucap Aluna pelan, seperti takut mengusik duka yang sedang diam. Tak ada jawaban. Aluna berjalan perlahan, lalu duduk di sisi ranjang. Ia tak langsung bicara. Hanya menatap jemari Mama yang saling menggenggam erat di atas pangkuan. Jemari

